Pernikahan Aiyna & Saad ...
Di Kediaman Maliq saat ini sudah berdatangan tamu untuk menghadiri akad nikah Aiyna dan Saad. Karena kedua mempelai menginginkan pernikahan yang sederhana, Baba Ammar dan keluarga pun hanya mengundang kerabat dan tetangga dekatnya saja. Akad nikah akan segera dimulai, tinggal menunggu mempelai wanita untuk datang. Benar, Aiyna masih berada di ruang rias.
Kini jantung Saad mulai berdegup kencang. Ia benar-benar gugup. Dalam hatinya ia terus berdo'a, agar akad nikahnya lancar.
Sementara di sisi lain, Aiyna masih di berada di ruang rias. Ia duduk di depan meja rias sembari menatap wajahnya sendiri. Terlihat jelas di wajah Aiyna jika ia sedang gugup.
"Duar!" tiba-tiba Bang Kemal datang mengejutkan Aiyna.
Tentu saja Aiyna yang dikejutkan Bang Kemal langsung terperanjat seraya memegangi dadanya. "Ih, Bang Kemal! Ngagetin aja," omel Aiyna dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ngapain bengong? Ayo kita temui pujaan hatimu. Akad nikah akan segera dimulai," ajak Bang Kemal.
Gleuk!
Aiyna menelan salivanya. "Sekarang, Bang?"
"Enggak! Nanti tahun depan!" jawab Bang Kemal dengan nada ketus.
"Hehe, ya udah ayo. Jangan kesal gitu." Aiyna menggandeng lengan Bang Kemal.
"Ciie, yang bentar lagi mau jadi istri orang," goda Bang Kemal sembari berbisik.
"Diamlah, Bang! Jangan menggodaku seperti ini. Sebentar lagi juga Abang akan menikah dengan Kak Anisa," Aiyna balik menggoda abangnya.
Seketika langkah Bang Kemal langsung terhenti. Begitupun dengan Aiyna yang ikut terhenti. "Apa maksudmu? Kata siapa aku akan menikahi Anisa?" tanya Bang Kemal dengan wajah yang heran.
"Haha, prank." Aiyna tertawa kecil.
"Huft!" Bang Kemal menghela napas. "Pengantin wanita paling aneh di dunia." Bang Kemal menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik.
"Biarin. Aneh juga yang penting udah laku, wlee." Aiyna meledek Bang Kemal dengan menjulurkan lidahnya.
"Ohoo, mentang-mentang sudah dipinang orang jadi bisa meledek abang kesayanganmu ini." Bang Kemal menaik-turunkan alisnya.
"Yee, jangan geer." Aiyna memutar bola matanya dengan malas.
"Pantas saja pengantin wanita lama sekali sampainya, orang yang menjemput adalah kamu, Kemal!" ujar Umi Jalwa yang tiba-tiba muncul di hadapan kakak beradik ini.
"Umi, Bang Kemal terus godain Aiyna. Makanya Aiyna lama sampainya," Aiyna mengadu pada Umi Jalwa disertai menjulurkan lidahnya pada Bang Kemal.
"Tuhkan, ngadu lagi. Udah tau bocil ngebet kali pen nikah, haha," ledek Bang Kemal disertai tawa ledeknya.
"Umi, lihat Bang Kemal. Dia mengejekku lagi." Aiyna mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, jangan dengarkan Abangmu. Ayo kita temui suami dan pada tamu. Pak penghulu pun sudah datang." Umi Jalwa membawa Aiyna ke ruang akad.
Mendengar hal itu, jantung Aiyna kembali berdegup kencang. Ia merasa bahagia, terharu dan sedih juga. Ia bahagia karena ia bisa dinikahi oleh pria yang datang ke dalam mimpinya. Aiyna juga terharu karena dia bisa segera menjadi seorang istri dari pria sholeh seperti Naufal Saad Al Hafiz. Pengantin wanita ini juga merasa sedih karena ia akan tinggal berpisah dengan keluarga.
Sehingga tak terasa Aiyna dan Umi Jalwa sudah sampai di ruang akad. Menyadari mempelai wanita sudah datang, reflek mata Saad pun menoleh ke arah Aiyna. Sampai tidak sengaja kedua mempelai saling menatap satu sama lain.
"Ekhem. Nanti saja tatap-tatapannya kalau sudah halal, sekarang ayo kita selesaikan akadnya dulu," bisik Umi Jalwa diawali dengan berdehem.
Seketika Aiyna langsung tertunduk dan menuruti perkataan uminya. Perlahan dia duduk di kursi kosong sebelah Saad. Tanpa menunggu waktu lama, akad nikah pun dimulai.
****
Malam hari ...
Aiyna saat ini tengah terduduk di ranjang hotel. Pandangannya menatap ke arah pintu kamar. Sambil menunggu suaminya datang, Aiyna pun membaca buku kesukaannya yaitu novel islami romance.
"Assalamu'alaikum," ucap Saad yang baru saja masuk.
Karena keasyikan membaca, Aiyna sampai tidak menyadari kehadiran suaminya. Ia bahkan tidak menjawab salam dari suaminya. Saad yang merasa salamnya tidak dijawab langsung menoleh ke arah sang istri.
Perlahan dia berjalan mendekati Aiyna yang saat ini sedang tersenyum. Matanya masih fokus menatap tulisan novel tersebut. Saad yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Kemudian dia mendekatkan bibirnya di telinga sang istri.
"Assalamu'alaikum, Istriku."
Deg!
Jantung Aiyna terasa berhenti berdetak setelah mendengar ucapan Saad. Tubuhnya mematung dengan kedua mata menoleh ke arah sang suami. "Wa'alaikumsalam, Kak Saad," jawab Aiyna dengan wajah yang pucat.
"Kamu sedang apa? Kenapa salam saya tidak dijawab pada saat saya memasuki kamar?" tanya Saad dengan sangat santun dan lembut.
"Benarkah? Aiyna tidak menjawab?" seketika bola mata Aiyna langsung terbelalak.
"Iya, Aiyna. Buku apa yang sedang kamu baca ini?" tanya Saad sembari melirik ke arah buku yang tengah dipegang sang istri.
"Eum ... tidak. Ini hanya buku ... sudahlah, ini bukan buku yang spesial." Aiyna segera menatuh bukunya di laci.
"Kamu suka pria yang seperti apa?" tanya Saad tiba-tiba, setelah melihat buku romance yang Aiyna baca.
Aiyna langsung menatap ke arah Saad. "Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya seperti itu?" Aiyna keheranan dengan pertanyaan suaminya.
"Saya hanya ingin menjadi sosok suami yang kamu sukai, yang sesuai dengan impianmu. Jika tidak keberatan, boleh saya bertanya sesuatu?" Saad menatap lekat sang istri.
Aiyna mengangguk meng-iyakan. "Iya, Kak. Tanyakan saja," jawab Aiyna disertai senyumannya.
"Apa sebelumnya kamu pernah menyukai pria lain sebelum pernikahan ini terjadi?" tanya Saad dengan mimik yang serius.
"Iya, aku pernah menyukai seorang pria," jawab Aiyna sambil menunjukkan senyuman yang malu-malu.
Setelah mendengar itu, raut wajah Saad langsung berubah. Terlihat Saad tidak menyukainya. Dia terlihat sedang cemburu pada pria yang istrinya sukai itu.
"Apa kamu tidak menyesal dengan pernikahan ini? Kenapa tidak menikahi pria yang kamu sukai saja?"
"In Sha Allah, tidak akan, Kak. Karena sesungguhnya ... pria yang aku sukai itu sekarang sudah menjadi suamiku," jawab Aiyna dengan tersenyum dan pipi yang merona.
"Jadi, kamu--"
"Iya, Kak. Aku menyukaimu," jawab Aiyna dengan jujur.
"Sejak kapan kamu menyukai saya, Aiyna?"
"Eum ... sejak pertemuan kita dalam mimpi. Saat itu, aku sudah jatuh cinta. Dan Kakak tahu? Dalam mimpi Kakak mengatakan sesuatu padaku,"
"Apa itu?"
"Kakak bilang padaku bahwa untuk tidak melupakan Kakak pada saat kita bertemu. Dan Kakak bilang kita akan segera bertemu. Mungkinkah kalimat itu pertanda kalau Kakak akan datang melamarku?" tanya Aiyna sembari menatap sang suami dengan tatapan yang serius.
"Wallahu'alam, Aiyna. Mungkin bisa saja itu adalah sebuah petunjuk."
"Tapi, Kak ... kenapa Kakak mau melamarku? Padahal Kakak tidak mengenalku?" tanya Aiyna lagi.
"Kata siapa saya tidak menyukaimu, Aiyna?" Saad tersenyum penuh arti.
"Hah? Maksud Kakak?"
"Aku mengenalmu, Aiyna. Saya sering memperhatikanmu selama ini. Dan setelah mendengar kabar jika Baba membuka lamaran untukmu maka saya mantapkan hati saya untuk meminangmu. Syukur alhamdulillah-nya kamu dan keluarga mau menerima lamaranku walau hanya dengan mahar segenggam beras. Sungguh, berapa beruntungnya bisa mempunyai seorang istri yang cantik dan sholehah sepertimu. Saya menyayangimu, Aiyna." Saad menggenggam kedua tangan Aiyna dengan lembut.
"Jika Kakak mengenalku, kenapa Kakak tidak pernah menyapaku?"
"Mana mungkin saya berani menyapa gadis mulia sepertimu,"
"Eh, Kakak ini bicara apa." Aiyna tersipu malu mendengar pujian yang dilontarkan suaminya.
"Saya serius, Aiyna. Oh iya, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?"
Uhuk! Uhuk!
Aiyna langsung terbatuk-batuk setelah mendengar pertanyaan sang suami.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments