"Tiara itu adalah temanku, Aiyna. Dia adalah orang yang ikut serta mengajar mengaji anak-anak dan kita tidak memiliki hubungan apa pun. Percayalah, Tiara tidak mungkin menyukaiku. Jadi, jangan memikirkan komentar buruk para tetanggaku itu, ya," jelas Saad dengan santun.
"Oh iya? Dari mana Abi tahu kalau Tiara tidak menyukaimu? Bagaimana jika dia diam-diam menyukaimu? Siapa yang akan Abi pilih? Mempertahankan pernikahan kita atau kembali kepada Tiara?" tanya Aiyna dengan menunjukkan kecemburuannya itu.
"Pertanyaan macam apa ini, Aiyna? Itu tidak akan pernah terjadi. Abi tidak pernah menyukainya, selama ini rasa ini selalu tertuju padamu. Pada kenyataannya, Aku lah orang yang diam-diam menyukaimu. Jika kamu tetap menyuruhku untuk memilih maka aku akan memilihmu. Aku memilih untuk mempertahankan pernikahan kita. Tidak peduli berapa banyak orang yang menghujatmu dengan mengatakan kamu bocil, aku akan tetap memilihmu." Saad mencurahkan isi hatinya sembari menggenggam tangan sang istri dengan lembut disertai tatapan yang begitu lekat dan penuh dengan kejujuran.
Aiyna terdiam dan memandang tatapan suaminya beberapa saat. Hatinya cukup merasa lega dengan penjelasan suaminya. Dia hanya ingin mengetahui penjelasan dari suaminya saja. Istri mana yang akan diam saja jika suaminya digosipkan dengan wanita lain.
Setelah merasa tenang dan percaya pada suaminya, Aiyna sedikit tersenyum. "Aku percaya padamu, Bi. Tolong, jangan khianati kepercayaanku ini." Aiyna menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak akan pernah, Sayang. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengkhianatimu." Saad mengelus lembut wajah sang istri.
"Maukah Abi berjanji padaku? Berjanji jika Abi tidak akan menikah lagi dan poligami Aiyna? Sebab aku takut jika Abi menikah lagi, Aiyna takut jika harus dimadu. Aiyna tidak mau itu, Bi."
"Astagfirullah ... tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benakku untuk memadumu, Aiyna. Aku berani berjanji dan bersumpah jika aku tidak akan pernah menikah lagi apalagi poligami. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu yang bisa membuatmu terluka. Aku berjanji jika aku tidak akan menikahi wanita lain selain dirimu," jelas Saad.
Aiyna mengangguk. "Aiyna percaya padamu, Bi." Aiyna tersenyum kemudian memeluk sang suami.
Melihat istrinya yang sudah tidak merajuk lagi, Saad pun tersenyum seraya mengelus kepala sang istri serta mengecup ubun-ubun istrinya.
****
Setelah selesai berjogging, Aiyna dan Saad pun berjalan menuju penjual es lemon. Sesampainya di sana, Saad langsung memesan dua es lemon untuk dirinya dan Aiyna. Tak membutuhkan waktu yang lama, es lemon pun sudah jadi, Saad segera membayar es lemonnya.
"Ini, Sayang." Saad memberikan satu es lemonnya kepada Aiyna.
"Terima kasih, Bi." Aiyna menerima pemberian sang suami disertai dengan senyuman manis.
"Iya, Sayang. Sama-sama," jawab Saad.
Mereka kembali melanjutkan jalannya. Di perjalanan keduanya saling berpegangan tangan sembari sesekali meminun es lemon yang super segar itu. Di tengah-tengah perjalanan, Aiyna tiba-tiba merasa pusing dan mual.
"Bi, tunggu dulu," ucap Aiyna seraya melepaskan pegangan tangannya dan berjongkok seraya memegangi kepalanya.
"Kamu kenapa? Apa kepalamu sakit?" tanya Saad yang turut berjongkok di depan istrinya.
"Kepalaku tiba-tiba pusing sekali, Bi. Aku merasa mual sekali," jawab Aiyna dengan pelan.
"Kamu masih bisa menahannya? Aku akan membawamu ke toilet umum, kebetulan tidak jauh dari sini,"
Aiyna hanya mengangguk dengan wajahnya yang sudah berubah pucat pasi serta berkeringat. Kemudian Saad membantu Aiyna berdiri dan berjalan menuju toilet umum dengan memegang erat tangan sang istri. Setelah sampai di tempat yang dituju, Aiyna langsung masuk ke toilet wanita. Sementara itu, Saad menunggu di luar.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu. Aiyna telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Terlihat Aiyna keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lemas. Sebelum mereka pergi, Aiyna memasukkan uang ke dalam kotak yang berada di luar toilet tersebut. Setelah itu, barulah mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.
