"Bisakah aku menjawabnya nanti saja? Aku belum siap untuk menjadi seorang ibu," jawab Aiyna dengan mengalihkan pandangan karena saking malunya.
Saad yang mendengar serta melihat reaksi istri kecilnya ini hanya tertawa kecil. "Baiklah, saya tidak akan memaksamu. Sekarang mandi dan ganti pakaianmu, apakah kamu akan tidur dengan gaun pernikahanmu ini?"
Tanpa membuang waktu lagi, Aiyna langsung beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Sebelum memasuki kamar mandi, tentu dia sudah membawa pakaian tidurnya. Setelah itu, barulah dia masuk dan mandi.
Sementara itu, Saad menunggu di luar dengan duduk bersandar di ranjang. Menit demi menit berlalu. Kini hampir satu jam, akan tetapi Aiyna belum juga keluar dari kamar mandi.
Karena khawatir, Saad pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. "Aiyna, apa kamu baik-baik saja?" tanya Saad dari luar kamar mandi.
"Euh ... iya, Kak. Aku baik-baik saja," jawab Aiyna dengan nada yang pelan.
"Lantas, apa yang membuatmu begitu lama di kamar mandi? Apa ada masalah?" tanya Saad lagi dengan nada yang cemas.
"Begini, Kak. Ada masalah, aku tidak bisa membuka resleting gaunku. Aku kesulitan menjangkaunya," jawabnya dari dalam kamar mandi.
"Astaghfirullah, kenapa tidak meminta bantuan ku, Aiyna? Jadi, sedari tadi kamu di dalam kamar mandi itu bukannya mandi tapi berusaha membuka resletingnya? Kalau begitu, buka pintunya. Aku akan membantumu," timpal Saad seraya menggelengkan kepalanya.
Sejenak tidak ada jawaban dari Aiyna. Begitupun dengan pintunya yang masih tertutup. Saat ini Aiyna benar-benar bingung, di satu sisi dia malu jika harus meminta bantuan Saad. Meski dia suaminya, tetap saja untuk pertama kalinya hal ini membuatnya canggung dan malu.
"Aiyna, Sayang. Buka pintunya, mau sampai kapan berdiam diri di kamar mandi? Begini saja, aku tidak akan mengintip. Aku akan menutup mataku saat membantumu, bagaimana?" ujar Saad yang memahami apa yang dirasakan sang istri.
Dia tahu jika istrinya ini sedang bimbang. Ia tahu jika Aiyna sangat malu akan hal itu. Setelah beberapa menit menunggu, Aiyna pun akhirnya membuka pintu kamar mandinya. Terlihat jelas, Aiyna tengah gugup dan bercucuran keringat. "Masuklah," ucap Aiyna pada suaminya.
Saad pun menuruti perkataan istrinya dengan segera masuk ke kamar mandi. Tanpa berlama-lama, Saad pun berjalan ke belakang Aiyna. Aiyna hanya menatap suaminya dari pantulan cermin. Tepat pada saat Saad hendak memegang resleting gaunnya, tiba-tiba Aiyna membalikkan badannya sehingga secara otomatis, wajah mereka berpapasan dengan jarak yang begitu dekat.
Deg!
Kedua bola mata Aiyna seketika terbelalak. Dia terpaku melihat ketampanan sang suami. Begitupun dengan Saad yang terkejut serta terpesona dengan kecantikan istri kecilnya. Disertai debaran jantung mereka yang semakin membuat suasana semakin canggung dan hening tanpa kata.
Setelah beberapa menit terhipnotis dalam kekaguman masing-masing, Aiyna pun tersadar dan langsung membalikkan badannya lagi. Kedua tangan memegang dadanya yang debaran jantungnya semakin cepat. Selain itu, ia mulai memberanikan diri menatap sang suami dari pantulan cermin.
"Kak, jangan lupa ... tutup matamu pada saat membantuku," ucap Aiyna dengan sedikit gugup. Dia kembali mengingatkan Saad.
"Jangan cemas, aku tidak akan mengintipnya. Kamu bisa perhatikan aku dari pantulan cermin ini, bagaimana?" Saad tersenyum melihat kewaspadaan istri kecilnya ini.
Aiyna pun mengangguk meng-iyakan ucapan suaminya. Setelah itu, barulah Saad berlutut dan memejamkan matanya. Kemudian dia memegang resleting dan perlahan membukanya.
Sedangkan Aiyna, dia menatap Saad yang menepati janjinya. Terlihat jelas jika Saad tengah memejamkan matanya dan membuka resleting istrinya. Setelah selesai, Aiyna berbalik badan dan membungkukkan badannya menatap wajah suaminya.
