"Malam pertama apa sih? Kakak jangan kepo!" timpal Aiyna dengan nada ketus.
"Yee, Abang 'kan hanya bertanya saja," kekeh Bang Kemal.
"Bertanya sih bertanya, tapi jangan tanyakan masalah pribadi kek gini. Kak Saad pasti malu dengar ini," gumam Aiyna dengan pelan.
Seketika semua orang yang berada di meja makan langsung tertawa. Begitupun dengan Saad, dia hanya tertawa kecil seraya mengelus jilbab Aiyna dengan penuh kelembutan. Aiyna yang merona kala tangan kekar Saad mengelus kepalanya.
"Umi, lihat itu! Sepertinya ada yang salting nih," sindir Bang Kemal sembari melirik ke arah adiknya.
"Sudah, diam! Jangan godain adikmu lagi. Kamu ini jadi Abang senang sekali menggodanya," tegur Umi Jalwa.
"Habisnya Aiyna itu menggemaskan jika merajuk. Apalagi kalau lagi makan, pipinya kek ikan buntal," ledek Bang Kemal disertai dengan tawanya.
"Apa? Ikan buntal? Kakak bilang, Aiyna kek ikan buntal?" Aiyna membulatkan kedua matanya seraya mendekati Bang Kemal.
Sementara itu, Bang Kemal langsung lari dari adiknya. Ia yakin jika Aiyna akan menghukumnya. Tingkah Bang Kemal dan Aiyna ini benar-benar seperti anak kecil yang tidak mengenal tempat selalu saja ribut.
"Tuhkan, Umi. Bang Kemal ngeselin lagi." Aiyna menghentak-hentakkan kakinya dengan nada bicara yang manja.
"Sudah, biarkan saja Abangmu itu. Sekarang duduk sini dekat Umi." Umi Jalwa menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Aiyna pun menurutinya dengan duduk di kursi tersebut. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu Umi Jalwa. Kedua matanya memandang Saad yang berada di hadapannya. Tiba-tiba Aiyna teringat sesuatu setelah melihat senyuman kecil di bibir suaminya.
"Oh iya, Umi-Baba." Aiyna membenarkan posisi duduknya dan menatap Umi Jalwa dan Baba Ammar.
"Ada apa, Aiyna?" tanya Baba dan Umi Jalwa.
"Eumm ... kami berniat mau pindah nanti sore. Ya 'kan, Kak?" ucap Aiyna sembari menoleh ke arah Saad.
"Apa benar yang dikatakan Aiyna, Nak Saad?" tanya Baba dengan mengalihkan pandangannya ke arah menantunya.
"Benar, Baba-Umi. Kami memutuskan untuk pindah ke rumah sederhana Saad. Apakah Umi dan Baba tidak keberatan jika kami pisah rumah?" jelas Saad dengan santun dan penuh hormat.
"Tunggu dulu ... kenapa mendadak sekali? Apa perlakuan salah satu dari kami ada yang membuatmu tersinggung? Atau rumah ini tidak nyaman untukmu, wahai menantuku, Saad?" tanya Baba dengan lembut.
"Tidak, bukan begitu, Baba. Selama Saad berada di rumah ini, Umi, Baba dan Bang Kemal selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Baba, Umi dan Bang Kemal yang menyinggungku. Hanya saja, Saad ingin membangun rumah tangga berdua bersama Aiyna. Kami ingin hidup mandiri dan aku ingin bertanggungjawab penuh atas Aiyna. Izinkan Saad membahagiakan putri Baba dan Umi. Beri Saad kesempatan untuk membahagiakan Aiyna," tutur Saad dengan lembut. Ia meminta izin pada Umi dan Baba untuk membawa Aiyna ke rumah sederhananya.
"Hmm ... baiklah, jika ini sudah menjadi keputusan kalian berdua, kami hanya bisa memberi kalian restu. Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan bisa cepat-cepat memberi kami cucu. Ya 'kan, Umi?" Baba menatap ke arah istrinya.
"Iya, suamiku. Umi juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu," timpal Umi Jalwa dengan tersenyum.
Gleuk!
Aiyna yang mendengar itu hanya tertegun. Kemudian dia tatap-tatapan dengan suaminya. Sama halnya dengan Aiyna, Saad pun terdiam sambil menelan salivanya setelah mendengar ucapan dari Baba dan Umi perihal minta cucu.
Melihat reaksi putri dan menantunya, membuat Umi Jalwa dan Baba Ammar tersenyum tipis. "Tidak perlu panik, jalani saja pernikahan kalian dengan bahagia. Urusan cucu serahkan saja sama Allah SWT. Oh iya, kapan kalian akan berangkat?" tanya Umi Jalwa dengan mengalihkan pembicaraan.
"Ba'da ashar, Umi."
"Baiklah, kami akan mengantarkan kalian menuju rumah kalian itu. Kalian beristirahatlah dulu," ucap Baba seraya beranjak dari duduknya.
"Terima kasih, Baba-Umi." Saad tersenyum.
Umi Jalwa dan Baba mengangguk disertai senyuman kecil. Kemudian Baba pergi meninggalkan meja makan. Sementara itu Umi Jalwa membereskan piring kotor dan membawanya ke wastafel. Aiyna yang melihat itu, turut membantu Umi Jalwa.
"Biar Aiyna saja, Umi." Aiyna membawa piring kotor tersebut ke wastafel.
"Terima kasih, Aiyna. Biarkan Umi saja yang mencucinya. Kamu temani Saad."
"Tapi, Umi--"
"Sudah, ajak suamimu ke kamar dan beristirahatlah. Bukankah nanti sore kalian akan pergi?" ujar Umi Jalwa.
"Baiklah, Aiyna ke kamar dulu ya, Umi."
"Iya, silakan."
"Ayo, Kak." Aiyna mengajak Saad ke kamarnya.
Saad pun beranjak dari duduknya dan berpamitan pada ibu mertuanya. Setelah itu, barulah mereka pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar mereka pun duduk di sofa dan saling mengobrol satu sama lain.
****
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Setelah Aiyna dan Saad melaksanakan shalat ashar berjamaah, mereka pun mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah sederhana Saad yang tidak jauh dari kediaman Aiyna. Mereka tidak membawa barang begitu banyak, hanya dia koper saja. Itu pun barang-barang milik Aiyna.
Mereka keluar dari kamarnya dan menemui Bang Kemal sebelum pergi. Aiyna mengetuk pintu sebanyak tiga kali setelah sampai di kamarnya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Bang Kemal keluar dari kamarnya dan menatap keheranan ke arah Aiyna dan adik iparnya.
"Loh ... kalian mau ke mana? Kenapa membawa dua koper? Apa kalian mau pergi berbulan madu?" celetuk Bang Kemal dengan asal menebak saja.
"Assalamu'alaikum, Bang Kemal," ucap Aiyna dengan sorotan matanya yang tajam.
"Wa'alaikumsalam, Adikku," jawab Bang Kemal sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia lupa mengucapkan salam dan asal nyeletuk saja.
"Kami mau berpamitan sama Bang Kemal. Hari ini kami akan pindah. Aiyna akan tinggal di rumah Kak Saad mulai sekarang. Aku harap Kakak tidak akan merindukanku," jelas Aiyna diakhiri dengan menjulurkan lidah tanda meledek.
"Pindah? Sekarang?" Seketika kedua bola mata Bang Kemal terbelalak dengan sempurna.
"Enggak. Nanti tahun depan," timpal Aiyna dengan ketus.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Dia ini Abangmu," Saad menegur istrinya.
"Sayang, dengerin kata suamimu," kekeh Bang Kemal dengan terus menggoda adiknya.
"Nyebelin!" omel Aiyna sembari mengerucutkan bibirnya ke arah Bang Kemal.
Saad tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakannya Aiyna. Ia pun mengelus kepala istri kecilnya di hadapan Bang Kemal. "Sudah, jangan cemberut begitu. Abangmu ini sangat menyayangimu makanya terus menggodamu," kekeh Saad.
"Adikku ini orangnya baperan, Saad. Kamu harus sering-sering bujuk dia kalau dia lagi merajuk. Dan permintaannya suka aneh-aneh," ujar Bang Kemal sembari melirik ke adiknya.
"Ih, mana ada. Kapan Aiyna minta yang aneh-aneh sama Abang? Kapan?" tanya Aiyna.
"Itu, waktu kamu nyusulin Abang ke mesjid dan menanyakan pria berjubah putih yang keluar dari mesjid, kamu menanyakan pria it--"
Aiyna dengan cepat langsung membungkam mulut Bang Kemal dan memelototinya. 'Bang Kemal ini punya mulut kek toren kali,' umpat Aiyna dalam batinnya.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments