Bab 15 > Tantangan Bang Kemal

"Sepertinya ada yang enggak suka liat kita seromantis ini, Bi," sindir Aiyna dengan melirik ke arah Bang Kemal.

"Apaan sih, norak!" sahut Bang Kemal seraya memutar bola matanya, malas.

"Ciiee, marah lagi." Aiyna meledeki abangnya terus menerus.

"Sayang, sudah. Jangan godain abangmu seperti ini." Saad mencubit pelan hidung Aiyna.

"Aahh, Abi. Jangan gitu dong. Nanti hidung Aiyna jadi merah kek badut, 'kan malu," rengek Aiyna layaknya bocil yang tengah merajuk.

"Hehe, maafin Abi. Habisnya gemesin sih." Saad mengelus pipi istrinya dengan lembut dan penuh perasaan.

"Sudah, sudah. Dari pada pamer kemesraan kek gini mending terima tantanganku, bagaimana?" Bang Kemal menaik-turunkan alisnya.

Seketika Aiyna langsung menoleh ke arah abangnya. "Tantangan apa?"

"Kita naik bianglala?" tantang Bang Kemal. Dia tahu kalau adiknya ini takut dengan ketinggian.

Gleuk!

Aiyna seketika langsung tertegun begitu mendengar tantangan dari abangnya. Bagaimana tidak, dia takut dengan ketinggian. Semua berawal waktu usianya masih 9 tahun dan dia terjebak di bianglala karena ada sedikit masalah, sehingga membuatnya tidak bisa turun serta terjebak di ketinggian. Disaat itulah Aiyna takut dengan ketinggian.

Melihat wajah Aiyna yang berubah pucat pasi membuat Bang Kemal merasa bersalah. Meski awalnya dia ingin menghilangkan trauma pada adiknya akan tetapi tantangannya ini membuat Aiyna kembali merasakan takut. Berbeda dengan Saad, ia tidak tahu menahu mengenai trauma sangat istri.

"Sayang, kamu kenapa? Kenapa wajahmu pucat seperti ini? Apa kamu sakit?" Saad meletakkan telapak tangannya di kening sang istri.

Aiyna menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bi. Kita terima tantangan dari Bang Kemal. Asalkan aku naik bianglalanya sama Abi," jawab Aiyna dengan dibumbui senyuman yang menutupi rasa takutnya.

"Tentu saja, Abi akan menemanimu." Saad tersenyum menenangkan.

"Dek, kamu seriusan terima tantangan dari Abang? Abang hanya bercanda, kita main permainan yang lain saja, bagaimana?" Bang Kemal tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada adiknya.

"Aiyna serius, Bang. Udah enggak apa-apa, udah lama juga Aiyna enggak naik bianglala. In Sya Allah Aiyna bisa, Bang. 'Kan ada Abi," jawab Aiyna dengan sedikit senyuman pada Bang Kemal.

"Baiklah, kalian tunggu bentar. Abang beli tiketnya dulu."

Aiyna mengangguk meng-iyakan. Sementara Bang Kemal pergi untuk membeli tiket. Sambil menunggu Bang Kemal datang, mata Aiyna terus melihat ke arah bianglala yang tengah berputar. Sejujurnya ia takut, akan tetapi dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Saad.

Tak lama kemudian Bang Kemal datang dengan membawa tiga tiket bianglala. Pria itu memberikan dia tiket lainnya kepada Aiyna dan adik iparnya. Setelah itu, barulah mereka berjalan mendekati bianglala dan menyetorkan tiket tersebut pada penjaga. Setelah itu, bianglala berhenti.

Yang pertama naik adalah Bang Kemal. Dia naik sendirian, sedangkan Aiyna naik ditemani suaminya. Begitu berada di dalam, Aiyna berusaha menyembunyikan ketakutannya pada saat bianglala itu mulai melaju.

Aiyna tidak berani menatap ke luar apalagi menatap ke bawah. Ia hanya bisa memejamkan matanya diselimuti dengan penuh rasa takut. Sementara itu, Saad yang melihat itu segera menggenggam kedua tangan Aiyna untuk menenangkannya.

"Jangan takut. Ada Abi di sini," ujar Saad dengan lembut.

Setelah mendengar kalimat yang dilontarkan suaminya, Aiyna mulai membuka matanya. "Abi, sejujurnya aku trauma naik ini. Tadinya Aiyna ingin menyembunyikan kekuranganku dengan memberanikan diri untuk naik. Tapi, aku tetap merasa takut," jelas Aiyna dengan penuh kejujuran.

"MashaAllah, Sayang. Siapa bilang rasa takut itu adalah kekurangan? Tidak, istriku. Menurut Abi, wajar saja jika kamu takut karena bisa ada rasa takut ini berawal dari sebuah insiden yang membuat dirimu jadi trauma dan takut untuk melakukannya lagi. Benar begitu?"

Aiyna mengangguk. "Iya, Bi. Dulu waktu Aiyna berusia 9 tahun, Aiyna sering sekali naik bianglala bersama Bang Kemal. Bahkan Aiyna tidak pernah ditemani Bang Kemal, Umi ataupun Baba. Aiyna selalu naik sendiri. Tapi, suatu malam Aiyna mengalami sesuatu yang tidak pernah Aiyna bayangkan terjadi dan membuat Aiyna ketakutan setengah mati. Orang-orang di bawah sana berteriak histeris karena Aiyna beserta anak-anak yang lain terjebak di ketinggian dan cukup lama kami tidak bisa turun. Semenjak saat itulah Aiyna memutuskan untuk tidak menaiki permainan ini lagi. Maafin Aiyna ya, Bi. Aiyna tidak tahu bagaimana nanti jika Aiyna punya anak terus anak mengajakku naik bianglala dan mereka tau jika ibunya takut, aku akan menjadi ibu paling buruk di dunia ini," Aiyna menceritakan semua yang dia alami pada saat usianya 9 tahun.

"Sstt! Jangan merendahkan dirimu seperti ini." Saad menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir sang istri.

"Semua itu bukan masalah, Aiyna. Jika Allah SWT meng-karuniai kita anak, in sya allah kamu akan menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku nanti. Trauma akan hilang seiring berjalannya waktu. Jangan takut, selama Abi selalu bersamamu. Jika masih takut maka pegang tangan Abi seerat mungkin sampai ketakutan itu hilang dari dirimu," tutur Saad dengan santun dan tetap lembut.

Aiyna terdiam beberapa saat. Kemudian dia mencoba melihat ke arah luar untuk melawan rasa takut yang selama ini menyelimuti dirinya. "Aarrgghhh! Enggak, Bi. Aiyna enggak bisa." Aiyna ketakutan disertai napasnya yang berat serta terengah-engah bak habis lari.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Jangan dipaksakan, kemarilah. Abi bersamamu." Saad menarik lembut Aiyna ke dalam dekapannya.

"Huft!" Aiyna menghela napas panjang sembari menutup matanya.

Aiyna sedang berusaha menetralkan debaran jantungnya yang sedari tadi terus berdegup kencang. Setelah beberapa menit kemudian, bianglala pun berhenti. Aiyna beserta suami dan Bang Kemal segera turun dari permainan tersebut.

Terlihat jelas di raut wajah Aiyna jika dia masih ketakutan. Jidatnya yang berkeringat dingin serta telapak tangannya juga turut berkeringat. Padahal suasana malam ini cukup dingin, akan tetapi Aiyna banjir dengan keringat. Bagaimana tidak, dia hampir pingsan setelah melawan rasa takutnya.

"Dek, maafin Abang ya. Jika kamu masih belum berani kenapa tidak menolaknya?" Bang Kemal menangkup kedua pipi sang adik.

"Enggak apa-apa kok, Bang. Aiyna baik-baik saja. Saat ini Aiyna ingin pulang, Aiyna cape." jawab Aiyna dengan mengalihkan pandangannya dari Bang Kemal dan berjalan meninggalkan abangnya dan juga Saad.

"Semua salahku. Seandainya aku tidak menantangnya seperti itu," gumam Bang Kemal seraya melihat kepergian Aiyna.

"Semua baik-baik saja, Bang. Tadi Aiyna secara perlahan sudah berani. Menerima tantangan dari Abang dan bersedia menaikinya saja itu sudah menjadi keberanian untuk Aiyna. Jangan cemas, aku akan menenangkannya." Saad menepuk pelan bahu kakak iparnya.

"Terima kasih, Saad. Aku percaya padamu. Kamu bisa mengurus adikku dengan sangat baik. Mari kita pulang sekarang," Bang Kemal mengajak adik iparnya untuk pulang.

"Mari, Bang."

Mereka pun berjalan pulang meninggalkan pasar malam. Keduanya mempercepat jalannya untuk mengejar Aiyna yang sudah pergi lebih dulu. Sesampainya di mobil, keduanya masuk dan mereka dibuat sedikit terkejut saat melihat sesuatu yang membuat keduanya terdiam mematung dan saling bertatapan.

****

Stay tune :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!