Aiyna berlari dengan cepat menelusuri rumah-rumah menuju ke arah mesjid. Kebetulan mesjid itu tak jauh dari kediamannya. Sesampainya di mesjid, Aiyna menunggu Bang Kemal di luar. Kedua bola matanya terus menerus menelisik sekitar mesjid.
"Bang Kemal mana ya? Kok belum kelihatan juga?" Aiyna belum juga melihat Bang Kemal.
Ia terus mencari keberadaan Bang Kemal diantara para pria yang baru saja keluar dari mesjid. Pada saat Aiyna mencari keberatan Bang Kemal sekilas dia melihat pria yang wajahnya tidak asing. Benar, pria yang saat ini sedang dia lihat tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang mendatanginya dalam mimpi.
'Bukankah pria itu adalah pria yang mendatangiku dalam mimpi?' batin Aiyna bertanya-tanya disertai tatapan matanya yang begitu tajam.
"Aiyna!"
Tiba-tiba seorang pria dewasa menepuk pundak Aiyna dan membuat si empunya terkejut. Reflek Aiyna langsung menoleh ke belakang. Ternyata pria dewasa yang menepuk pundaknya adalah Bang Kemal.
"Bang Kemal! Ngagetin Aiyna aja!" omel Aiyna dengan bibir yang menjebik.
"Apa yang sedang adikku lakukan di sini? Siapa yang sedang kamu tunggu, Dek?" tanya Bang Kemal seraya menaik-turunkan alisnya.
"Siapa lagi, Aiyna sedang menunggumu, Bang," jawab Aiyna.
"Ohoo ... rupanya adikku ini sedang merindukanku," goda Bang Kemal sambil tertawa kecil.
"Ih, Abang nih geer. Aiyna bukan rindu tapi--"
"Tapi apa, hayo? Kalau tidak rindu, terus ngapain nyusulin aku ke mesjid," goda Bang Kemal lagi.
"Ayolah, Bang. Berhenti menggodaku seperti itu. Aku ingin minta pendapat Abang soal mimpi Aiyna semalam," jelas Aiyna dengan ekspresi yang serius.
"Mimpi apa?"
"Pulanglah dulu, Aiyna ceritakan setelah sampai di rumah. Oh iya, Bang ... kalau boleh tahu, siapa pria yang berjudah putih?" tanya Aiyna karena penasaran.
"Pria berjubah yang mana? Setahuku tidak ada pria yang memakai jubah hari ini. Apa kamu yakin melihat pria berjubah keluar dari mesjid? Jika benar kamu melihatnya, coba tunjukkan yang mana orangnya,"
"Orangnya yang it--" ucapan Aiyna terpotong pada saat menoleh ke arah pria berjubah tadi.
"Mana?" tanya Bang Kemal.
"Loh, tadi ada di sana, Bang. Serius, tadi aku melihatnya di sana. Dia tersenyum padaku. Masa iya aku halu sih," tutur Aiyna dengan wajah yang kebingungan.
"Sepertinya adikku ini sedang menyukai seseorang. Siapakah pria itu, Dek?" Bang Kemal sedikit menyenggol tubuh Aiyna.
"Tidak, Bang. Bukan seperti itu. Ayo kita pulang, akan aku ceritakan setelah sampai di rumah." Aiyna menyambar lengan Bang Kemal dan menggandengnya.
****
"Assalamu'alaikum," ucap seorang pria paruh baya seraya membuka pintu rumahnya.
Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Baba Ammar, sang ayah dari Aiyna dan juga Bang Kemal. Tak menunggu lama, pintu terbuka. Terlihat Umi Jalwa tersenyum seraya menjawab salam dari suaminya.
"Wa'alaikumsalam." Umi Jalwa mencium punggung tangan suaminya dengan penuh kepatuhan.
Begitupun dengan Baba Ammar, dia mencium kening sang istri dengan penuh kelembutan. Kemudian mereka berdua masuk ke rumah. Baba Ammar berjalan lebih dulu dari istrinya karena Umi Jalwa harus menutup pintunya terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia mengikuti langkah suaminya.
Sesampainya di ruang tengah, Umi Jalwa duduk di sebelah sang suami. "Baba, di mana putra putri kita?" tanya Umi Jalwa dengan santun.
"Loh, bukannya Aiyna ada di rumah bersamamu? Kalau Kemal masih di mesjid," jawab Baba Ammar sembari menatap lembut sang istri.
"Iya, tadi Aiyna bilang sama Umi jika dia akan menemui Kemal di mesjid. Apakah Baba tidak berpapasan dengan putri kita?"
"Tidak, wahai istriku. Jika aku melihatnya, aku sudah mengajaknya pulang,"
"Assalamu'alaikum," tiba-tiba terdengar seseorang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Umi Jalwa beserta Baba Ammar.
"Itu mereka, Umi." Baba Ammar menunjukkan jari telunjuknya ke arah Bang Kemal dan juga Aiyna.
"Kalian dari mana saja?" tanya Umi begitu putra dan putrinya berada di hadapannya.
"Kami dari mesjid, Umi. Benar 'kan, Bang?" Aiyna menatap abangnya.
"Aiyna benar, Umi. Kami habis dari mesjid," jawab Bang Kemal seraya berjalan menuju sofa dan duduk.
Diikuti oleh Aiyna yang juga duduk di antara tengah-tengah Baba Ammar dan Umi Jalwa. "Umi, Aiyna lapar. Ayo kita sarapan," ucap Aiyna dengan nada bicara yang sedikit dimanjakan.
"Sarapan sudah siap, Sayang. Bentar lagi kita sarapan. Baba ingin memberi tahu kalian sesuatu," timpal Umi Jalwa.
Seketika pandangan Aiyna dan Bang Kemal tertuju pada sang ayah, yaitu Baba Ammar. "Apa yang ingin Baba beri tahukan pada kami?" tanya Ammar dengan santun.
"Malam ini kita akan kedatangan tamu. Kita akan kedatangan beberapa sahabat Baba dan juga putranya. Beberapa dari putra mereka akan melamar adikmu, Aiyna. Baba ingin melihat Aiyna segera menikah sebelum Baba meninggal," jelas Baba Ammar.
"Menikah? Adikku akan menikah? Benarkah ini, Umi?" Bang Kemal kaget sekaget-kagetnya.
Bang Kemal membelalakkan kedua matanya. Bagaimana tidak, adiknya yang selalu bermanja padanya akan segera menikah. Dia belum sanggup bila hidup berpisah dengan sang adik, yang sangat ia sayangi.
"Iya, Nak. Adikmu akan segera menikah. Dan Aiyna sudah menyetujuinya. Benar 'kan, Aiyna sayang?" Tatapan Umi kini beralih ke arah putrinya.
Aiyna hanya bisa pasrah dan mengangguk kecil. Kemudian dia melemparkan senyuman pada Bang Kemal. Ia tahu jika abangnya ini akan protes mengenai pernikahannya ini.
"Kamu yakin akan menikah di usia muda, Aiyna? Pikirkan baik-baik, semua ini demi masa depanmu. Lagi pula, apa kamu bisa menikah dengan pria yang tidak kamu cintai?" tanya Bang Kemal dengan tatapannya yang tajam.
"Aiyna sudah yakin, Bang. Aiyna percaya sama Baba dan Umi. Baba pasti menikahkan Aiyna dengan pria yang taat pada agama. Bagi Aiyna, cinta itu bisa datang setelah menikah. Lagipula Aiyna menikah karena Allah SWT. In Sha Allah, Aiyna akan menerima pria manapun yang akan menjadi suami Aiyna nantinya," jawaban Aiyna membuat Baba Ammar tersenyum bangga.
Gleuk!
Bang Kemal yang mendengar jawaban sang adik hanya bisa tertegun. Ia benar-benar malu karena Aiyna yang selalu ia anggap masih bocil memiliki pemikiran dewasa seperti ini. Sungguh, dalam hatinya ia berkata, 'pria manapun yang akan menjadi suami adikku pasti akan sangat beruntung dalam hidupnya. Aiyna benar-benar wanita sholehah,'
"Kamu dengar perkataan adikmu, Kemal. Apakah kamu tidak malu dengan cara berpikir adikmu? Apa kamu masih ingin protes dengan pernikahan ini?" sindir Baba Ammar dengan senyuman kecil.
"Kemal minta maaf, Baba. Kemal tidak bermaksud untuk menghalangi ataupun protes pada pernikahan adikku. Kemal hanya takut Aiyna akan tertekan nantinya. Tapi, setelah mendengar jawaban Aiyna, Kemal yakin, Aiyna sudah yakin dengan pernikahannya." Saat ini Kemal benar-benar malu semalu-malunya di hadapan sang adik dan juga Umi Jalwa.
"Jika Aiyna akan segera menikah, lalu kapan Bang Kemal akan menikah, Baba?" celetuk Aiyna seraya menaik-turunkan alisnya, menggoda sang kakak.
Uhuk! Uhuk!
****
Stay tune :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments