Bab 4 > Aiyna Salting

Setelah mendengar jawaban dari Aiyna seluruh pria yang melamar Aiyna langsung pulang dengan raut wajah yang penuh kekecewaan. Bagaimana tidak, wanita yang sangat mereka inginkan lebih memilih pria yang memberikan mahar segenggam beras. Apa akan bahagia jika menikahi pria miskin seperti itu? Tentu saja tidak.

Meski begitu, mereka tidak bisa mengubah takdir yang telah terjadi. Mereka tidak bisa mengubah keputusan yang telah Aiyna putuskan. Bagaimana pun juga, Aiyna adalah wanita sholehah. Tentu saja semua harta yang mereka berikan tidak akan membuatnya lupa diri ataupun tergiur.

Sementara itu, Naufal Saad Al Hafiz, masih berada di kediaman Maliq. Pembicaraan mengenai pernikahan masih orang tua Aiyna tanyakan. Saad yang awalnya gugup dan merasa insecure, seketika langsung merasa yakin dengan pernikahannya. Dia yakin bahwa Aiyna memang gadis yang Allah SWT kirimkan untuknya.

Bang Kemal sedari tadi terus menatap Aiyna dengan tatapan yang tajam pada Saad dan Aiyna. Dia tidak habis pikir dengan pilihan adiknya itu. Bagaimana bisa dia lebih memilih pria miskin ketimbang pria mapan yang tidak perlu diragukan lagi akhlaknya. Karena semua pria yang melamar Aiyna malam ini berasal dari keluarga terpandang.

"Dek, kenapa kamu lebih memilih pria ini? Apa kamu mencintainya? Katakan, apa alasanmu?" tanya Bang Kemal tanpa ekspresi.

Umi Jalwa dan Baba Ammar terdiam tanpa kata. Mereka membiarkan Kemal untuk bertanya pada adiknya ini. Bagaimana pun juga dia tetaplah kakak Aiyna meski dia hanya Kakak angkat.

"Apakah menikahi seseorang harus memiliki alasan? Bukankah pernikahan adalah ibadah? Sejujurnya aku memiliki keyakinan tentang Kak Saad dan aku hanya akan mengatakannya padanya setelah kami menikah. Tidakkah Kakak lihat bahwa Kak Saad bersungguh-sungguh untuk meminangku? Betapa tulusnya dia mengucapkan kalimat lamaran itu? Hatiku nyaman setelah mendengar lamarannya. Tolong, jangan mempersulit niat baik Kak Saad untuk meminangku. Restui lah Kak Saad untuk menjadi suamiku. Sesungguhnya aku telah menerimanya dengan segenap hati," jelas Aiyna dengan membalas tatapan Bang Kemal.

"Kalau hatimu sudah yakin, maka aku tidak berhak untuk mencampurinya. Maka aku akan merestuinya sebagai suamimu. Dan kau, Saad! Ketahuilah, Aiyna adalah belahan jiwaku. Dia adalah wanita yang selalu aku muliakan, dia adik sekaligus darah yang selalu mengalir di tubuhku. Dia selalu ada di bagian tubuhku. Maka jagalah ia seperti kau menjaga keluargamu sendiri. Bimbing Aiyna dengan selembut mungkin. Jangan pernah menyakiti hatinya, karena sekecil apa pun luka itu maka aku akan dapat merasakannya. Aku telah memercayaimu, wahai Saad. Aku telah merestui kalian," tegas Bang Kemal dengan penuh ketulusan.

Seketika air mata Aiyna langsung menetes. Dia terharu dengan apa yang diucapkan Bang Kemal. Selama ini abangnya belum pernah mengatakan hal seindah ini.

'MashaAllah, segitu sayangnya aku di hati Bang Kemal. Segitu istimewanya aku sebagai adiknya,' batin Aiyna berkata dengan tulus.

"In Sha Allah, saya akan menjaga Aiyna dengan segenap hati. Saya tidak akan pernah menyentuh tanpa seizinnya. Bagaimana mungkin saya melukai wanita semulia Aiyna. Sungguh dia adalah bidadari hatiku. Saya akan membahagiakan dirinya semampu saya. Terima kasih atas restunya, Bang," jawab Saad dengan santun dan penuh rasa hormat.

"Saya mempercayaimu."

Tiba-tiba ia melihat ke arah adiknya. Terlihat jelas jika Aiyna tengah tertunduk dan menitikkan air mata. "Kenapa kamu berlinang air mata, wahai adikku? Apakah kalimatku telah menyinggungmu?" tanya Bang Kemal dengan penuh kelembutan. Begitupun dengan tatapannya yang sangat lembut.

"Aku sangat menyukai kalimatmu itu, Bang. Sungguh kamu adalah abang terbaik dari yang terbaik. Aku sangat beruntung mempunyai Abang sepertimu. Semoga kelak Abang akan mendapatkan istri yang akan memperlakukanmu sama seperti Abang memperlakukanku. Aku menyayangimu, Bang Kemal." Aiyna menangis di pelukan sang kakak.

Tentu saja mendengar hal itu, semua yang mendengarnya turut terharu dan menitikkan air mata. Begitupun dengan Bang Kemal. Dia meneteskan air mata seraya mengelus kepala Aiyna dengan penuh kasih sayang dan juga penuh kelembutan.

"Jika Kemal saja merestui kalian, maka kami akan merestuinya juga. Maka dari itu, pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Apakah ada yang ingin kamu sampaikan, wahai calon menantuku?" tanya Baba Ammar dengan baik.

Deg!

Jantung Saad semakin berdegup kencang setelah mendapat restu dari keluarga Aiyna. Batinnya terus mengucapkan rasa syukur. Ia pun turut menitikkan air mata mendengar respon positif dari keluarga Aiyna.

"Alhamdulillah, terima kasih atas restunya, Baba-Umi. Saya tidak keberatan jika harus menikahi Aiyna bulan depan. Akan tetapi keadaan Saad seperti ini adanya. Saad hanya mampu memberikan mahar segenggam beras saja, apakah Baba, Umi dan Bang Kemal tidak keberatan dengan hal itu?" tutur Saad dengan penuh kejujuran.

"Jika Allah SWT sudah menjodohkan kalian maka tidak penting apa maharnya. Mau segelas air pun jika Allah SWT sudah berkenan maka kami tidak akan merasa keberatan. Kami semua akan menerima pernikahan ini dengan segenap hati. Apa sebelumnya keluargamu sudah mengetahui jika Nak Saad datang untuk melamar putriku, Aiyna?" jawab Baba Ammar.

Sejenak Saad terdiam dan menghela napas panjang. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sendu, akan tetapi masih terlihat tersenyum. "Sejujurnya orang tuaku sudah meninggal pada saat usiaku masih sangat muda. Saya hidup hanya sebatang kara, Baba."

"Apakah Nak Saad tidak memiliki saudara lain?" sambung Umi Jalwa.

"Tidak, Umi. Saya hanya hidup sendiri."

"Maafkan kami, Nak Saad jika pertanyaan kami telah melukaimu."

"Tidak, Baba. Keluarga Aiyna perlu tahu asal usulku," jawab Saad dengan santun dan seramah mungkin.

"Kak Saad, boleh Aiyna mengajukan pertanyaan kecil?" tanya Aiyna dengan lembut.

"Tentu saja, Aiyna. Katakan lah." Saad melemparkan senyumannya yang begitu menyejukkan hati Aiyna.

'MashaAllah, senyumannya membuat hatiku tenang. Sungguh, sungguh indah ciptaanMu Ya Allah,' Aiyna memuji Saad dalam batinnya.

Tak!

Bang Kemal yang melihat adiknya sedang terpaku menatap Saad pun dengan cepat menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Aiyna. "Pandanglah sewajarnya, jangan terlalu berlebihan. Nanti dosa," bisik Bang Kemal.

Aiyna langsung tersadar dari monolognya. Dalam hatinya ia segera beristighfar atas apa yang telah ia lakukan tanpa sadar. Dia benar-benar malu karena sudah kecolongan abangnya sendiri jika dia sedang mengagumi calon suaminya.

"Di mana Kak Saad tinggal dan apa pekerjaan Kak Saad?" tanya Aiyna malu-malu kucing.

Saad tersenyum. "Saya tinggal tidak jauh dari kediamanmu, Aiyna. Saya hanya seorang muadzin sekaligus mengajar anak mengaji. Selain itu, saya hanya penjual nasi uduk," jawab Saad.

Wajah Aiyna langsung merona bak kepiting rebus. Jantungnya semakin berdegup kencang tak biasanya. Bagaimana tidak, ternyata Saad adalah pria yang mendatanginya dalam mimpi. Tentu saja hal itu membuat Aiyna semakin yakin dan merasa senang dilamar olehnya. Apalagi setelah mendengar bahwa Saad adalah seorang muadzin sekaligus guru mengaji, hal itu membuatnya semakin mengaguminya.

"MashaAllah ... ketahuilah, Kak Saad bahwa semalam aku telah memimpikan dirimu," ujar Aiyna kelepasan.

Deg!

'Aduh, kenapa aku mengatakan soal mimpiku padanya? Aah, ini bibir bikin malu saja,' umpat Aiyna dalam hatinya.

****

Stay tune :)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!