****
"Beristirahatlah, Abi akan buatkan makanan untukmu." Saad menidurkan tubuh Aiyna di ranjang.
Kemudian pria itu menyelimuti istrinya dengan lembut serta mengecup keningnya sebelum pergi. Aiyna yang merasa lemas dan kepalanya yang masih terasa pusing hanya bisa menuruti perkataan suaminya. Ia melihat suaminya pergi meninggalkannya di kamar sendirian.
Aiyna tidak mengerti kenapa tubuhnya tiba-tiba drop seperti ini. Padahal sebelumnya dia belum pernah mengalami hal seperti ini setelah jogging. Bisa dikatakan jika tubuh gadis ini jarang merasakan sakit. Tapi, entah apa yang terjadi padanya hari ini sehingga membuat tubuhnya merasa lemas.
Setelah beberapa menit Aiyna berdiam diri di kamar tanpa melakukan apa pun dan hanya merasakan kepalanya yang pusing sehingga membuatnya merasa mengantuk dan tertidur. Sementara di sisi lain, Saad pergi keluar untuk membeli sesuatu untuk sang istri. Tentunya, sebelum ia pergi, dirinya telah membuatkan makanan untuk istrinya.
Saad pergi ke salah satu toko obat terbesar di kotanya menggunakan sepeda motor. Sehingga dalam beberapa menit saja dia sampai di toko obat tersebut. Pria itu memarkirkan motornya di parkiran. Kemudian dia berjalan memasuki apotek tersebut.
Dia membeli sesuatu untuk istrinya dan membayarnya. Setelah itu, ia memasukkannya ke dalam saku hoodie. Tanpa membuang banyak waktu ia keluar dari apotek tersebut dan berjalan menuju parkiran.
Brugh!
Tanpa sengaja Saad telah menabrak seorang wanita yang sedang berjalan. Hal itu membuat barang yang ia beli tadi terjatuh. Menyadari hal itu, dengan cepat Saad meraih barang tersebut. Namun, belum sempat menyentuh barang tersebut, barang tersebut diambil oleh wanita yang bertabrakan dengannya.
Sontak Saad langsung berdiri dan menatap wanita tersebut. Begitu kedua matanya mengarah pada wanita itu. Alangkah terkejutnya ia begitu mengetahui jika wanita yang bertabrakan dengannya adalah Tiara. Wanita yang sering digosipkan dengannya.
"Tiara?" panggil Saad dengan wajah yang sedikit terkejut.
"Kak Saad, mau ke mana? Dan untuk siapa testpack ini?" tanya Tiara dengan melihat ke arah testpack yang sedang dia pegang.
"Ini untuk istriku. Bisakah kamu memberikannya padaku? Aku harus segera pulang, istriku akan sangat khawatir jika tahu aku tidak ada di rumah," Saad meminta testpack itu pada Tiara.
"Tunggu dulu, Kak! Apa yang barusan Kakak katakan? Istri? Jangan bilang kalau Kakak sudah--"
"Benar, Tiara. Aku sudah menikah, berikan testpack itu padaku," Saad meminta kembali testpack yang telah dia beli dan tidak mau berlama-lama bicara dengan wanita lain, karena itu akan menimbulkan fitnah.
"Tapi, dengan siapa? Kenapa tidak memberi tahuku dan mengundangku, Kak?" tanya Tiara dengan menatap Saad dengan mata yang terlihat sedih.
"Dengan Aiyna, putrinya Baba Ammar dan Umi Jalwa," jawab Saad.
"Enggak, itu enggak mungkin. Bagaimana bisa kamu menikahi gadis belia sepertinya? Kamu tahu 'kan, seperti apa masa lalu Aiyna ketika berusia belasan tahun? Dia itu gadis yang nakal. Apa yang kamu harapkan dengan menikahi gadis seperti itu?" celetuk Tiara dengan wajah yang menunjukkan keterkejutannya begitu mengetahui nama istri Saad.
"Maaf sebelumnya, aku menikahi Aiyna karena Allah dan untuk menyempurnakan ibadahku. Aku tidak mempedulikan masa lalunya, seburuk apa pun masa lalunya aku akan tetap menerimanya. Maaf, aku harus pergi." Saad mengambil testpack yang masih dipegang oleh Tiara.
Setelah itu Saad pergi meninggalkan Tiara. Melihat itu, Tiara hanya terdiam mematung dengan perasaan yang tidak menyangka. Hatinya sedikit sakit mengetahui jika pria yang selalu dia idam-idamkan telah menikah dengan gadis belia yang memiliki masa lalu yang begitu kelam. Bahkan jika dibandingkan dengan dirinya, Tiara lah yang seharusnya berada di posisi tersebut.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments