Bab 5 > Pernikahan Dipercepat?

"Memimpikanku?" Saad mengerutkan dahinya.

"Hehe, tidak. Saya salah bicara," jawab Aiyna dengan memalingkan wajahnya.

Jantungnya semakin berdegup kencang. Belum lagi wajahnya yang merona bak kepiting rebus karena malu. Sementara itu, Bang Kemal hanya tertawa kecil melihat adiknya yang sedang salah tingkah.

"Apa maksudmu, Aiyna? Bagaimana bisa kamu memimpikan Saad sementara ini pertemuan pertama kalian? Atau sebelumnya kalian pernah bertemu?" tanya Umi Jalwa menatap ke arah putrinya.

"Tidak, Umi. Aku hanya salah bicara saja. Ini pertemuan pertama kami," jawab Aiyna cengengesan sambil menatap Umi Jalwa.

"Kamu ini, lain kali kalau bicara dipikir dulu jangan asal nyeletuk saja," Umi Jalwa memberi nasihat pada putrinya.

"Baik, Umi. Kak Saad maafin Aiyna, Aiyna tidak bermaksud apa-apa," tutur Aiyna pada Saad.

"Tidak apa-apa, Aiyna." Saad tersenyum ramah pada Aiyna.

Bang Kemal yang melihat kecanggungan diantara Saad dan adiknya pun tiba-tiba beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua orang tuanya. Kemudian, dia membisikkan sesuatu pada orang tuanya. Dan tak lama setelah itu, Umi Jalwa dan Baba Ammar turut beranjak dari duduknya.

"Nak Saad, kami ke belakang dulu. Aiyna, temani Saad dan layani dia sebagaimana kamu melayani tamu. Kami tinggal dulu ya, Nak," ucap Umi Jalwa.

"Baik, Baba."

"Tidak perlu seperti ini, Baba," ucap Saad karena merasa tidak enak.

"Kamu ini tamu sekaligus calon menantu kami, jadi kami harus memperlakukanmu sebaik mungkin. Aiyna, layani Saad ya."

"Iya, Baba. Jangan khawatir, Aiyna paham dengan itu."

"Terima kasih atas kebaikannya." Saad sedikit membungkukkan badannya tanda menghormati.

Umi Jalwa, Baba Ammar dan juga Bang Kemal hanya menanggapinya dengan senyuman. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan Aiyna dan juga Saad. Sementara itu, Aiyna dan Saad hanya terdiam.

'Aduh, kenapa Baba, Umi dan Bang Kemal ninggalin Aiyna bersama Kak Saad sih? Aku benar-benar canggung bila berduaan seperti ini. Lagipula apa yang harus aku tanyakan padanya?' batin Aiyna bertanya-tanya sembari meremas jemarinya.

"Ekhem!" Saad berdehem sembari melirik ke arah Aiyna.

Reflek, Aiyna menoleh ke arah Saad yang berdehem. Kedua mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain. "Aiyna, apakah benar semalam kamu memimpikanku?" tanya Saad yang membuat kedua mata Aiyna seketika membola dengan sempurna.

'Aduh, aku harus jawab apa? Haruskah aku jujur saja jika aku memimpikannya?' batin Aiyna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Aiyna, aku sedang bertanya padamu," tutur Saad penuh santun.

Aiyna mau tidak mau harus mengakuinya. Karena ia tidak akan sanggup bila harus berbohong terlalu lama. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Benar, Kak. Malam itu saya memimpikan Kakak. Saya mimpi, Kakak datang menghampiriku dan berkata--"

"Apa yang aku katakan di dalam mimpimu?" tanya Saad.

"Eum ... Dalam mimpi Kakak bilang kalau--" Aiyna tidak melanjutkan ucapannya pada saat melihat Umi Jalwa datang.

"Nak Saad, ayo kita makan malam bersama," ajak Umi Jalwa.

"Terima kasih atas ajakannya, Umi. Tapi, sepertinya Saad harus segera pulang. Ini sudah larut tidak enak jika ada yang melihat Saad masih di sini," Saad menolak ajakan Umi Jalwa dengan selembut mungkin dan santun.

"Sedari tadi Umi belum melihatmu makan satu pun hidangan di sini. Jangan menolak tawaran kami, pulanglah setelah Nak Saad makan bersama kami," ujar Umi Jalwa.

"Baiklah, saya akan menerima tawaran dari Umi," jawab Saad dengan santun dan dibumbui dengan senyuman yang manis.

Tanpa berlama-lama mereka pun segera berjalan menuju meja makan. Sesampainya di sana, Umi Jalwa mempersilakan Saad untuk duduk dan mencicipi masakannya. Acara makan malam hari ini cukup hangat.

Sehingga setelah beberapa menit kemudian, mereka selesai makan bersama. Baba Ammar menatap lekat ke arah Saad yang sedang minum segelas air putih. "Nak Saad, bagaimana jika pernikahannya kita percepat saja?" ujar Baba Ammar secara mendadak.

Uhuk! Uhuk!

Saad seketika langsung tersedak setelah mendengar ucapan Baba Ammar yang cukup membuatnya terkejut. Kini seluruh mata telah memandang Saad. Begitupun dengan Aiyna.

"Ide bagus itu, Baba. Lebih cepat lebih baik. Lagi pula melihat Aiyna dan Saad, sepertinya mereka sudah sama-sama yakin. Bagaimana jika pernikahan dilangsungkan dua minggu depan?" sahut Bang Kemal. Dia memberi suara mengenai pendapat perihal pernikahan adiknya.

Aiyna langsung merona ketika mendengar Bang Kemal turut berpendapat mengenai pernikahannya. Sementara itu Umi Jalwa hanya tersenyum ke arah Aiyna. Wanita paruh baya itu memahami akan perasaan putrinya ini.

"Bagaimana, Nak Saad? Apakah Nak Saad telah siap menikahi putri saya Aiyna minggu depan?" tanya Baba Ammar sekali lagi.

"Saya serahkan keputusannya pada Aiyna. Jika Aiyna siap, maka saya juga siap," jawab Saad.

"Aku? Kenapa aku yang harus memutyskan?" Aiyna menunjuk dirinya sendiri seraya membelalakkan matanya.

Mendengar pertanyaan konyol Aiyna tentu membuat semua orang yang mendengarnya tertawa. "Astaga, adikku ini sangat polos. Kamu ini bagaimana sih, Aiyna? Yang mau menikah dengan Saad adalah kamu. Tentu saja Saad memintamu membuat keputusan. Yang akan menjalani pernikahan ini 'kan kalian bersama bukan kami. Masa Saad harus bertanya padaku. Konyol," Bang Kemal terkekeh.

Aiyna benar-benar malu begitu mendengar ucapan sang kakak. Wajahnya semakin merona bak kepiting rebus. Dia semakin salah tingkah di hadapan calon suaminya. Jika saja ia bisa menghilang saat itu juga maka Aiyna akan menghilang.

"Sudah, Kemal! Jangan meledek adikku seperti itu," tegur Umi Jalwa seraya memelototi Bang Kemal.

"Umi, lihat Abang! Dia meledekku lagi," Aiyna mengadu pada Umi Jalwa dengan mengerucutkan bibirnya.

"Akan Umi hukum nanti. Kemal, cepat minta maaf pada adikmu!" ancam Umi dengan nada bercanda.

"Baiklah, baiklah. Maafin Abang ya, Dedek," ledek Bang Kemal serta menggoda Aiyna dengan panggilan Dedek. Panggilan yang paling tidak Aiyna sukai.

"Ah, Bang Kemal ... berhenti memanggilku Dedek! Aku tidak menyukainya. Sekarang usiaku sudah dewasa, jangan manggilku Dedek!" protes Aiyna dengan nada yang manja.

"Kemal, sudah cukup! Kamu ini hobi sekali menggoda adikmu seperti ini. Apa kalian tidak malu dilihat Nak Saad? Dan kamu Aiyna! Apa kamu tidak malu diperhatikan oleh calon suamimu," lerai Baba Ammar.

"Haha, bocil mau married," ledek Bang Kemal.

"Bang Kemal!" pekik Aiyna sembari beranjak dari duduknya.

Kemudian Bang Kemal turut beranjak dari duduknya. Ia tahu jika Aiyna akan membalas ledekannya ini. "Bocil mau married," ledek Bang Kemal seraya berlari ke lantai atas.

"Bang Kemal! Awas aja kalau ketangkap!" Aiyna mengejar Bang Kemal dengan rasa kesal.

Sementara itu, Saad hanya tertawa kecil menyaksikan drama antara Kakak beradik tak sedarah ini. Sehingga tanpa dia sadar, jika calon mertuanya tengah memperhatikannya. Matanya masih asyik melihat Aiyna yang terus berlarian bersama sang kakak.

"Maafkan sikap putra dan putri kami, Nak Saad. Mereka itu kalau sudah bersatu ya begitulah. Sudah seperti tom & jerry saja. Terkadang mereka suka lupa akan usianya," kekeh Baba Ammar.

"Tidak apa-apa, Baba. Saya menyukai permandangan yang harmonis seperti ini. Aiyna sangat menggemaskan," tanpa dia sadari Saad telah memuji calon istrinya.

"Apa Nak Saad sedang memuji putriku?" Sindir Umi Jalwa dengan senyuman kecil.

Gleuk!

Saad tertegun sembari menoleh ke arah Umi Jalwa. Dia tidak menyangka jika ucapannya telah memuji Aiyna. Saat ini dia hanya terdiam dengan rasa sedikit malu karena tercyduk memuji calon istrinya.

****

Stay tune :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!