"Iya. Bukankah hadiah ini yang selalu kamu inginkan? Kamu ingin pergi ke negara T 'kan? Maka dari itu, Abang memberikanmu hadiah pernikahan ini agar kalian bisa berbulan madu selama sebulan di negara T bersama suamimu," sela Bang Kemal.
"Tidak, Bang. Ini pasti sangat mahal. Lebih baik ini simpan saja buat Bang Kemal pergi bersama istri Bang Kemal nanti." Aiyna merasa tidak enak dengan hadiah pemberian dari abangnya.
"Aiyna! Mengembalikan pemberian orang adalah hal yang tidak baik. Abang memberikan hadiah ini sebab Abang menyayangimu. Abang ingin kamu dan suamimu bahagia selalu. Hanya ini yang bisa Abang kasih buat hadiah pernikahan kalian. Semoga dengan hadiah ini, akan membuat kalian semakin dekat dan kenal lebih jauh lagi tentang karakter kalian. Sekarang tugas Abang sudah selesai, Abang pamit. Besok malam, Abang jemput kalian. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Bang Kemal berpamitan pada Aiyna dan Saad.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Aiyna dan Saad menjawab salam Bang Kemal.
"Bang Kemal! Terima kasih untuk hadiah ini!" ucap Aiyna dengan sedikit berteriak.
Bang Kemal hanya membalasnya dengan senyuman. Setelah itu ia masuk mobil dan melakukannya. Aiyna tersenyum penuh kebahagiaan dengan kedua mata yang masih memandang kepergian keluarga tercintanya.
Saad menggenggam tangan istri kecilnya dengan penuh kelembutan. "Mari kita masuk, istri kecilku." Saad mengajak Aiyna untuk masuk ke rumah sederhananya.
Aiyna mengangguk dan masuk bersamaan dengan suaminya. Mereka menutup pintu sebelum mereka duduk di kursi sederhana. "Aiyna, duduklah. Aku mau bicara denganmu," tutur Saad dengan santun.
"Baik, Kak." Aiyna menuruti perkataan suaminya dengan duduk di sebelah Saad.
Saad membenarkan posisi duduknya. Ia duduk menghadap istrinya disertai tatapan yang begitu lekat. Sebelum mengatakan sesuatu, Saad memegang kedua tangan Aiyna dengan penuh kasih sayang.
"Sebelumnya aku mau berterima kasih padamu karena telah menerima lamaranku. Walaupun hanya dengan segenggam beras, tapi kamu justru memilih lamaranku dibanding para pengusaha yang melamarmu saat itu. Sungguh aku benar-benar bersyukur atas nikmat Allah SWT yang diberikan padaku," tutur Saad dengan mata yang berkaca-kaca.
Aiyna tersenyum manis. "Sesungguhnya tidak ada mahar yang sebaik ini. Segenggam beras ini sudah menjadi mahar terbaik dari yang terbaik. Setiap manusia memerlukan makanan dan makanan pokok tersebut salah satunya adalah beras. Maka dari itu, aku memilihmu. Selain aku membutuhkan cinta, kasih sayang dan bimbinganmu, aku juga membutuhkan makan. Bagiku segenggam beras ini sudah lebih dari cukup. Dan mahar ini akan aku pergunakan dengan sebaik mungkin. Banyak diluaran sana yang kesulitan untuk mencari makan. Aku sangat bersyukur karena pria yang selama ini menjadi pertanyaan terbesarku telah datang dan menepati janjinya," jelas Aiyna dengan penuh rasa hormat.
"Apa maksudmu, Aiyna? Pertanyaan terbesarmu apa? Pria siapa? Dan janji apa?" Saad mengerutkan dahinya setelah mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir istri kecilnya.
"Rupanya Kakak masih belum menyadari ucapanku sejak awal." Aiyna tersenyum kecil mengetahui jika Saad belum menyadarinya.
"Menyadari apa, Istriku?"
"Begini, Kak ... sebelum acara lamaran itu dilakukan, aku pernah bermimpi jika aku didatangi oleh pria tampan dan berjubah memakai sorban juga. Pria itu datang menghampiriku. Dia berkata jika dirinya akan datang dan memintaku untuk tidak melupakannya. Dan Kakak tahu? Pria yang aku tanyakan pada Bang Kemal saat aku menyusul Abangku ke mesjid adalah pria yang ada di dalam mimpiku. Aku yakin jika pria yang aku lihat itu benar-benar pria yang ada di mimpiku. Kakak juga mengenali pria tersebut," Aiyna menjelaskan dengan sedetail mungkin.
"Aku mengenal pria itu? Benarkah? Siapakah pria yang kamu sukai itu? Apa dia kekasihmu sebelum kita menikah?" tanya Saad dengan polos.
"Tidak. Aku tidak berpacaran. Aku hanya mengagumi pria itu saja, Kak. Namun, setelah kita menikah ... pria itu sudah menjadi kekasihku, dia panutanku setelah Rasulullah SAW." Aiyna memandang Saad dengan mata yang dipenuhi rasa cinta.
Sejenak Saad terdiam mendengar ucapan Aiyna. Dia membalas tatapan Aiyna dengan tatapan yang lembut. "Apa pria itu adalah aku?" tebak Saad dengan nada yang ragu.
"Iya. Pria itu adalah Kakak. Dia sudah menjadi suamiku, dia kekasihku dan aku semakin mengaguminya. Sungguh, aku sudah jatuh cinta padamu, Kak," Aiyna mengungkapkan seluruh isi hatinya.
"MashaAllah, jadi pria yang selalu diceritakan Bang Kemal adalah aku? Aku tidak menduga jika pria beruntung itu adalah aku sendiri. Bagaimana bisa kamu memimpikanku padahal kamu tidak mengenalku sebelumnya,"
"Semua atas izinNya, Kak. Allah SWT telah menjodohkan kita. Maka dari itu, aku bisa memimpikan Kakak," jawab Aiyna tanpa rasa gugup sama sekali.
"Boleh aku minta sesuatu darimu, Aiyna?"
"Ya. Katakanlah." Aiyna mengangguk.
"Panggil aku dengan panggilan Abi. Status kita sudah menikah, aku ingin kita menjalani kehidupan yang berbeda. Bagaimana?"
"Abi?" Aiyna tercengang.
"Iya. Apakah kamu keberatan?"
"Tentu tidak, Suamiku. Jika Kakak, eh Abi maksudnya. Jika Abi merasa senang jika aku memanggilmu seperti itu maka aku akan mematuhinya. Mulai malam ini, aku akan memanggilmu, Abi." Aiyna setuju dengan panggilan suaminya.
"Terima kasih, Aiyna. Oh iya, sebentar lagi adzan isya ... aku mau pergi ke mesjid untuk shalat berjamaah. Apakah kamu tidak keberatan jika aku tinggal sendiri di rumah?" tanya Saad sembari melihat jam dinding.
"Ya, pergilah. Aku tidak akan melarangmu. Aku akan menunggumu di rumah," jawab Aiyna dengan menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Baiklah, aku pergi sekarang ya. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa kunci pintunya selagi aku pergi," pesan Saad.
"Baik, Abi." Aiyna mengangguk.
Cup!
Saad mengecup kening istri kecilnya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Setelah itu dia pergi menuju mesjid. Sementara itu, Aiyna segera menutup dan mengunci pintunya sesuai pesan yang dikatakan Saad.
Jantung Aiyna berdegup kencang. Wajahnya merona bak kepiting rebus. Kemudian dia berlari menuju kamar dan melompat ke ranjang. Dia berguling-guling kegirangan saking bahagianya. Dia benar-benar salah tingkah ketika mendapat kecupan lembut dari kekasihnya setelah menikah.
"MashaAllah, aku benar-benar gugup. Namun, aku sangat bahagia saat dia mendekatiku dan mengecup keningku. Aku benar-benar beruntung," gumam Aiyna sambil memegang keningnya yang sudah dikecup sang suami.
****
"Assalamu'alaikum," ucap Saad sembari mengetuk pintu rumahnya.
Dia baru pulang dari mesjid. Setelah beberapa menit di berdiam diri di depan pintu rumahnya, dia tidak mendengar suara Aiyna sedikitpun. Saad kembali mengucapkan dalam dan mengetuk pintunya lagi tapi, tetap saja pintu tidak dibuka oleh Aiyna.
Kemudian Saad mengeluarkan kunci duplikat yang selalu dia bawa ke mana-mana jika pintu utama tidak ada. Begitu pintu terbuka, dia kembali mengucapkan salam. Dan benar saja, tidak ada jawaban dari Aiyna.
Saad tidak berpikir macam-macam, dia segera menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kamar. Begitu pintu terbuka, dia melihat pemandangan yang menakjubkan. Dia melihat istri kecilnya tengah duduk di atas sejadah dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya. Namun, kedua matanya terpejam dan bersandar ke ranjang yang berada di sebelahnya.
"MashaAllah, pantas saja salamku tidak dijawab, rupanya dia ketiduran." Saad menggelengkan kepalanya sembari tersenyum gemas melihat istri kecilnya.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments