"Jadi ... tidak terjadi apa pun pada kita semalam, Kak? Apa karena aku tertidur?" tanya Aiyna sambil mengingat kembali kejadian semalam.
Saad hanya tersenyum kecil. Kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Semalam ... kamu tidur pulas sekali. Kecantikanmu bertambah pada saat aku melihatmu tengah tertidur," ujar Saad dengan penuh kejujuran disertai senyuman yang tipis.
"Ya ampun, maafin Aiyna, Kak. Aiyna tidak sengaja. Kenapa semalam Kakak tidak membangunkanku saja?" tanya Aiyna dengan wajah yang merasa sedikit bersalah.
"Mana mungkin aku tega membangunkanmu, Aiyna. Sudah, tidak apa-apa. Jangan merasa bersalah seperti itu. Kita bisa melakukannya malam nanti." Saad tersenyum penuh arti.
"Mm-malam nanti?" Aiyna gelagapan dengan wajahnya yang mendadak pucat pasi.
"Iya, Sayang. Tentu itu juga atas izinmu. Aku tidak akan melakukannya jika hatimu tidak berkenan. Aku juga tidak ingin memaksamu, senyamannya kamu saja. Jika kamu sudah siap, maka beri tahu aku," Saad menjawabnya dengan tutur kata yang lemah lembut.
"Itu hakmu, Kak. Bagaimana mungkin aku melarangmu. Aku sudah memilihmu sebagai suamiku, itu artinya aku telah menyerahkan segalanya untuk Kakak. Aiyna akan mematuhimu, aku akan melayanimu sebagai mana semestinya dilakukan oleh seorang istri. Aku akan mengabdikan diri padamu, Wahai Suamiku." Aiyna mulai memberanikan diri untuk menggenggam kedua tangan suaminya.
"MashaAllah," ucap Saad sembari tersenyum.
Kemudian dia memegang kedua bahu sang istri dan mencium keningnya. Saad mencium keningnya beberapa detik. Tentu saja pada saat itu, jantung keduanya berdegup kencang tidak seperti biasanya.
Setelah itu, Aiyna memeluk Saad untuk pertama kalinya. Saad merasa sangat bahagia ketika tubuhnya dipeluk oleh Aiyna. Ia pun mengelus lembut rambut Aiyna yang belum tertutup oleh hijab.
Kemudian, mereka melepaskan pelukannya. Aiyna menyambar hijab dan segera memakainya. Sedangkan Saad, dia terdiam beberapa saat.
"Aiyna," panggil Saad dengan suara yang lembut.
"Iya, Kakak." Aiyna menoleh dengan rambut yang sudah tertutup hijab.
"Ada yang ingin Kakak bicarakan denganmu." Saad menatap Aiyna dengan tatapan yang serius.
"Iya, Kak. Katakanlah." Aiyna tersenyum manis.
"Jika Aiyna tidak keberatan, bagaimana jika kita tinggal di rumah Kakak saja?"
"Loh, kenapa? Apakah Kakak merasa tidak nyaman berada di rumah keluargaku? Apa ada sesuatu yang mengganjal dihatimu? Katakan, akan Aiyna perbaiki agar Kakak merasa nyaman," alih-alih menjawab, Aiyna justru balik bertanya pada suaminya.
"Tidak, bukan begitu. Sejujurnya, keluargamu sangat baik padaku. Aku sangat nyaman berada di rumahmu. Akan tetapi, aku sudah menikahimu. Aku tidak ingin membebani keluargamu. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu untuk tinggal bersama di rumah sederhanaku. Aku ingin menjadi sosok suami yang bertanggungjawab dan tidak mau merepotkan keluargamu terus. Namun, jika kamu belum siap berpisah dengan keluargamu maka aku akan menunggumu," jelas Saad dengan sedikit membujuk sang istri.
Aiyna terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab dengan apa. Di satu sisi dia tidak ingin tinggal jauh dari keluarganya. Akan tetapi, sekarang ia sudah menikah dan diharuskan untuk mematuhi suaminya termasuk untuk tinggal bersamanya di rumah yang berbeda.
"Baiklah, Kak. Ayo kita pindah, kita katakan ini pada Baba, Umi dan Bang Kemal ya." Aiyna tersenyum. Ia akhirnya memutuskan untuk mematuhi suaminya dengan pindah rumah.
"Ya sudah, nanti sore kita pergi ya." Saad mengelus kepala Aiyna.
Aiyna mengangguk sembari tersenyum. "Kak, ayo kita sarapan. Aku lapar," ucap Aiyna dengan jujur.
"Mau sarapan apa? Mau Kakak buatin?" tawar Saad.
"Emang Kakak bisa masak?" alih-alih menjawab, Aiyna justru balik bertanya.
"Alhamdulillah bisa, mau nyicipin masakan Kakak enggak?" Saad menaik-turunkan alisnya.
"Mau banget, ayo." Aiyna mengajak Saad dengan menggandeng tangannya.
Mereka pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Pada saat dia mereka berjalan melewati kamar Bang Kemal, Bang Kemal tiba-tiba keluar dari kamar dan tersenyum ke arah Aiyna. Saad yang melihat kakak iparnya keluar dari kamar segera menyapanya. Berbeda dengan Aiyna, ia justru tertunduk malu.
"Ciee, yang udah unboxing," celetuk Bang Kemal untuk menggoda adiknya.
"Udah, Kak. Jangan diladenin, ayo kita sarapan," timpal Aiyna sembari menarik tangan suaminya.
"Masa pengantin baru udah merajuk aja. Ini masih pagi, loh," sindir Bang Kemal.
"Umi! Baba!" teriak Aiyna mengadu pada orang tuanya.
"Sstt! Ih kamu, Aiyna. Masa gitu aja ngadu. Enggak malu apa sama suamimu? Udah nikah masih suka ngadu sama Umi dan Baba. Ngadu aja sama suamimu ini biar paket komplit," ledek Bang Kemal sembari menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Kemal! Jangan gangguin adikmu!" sahut Umi dengan nada yang cukup tinggi.
"Engga, Umi. Aiyna lagi sensi aja," Bang Kemal mengelak.
"Bohong banget. Siapa yang sensi sih? Orang Abang sendiri yang memulai." Aiyna nyelonong pergi.
Saad yang melihat istrinya nyelonong pergi pun hanya bisa tersenyum gemas. Dia baru tahu jika wanita yang diam-diam dia cintai memiliki tingkah yang amat mengemaskan. Ternyata sosok Aiyna yang lembut, penyayang, sholihah tersimpan tingkah yang sangat menggemaskan jika sudah bertengkar dengan abangnya.
"Maafin Aiyna ya, Saad. Terkadang sikapnya masih kek bocil, udah nikah pun masih saja kebocilannya melekat di dirinya. Semoga kamu bisa memakluminya," Bang Kemal meminta maaf atas sikap Aiyna yang masih kekanak-kanakan.
"Tidak apa-apa, Bang. Justru tingkahnya sangat menggemaskan. Saya tidak mempermasalahkan tingkahnya. Aiyna masih sangat muda, nanti juga dewasa seiring berjalannya waktu," jawab Bang Kemal dengan santun.
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, bagaimana malam pertamanya? Aiyna melayanimu dengan sangat baik 'kan?" celetuk Bang Kemal.
Saad terdiam beberapa saat. Dia mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah. Dia benar-benar malu jika harus membicarakan hal seperti ini.
"Alhamdulillah, Aiyna sangat baik. Mari, Bang." Saad segera melanjutkan jalannya agar terhindar dari pertanyaan Bang Kemal yang membuatnya malu.
****
"Heumm ... harum sekali. Umi lagi masak apa?" tanya Aiyna sambil memeluk Umi Jalwa dari belakang.
"Umi lagi masak opor ayam, Nak. Aiyna pasti lapar ya," jawab Ibu Jalwa
"Iya, Aiyna lapar. Tapi, ada yang mau masakin makanan buat Aiyna," ucap Aiyna malu-malu kucing.
"Siapa? Apa Abangmu?" tebak Umi Jalwa.
"Ah, Ibu. Mana mungkin Bang Kemal mau masak buat Aiyna. Secara Bang Kemal 'kan tidak bisa masak," kekeh Aiyna.
"Lantas, siapa yang mau masakin makanan buat kamu? Jangan bilang kalau yang mau masak ...." Umi Jalwa membalikkan badan dan menatap putrinya.
"Benar. Kak Saad yang mau masak. Katanya Kakak bisa masak," jawab Aiyna dengan senyuman.
"Benarkah?" Umi Jalwa terbelalak seakan tidak percaya jika menantunya bisa memasak.
"Iya, Umi. Nanti kita lihat cara Kak Saad memasak,"
"Tapi, Sayang. Hari ini Umi sudah masak banyak. Kita makan masakan Umi dulu ya. Kapan-kapan baru suamimu yang masak,"
"Heumm ... ya udah deh. Masakan Umi juga masakan terenak di sepanjang sejarah," Aiyna memuji Umi Jalwa.
"Sudah, jangan memuji Umi seperti itu. Ayo bantu Umi menghidangkan makanan ini ke meja. Setelah itu panggilkan suamimu untuk sarapan bersama," titah Umi Jalwa.
"Tidak perlu, Umi. Kak Saad dan Bang Kemal sudah datang. Sini, biar Aiyna bantu." Aiyna segera menghidangkan semua masakan Umi Jalwa di meja makan.
Setelah semuanya selesai dan semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka pun mulai berdo'a bersama dengan di pimpin oleh Saad. Selesai berdo'a, mereka semua makan bersama.
"Dek, gimana malam pertamanya?" tanya Bang Kemal tiba-tiba membuat suasana hening.
Uhuk! Uhuk!
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments