Bab 19 > Garis Dua?

Di kediaman Saad ....

Setelah cukup lama Aiyna memejamkan mata, kini ia terbangun dan beranjak dari duduknya. Namun, pada saat dia hendak berdiri tiba-tiba kepalanya kembali merasa pusing. Sehingga membuatnya duduk kembali serta memegangi kepalanya.

"Sebenarnya aku ini kenapa sih? Perasaan aku belum pernah merasa pusing seperti ini. Makananku sangat di jaga, dan aku selalu melakukan sesuatu yang sehat. Kenapa ya?" Aiyna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Tunggu dulu ... aku belum haid selama beberapa minggu ini. Ya, aku belum haid. Astagfirullah, bagaimana bisa aku lupa tanggal tamu bulananku itu? Jangan-jangan aku ... enggak, aku harus memberi tahu Abi soal ini." Aiyna tidak mau menduga-duga tentang apa yang dia alami saat ini.

Aiyna memaksakan diri untuk bangun dan berjalan secara perlahan keluar dari kamarnya. Dia berjalan sembari memegangi kepalanya yang tertutup oleh hijab. Sesampainya di dapur, ia tidak melihat suaminya. Melainkan dirinya hanya melihat makanan yang sudah siap yang tertutup tudung saji transparan.

"Loh, seharusnya Abi ada di dapur. Makanannya sudah jadi, lalu ke mana Abi pergi? Apa dia sedang keluar untuk membeli sesuatu?" Aiyna mengerutkan keningnya seraya menatap ke arah makanan yang sudah siap itu.

"Assalamu'alaikum," ucap seorang pria dengan membuka pintunya.

"Wa'alaikumsalam," Aiyna menjawab seraya membalikkan badannya dengan menoleh ke arah pintu rumah.

Pria yang masuk ke rumah itu tidak lain dan tidak bukan adalah Saad, yaitu sang suami Aiyna. Pria itu berjalan ke arah istrinya dengan tatapan yang teduh. Setelah berada di hadapan Aiyna, Saad memegang tangan sang istri dan memberikan testpack yang ia beli di apotek tadi.

Sontak, kedua bola mata Aiyna langsung terbelalak. Dia cukup tercengang melihat alat yang diberikan suaminya. Tentunya dia tahu alat apa itu. Benar, alat itu adalah alat tes kehamilan pada wanita yang telat haid beberapa minggu.

"Abi membeli testpack?" tanya Aiyna yang merasa tidak percaya jika suaminya yang membeli alat tersebut.

Saad mengangguk dan tersenyum. "Iya, Sayang."

"Tapi, kenapa? Kenapa Abi membeli alat ini?"

"Karena Abi khawatir padamu, Aiyna. Gejala yang kamu alami ini sama persis seperti wanita yang tengah hamil muda. Lagi pula, setelah Abi ingat-ingat ... sudah beberapa minggu ini kamu belum haid. Jadi, Abi memutuskan untuk membeli testpack untuk memastikannya," jelas Saad dengan menggenggam tangan istrinya.

"Jadi, Abi tahu jika aku telat haid? Abi tahu, Aiyna lupa jika Aiyna tidak haid beberapa minggu ini. Dan aku tidak pernah merasa aneh seperti ini." Aiyna menatap suaminya dengan tatapan yang bingung.

"Sudah, tidak apa-apa. Untuk memastikannya, kamu tes dulu. Semoga saja hasilnya positif," ujar Saad dengan suara yang lembut serta mengelus wajah sang istri.

Aiyna tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia pergi ke toilet yang berada di kamarnya. Diikuti oleh Saad yang turut memasuki kamar.

"Loh, Bi ... kenapa ikut masuk? Tunggu saja di luar, Aiyna paham kok cara pakainya," ucap Aiyna sebelum memasuki kamar mandi.

"Tidak apa-apa, Sayang. Abi hanya penasaran dengan hasilnya saja. Semoga saja Allah mengkaruniai kita seorang anak," jawab Saad.

"Semoga aja ya, Bi. Aiyna masuk dulu ya." Aiyna masuk ke kamar mandi.

Sementara Saad menunggu di luar kamar mandi. Dia terlihat mondar-mandir saking tidak sabar menunggu hasilnya. Setelah beberapa menit kemudian, Aiyna keluar dengan menyembunyikan testpack-nya.

Terlihat jelas dari wajah Aiyna yang tidak terlihat tersenyum membuat Saad mengerti kalau dugaan istrinya sedang hamil itu adalah salah besar. Dia mencoba membuat dirinya untuk tenang dan tidak kecewa atas hasilnya. Dia berjalan menghampiri istrinya yang saat ini tengah meneteskan air mata.

Melihat itu, Saad langsung memeluk sang istri dengan pelukan yang hangat dan disertai ribuan kasih sayang. "Tidak apa-apa, Sayang. Mungkin belum rezeki kita. Kita bisa mencobanya lagi nanti," ucap Saad dengan menenangkan hati istrinya.

"Aku positif, Bi. Aku hamil," ucap Aiyna dengan suara yang pelan dan disertai tangisan haru.

Deg!

Saad yang awalnya sempat merasa kecewa tiba-tiba jantungnya seakan berhenti berdetak begitu mendengar ucapan sang istri. Saad perlahan melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua bahu sang istri disertai tatapan matanya yang begitu lekat.

"Katakan sekali lagi, Sayang." Saad menatap Aiyna dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku positif, Bi. Aku sedang mengandung anakmu," tutur Aiyna dengan kembali meneteskan air mata penuh kebahagiaan.

"Alhamdulillah, tabarakallah ... subhanallah, terima kasih banyak, Sayang." Saad meneteskan air mata kebahagiaan.

Tubuh pria itu merosot ke lantai dan memeluk perut istrinya seraya menciumi perut sang istri. "Assalamu'alaikum, calon putra/putri Abi. Abi bersyukur sekali karena kehadiranmu ini di perut Umi-mu ini. Jaga Umi baik-baik ya, Sayang. Baik-baik di perut Umi ya. Muach! Muach!" turut Saad penuh kelembutan serta penuh kasih sayang. Tidak lupa Saad terus mencium perut istrinya.

Aiyna yang melihat kebahagiaan di mata suaminya membuat hatinya turut bahagia. Dia merasa menjadi wanita paling bahagia dan beruntung di dunia karena bisa mendapatkan suami seperti Saad yang penuh dengan kelembutan. Aiyna mengelus lembut rambut sang suami.

"Bangunlah, Bi." Aiyna membangunkan suaminya.

"Sebentar, Sayang." Saad memegangi perut sang istri kedua tangan kanannya, lalu ia membacakan do'a untuk istri serta calon anaknya.

Selesai itu, Barulah Saad berdiri. Kemudian, Aiyna memberikan testpack yang ia sembunyikan tadi kepada suaminya. "Ini, Bi."

Saad mengambil testpack tersebut dan melihat dengan kedua bola matanya. Terlihat sangat jelas jika di testpack tersebut ada garis 2 yang menandakan itu positif. Positif di sini artinya, Aiyna tengah mengandung.

"Besok kita ke bidan ya, Sayang. Kita periksa kehamilanmu ini. Setelah itu, kita beri tahu kabar gembira ini pada keluargamu," ujar Saad dengan mengajak sang istri untuk memeriksakan kehamilannya pada dokter kandungan.

"Iya, Bi. Sekarang Aiyna lapar, Aiyna pengen makan," ucap Aiyna dengan memeluk lengan suaminya.

"Ayo, akan Abi suapi. Abi sudah memasaknya tadi." Saad mengajak istrinya keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.

Sesampainya di dapur, Saad langsung membuka tudung saji dan terlihat makanan yang enak sudah siap. Namun, Aiyna menggelengkan kepalanya. Tak lama setelah itu, Aiyna merasa di indra penciumannya merasa aneh yang membuat perutnya kembali merasa mual. Sehingga membuat Aiyna berlari ke kamar mandi.

Begitu berada di kamar mandi, Aiyna langsung memuntahkan isi perutnya. Selesai itu, Aiyna mencuci muka agar merasa segar. Disaat ia tengah mengeringkan wajahnya dengan handuk, tiba-tiba suara pintu kamar mandi diketuk dari luar.

"Sayang, kamu baik-baik saja? Buka pintunya," Saad bertanya dengan nada yang cemas.

Ceklek!

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Aiyna keluar dari kamar mandi dan menutupnya kembali. "Jangan cemas, Bi. Aku baik-baik saja. Hanya saja, Aiyna tidak mau makan yang telah Abi masak. Entah kenapa setelah mencium aroma masakan Abi, perutku langsung mual. Maafin Aiyna ya," tutur Aiyna dengan santun.

"Ya, Sayang. Tidak masalah, lalu kamu mau makan apa agar tidak merasa mual?"

"Aku mau rujak, Bi. Harus pedas dan asem, jangan lupa sama kerupuknya juga," jawab Aiyna sembari membayangkannya.

"Rujak? Tapi, di mana Abi bisa membelinya sedangkan sebentar lagi mau masuk adzan maghrib." Saad mengerutkan dahinya.

****

Stay tune :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!