Bab 12 > The First Night

"Astagfirullah." Aiyna terperanjat dari duduknya disertai wajah kagetnya.

Dia terkejut pada saat membuka mata dan mendapati suaminya berada tepat di hadapannya. Saad yang melihat keterkejutan istri kecilnya ini hanya tertawa kecil. Kemudian ia melipat sejadah milik Aiyna.

"Eh, Abi ... biar Aiyna saja yang melipatnya," pinta Aiyna.

"Tidak apa-apa. Kamu bisa melipat mukenanya," timpal Saad dengan senyuman di bibirnya.

"Heumm, Abi ... bagaimana Abi bisa masuk ke rumah sedangkan sudah Aiyna kunci dari dalam?" tanya Aiyna sembari melipat mukena yang telah ia gunakan.

Saad menaruh sejadah di atas meja nakas dan duduk di tepi ranjang. Kemudian dia menarik lembut tangan istri kecilnya dan membuat Aiyna terduduk di pangkuan Saad. Kedua mata mereka bertemu dan saling bertatapan satu sama lain.

"Aku memiliki kunci duplikatnya, Sayang. Untungnya tadi aku membawa kunci duplikat, kalau tidak aku akan tidur di luar malam ini," kekeh Saad.

Mendengar hal itu, Aiyna benar-benar malu. Wajahnya seketika merona bak kepiting rebus. Sehingga ia pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

"Maafin Aiyna, Bi. Aiyna tidak sengaja ketiduran," timpal Aiyna dengan malu-malu kucing.

"Tidak apa-apa, Istriku. Kamu mungkin lelah." Saad mengelus wajah Aiyna dengan begitu lembut.

"Oh iya, Bi ... aku lapar, Abi lapar enggak? Kalau lapar, mau Aiyna masakin apa?" tawar Aiyna dengan tutur katanya yang santun.

"Aiyna bisa masak?"

"In Sha Allah, akan Aiyna coba. Sebelumnya Aiyna pernah melihat Umi memasak tapi Aiyna tidak tau bagaimana caranya. Tidak apa-apa, Bi ... akan Aiyna coba," jawab Aiyna disertai senyuman penuh keyakinan.

"Baiklah, ayo kita ke dapur." Saad mengajak istri kecilnya ke dapur.

Sesampainya di dapur, Aiyna mulai mencari bahan makanan di kulkas. Namun, Aiyna terdiam mematung setelah melihat isi kulkasnya. Bagaimana tidak, ia tidak menemukan sayuran, dan sesuatu untuk di masak.

Kemudian, Aiyna membuka lemari makanan akan tetapi ia tidak bisa membukanya. Lemari yang tertempel di dinding tersebut tidak bisa Aiyna jangkau karena terlalu tinggi. Melihat Aiyna yang sedang kesusahan, Saad pun menghampirinya. Tanpa berlama-lama, Saad langsung mengangkat tubuh istri kecilnya dari belakang.

Bukannya membuka lemari tersebut, Aiyna malah terdiam. Dia terkejut kalau Saad menggendong tubuhnya. "Sayang, carilah makanan yang kamu inginkan," ujar Saad.

"Abi, turunkan aku. Pasti tubuhku berat sekali ya," bukannya mencari makanan, Aiyna justru merasa tidak percaya diri ketika Saad mengangkat tubuhnya.

"Tidak, Aiyna. Aku hanya ingin membantu istri kecilku ini. Ayo, carilah makanan yang kamu mau masak," ucap Saad.

Aiyna mengangguk dan segera membuka lemari makanan tersebut. Ketika ia membukanya, hanya ada mie instan saja. Tidak ada pilihan lain, Aiyna pun mengambil dua mie instan.

"Turunkan aku, Bi."

Saad segera menurunkan tubuh Aiyna. "Bi, hanya ada mie instan saja untuk dimasak. Abi keberatan enggak jika malam ini kita makan mie instan? Atau mau Aiyna pesan makanan online saja?" tawar Aiyna.

"MashaAllah, Sayang ... aku tidak pernah keberatan makan apa pun itu termasuk mie. Jika istriku yang memasaknya maka makanan ini akan terasa sangat enak. Justru Abi mengkhawatirkanmu, Aiyna. Apa Aiyna yakin mau makan mie instan? Jika Aiyna menginginkan makanan online maka pesanlah, akan Abi bayar. Atau mau Abi beliin makanan yang ada di jalan sana?" Saad menawari Aiyna.

"Tidak perlu, Abi. Aiyna tidak pernah mempermasalahkan makanan yang akan Aiyna makan. Mau itu mie instan atau nasi ditabur garam pun tidak jadi masalah," tutur Aiyna dengan senyuman di bibirnya.

"Baiklah ... tapi, jika Aiyna menginginkan sesuatu maka beri tahu Abi ya. In Sha Allah, Abi akan mencukupi kebutuhanmu. Oh iya, Abi minta maaf karena Abi belum sempat belanja bahan makanan,"

"Tidak apa-apa, Bi. Besok pagi kita bisa pergi ke supermarket bersama. Kita belanja bulanan untuk pertama kalinya, bagaimana?"

"Ide bagus." Saad tersenyum seraya mengelus kepala Aiyna yang tertutup hijab.

"Sekarang Abi duduk di meja makan. Biar Aiyna masak dulu mie instannya."

Saad mengangguk dan duduk di kursi meja makan. Sementara itu, Aiyna mulai mengisi panci kecil dengan air bersih. Kemudian dia menatuh panci berisi air tersebut di atas kompor, lalu ia menyalakan kompornya.

Setelah itu, barulah dia memasukkan mie instan dengan beberapa topping lainnya. Saad memperhatikan Aiyna dengan penuh senyuman. Dia tidak menyangka jika gadis yang selama ini selalu dia lihat sekilas dari jauh kini sudah menjadi istrinya dan menjadi milik dia seutuhnya.

Selang beberapa menit, mie instan pun sudah matang. Aiyna segera menuangkannya ke dalam mangkuk. Setelah itu barulah dia membawa dua mangkuk mie instan ke meja makan. Aiyna memberikan semangkuk mie instan kepada suaminya.

Kemudian ia duduk di sebelah kursi Saad. Mereka menikmati mie instan bersama. "Bi, gimana rasanya?" tanya Aiyna sembari melihat ke arah suaminya.

"Alhamdulillah rasanya enak, bumbunya sudah pas," jawab Saad dengan jujur.

"Alhamdulillah." Aiyna tersenyum kala mendengar jawaban dari suaminya.

****

Menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu kini hari mulai malam. Aiyna dan Saad sudah berada di kamar. Aiyna duduk di sebelah suaminya.

Mereka terdiam tanpa kata membuat suasana kamar menjadi sunyi. Saad yang merasa tidak terbiasa dengan kesunyian ini membuat Saad mulai membuka pembicaraan. "Aiyna, apakah malam ini kamu sudah siap? Bolehkah aku meminta hakku?" tanya Saad dengan tatapan yang teduh sembari memegang tangan istri kecilnya.

Deg!

Jantung Aiyna seketika langsung berdegup kencang. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Sejujurnya dalam hati Aiyna saat ini antara gugup dan takut. Di satu sisi dia belum siap untuk melakukan penyatuan bersama suaminya. Namun di sisi lain, dia tidak boleh menolak keinginan suaminya apalagi menolak berhubungan badan dengan suaminya.

"Malam ini, Bi? Jujur, aku gugup dan takut banget. Aku benar-benar takut, Bi." Aiyna menundukkan kepalanya seraya meremas jemarinya.

Mendengar itu, Saad tersenyum. "Tenanglah, Aiyna. Aku tahu kamu gugup, tapi percayalah aku juga sama gugupnya denganmu. Namun, kita berdua berhak melakukan ini. Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Aku tidak akan melukaimu sedikitpun. In Sha Allah, Abi akan membuatmu senyaman mungkin. Aiyna mau 'kan memberikannya padaku?" bujuk Saad pada istri kecilnya.

Gleuk!

Aiyna menelan salivanya sebelum menjawab pertanyaan suaminya. "Bismillah.. Aiyna siap, Bi. Sebelum melakukan itu, boleh lampunya dimatiin saja? Aiyna masih gugup dan malu, Bi," ucap Aiyna dengan kedua pipinya yang merona.

"Tentu saja." Saad beranjak dari ranjang dan segera mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.

Kemudian Saad meletakkan tangan kanannya di kepala Aiyna dan membaca do'a terlebih dahulu sebelum melakukan malam pertama. Setelah itu, barulah Saad mulai membuka hijab Aiyna secara perlahan. Aiyna semakin gugup ketika Saad mulai membelai wajahnya dan mendekatkan wajahnya pada Aiyna.

Sungguh, ia dapat merasakan napas suaminya yang terasa begitu segar serta tercium bau mint. Tanpa berlama-lama lagi, Saad pun mulai meng*cup bibir ranum Aiyna. Awalnya kec*pan itu hanya menempel saja. Namun, lama kelamaan, Saad mulai mempermainkannya mengikuti irama.

Aiyna yang awalnya terdiam merasakan tubuhnya seperti tersengat, kini mulai membalas permainan bibir suaminya. Mendapat balasan itu, membuat Saad semakin bersemangat lagi untuk melanjutkan permainan ke tahap selanjutnya. Dan benar saja, Saad perlahan mulai membuka gamis yang dikenakan Aiyna.

"Boleh, aku lepas?" bisik Saad di telinga Aiyna.

Aiyna yang merasa dirinya sudah tidak karuan pun hanya bisa mengangguk tanpa mengatakan kalimat apa pun. Setelah itu, Saad berhasil membuka segelan istri kecilnya sehingga ia terdiam beberapa saat. Ia benar-benar takjub melihat pemandangan yang begitu indah.

Tubuh Aiyna benar-benar membuat Saad terpesona. Tanpa hitungan detik, Saad langsung menyerang dua bukit indah yang terdapat boba di kedua bukit tersebut. Permainan semakin panas membuat Aiyna menggeliat merasakan perih, nikmat menjadi satu. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Bi, aku udah enggak kuat. Aku pengen pipis," Aiyna mend*s*h.

Bukannya melepaskan Aiyna, Saad justru semakin ganas bermain sehingga tongkat kejantanannya sudah tegak dan mengeras. Aiyna tidak tahu jika babak akhir akan segera dimulai. Dan benar saja, Aiyna merintih kesakitan.

"Aaaaa, Abi! Sakit sekali," rengek Aiyna disertai menitikkan air mata.

Saad sejenak mendiamkan tongkatnya berada di dalam lembah beberapa detik sampai Aiyna terbiasa dengan keberadaannya. Setelah itu, Saad mencium bibir Aiyna dan menekan kembali membuat tongkat tersebut tenggelam dalam lembah cinta. Kali ini Aiyna tidak merintih kesakitan sebab Saad menciumnya untuk mengalihkan Aiyna dari rasa sakit.

****

Stay tune :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!