"Kak, buka matamu. Sudah selesai," tutur Aiyna.
Sontak, Saad langsung membuka matanya. Dan sekali lagi, Aiyna terjebak dalam tatapan lekat suaminya. Sehingga membuat Aiyna tidak mampu berpaling dari dua mata suaminya yang amat sangat indah itu.
"Ya sudah, kamu mandi dan ganti pakaianmu. Aku tunggu di luar," ujar Saad sembari bangkit dan berjalan keluar dari kamar mandi.
"Kak!" panggil Aiyna.
Saad menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Aiyna. "Iya, kamu butuh bantuan lagi?"
Aiyna menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, Kak." Aiyna tersenyum manis.
"Tidak perlu berterima kasih, wahai istriku. Sudah kewajibanku untuk selalu membantumu. Aku keluar, cepatlah. Jangan berlama-lama di kamar mandi, nanti bisa masuk angin," timpal Saad seraya keluar dari kamar mandi dan menutup kembali pintunya.
****
Terdengar suara adzan shubuh berkumandang. Aiyna pun bangun dari tidurnya. Dengan cepat dia bergegas untuk mandi dan berwudhu untuk melaksanakan shalat shubuh.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah saja, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Dia baru menyadari sesuatu jika pada saat dia bangun dia tidak melihat suaminya di ranjang. Untuk memastikannya lagi, Aiyna menoleh ke ranjang dan sekeliling kamar. Dan ternyata benar jika suaminya tidak ada di kamar.
"Loh, ke mana Kak Saad pergi?" Aiyna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit menelisik sekeliling ruangannya, Aiyna pun memutuskan untuk pergi mandi dan melaksanakan kewajiban, yaitu shalat shubuh. Tak membutuhkan waktu lama untuk Aiyna mandi dan berwudhu, ia pun keluar dari kamar mandi dengan kondisi sudah mengenakan pakaian. Setelah itu, barulah Aiyna menggelar sejadah, lalu mengenakan mukenanya dan shalat.
****
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Saad seraya memasuki kamarnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aiyna dengan kondisi masih mengenakan mukena.
"Kamu baru selesai shalat, Sayang? Bagaimana tidurmu?" tanya Saad sembari menghampiri istri kecilnya itu.
Aiyna mengangguk seraya mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. "Iya, Kak. Alhamdulillah tidur Aiyna sangat nyenyak. Bagaimana dengan Kakak sendiri?" Aiyna bertanya balik pada suaminya.
"Alhamdulillah, nyenyak juga." Saad menarik lembut kedua bahu Aiyna dan mencium keningnya dengan penuh kelembutan.
"Kak, sebentar. Aiyna lepas dulu mukenanya," ucap Aiyna dengan santun.
"Iya, silakan."
Kemudian Aiyna segera membuka mukenanya di hadapan suaminya. Setelah itu, Aiyna melipat mukena beserta sejadahnya. Sementara Saad, ia hanya terpesona melihat istri kecilnya yang tanpa memakai hijab.
Rambutnya yang hitam, lurus, basah serta wangi membuatnya tak berhenti menatap kagum. 'Sungguh indah ciptaanMu ini, Ya Allah,' Saad memuji istri kecilnya dalam hati.
"Kak Saad, kenapa menatapku seperti ini? Apakah Kakak risih melihatku tanpa hijab seperti ini? Jika benar, aku akan memakainya kembali." Aiyna mengambil hijab yang tergeletak di ranjang.
Sebelum Aiyna memakai hijabnya, dengan cepat Saad menahan kedua tangan Aiyna dan menatapnya dengan tatapan yang teduh. Aiyna pun mendongak menatap suaminya. "Kenapa?" tanya Aiyna dengan santun dan lembut.
"Biarkan aku memandang dan mengagumimu, wahai istri kecilku. Sungguh, baru kali ini saya melihat bidadari yang tinggal di bumi. Sungguh indah dan cantiknya wanita yang Allah SWT titipkan padaku ini. Aku sangat bersyukur bisa terpilih menjadi suami dan melihat sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat."
Mendengar itu, Aiyna hanya menatap kebingungan. "Bukankah semalam kita--"
"Tidak, Aiyna. Kita tidak melakukan itu semalam. Bagaimana mungkin aku melakukan itu tanpa seizinmu. Jangankan melakukan itu, membuka hijabmu saja aku tidak berani," jawab Saad dengan jujur.
'Jadi, semalam aku dan Kak Saad tidak melakukan itu?' batin Aiyna berbicara. Ia bermonolog dalam lamunannya.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments