Bab 3 > Menerima Mahar Senggenggam Beras?

UHUK! UHUK!

Celetukan Aiyna membuat sang pemilik nama Kemal seketika langsung berbatuk-batuk. Ia tidak menduga jika sang adik akan mengatakan hal itu. Bukan karena dia tidak ingin menikah melainkan, dia belum menemukan wanita yang pas.

"Baba serahkan pada Kemal saja, jika dia sudah memiliki wanita yang akan dia jadikan istri maka beri tahu Baba. Baba akan melangsungkan pernikahannya juga," sindir Baba Ammar.

"Sayangnya wanita itu ada, Baba. Biarlah Kemal fokus mengajar anak-anak mengaji saja dulu, urusan jodoh biar Allah SWT yang mempertemukannya pada Kemal," jawab Kemal.

"Bagaimana jika kita jodohkan saja sama Kak Anisa, Baba. Kak Anisa adalah wanita yang sholehah, Bang Kemal akan jatuh cinta setelah melihatnya," celetuk Aiyna lagi.

"Hush ... jangan sembarangan kamu, Dek. Bukankah Kak Anisa sudah memiliki calon yang akan melamarnya,"

"Ciie, Abang tahu soal Kak Anisa. Sepertinya Kakak sudah naksir lama nih sama Kak Anisa. Gini ya, Bang ... selama janur kuning belum melengkung maka Abang masih punya harapan. Toh, Kak Anisa juga belum tentu menerima lamarannya. Iya, enggak?" Aiyna menaik-turunkan alisnya menggoda sang Abang.

Bang Kemal terdiam beberapa saat. Sehingga beberapa menit kemudian dia beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar. Aiyna beserta orang tuanya hanya menatap Bang Kemal sembari menggelengkan kepalanya.

"Tuhkan, Abangmu jadi kabur 'kan. Padahal Baba sudah mempersiapkan calon istri untuknya," ujar Umi.

Seketika bola mata Aiyna langsung terbelalak. "Wah ... benarkah itu, Umi? Siapa wanita itu? Katakan pada Aiyna." Aiyna menggoyang-goyangkan lengan Umi Jalwa.

"Nanti juga kamu tahu sendiri," jawab  Umi Jalwa sembari tersenyum.

"Ayolah, Aiyna penasaran dengan siapa Bang Kemal akan menikah. Jika Umi tidak mau memberi tahu Aiyna, Aiyna bisa bertanya pada Baba. Baba, katakan pada Aiyna, siapa wanita yang menikah dengan Bang Kemal?" tanya Aiyna kepada Baba Ammar.

"Nanti ya, Sayang. Akan Baba beri tahu setelah lamaran diterima oleh sang wanita," jawab Baba dengan suara yang lembut.

"Baiklah, Baba. Kalau begitu, Aiyna ke kamar dulu ya." Aiyna beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar.

Sesampainya di depan kamar, tidak sengaja kedua matanya melihat pintu kamar Bang Kemal terbuka. Dengan cepat dia berlari kecil menuju kamar sang Kakak yang berada di sebelah kamarnya. Bibirnya tersenyum lebar sebelum memasuki kamar abangnya.

Tok! Tok! Tok!

"Assalamu'alaikum, Bang Kemal. Boleh Aiyna masuk," ucap Aiyna dari luar kamar seraya mengetuk pintu sebanyak tiga kali.

"Wa'alaikumsalam, Dek. Sini lah masuk," jawab Bang Kemal sembari tersenyum mendapati adiknya tengah berdiri di depan pintu kamar.

Setelah mendengar sahutan dari Bang Kemal, Audrey pun segera memasuki kamar Bang Kemal.  "Bang, Aiyna mau cerita perihal mimpi semalam. Abang mau dengerin enggak?" tanya Aiyna pada Bang Kemal yang tengah berdiri merapikan pakaian dalam lemari.

"Tentu saja, Abang akan dengerin cerita Aiyna." Bang Kemal menutup pintu lemari dan segera duduk di samping Aiyna.

Saat ini mereka sedang duduk di tepi ranjang. Aiyna terlihat gelisah dan raut wajahnya berubah menjadi serius. Tatapannya begitu serius menatap kedua mata Bang Kemal.

"Hei! Ngapain bengong natapin Abang segitunya?" Bang Kemal menjentikkan jarinya tepat di depan wajah sang adik.

Aiyna tersadar. "Eh, iya. Maaf," Aiyna cengengesan.

"Ayo ceritakan perihal mimpimu itu," ujar Bang Kemal.

"Gini loh, Bang ... aku bermimpi didatangi oleh seorang pria dewasa. Pria itu sangat tampan. Dia tersenyum padaku dan berjalan ke arahku. Kemudian dia berkata kalau Aiyna dan dirinya akan segera bertemu dan dia bilang padaku semoga aku tidak melupakannya pada saat kita bertemu lagi. Pada saat aku hendak bertanya mengenai ucapannya itu, tiba-tiba terdengar suara adzan dan aku terbangun dari mimpiku. Menurut Bang Kemal, apa arti mimpi itu? Setahuku aku belum pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi, bagaimana mungkin aku bisa memimpikannya? Apakah aku berdosa dengan memimpikan pria itu?" tanya Aiyna dengan wajah yang cemas.

Bang Kemal mendengarnya cerita adiknya dengan seksama. "In Sha Allah, tidak akan berdosa, Dek. Selama kamu benar-benar tidak mengenal pria itu dan mengingatnya sebelum tidur. Tapi, apa kamu yakin tidak pernah melihatnya?" Bang Kemal balik bertanya pada adiknya.

"Iya, Bang. Aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi, tadi waktu Aiyna menyusul Abang ke mesjid, Aiyna tidak sengaja melihat pria itu. Makanya tadi aku tanya pada Abang perihal pria berjubah itu." Aiyna benar-benar bingung dengan keadaannya saat ini.

"Tapi, memang benar loh, tidak ada pria berjubah tadi. Kamu mungkin salah lihat kali, Dek."

"Tidak, Bang. Aiyna yakin 100% kalau pria yang aku lihat itu benar-benar pria yang menemuiku dalam mimpi. Aku berkata jujur, Bang. Demi Allah aku tidak berbohong," ucap Aiyna dengan penuh keyakinan akan ucapannya itu.

"Ya sudah, lebih baik kamu lupakan itu. Ingatlah, nanti malam para calon suamimu akan datang melamarmu. Persiapkan diri dan pikirkan baik-baik dengan pilihanmu nanti. Abang percaya penuh padamu, Abang yakin siapapun pria yang akan menjadi suamimu, dia akan menjadi sosok suami yang bertanggungjawab dan suami yang sholeh." Bang Kemal menenangkan adiknya dengan mengelus kepala Aiyna dengan lembut.

"Sejujurnya Aiyna gugup sekali, Bang. Aiyna sebelumnya belum pernah berhadapan dengan pria mana pun tapi malam ini Baba akan mempertemukan Aiyna dengan para pria yang akan melamar Aiyna. Aiyna harus apa, Bang? Aiyna tidak tahu bagaimana rasanya terpikat ataupun jatuh cinta terhadap lawan jenis. Bisakah Abang beri tahu Aiyna tentang rasanya jatuh cinta." Aiyna menatap serius sang kakak.

"Begini ya, Dek. Abang tidak tahu harus menjelaskan seperti apa padamu. Yang jelas jika hatimu merasa tenang melihat pria yang melamarmu nanti disertai debaran jantungmu yang tidak biasanya, bisa dikatakan kamu jatuh cinta pada pria tersebut. Ingat, Dek ... cinta yang tulus nan murni itu datangnya dari Allah SWT. Serahkan saja padaNya, minta pentunjukNya akan pria yang akan menjadi suamimu nanti. Tapi, ketahuilah, jika ada pria yang melamarmu dengan kalimat yang tenang dan tidak pernah melihat cinta dari segi apa pun maka bisa dipastikan pria itu benar-benar sudah matang dan ingin menikahimu. Abang tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa, semoga saja kamu paham dengan ucapanku," jelas Bang Kemal.

****

Malam hari ...

"Tidak ada mahar yang terbaik selain segenggam beras ini. Bismillahirrahmanirrahim, saya akan menerima lamaran dari Kak Saad karena Allah SWT. Saya bersedia menikah dengannya dengan segenap hati saya," tutur Aiyna dengan penuh kelembutan serta menggenggam beras yang dibawakan pria bernama Naufal Saad Al Hafiz.

Semua orang yang menghadiri jamuan itu langsung terdiam. Semua tatapannya tertuju pada Aiyna dan Saad yang saat ini tengah tertunduk. Begitu pun dengan orang tua Aiyna beserta Bang Kemal pun turut terdiam.

Bagaimana tidak, Aiyna telah menolak ketiga pria yang melamarnya dengan mahar yang sangat fantastis. Diantara ketiga pria itu adalah pria berusia 35 tahun yang bernama Irsyam. Dia melamar Aiyna dengan mahar pesawat pribadi yang dia beli khusus untuk Aiyna.

Sementara itu, ada pria berusia 32 yang bernama Latfan. Dia melamar Aiyna dengan mahar emas seberat 1000 gram. Dan pria ketiga berusia 28 tahun yang bernama Ghibran. Dia melamar Aiyna dengan mahar uang sebesar 7,3 milyar.

Lantas, kenapa Aiyna lebih memilih Saad, pria berusia 28 tahun dengan mahar segenggam beras?

****

Apa yang akan kalian lakukan jika kalian menjadi Aiyna? Akankah kalian menerima Saad dan menolak ketiga pria tajir itu?

Stay tune :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!