Walaupun Panglima Peturun sempat menertawai Monah, tatapan matanya tetap menaruh iba pada Monah. Mungkin lelaki ini menganggap sosok yang ada di depannya adalah seorang nenek-nenek gila.
“Kurasa kau salah orang Nek. Maaf, saya tidak ada waktu berbicara dengan Nenek. Ada urusan yang harus saya kerjakan,” ucap Panglima Peturun. Lelaki itu pun berubah menjadi seekor macan kumbang kemudian pergi.
“Ta-tapi… Abang…” Monah menjulurkan tangannya ketika melihat pujaan hatinya pergi meninggalkannya.
Setelah sekian lama Monah menanti perjumpaan ini dan segala sesuatu yang telah ia lakukan, upayanya berujung kekecewaan. Monah menangis, tubuhnya lunglai dan ia pun jatuh terduduk di atas lantai hutan yang berupa tanah kering retak-retak itu.
Lalu ada sesuatu yang membisikinya, entah suara itu berasal dari mana.
“Kenapa harus risau? Dia tidak akan kemana-mana. Ini wilayah kekuasaanmu, bukan tempat tinggalnya yang jauh berada di Tanah Minang itu.”
Monah membulatkan mata, air matanya surut. Tentu saja bisikan itu bicara benar. Bisikan yang selalu menyertai Monah di setiap langkahnya memang selalu benar, Monah meyakini itu.
Selama ini Monah merasa semua yang ia lakukan adalah atas kehendaknya. Bagaimanapun ia merasa memiliki kekuatan yang bisa diandalkannya. Namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Monahlah yang selama ini telah disetir oleh kekuatan itu.
Segala hal yang secara instan Monah ketahui untuk dilakukan baik itu sebuah ilmu atau sebuah ritual semuanya berasal dari bisikan-bisikan gaib yang ingin mengendalikan dirinya.
Monah pun bangkit untuk melakukan ritual. Ia bermaksud untuk menawan Panglima Peturun agar tidak bisa kemana-mana.
Dengan kesaktiannya Monah berhasil membuat Panglima Peturun bingung. Hutan gaib itu membuat Panglima Peturun hanya berjalan berputar-putar, ia tersesat. Monah bisa melihat lelaki itu ia kerjai melalui permukaan air yang ada di wadah serupa baskom. Monah senyum-senyum sendiri melihatnya. Tampak olehnya mimik bingung lelaki yang dicintainya itu.
Monah telah puas memandangi pujaan hatinya itu melalui pantulan bayangan di permukaan air dalam wadah. Ia pun segera sadar bahwa ia harus kembali cantik agar dapat diterima oleh Panglima Peturun.
“Kau butuh sesuatu yang suci dan murni untuk mengembalikan semua itu!” bisik sesosok gaib kepada Monah -- yang Monah kira itu adalah suara kata hatinya sendiri.
Tiba-tiba tempat Monah kedatangan lima orang yang pakaiannya begitu familiar baginya. Mereka adalah para prajurit yang setia kepada Kalajoran.
“Di sini rupanya kau wanita terkutuk! Semakin hari kau semakin buruk rupa saja!” ucap salah satunya.
“Apa yang kalian inginkan dariku? Atau jangan-jangan kalian merindukanku? Hahahaha…” balas Monah.
“Kau tidak layak berada di sini! Kau harus kami habiskan!”
“Benar! Selain karena perintah, setelah kami melihat penampilanmu sekarang kami sangat ingin melenyapkanmu. Kau adalah aib, sampah bahkan racun bagi keberlangsungan hidup warga di tempat ini!”
“Apa katamu? Kurang ajar! Jangan bermimpi kalian dapat melenyapkanku!”
“HIYAAAAAAT…”
BUGGG…
“SAAAH…”
PRAAAK…
“HEEEP…”
Monah pun beradu kekuatan dengan kelima lelaki tersebut. Para lelaki itu selain terlatih memiliki skill menyerang, juga punya strategi yang jitu dalam mengalahkan musuh. Perang adalah hal biasa bagi mereka, apalagi hanya mengeroyok nenek-nenek seperti ini.
Tidak seperti mereka, Monah memang punya kesaktian tapi tidak dengan ketepatan strategi menyerang. Sayangnya sesuatu yang sering membisikinya tidak hadir di saat-saat dibutuhkan seperti saat ini. Entah memang tidak hadir atau sengaja tidak memberikan petunjuk apapun kepada Monah.
Sosok gaib yang mulai tinggal di diri Monah sejak dipindahkan dari diri Dewi Melati itu selalu mengarahkan Monah ke hal-hal yang sebenarnya merugikan Monah, walau secara sekilas Monah sering merasa terbantu.
Sosok gaib itu ingin Monah merasakan dendam yang teramat dahsyat terhadap orang-orang di wilayah ini. Oleh sebab itu sosok gaib ini membiarkan Monah merasakan penderitaan dari mereka.
Tidak ada api yang berkobar tanpa bahan bakar dan penyulut. Sosok yang merupakan kutukan bagi Monah ini membiarkan dendam amarah sebagai bahan bakar bagi berkobarnya api kejahatan dalam diri Monah. Sedangkan pertikaian di antara mereka – orang-orang yang pernah mengabdi pada Monah, mereka adalah penyulutnya.
Setelah melewati pertarungan yang sengit, Monah pun dapat dilumpuhkan oleh mereka. Memusnahkan Monah begitu sulit dilakukan oleh para lelaki itu. Mereka pun memutuskan untuk membawa Monah ke pemimpin mereka. Monah diseret untuk menghadap pemimpin mereka yang baru – pimpinan sementara, yaitu Kalajorang.
Diperjalanannya, Monah yang dalam keadaan tangan terpasung, kaki dirantai dan berjalan diseret-seret itu diarak di jalan. Orang-orang melihatnya dengan jijik. Ada yang melemparinya dengan telur, sayuran busuk dan mengatainya.
“Dasar pecundang!”
“Jangan-jangan Ratu kita yang sebelumnya mati ditangannya agar dia bisa merebut kekuasaan!”
“Dasar pembunuh!”
“Huuu… Pembunuh!”
Sementara anak-anak kecil mengaraknya sambil melagukan olokan, “orang gila… orang gila…”
Monah pun dihadapkan pada Kalajorang.. Mereka saling beradu argumen secara empat mata di tempat rahasia Kalajorang dalam istana itu. Kalajoran masih ingat betul kecantikan Monah dan sekarang ia merasa jijik dengan penampilan Monah sebagai seorang nenek-nenek buruk rupa.
Kalajorang ingin memanfaatkan kesaktian Monah demi melanggengkan urusan pribadinya yang selalu serakah itu. Sambil memutar otak, Kalajoran pun mengurung Monah di sebuah penjara bawah tanah.
Tempat itu begitu pengap, jorok, banyak hewan pengerat dan serangga bahkan beraroma busuk. Monah meratapi keadaan itu. Dulunya ia adalah seorang anak dari walikota yang terbiasa dimanjakan dengan fasilitas mewah, tapi sekarang kehidupannya berubah sebaliknya.
Dalam penjara Monah tanpa sengaja mendapati suara-suara lirih antara laki-laki dan perempuan. Monah menguping.
“Untuk apa kau datang ke sini Nyi Mas? Aku sedang bertugas! Dan tempat ini bukanlah tempat yang cocok untukmu,” ucap seorang laki-laki.
“Tapi, Mas, lihatlah! Sini tanganmu. Rasakan! Mau sampai kapan Kang Mas menyembunyikan aku dan dia? Dia butuh sosok ayah Mas,” ucap seorang perempuan.
“Kita bicarakan ini nanti. Jangan di sini! Dan jangan pernah kau datang ke sini lagi Nyi Mas,” balas laki-laki yang adalah petugas penjaga penjara itu. Lelaki itu telah didatangi kekasihnya secara diam-diam yang meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya.
Monah menangkap peluang di sini, tentu saja atas bisikan gaib yang mempengaruhinya.
“Hahaha… Cah Ayu… Kasihan sekali kamu. Kemari Sayang… Aku punya solusi untukmu,” ucap Monah dengan suara menggema dari balik tempat gelap di mana orang di luar selnya tak bisa melihat diri Monah sangking gelapnya.
Perempuan itu pun menghampiri sel Monah. “Nyi Mas! Jangan ke sana Nyi Mas!” cegah laki-laki itu.
“Lepaskan Mas! Lepaskan!”
Dengan tipu muslihatnya dalam berkata-kata, Monah pun berhasil membuat dua orang tersebut membiarkannya berada dekat dengan perempuan itu.
Perempuan itu merasakan tangan renta Monah mengelus perutnya. “Ada sesuatu di dalam sini. Dia begitu suci, begitu murni…” ucap Monah.
Dari balik gelap, perempuan itu masih belum bisa melihat wajah Monah. Hanya tangan Monah yang ia julurkan yang bisa perempuan hamil itu lihat.
Berbagai petuah Monah keluarkan dari mulut rentanya, memuaskan dan menenangkan bagi kedua orang mendengarkannya.
Namun tiba-tiba Monah melangkah maju, menyibakkan kegelapan yang sedari tadi menyembunyikan dirinya. Wajah menyeramkan Monah melengkungkan sebuah senyuman licik. Senyuman itu perlahan membuat mulutnya membuka, menunjukkan rongga mulutnya yang busuk, berlendir hitam yang menetes-netes, demikian pula gigi-gigi hitam yang tak utuh lagi.
“AAAAAAAA…” Perempuan hamil itu berteriak ngeri.
Laki-laki itu mencoba mengambil bongkahan batu besar untuk ia lemparkan ke kepala Monah, tapi Monah berhasil menahannya. Monah pun membanting laki-laki itu ke tembok dengan sebelah tangannya, sedangkan satu tangannya lagi mencengkram leher perempuan hamil itu.
Kedua orang ini adalah penduduk yang masih memiliki garis keturunan manusia yang tinggal di alam gaib ini. Seperti orang-orang lainnya di tempat ini. Dahulu kala banyak nenek moyang mereka yang sebagai manusia biasa hidupnya berdampingan dengan para makhluk gaib. Kemudian migrasi terjadi dan pembauran itu terjadi.
Sehingga, mayoritas penduduk kasta rendah di alam gaib sekitar sini adalah makhluk yang dulunya punya garis keturunan sebagai manusia. Mereka yang statusnya seperti ini membangun peradaban sebagai rakyat jelata di sini, sedangkan pesohor-pesohor mereka dipegang oleh makhluk-makhluk dari kalangan jin atau siluman berdarah murni, bukan darah campuran.
Dengan ganasnya Monah membuat perempuan hamil itu tak berdaya. Ia kemudian merobek perut perempuan itu dengan kondisi perempuan itu dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Monah mengeluarkan bayi itu dari perut ibunya. Dendamnya atas orang-orang yang telah membuat kondisinya sangat mengenaskan saat ini membuat Monah begitu bengis melakukan hal mengerikan ini.
“Ini adalah bagian tersuci dan termurni… Hahahaha…” ucap Monah sambil mengangkat bayi yang tak bergerak itu. Usia bayi itu masih terlalu muda untuk keluar dari perut ibunya.
“KRUS KRUS KRUS…” Monah memakan bayi itu di hadapan kedua orang tuanya yang lumpuh.
Melihat wajah-wajah yang terlihat menderita itu Monah semakin lahap memakan santapannya. Sesekali ia tertawa puas.
Setelah santapannya habis, Monah pun segera menghabisi kedua orang itu dan mereka pun tewas.
Tak menunggu waktu lama, penampilan Monah pun berubah menjadi muda lagi. Ia melihat kulit di kedua tangannya sendiri yang begitu cerah, mulus dan kencang. Kemudian Monah meraba-raba wajahnya sendiri dengan bergelimangan darah di kedua telapak tangannya.
Monah senangnya bukan main. Ia pun merasakan kekuatannya menjadi berlipat-lipat ganda.
“GOOOON… RUGOOOON…”
Ada yang datang.
“Kemana dia?”
“Entahlah.”
Rupanya tiga orang penjaga yang baru datang. Mereka pun tercengang melihat apa yang mereka saksikan di depan mata kepala mereka masing-masing. Pintu sel itu menganga dan di dalamnya ada sosok cantik yang bersimbah darah beserta dua orang yang sudah tercabik-cabik mengenaskan.
Dengan cepat Monah menyerang ketiga penjaga itu. Para penjaga itu adalah orang-orang yang kuat, tapi kini Monah jauh lebih kuat.
Setelah menghabisi ketiganya, Monah pun kabur. Monah melewati berbagai lapis keamanan dengan mulus dan ia pun berhasil lolos.
Dengan riang Monah menuju sungai untuk membersihkan diri. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan pujaan hatinya. Saat ini Monah sudah kembali cantik tapi harus terlebih dahulu membersihkan diri dari darah-darah yang berceceran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
waduh, Monah pasti makin menjadi ketagihan makan bayi 😣
2024-01-13
0