Pacar Rahasia

Jam delapan malam Monah sampai di depan pagar halaman rumahnya.

“Non Monah! Astaga!” Security pun langsung membuka pagar besar dan tinggi itu sambil bicara menggunakan handytalky. “Non Monah pulang! Non Monah sudah pulang!”

“Ya ampun, Non darimana saja? Semua orang cemas mencari Non.”

“Ayah bagaimana?” tanya Monah khawatir sambil melangkah masuk. Beberapa orang yaitu bapak Zainal dan pembantu rumah tangga berlarian menghampiri.

“Beliau…” Belum usai security itu bicara, Monah berbalik. Ia kembali kepada Rustam yang berdiri di belakang.

“Ayo masuk Bang,” ucap Monah.

“Non, siapa orang ini?” tanya pembantu rumah tangga dengan tatapan yang jijik kepada Rustam.

“Non, Zainal juga belum pulang. Apa dia tidak pergi bersama Non?” tanya bapak Zainal sambil celingukan melihat ke jalan belakang mencari keberadaan Zainal.

“Panjang ceritanya. Pak, Bi, ini Bang Rustam, orang yang menyelamatkan nyawa Monah di hutan tadi. Zainal… Zainal… memang pergi bersama Monah,” jelas Monah.

“Hutan?” bapak Zainal terkejut. Ia beradu pandang dengan pembantu rumahtangga.

“Kalau begitu mari masuk. Kasihan sekali Non Monah dan Adik ini basah-basahan seperti ini,” ucap security.

Sambil berjalan masuk bapak Zainal terus menanyai perihal anaknya kepada Monah. Monah berwajah sendu dan matanya berkaca-kaca.

“Memangnya Non Monah dan Zainal pergi kemana?” Dimana Zainal sekarang?” tanya bapak Zainal.

“Uda, nanti saja bertanyanya. Kasihan Non Monah,” bela pembantu rumah tangganya.

“Sayang!” Ayah Monah langsung menyambut anaknya dengan pelukan. “Ayah, maafkan saya,” ucap Monah sambil mengisak.

“Kamu baik-baik saja kan Nak?”

“Iya Ayah, berkat Bang Rustam yang menyelamatkan saya,” ucap Monah sambil mengenalkan Rustam kepada ayahnya.

Dari sisi walikota itu berdiri seorang lelaki tua yang biasa mendampinginya terutama saat menjalankan tugas sebagai walikota. Pria tua itu adalah Mamak Gaek, penasihat spiritual ayah Monah.

Pria tua itu memandang Rustam dengan tatapan benci. Ia lalu membisiki Tuan Rajo, ayah Monah.

Rustam hendak memberikan penghormatan tapi Tuan Rajo langsung mendepak tangan Rustam.

“Sekarang lebih baik Abang Rustam beristirahat. Kasihan perjalanan beliau jauh. Bolehkan Ayah?” bujuk Monah.

“Hem,” Tuan Rajo mengangguk. “Minah, antar dia ke kamar tamu. Yanti, siapkan makanan, antarkan ke kamar Adik ini,” perintah Tuan Rajo kepada para pembantunya.

Orang-orang pun membubarkan diri.

Setelah beberapa saat kemudian Tuan Rajo pun datang ke kamar Monah bersama pembantunya yang membawakan makanan. Saat itu Monah sudah selesai bersih-bersih.

Ayah Monah menyuapi anaknya sup hangat di kamar itu. Mereka berbincang-bincang, Monah pun menceritakan kronologi yang terjadi selama seharian itu.

“Sebenarnya Rustam itu bukan orang yang baik Nak. Besok suruh dia pulang dan kamu jangan pernah berhubungan lagi dengan dia,” ucap Tuan Rajo.

“Bukan orang baik bagaimana Ayah? Apa belum cukup kebaikan yang dia tunjukkan kepada Monah Ayah?” protes Monah.

“Nak, kamu itu masih polos. Ayah lebih tahu apa yang tidak kamu tahu.”

“Tapi Ayah… Monah yakin Bang Rustam itu orang baik. Kalau tidak ada dia, mungkin saja Monah…”

“Kamu tidak perlu menceritakan ulang apa yang terjadi.”

“Kalau begitu saya pikir Ayah paham bagaimana keadaannya, dia memang orang baik.”

“Pokoknya kalau Ayah bilang kamu tidak boleh berhubungan dengan dia lagi ya tidak boleh! Paham?” Tuan Rajo mulai meninggikan suaranya.

“Pa-paham Ayah,” jawab Monah.

Suasana hati keduanya berubah, maka Tuan Rajo pun pergi dari kamar Monah.

“Ayah… setidaknya katakan kepada Monah kenapa ayah menyangka Bang Rustam orang yang tidak baik…” ucap Monah dengan nada tinggi agar ayahnya yang sudah berada di dekat pintu itu mendengarnya.

“Sssst… Non…” Pembantu rumahtangga menahan langkah Monah.

Tuan Rajo tampak berhenti sejenak tapi kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Monah.

“Non itu capek. Besok saja ya, sekarang lebih baik istirahat saja. Lagipula mood Tuan sepertinya sedang tidak baik,” ucap pembantu rumahtangga itu dengan suara lirih.

Hari berlalu. Rustam sudah pergi tanpa berpamitan dengan Monah. Sementara orang-orang sibuk dengan pencarian Zainal yang hilang. Segala kekuatan dikerahkan tapi tanpa melibatkan media. Bagaimanapun juga kecerobohan anak walikota ini harus dirahasiakan. Karena ulahnya, pemuda itu hilang di hutan.

Di suatu sore pada hari lainnya Monah tengah termenung di pekarangan belakang rumahnya sendirian. Sejak kejadian itu ia menjadi seorang yang murung. Monah pun sudah tidak bergairah lagi menekuni hobinya sebagai perangkai bunga.

“Dik…” Seseorang memanggil Monah dengan suara lirih. Suara itu begitu familiar bagi Monah, membuatnya segera berdiri, begitu bersemangat mencari dimana sumber suara itu.

Mata Monah pun menangkap kehadiran seseorang di sudut taman di depannya. Ia begitu sumringah.

“Bang Rustam!” ucapnya. Rustam pun tersenyum dari kejauhan. Monah celingukan sebentar dan setelah merasa aman, ia pun berlarian mendatangi Rustam.

“Abang ada di sini? Bagaimana bisa?” ucapnya lirih sambil tersenyum.

“Ssssst… Hihihi…” Rustam mengisyaratkan kepada security. Monah mengangguk paham. Menurutnya Rustam dan security diam-diam telah sekongkol membuat Rustam bisa masuk.

Monah pun mengajak Rustam berjalan-jalan. Ada jalan tikus yang dulunya pernah Monah dan Zainal gunakan untuk keluar dari pekarangan ini menuju kebun di luar pagar. Mereka merunduk menembus sela-sela perdu untuk melaluinya.

Rustam dan Monah pun bercengkrama di kebun luar pagar. Rustam menghibur Monah yang sejak lama muram.

“Coba lihat ini…” ucap Rustam sambil memetik bunga rumput.

“Apa yang akan Abang lakukan?” tanya Monah.

Rustam pun menganyam batang bunga rumput itu dan memasangkannya di jari Monah.

“Sebuah cincin yang indah. Hihihi… Abang bisa saja.”

Waktu pun berlalu. Sudah beberapa kali Rustam mengunjungi Monah dan mereka bertemu secara diam-diam di kebun belakang rumah.

“Sudah beberapa kali Abang jauh-jauh pergi ke sini. Pasti sangat merepotkan,” ucap Monah.

“Tidak apa-apa Dik. Ada hal-hal yang menurut orang kota terasa merepotkan tapi tidak bagi kami yang orang pelosok ini. Apapun saya lakukan untuk memastikan Adik Monah baik-baik saja. Saya sangat mengerti diri Adik pasti begitu terguncang semenjak kejadian itu,” jelas Rustam.

“Terimakasih Abang. Saya sangat yakin Abang orang yang baik, tidak seperti yang mereka katakan. Pasti mereka bilang begitu hanya karena penampilan Abang yang berbeda,” ungkap Monah.

“Oh begitu ya?” Rustam memperhatikan pakaiannya sendiri.

“Aku ada ide! Bagaimana kalau kita ke pusat perbelanjaan sekarang?”

“Maksudmu Dik?”

“Ah, pokoknya ikut sajalah. Ayo!” Monah begitu bersemangat menarik tangan Rustam keluar dari tempat itu.

Monah pun mengajak Rustam ke pusat perbelanjaan. Ia membelikan Rustam pakaian, menemani ke barbershop dan makan bersama.

Sekarang penampilan Rustam sudah berubah, tidak kuno seperti orang pelosok lagi. “Wah kalau saya pulang dengan penampilan seperti ini pasti orang-orang di tempat saya tidak akan mengenali saya. Hahahaha…”

“Jadi bagaimana? Tidak apa-apa kan Bang?”

“Tidak apa-apa Dik. Dan saya sangat berterimakasih kamu sudah membantu saya membaur dengan orang-orang kota seperti ini.”

Sejak saat itu Monah dan Rustam sering tampil bersama. Bahkan saat ini Rustam sering menjemput Monah di sekolahnya dan dikenalkan ke teman-teman Monah. Monah, Rustam dan teman-teman sekolah Monah sedang jajan sepulang sekolah.

“Wah, seru ya sekarang Monah sudah punya pacar,” ungkap salah seorang teman Monah.

Pipi Monah pun merona, ia lalu beradu pandang dengan Rustam. Rustam tersenyum tanpa menyangkal atau mengiyakan ucapan teman Monah itu.

“Iya, mana abangnya ganteng begini lagi. Hihihi…”

“Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya kalian bertemu?”

Monah tampak ragu-ragu dalam berkata-kata. Tentu saja kasus hilangnya Zainal masih ditutup rapat jadi tidak mungkin Monah menceritakan hal yang sebenarnya.

“Kami punya hobi yang sama tentang tanaman. Saat itu kebetulan ada event kota yang memamerkan tanaman hias,” jelas Rustam.

“Oh event yang digelar waktu perayaan hari bumi itu? Wah keren sekali kalian!” ucap teman Monah.

Monah mengernyit sambil tersenyum, Rustam pun membalas senyuman Monah lalu Monah menggeleng sambil tertawa kecil.

“Ternyata Bang Rustam cukup mengikuti perkembangan kota, sampai dia tahu ada acara seperti itu,” ucap Monah di dalam hati.

Waktu pun berlalu, Monah pulang dan akhirnya sampai di rumah.

“Sepertinya kamu harus memikirkan kembali tentang hubunganmu dengan Bang Rustam, Mon.” Monah sedang melakukan percakapan via telepon seluler dengan teman sekolahnya.

“Ada apa Pin? Kenapa kamu berkata begitu?”

“Ada yang tak beres dengan orang itu Monah. Aku melihat sesuatu yang janggal.”

“Maksudmu? Hal janggal apa?”

“Suatu hal yang mengerikan Monah.”

Monah pun ditemui oleh ayahnya yang sedang didampingi Mamak Gaek. Monah pun mengakhiri obrolan itu tanpa sempat tahu hal apa yang hendak temannya ceritakan.

“Darimana kamu Monah?” Mimik Tuan Rajo seakan menahan marah.

“Seperti biasa Ayah, Monah jajan sebentar sama teman-teman sepulang sekolah,” jawab Monah.

“Kamu pikir Ayah tidak tahu kalau kamu sering bertemu laki-laki itu?” ucap Tuan Rajo lalu melirik Mamak Gaek dan lelaki tua itu membalasnya dengan mengangguk pada Tuan Rajo.

Ayah dan putrinya itu pun kembali cekcok. “Kamu tidak tahu siapa Rustam itu sebenarnya Monah!” bentak Tuan Rajo.

“Kami menyayangimu Nak. Kami hanya tidak ingin kamu berada dalam bahaya, seperti apa yang telah terjadi pada Zainal,” tambah Mamak Gaek.

“Jangan sok tahu! Saya tahu betul apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri waktu itu!” protes Monah.

“Jaga bicaramu Monah!” bentak Tuan Rajo.

“Apa yang Mamak Gaek tahu jauh di depan, justru kamu yang tidak tahu apa-apa. Ayah sudah melakukan penelusuran, Monah, selama ini Ayah sudah cukup sabar tidak mengungkapkannya kepadamu,” lanjutnya.

“Mengungkapkan apa Ayah? Siapa Bang Rustam sebenarnya?” tanya Monah.

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

jangan" Rustam itu dedemit 🤭👻👻👻

2023-12-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!