Kini Aiyna, Saad dan juga keluarga Aiyna telah sampai di kediaman Saad. Mereka semua keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu. Aiyna dan Saad pun berjalan lebih dulu untuk membuka pintu.
"Sayang, tolong ambilkan kunci di saku." Saad meminta tolong pada Aiyna karena kedua tangannya tengah membawa barang.
"Baik, Kak." Aiyna mulai merogoh saku celananya.
Begitu ia merogoh sakunya, alangkah terkejutnya Aiyna ketika tidak sengaja menyentuh sesuatu yang belum pernah ia sentuh seumur hidupnya. Aiyna menarik kembali tangannya dengan wajah yang pucat pasi. Berbeda dengan Saad, dia hanya tersenyum gemas melihat reaksi istri kecilnya.
"Ada apa, Sayang? Apa yang kamu pegang barusan?" tanya Saad, menggoda Aiyna.
Gleuk!
Aiyna menelan salivanya. Ia benar-benar malu atas apa yang telah ia lakukan. Meskipun itu bukan masalah besar karena mereka sudah halal tetap saja hal ini membuat dirinya malu setengah mati. Sehingga kedua pipinya pun berubah merona bak kepiting rebus.
"Maafkan Aiyna, Kak. Aiyna tidak bermaksud memegangnya," ucap Aiyna dengan menundukkan kepalanya.
"MashaAllah ... tidak apa-apa, Sayang. Itu juga milikmu," timpal Saad dengan sedikit tertawa kecil.
"Eoh?" Aiyna mendongak menatap mata suaminya.
"Tidak. Tolong ambilkan kuncinya. Kuncinya ada di saku koko sebelah kiri," ujar Saad dengan kembali meminta tolong.
Aiyna menganggukkan kepalanya seraya merogoh kembali untuk mengambil kunci rumah. Kali ini ia merogoh saku koko bukan saku celana lagi. Setelah itu, dia membuka pintunya.
"Assalamu'alaikum," ucap Aiyna ketika membuka pintunya.
"Wa'alaikumsalam," Saad membalas salam dari istri kecilnya dengan memasuki rumah.
Kemudian diikuti Aiyna dari belakang beserta keluarganya. "Assalamu'alaikum," ucap Umi Jalwa, Baba Ammar dan Bang Kemal ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam. Silakan duduk," Saad menjawab salam mereka dan mempersilakan mereka untuk duduk.
"Terima kasih, Nak Saad," ujar Baba Ammar.
Mereka semua duduk di kursi sederhana. Terkecuali dengan Aiyna dan Saad. Kemudian Saad melihat ke arah Aiyna yang masih mematung.
"Sayang, duduklah."
"Kak, izinkan Aiyna untuk melayani Kakak dan juga keluargaku. Boleh Aiyna membuat minuman untuk Kakak dan keluarga Aiyna?" Aiyna meminta izin terlebih dahulu.
"MashaAllah, jadi ... kamu tidak duduk karena ingin melayani kami?" Saad tersenyum sembari mengelus lembut kepala Aiyna yang tertutup hijab.
Aiyna mengangguk kecil dan tersenyum. "Baiklah, ayo aku antar. Oh iya, Baba, Umi, Bang Kemal, Saad ke belakang dulu," ucap Saad pada keluarga Aiyna sebelum pergi ke dapur.
"Iya, Nak. Silakan," jawab Umi Jalwa.
Sementara Baba Ammar dan Bang Kemal hanya mengangguk disertai senyuman. Setelah itu, barulah Aiyna dan Saad pergi ke dapur. Berhubung rumah Saad tidak terlalu besar, jarak antara tuang tamu dan dapur hanya membutuhkan beberapa langkah saja.
Rumah Saad hanya memiliki 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, ruang tamu dan halaman belakang untuk menjemur pakaian. Untuk parkiran berada di sebelah rumahnya. Meski begitu, Aiyna tidak mempermasalahkan kondisi rumah suaminya. Selagi masih layak untuk dihuni kenapa tidak.
Sesampainya di dapur, Saad memegang kedua bahu Aiyna dan menatapnya dengan tatapan teduh. Aiyna yang melihat itu seketika jantungnya langsung berdegup kencang. Wajahnya merona bak kepiting rebus dikala mendapat tatapan yang membuat dirinya salah tingkah.
"Ada apa, Kak? Kenapa menatap Aiyna seperti itu?" tanya Aiyna.
"Boleh aku mencium keningmu?" alih-alih menjawab, Saad justru meminta izin untuk mencium istri kecilnya.
Deg!
Aiyna yang mendengar itu semakin deg-degan. Ia benar-benar malu sekaligus senang. Bagaimana tidak, suami yang sangat ia cintai sejak hadir dalam mimpinya mau menciumnya. Aiyna hanya mengangguk meng-iyakan sebagai jawaban dari pertanyaan Saad.
Perlahan Saad menarik lembut tubuh Aiyna dan mencium keningnya beberapa detik. Aiyna hanya memejamkan matanya kala bibir lembut Saad menempel di keningnya. Setelah itu, Saad melepaskan Aiyna dan tersenyum.
"Itu sebagai rasa syukurku karena memiliki istri shalihah sepertimu." Saad mengelus lembut sajah Aiyna.
"Alhamdulillah, terima kasih, Kak. Boleh Aiyna buat minuman sekarang?"
"Tentu. Akan aku bantu." Saad hendak melangkahkan kakinya ke meja pantry.
Tiba-tiba Aiyna memegang lengan suaminya. Saad menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Kak, tunggu di ruang tamu. Biar Aiyna yang membuatnya," tutur Aiyna dengan santun dan ramah.
"Kamu yakin?"
"Iya, Kakak. Tunggulah, aku akan membuatkan minuman yang enak untukmu," jawab Aiyna.
"Baiklah, aku tunggu di ruang tamu ya." Saad pun pergi meninggalkan istri kecilnya di dapur.
****
Setelah beberapa jam kemudian, keluarga Aiyna pun berpamitan untuk pulang. Tentu saja, Aiyna merasa sedih karena ini kali pertama tinggal beda rumah dengan keluarganya. Sehingga Aiyna pun menangis dan memeluk kedua orang tuanya.
"Aiyna sayang, jaga dirimu baik-baik. Patuhlah pada suamimu, jangan terlalu merepotkan Nak Saad. Belajar menjadi istri yang baik dan penurut untuk suamimu ya. Jika kamu merindukan kami, datanglah ke rumah," tutur Baba Ammar dengan lembut dan memeluk putrinya.
"Iya, Baba. Aiyna akan sering mengunjungi kalian. Aiyna akan sangat merindukan kalian." Aiyna menangis di pelukan Baba Ammar.
Setelah itu, giliran Umi Jalwa yang berpamitan dengan Aiyna dan Saad. "Nak Saad, Umi serahkan putri Umi Aiyna. Jaga putri kebanggaan kami baik-baik. Jika dia membuat kesalahan, bimbing dengan lembut. Terkadang sikap Aiyna masih suka kekanak-kanakan, harap dimaklumi ya," pesan Umi Jalwa pada Jalwa.
"Umi jangan khawatir, In Sha Allah Saad akan membimbing dan menjaga Aiyna dengan sebaik mungkin. Selain itu, aku akan mencintai serta menyayanginya sama seperti kalian menyayanginya. In Sha Allah, Aiyna adalah seorang istri yang shalihah. Saya tidak keberatan jika sikapnya masih kekanak-kanakan," tutur Saad dengan santun.
"Kami percaya padamu, Saad. Tapi, satu hal yang harus kamu ingat! Jangan pernah menyakiti Aiyna kami baik itu fisik maupun lisan sekalipun sebab, rasa sakit yang Aiyna rasakan akan aku rasakan selalu abangnya. Aku tidak ingin Aiyna kami bersedih, jaga dia baik-baik!" sambung Bang Kemal pada Saad.
"Baik, Bang. Akan Saad ingat selalu pesan Bang Kemal." Saad tersenyum ramah.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya. Hei bocah manja, Abang dan Umi-Baba pulang dulu ya. Jaga dirimu, jangan merindukan Abangmu ini heumm." Bang Kemal menaik-turunkan alisnya.
"Abang." Aiyna langsung memeluk Bang Kemal dengan berlinang air mata.
"Ululu, Aiyna-nya Abang kenapa nangis. Jangan menangis, di sini tidak ada yang jualan balon," goda Bang Kemal disertai tawa kecilnya.
"Aahh, Abang. Berhenti menggodaku seperti ini," rengek Aiyna manja.
"Maafin Abang, ya Aiyna kesayangannya Abang. Okay gini deh, biar Aiyna enggak sedih lagi, gimana kalau besok malam kita pergi ke pasar malam?" bujuk Bang Kemal.
Aiyna yang mendengar itu pun langsung melepaskan pelukannya. Ia menyeka air matanya dan mengangguk. "Bener ya, besok malam Abang traktir aku ke pasar malam sama Kak Saad?" Aiyna menyodorkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian.
Bang Kemal mengaitkan jati kelingkingnya dengan jadi kelingking Aiyna. "Abang akan traktir kalian. Oh iya, selain itu Abang punya sesuatu untuk hadiah pernikahanmu," ucap Bang Kemal.
"Apa itu, Bang?" mata Aiyna berbinar.
Bang Kemal mengambil sesuatu. Kemudian dia memberikan hadiah tersebut kepada Aiyna dan Saad. Aiyna dan Saad pun menerima hadiah tersebut.
"Kak, ini kan--" kedua bola mata Aiyna terbelalak pada saat membuka hadiah pernikahan dari abangnya.
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments