Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mobil yang berada tepat di depan rumah Saad. Aiyna dan Saad yang saat ini tengah bersiap-siap untuk pergi malam ini pun segera bergegas keluar dan menemui sang pemilik mobil. Orang yang memarkirkan mobilnya di depan rumah Saad tidak lain dan tidak bukan adalah Bang Kemal.
Begitu sampai di luar, Aiyna menggandeng tangan suaminya dan berjalan menuju mobil. Setelah itu, keduanya masuk mobil. Mereka memilih duduk di kursi belakang.
"Dek, aku ini bukan supirmu. Cepat salah satu dari kalian pindah," ucap Bang Kemal dengan nada yang menyindir.
"Ayolah, Kak. Kami tidak menganggap Kakak ini supir. Bilang aja Kakak iri ya lihat kami," goda Aiyna dengan meledek sang Kakak.
"Aelah, siapa juga yang iri. Iri sama bocah, ngapain. Haha," Bang Kemal membalas ledekan sang adik dengan mengatainya bocah.
"Enggak apa-apa bocah juga, yang penting udah laku. Ya 'kan Bi," timpal Aiyna dengan menoleh ke arah suaminya.
"Astaga, sejak kapan kamu memanggilnya Abi? Iya 'kan, Abi. Haha," Bang Kemal terus meledek adiknya dengan menirukan perkataan dan disertai nada bicara yang sama.
"Berhenti, Kak! Jangan terus mengejekku seperti ini. Kakak sama aja telah mempermalukanku di depan Abi!" sentak Aiyna sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ayolah, Abang cuma bercanda. Gitu aja kok marah," goda Bang Kemal seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Aiyna tidak menggubris Bang Kemal. Kini kedua mata berbulu lentiknya tengah menatap ke luar jendela melihat jalanan yang tidak begitu macet. Setelah terjadinya saling ledek meledek, suasana menjadi hening hanya mata Bang Kemal yang terus menatap sang adik dari pantulan kaca spion.
Tak lama kemudian, setelah beberapa menit ... mereka pun telah sampai di pasar malam. Tempat yang mereka rencanakan kemarin. Ketiganya keluar dari mobil secara bersamaan. Kemudian Aiyna jalan lebih dulu meninggalkan Bang Kemal dan suaminya.
"Saad, kejar dia. Sepertinya dia masih merajuk tuh," ujar Bang Kemal sambil menatap Aiyna yang sudah berjalan jauh.
"Baik, Bang. Aku duluan ya," ucap Saad sebelum akhirnya pergi mengejar Aiyna.
Tak lama setelah itu, Bang Kemal pun pergi menyusul keduanya. Tidak sengaja ia melihat kembang gula atau yang biasa disebut aromanis. Tanpa berpikir panjang, dia pun menghampiri penjualnya. Bang Kemal membeli 2 bungkus kembang gula untuk adiknya, mengingat jika Aiyna sangat menyukai kembang gula.
Setelah membeli itu, Bang Kemal kembali mengejar sang pengantin baru itu. "Ke mana perginya mereka? Cepat sekali mereka jalan," gumam Bang Kemal dengan suara yang pelan.
Brugh!
Tidak sengaja Bang Kemal menabrak seseorang hingga orang yang ditabraknya terjatuh. "Astagfirullah, maafkan saya, Mbak," ucap Bang Kemal seraya mengulurkan tangannya.
"Tidak apa-apa." Orang yang terjatuh itu tidak memegang tangan Bang Kemal dan lebih memilih bangun sendiri.
Betapa terkejutnya Bang Kemal pada saat melihat wajah orang yang ia tabrak. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah seorang wanita. Wanita yang sangat tidak asing bagi Bang Kemal. Benar, wanita itu adalah Anisa. Wanita yang masuk ke daftar menjadi calon istrinya Bang Kemal.
"Bang Kemal, Bang Kemal!" Anisa terus memanggil nama Bang Kemal pada saat melihat pria yang ada di hadapannya mematung serta melamun dengan mata yang menatap ke arahnya.
"Eh iya, Nisa." Bang Kemal pun tersadar.
"Bang Kemal kenapa?" tanya Anisa.
"Ya, Nisa. Saya tidak apa-apa," jawab Bang Kemal seraya melemparkan senyuman terbaiknya.
"Baiklah. Kalau begitu saya pergi, assalamu'alaikum," Anisa mengucapkan salam sebelum akhirnya pergi meninggalkan Bang Kemal.
Anisa Rahma Baswara adalah putri dari dari pasangan bernama Bisma Baswara dan Ufairah Hazna Baswara. Anisa merupakan teman Aiyna. Usianya berbeda satu tahun dengan Aiyna, yakni satu tahun lebih tua dari Aiyna.
****
Di sisi lain, Aiyna dan Saad sedang berada di salah satu permainan. "Kak, coba main itu dan menangkan boneka itu," bujuk Aiyna layaknya seperti anak kecil.
"Kamu mau boneka itu?" tanya Saad sembari menatap mata istri kecilnya.
Dengan cepat Aiyna menganggukkan kepalanya disertai senyuman manis. "Iya, Kak. Boneka itu sangat lucu dan menggemaskan," jawab Aiyna dengan mata yang berbinar.
"Sama sepertimu," celetuk Saad seraya mengelus kepala Aiyna yang tertutup hijab.
Kemudian Saad mulai memainkan permainan itu. Permainan itu berupa lemparan yang harus membuat para kaleng kecil yang bertumpuk itu jatuh semua tanpa terkecuali. Dengan begitu, barulah pemain bisa mendapatkan hadiahnya, berupa sebuah boneka panda yang cukup besar.
Aiyna yang mendengar celetukan suaminya langsung merona kedua pipinya. Ia tahu betul jika suaminya sedang memuji dirinya. Sehingga tanpa dia sadari bibirnya tersenyum lebar dengan kedua mata yang fokus memperhatikan Saad.
"Ekhem! Rupanya ada yang sedang terpesona melihat Abi, nih." Tiba-tiba Bang Kemal sudah berada di sebelah Aiyna. Ia menyenggol kecil lengan sang adik.
"Apaan sih, iri mulu perasaan dari tadi," celetuk Aiyna dengan nada yang ketus.
"Yee, siapa yang iri. Santai aja lagi, justru Abang itu senang lihat kamu ceria kek gini. Abang punya sesuatu yang In Sha Allah akan balikin mood kamu menjadi baik lagi. Mau enggak?" bujuk Bang Kemal dengan membuat Aiyna penasaran.
"Apa?" timpal Aiyna dengan pura-pura ngambek.
"Nih!" Bang Kemal memberikan dua kembang gula yang tadi sempat dia beli
Seketika kedua mata Aiyna langsung berbinar. Dia mengambil kedua kembang gula tersebut dari tangan sang Kakak. "Terima kasih, Abangku. Tahu aja kalau aku ingin makan kembang gula, hehe." Aiyna cengengesan sembari tersenyum.
"Ya, ya, ya. Makanlah." Bang Kemal tersenyum gemas melihat tingkah adiknya.
"Tentu." Aiyna membuka salah satu kembang gula dan memakannya sambil melihat suaminya bermain.
"Jangan bilang, kamu yang meminta Saad memainkan ini?" tebak Bang Kemal sembari melihat ke arah adik iparnya.
"Ya, Bang. Karena boneka itu sangat lucu. Jadi, aku memintanya. Memang kenapa jika aku memintanya? Apa tidak boleh? Atau Abang takut kalah saing?" ledek Aiyna dengan mengalihkan pandangannya ke arah Bang Kemal.
"Yee, apaan. Jangan su'udzon, mana ada Abang takut kalah saing." Bang Kemal mengerlingkan matanya.
"Ciiee, marah," goda Aiyna seraya menyenggol tubuh abangnya.
"Berhenti menggodaku, Aiyna. Dan lihat suamimu! Dia berhasil memenangkan boneka yang kamu mau," timpal Bang Kemal sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah adik iparnya.
Aiyna pun langsung menatap ke arah suaminya. Dan benar saja, Saad berhasil memenangkan boneka yang ia inginkan. Dengan cepat Aiyna berlari kecil menghampiri suaminya.
"Yee, Abi menang." Aiyna bertepuk tangan disertai wajahnya yang ceria.
"Alhamdulillah. Boneka yang lucu dan menggemaskan ini untukmu, wahai istriku yang tidak kalah menggemaskan dari bonekanya," jawab Saad dengan sedikit memuji sang istri sembari memberikan boneka pandanya.
"Terima kasih, Abi." Aiyna menerima boneka panda tersebut dan langsung memeluknya.
Saad yang melihat itu turut merasa bahagia. Walaupun ini hanya hal yang kecil tapi melihat senyuman tulus sang istri, membuat hal kecil itu menjadi hal yang luar biasa. Tidak sengaja Saad melihat ada bekas kembang gula di sudut bibir Aiyna. Reflek, Saad membersihkan sisa kembang gula tersebut menggunakan tangannya.
"Halah, mulai lagi. Lama-lama aku jadi nyamuk nih." Bang Kemal menepuk jidatnya sendiri melihat kedua sejoli yang lagi kasmaran ini.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments