Tak lama kemudian, Bang Kemal, Aiyna dan juga Saad telah sampai di kediaman Saad. Bang Kemal keluar dari mobil dan membantu adik iparnya membuka pintu mobil. Setelah itu Saad keluar seraya menggendong tubuh istrinya.
"Terima kasih, Bang," ucap Saad dengan santun.
"Sama-sama. Masuklah, aku akan langsung pulang. Ini sudah malam," jawab Bang Kemal pada adik iparnya.
"Baik, Bang. Hati-hati di jalannya,"
Bang Kemal mengangguk sebagai jawaban dari ucapan adik iparnya. Kemudian dia masuk mobil dan mulai melajukannya meninggalkan kediaman Saad. Sementara itu, Saad yang telah melihat kepergian sang kakak iparnya pun segera berjalan memasuki rumahnya.
Begitu berada di dalam rumah, Saad langsung berjalan memasuki kamar dengan kedua tangan yang masih menggendong tubuh istrinya. Ia menidurkan tubuh istrinya di ranjang. Setelah itu, secara perlahan Saad membuka hijab Aiyna dan menyelimutinya dengan selimut yang tebal.
Kemudian Saad mendekatkan bibirnya ke wajah Aiyna. Dan dalam beberapa detik saja, bibirnya sudah mendarat di kening sang istri. Saad mengecup kening Aiyna sebagai bentuk rasa sayangnya.
Setelah itu, Saad mengganti pakaiannya dan mengambil handuk. Dia akan mandi serta mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat malam sebelum ia tidur. Hal ini sudah menjadi rutinitasnya setiap malam sebelum tidur.
****
"Hoam," Aiyna menguap, lalu dengan cepat mulutnya yang menguap ia tutup dengan telapak tangannya.
Kedua matanya mulai terbuka dan samar-samar dia mendengar ada suara orang yang sedang mengaji. Pada saat matanya melihat jam, ternyata sekarang menunjukkan pukul 02.30. Kemudian Aiyna sadar bahwa suaminya tidak berada di sampingnya.
Karena penasaran dengan suara orang yang sedang melantunkan ayat suci Al-Quran itu, Aiyna beranjak dri ranjangnya. Dia berjalan keluar dari kamarnya dan mengikuti sumber suara yang begitu menenangkan serta menyejukkan hati. Tiba-tiba langkah Aiyna terhenti tepat di salah satu ruangan yang tidak pernah ia masukin sebelumnya.
Rasa penasaran terus menghantui dirinya. Sehingga membuat langkah Aiyna semakin mendekati ruangan tersebut. Dan benar saja, suara orang mengaji itu ternyata berasal dari ruangan tersebut.
Berhubung pintu ruangan itu tidak terkunci, Aiyna pun membuka pintunya secara perlahan. Begitu pintu berhasil terbuka, dia melihat suaminya sedang duduk di depan meja yang dipenuhi dengan alat-alat perekam serta laptop dan kitab suci Al-Quran. Aiyna seketika langsung terpesona melihat ketampanan suaminya.
Bagaimana tidak, suaminya benar-benar terlihat begitu tampan dengan suaranya yang lembut dan bernyawa. Ia hanya bisa mematung di sebelah pintu sembari memperhatikan suaminya yang sedang mengaji itu. Dia tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang mengaji, maka dari itu Aiyna lebih memilih berdiam diri tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Sehingga setelah beberapa menit kemudian, Saad selesai mengaji. Begitu dia menutup kitab suci Al-Quran dan mematikan alat-alat perekam yang ada di sekitarnya, kedua matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang teramat sangat ia cintai. Bibirnya tersenyum pada istrinya.
"Sayang, kemarilah." Saat merentangkan kedua tangan agar istrinya memeluknya.
Aiyna tersenyum seraya melangkahkan kakinya. Sesampainya di hadapan suami, Saad langsung menarik tubuh mungil Aiyna dan mendudukkannya di pangkuannya. Kedua tangan Saad melingkar di perut sang istri.
"Apa yang membuatmu terbangun, Sayang? Apa karena suaraku terlalu keras sehingga aku telah membangunkanmu?" tanya Saad dengan suara yang begitu lembut.
"Tidak, Mas. Aku bangun karena kebelet mau ke kamar mandi dan secara tidak sengaja aku mendengar suara orang mengaji dan setelah aku ikuti suaranya ternyata itu suara Abi," jawab Aiyna.
"Syukurlah kamu mengikuti suaraku sehingga kamu bisa tahu pekerjaan sampinganku selama ini." Saad tersenyum penuh pesona pada istrinya.
"Kerja sampingan? Jangan-jangan Abi seorang youtuber?" tebak Aiyna berdasarkan dengan alat-alat yang ada di ruangan tersebut.
Saad tersenyum dan gak lama kemudian, ia menggangguk meng-iyakan. "Seriusan Abi seorang youtuber?" tanya Aiyna lagi untuk memastikan.
"Iya, Sayang. Di sela-sela waktu luangku, aku selalu mengisi dengan membuat konten mengaji. Maafin Abi ya, selama ini Abi belum memberi tahumu mengenai kerja sampingan Abi ini," tutur Saad dengan lembut disertai dengan sentuhan yang lembut di pipi sang istri.
"MashaAllah, Aiyna tidak apa-apa, Bi. Justru Aiyna senang karena Abi bisa meluangkan waktu untuk mengaji dan mengajarkan orang-orang di luaran sana untuk mengaji. Jika boleh dan jika Abi tidak keberatan, Aiyna ingin menjadi muridmu. Aiyna masih belum lancar mengaji, maukah Abi mengajari istrimu ini?" Aiyna tersenyum manis.
"Pasti, Sayang. Dengan senang hati Abi akan mengajari istri Abi yang sangat menggemaskan ini." Saad mencolek dagu Aiyna.
"Uuh, baik banget sih. Sayang deh sama Abi. Muach!" Aiyna mengecup bibir suaminya dengan kedua tangan yang dilingkarkan di leher suaminya.
"Ternyata istriku ini cukup pintar dan licik,"
"Hah, maksud Abi?" Aiyna mengerutkan dahinya setelah mendengar ucapan dari suaminya.
"Maksud Abi, kamu ini cukup pintar dalam mengambil kesempatan. Kenapa kamu menciumku disaat Abi belum siap? Kamu selalu mencuri ciumanku," kekeh Saad.
"Eh, Abi ini bagaimana sih? Kalau nunggu Abi siap ntar yang ada Aiyna habis sama Abi. Aiyna akan kewalahan nantinya," jawab Aiyna yang diakhiri dengan tawa meledek.
"Apa kamu sedang meledek ku, Aiyna?"
"Tidak, Bi. Aku tidak meledekmu. Aku hanya menggoda suamiku ini."
"Oh iya? Kalau begitu kamu harus tanggungjawab." Saad memegang tengkuk istrinya.
Gleuk!
Seketika Aiyna langsung tertegun kala melihat suaminya hendak mencium bibirnya. Aiyna mulai ketar-ketir disertai dengan degupan jantungnya yang begitu cepat. Sehingga kedua matanya sudah tidak berani menatap mata suaminya.
Melihat hal itu, Saad ingin sekali tertawa. Menurutnya, tingkah Aiyna yang seperti ini adalah tingkah yang lucu dan menggemaskan. Sehingga terlintas ide jahil Saad untuk menggoda istrinya. Ia semakin mendekatkan bibirnya ke bibir sang istri.
Aiyna yang menyadari hal itu, dengan cepat memejamkan matanya. Antara gugup dan senang yang Aiyna rasakan. Bercumbu dengan suami yang dia cintai adalah sesuatu yang membuat hatinya senang meskipun dirinya sedikit deg-degan.
Namun, bukannya cumbuan yang ia dapatkan. Aiyna justru tidak merasakan apa-apa. Karena penasaran, dia pun membuka kedua matanya. Pada saat kedua matanya terbuka, ia terperanjat melihat wajah suaminya yang begitu menyeramkan.
"Abi!" teriak Aiyna seraya menjauhi suaminya.
Berbeda dengan Aiyna, Saad justru tertawa kecil melihat ketakutan di mata sang istri. "Tenanglah, Sayang. Ini hanya topeng." Saad membuka topeng yang ia kenakan untuk menakuti sang istri.
"Beneran ini enggak lucu, Bi! Jantungku hampir mau lepas saat melihat wajahmu sejelek ini," omel Aiyna seraya memegangi dadanya yang hampir lepas jantungnya itu.
"Maafin, Abi. Abi tidak berniat membuatmu takut. Abi tidak tahu jika kamu akan setakut ini. Makanya kalau Abi mau menciummu itu dibuka matanya jangan ditutup. Tatap Abi dengan mata indahmu dan rasakan sensasi yang Abi berikan," timpal Saad.
"Abi jahil banget! Aiyna tutup mata itu karena Aiyna malu. Aiyna belum terbiasa melakukan ini. Abi harus memahami itu," ucap Aiyna dengan nada yang pelan. Kemudian dia berlari meninggalkan suaminya.
Melihat istrinya yang merajuk akibat perbuatannya, Saad tidak mengejarnya. Dia yakin jika Aiyna tidak akan merajuk terlalu lama padanya, sebab ia adalah istri yang sangat patuh pada suaminya. Saad tertawa kecil mengingat tingkah lucu sang istri apalagi jawaban Aiyna yang begitu polos, membuatnya tak henti-hentinya tertawa.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments