Bab 20 > Ngidam Rujak

"Kalau begitu, Abi shalat maghrib aja dulu. Setelah itu baru nyari rujak. Entah kenapa aku ingin sekali makan rujak," timpal Aiyna.

"Ya sudah, kalau begitu, Abi siap-siap dulu buat shalat berjamaah di mesjid ya. Kamu tidak apa-apa 'kan Abi tinggal di rumah?" Saad bertanya sembari menatap istrinya.

Aiyna mengangguk. "Iya, Bi. Pergilah, Aiyna berani kok di rumah sendirian," jawab Aiyna.

"Bagus itu, Sayang. Abi pergi dulu ya, muach." Saad mengecup kening, pipi dan bibir Aiyna dengan lembut.

"Iya, Bi. Jangan lupa rujaknya," timpal Aiyna.

"Siap, Sayang." Saad pun pergi meninggalkan istri dan calon anaknya di rumah.

Sementara Aiyna, dia kembali masuk ke kamar. Dia akan melaksanakan shalat maghrib di kamarnya. Tentunya sebelum itu, dia mengambil air wudhu terlebih dahulu.

****

Selang beberapa saat kemudian, Saad keluar dari mesjid. Pada saat Saad hendak memakai sandalnya tiba-tiba sebuah tangan kekar menepuk pundaknya dari belakang. Sontak, pria itu langsung menoleh ke belakang.

"Bang Kemal," sapa Saad pada kakak iparnya.

"Mau ke mana buru-buru seperti itu? Biasanya kamu selalu berdiam lama di mesjid, kenapa kali ini terlihat begitu buru-buru?" tanya Bang Kemal yang menatap heran ke arah adik iparnya yang bertingkah tidak biasanya.

"Begini, Bang ... istriku ingin dibelikan rujak, jadi aku harus cepat-cepat membelinya. Meski aku tidak tahu harus membelinya di mana, tapi itulah yang Aiyna inginkan," jawab Saad dengan santun.

"Rujak?" Bang Kemal mengernyitkan kedua alisnya. "Tidak biasanya adikku minta rujak malam-malam begini. Tunggu dulu ... jangan bilang kalau adikku--"

Saad langsung mengangguk sebelum Bang Kemal menyelesaikan ucapannya. "Benar, Bang. Aiyna sedang hamil. Sebenarnya kami ingin memberi tahu Abang dan keluarga Aiyna yang lain besok setelah kami memeriksakan kehamilan Aiyna ke dokter kandungan. Tapi, berhubung aku bertemu dengan Bang Kemal dan bertanya, aku memberi tahu sekarang," jelas Saad dengan diselipkan senyuman kebahagiaan.

"Serius kamu, Saad? Adikku hamil?" Seketika kedua bola mata Bang Kemal terbelalak dengan sempurna.

Dia tidak percaya jika adik kesayangannya sedang hamil. Dan ia tidak menduga jika sebentar lagi dirinya akan miliki keponakan. Bang Kemal menatap Saad dengan tatapan yang cukup tajam.

"Iya, Bang. Aku serius. Jika Bang Kemal tidak percaya, Bang Kemal bisa ikut aku ke rumah dan melihat keadaan Aiyna secara langsung, bagaimana?" Saad menawarkan kakak iparnya untuk datang ke rumah.

"Baiklah, aku akan menemui adikku. Sekarang, biar aku bantu mencari rujak. Ayo," Bang Kemal mengajak Saad untuk membeli rujak.

"Terima kasih, Bang. Aku sudah merepotkan Abang lagi," ujar Saad.

"Jangan sungkan, ayo. Mobilku ada di sana," Bang Kemal kembali mengajak adik iparnya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mesjid.

Saad mengangguk meng-iyakan. Mereka berjalan menuju mobil tersebut. Sesampainya di depan mobil, mereka segera masuk dari pintu yang berbeda. Tak membuang banyak waktu, Bang Kemal pun segera menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Selama perjalanan, Saad terus mencari keberadaan penjual rujak yang istrinya mau. Namun, dia tidak menemukan penjual rujak di pinggir jalan. Entah, harus ke mana lagi mereka mencari tukang rujak.

"Bagaimana, apa kamu menemukan tukang rujaknya?" tanya Bang Kemal sembari menoleh ke samping.

"Belum, Bang. Aku juga tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi, jika aku pulang tanpa membawa rujak, kasian istriku."

"Jangan putus asa, ayo kita cari sampai dapat. Sepertinya kita belum pergi ke jalan yang ada di ujung sana. Setahuku di sana banyak penjual makanan, kita coba cari di sana. Siapa tahu saja masih ada yang jual rujak," ujar Bang Kemal seraya melajukan mobilnya ke arah yang akan dia tuju.

"Iya, Bang. Semoga saja ada."

****

Di sisi lain, Aiyna tengah duduk dan menonton TV di ruang tengah. Meski ruangan tersebut tidak sebesar rumahnya, akan tetapi suasana di rumah suaminya ini sangat nyaman. Aiyna menonton film kartun yang membuatnya tertawa terbahak-bahak kala menayangkan adegan yang lucu.

Tanpa dia sadar, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Sudah berjam-jam suaminya belum juga menunjukkan batang hidungnya. Hal ini membuat Aiyna merasa khawatir dan juga merasa bersalah atas permintaan ngidamnya itu.

Di malam-malam seperti ini mana ada yang jualan rujak. Meski dia tahu, tapi entah kenapa dia sangat ingin memakan rujak tersebut. "Jadi seperti ini rasanya ngidam, ini terasa sangat aneh. Namun, aku dapat merasakannya," gumam Aiyna pelan seraya melihat ke arah pintu.

Tin! Tin!

Tiba-tiba Aiyna mendengar suara klakson dari luar rumahnya. Untuk memastikan pendengarannya tidak salah, sang ibu hamil ini segera menyambar remot yang berada di meja. Dengan cepat ia mengecilkan volume TV dan kembali mendengarkan suara klakson tersebut.

Namun, ia tidak mendengar suara klakson yang tadi dia dengar. Melainkan suasana menjadi begitu hening. Karena penasaran, Aiyna pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

Sesampainya di depan pintu, Aiyna tidak langsung membukanya melainkan mengintip terlebih dahulu melalui lubang kecil yang terdapat di pintu tersebut. Mata sebelah kanannya mulai mendekat dan melihat ke luar rumah. Namun, dia tidak bisa melihat apa pun. Yang Aiyna lihat hanyalah kegelapan.

Merasa heran dengan apa yang dia lihat. Wanita itu kembali mengintip untuk yang kedua kalinya. Begitu dia melihat ke arah luar, terlihat jelas sesuatu yang Aiyna inginkan saat ini benar-benar nyata terlihat jelas.

Dengan mata yang berbinar disertai senyuman yang ceria Aiyna langsung membukakan pintunya. Ia tahu betul jika yang datang dan mengetuk pintunya adalah sang suami. Begitu pintu terbuka lebar, tanpa melihat wajah sang suami ia langsung memeluk suaminya dengan penuh kegembiraan.

"Ekhem!"

Pria yang saat ini Aiyna peluk berdehem. Tanpa sengaja Aiyna melihat suaminya yang berdiri tepat di belakang pria yang tengah Aiyna peluk. Seketika kedua bola mata Aiyna langsung terbelalak dengan sempurna.

'Jika suamiku ada di hadapanku, lalu ... siapa yang aku peluk ini?' batin Aiyna bertanya-tanya.

Merasa tidak enak dengan suaminya, Aiyna mulai melepaskan pelukannya dan memberanikan diri untuk melihat ke arah pria yang ia peluk. "Bang Kemal?" Aiyna mengerutkan keningnya kala melihat pria yang ia peluk adalah abangnya sendiri.

"Kamu memeluk orang yang salah, Adikku. Tapi, enggak apa-apa sih. Aku senang jika dipeluk adikku sendiri apalagi abangmu ini sudah sangat merindukanmu," Bang Kemal menggoda sang adik disertai dengan senyuman dan menaik-turunkan alisnya.

"Ish, Abang nih." Aiyna mengerucutkan bibirnya sembari memukul pelan sang abang.

"Semenjak nikah kamu jadi galak, mentang-mentang udah ada pawangnya," celetuk Bang Kemal.

"Pawang apaan, enggak juga. Abi itu suami aku bukan pasang. Dikira ular kali ah, pake pawang segala," timpal Aiyna dengan sedikit tertawa.

"Bukan pawangmu tapi pawang bayi yang ada di dalam kandunganmu itu."

Deg!

'Loh, kok Bang Kemal bisa tahu aku sedang mengandung?' batin Aiyna bertanya-tanya sembari menatap lekat kepada sang Abang.

****

Stay tune :)

Terpopuler

Comments

Trisnawati Lafau

Trisnawati Lafau

kok gak lanjut

2024-01-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!