Nenek Pemakan Bayi

“Pak… Tolong saya Pak,” mohonku kepada lelaki berperawakan kurus itu.

Ia adalah lelaki tua yang berusia kira-kira lima puluh tahun. Kulitnya gelap, rambutnya pendek tipis berwarna dominan putih, lingkar matanya cekung seperti hampir tak mampu menahan kedua bola matanya lagi, bertelanjang dada dengan sarung setinggi lutut dan tanpa alas kaki.

Ia sedang memanggul seikat kayu ranting yang dipotong dengan ukuran yang sama dan diikat dengan semacam kulit kayu yang fleksibel.

Ada kesuraman pada wajahnya, tatapan matanya kosong, wajahnya kaku bahkan untuk bicara pun seakan enggan. Sungguh aneh orang ini. Tapi sudahlah, yang penting aku masih bertemu manusia untuk kumintai tolong.

Lelaki tua itu berhenti untuk mendengarkanku. Tapi, ia tidak juga memandang wajahku. Seperti yang kubilang tadi, tatapannya kosong. Ia hanya menatap jalan tanah di depannya. Apakah orang ini buta? Sepertinya tidak. Kalau buta bagaimana bisa dia berjalan di hutan sendirian tanpa gimik meraba-raba perjalanannya?

“Mari ikut saya,” ucapnya lambat.

Wajahku sedikit berseri. Ada kelegaan di hatiku. Aku akan ditunjukkannya jalan. Setidaknya aku akan diantarkannya ke desanya, atau setidaknya ke rumahnya. Yang penting bertemu manusia lain. Apalagi kalau ada makanan dan minuman. Soalnya sejak tadi aku belum meminum dan memakan apapun. Badanku kini lemas sekali.

“Iya Pak. Terimakasih sekali. Syukurnya ada Bapak di sini,” ucapku sambil memulai langkahku.

Sepanjang perjalanan, orang ini tidak mengajakku bicara. Aku ajak dia bicara tapi kadang dijawab kadang tidak dan kalaupun dijawab kata-katanya singkat-singkat. Ah, sudahlah. Mungkin orang ini sedang badmood.

Kami berdua berjalan menelusuri jalur pendakian menurun. Matahari seharusnya semakin meninggi. Mungkin tadi aku keluar tenda sekitar jam delapan. Seharusnya ini sudah jam sembilan atau sepuluh. Tapi anehnya suasana langit kian seperti suasana senja. Lalu ada kabut setinggi perdu yang semakin pekat.

Mungkin cuaca di gunung seperti ini, tidak bisa ditebak. Maklum saja, karena ini adalah kali pertama aku naik gunung. Sebelumnya aku adalah anak rumahan yang jangankan ke gunung, ke kebun aja tidak pernah. Tapi, semenjak aku merantau untuk kuliah di daerah ini aku jadi punya kebebasan untuk bepergian. Sedikit alasan yang kubuat-buat saat meminta izin ke orang tua bisa memuluskan berbagai rencana liburanku.

“Hihihihihi…” Terdengar suara perempuan tertawa cekikikan tapi caranya tertawa sepintas seperti suara ayam betina, agak lain, sedikit cepat dan suaranya pendek-pendek.

Aku menghentikan langkahku dan melihat ke sekeliling. Rasanya sedikit mencekam di sini, jadi aku berusaha mencari di mana sumber suara itu.

Saat kumenoleh aku tidak melihat apapun yang mencurigakan. Tapi, ketika pandanganku kembali kutujukan ke lelaki tua pembawa kayu bakar itu tiba-tiba saja ia menghilang. Aku pun panik.

“Pak? Bapak?”

Aku mencari kehadiran lelaki tua itu ke sekitar dengan isak tangis. Aku ketakutan karena menyadari aku hanya tinggal sendirian sekarang.

“PAK… BAPAK! BAPAK DIMANA?” Aku mulai meninggikan suaraku dan memanggil-manggilnya. “PAAAK… BAPAAAK…”

“Hihihihi…” Lagi-lagi suara cekikikan perempuan itu terdengar dan kali ini lebih dekat.

Di ujung mataku seperti tampak aku sedang diperhatikan entah oleh siapa. Ketika aku menoleh dan fokus melihat ada siapa di sana ternyata tak ada siapapun. Tapi, suara-suara itu nyata. Jelas ada orang!

Lalu tanpa sengaja aku mendongakkan kepala tampak olehku rambut panjang yang menggantung. Setelah difokuskan lagi pandanganku ternyata itu adalah kepala yang terbalik.

Ada sosok perempuan berbaju putih dengan rambut panjangnya sedang bergelayut terbalik di cabang pohon. Aku ketakutannya bukan main. Itu kuntilanak! Pasti!

Maka kukayuh kakiku sekencang mungkin, mencoba meninggalkan tempat mengerikan itu. Tapi suara cekikikannya seperti tidak hilang-hilang, seperti terus mengikutiku.

Akupun berteriak-teriak minta tolong. “TOLOOONG… TOLOOOONG…”

Kemudian dari kejauhan seperti terdengar suara orang-orang, seperti ada keramaian di ujung jalan sana. Aku pun semakin mengayuh kakiku untuk menujunya. Untungnya semakin aku mendekati suara kerumunan itu suara cekikikan kuntilanak itu semakin tak terdengar lagi.

Yang ada di pikiranku sekarang di depan sana adalah desa atau pasar. Jalur ini tertutup semak yang tebal, aku akan segera keluar dari sini.

Aku pun keluar dari rimbunnya kepungan semak tapi ternyata itu adalah sebuah tebing. Aku nyaris melompat ke jurang. Aku menghentikan langkahku secara mendadak tapi sayangnya aku tak berhasil mengerem. Aku jatuh, tapi untungnya di ujung tebing ini ada sesuatu yang bisa kupegang.

Aku pun menggantung dengan memegang sebuah akar pohon yang menyembul. Di bawah sana adalah jurang yang dipenuhi kanopi pohon, jurangnya dalam sekali. Kalau tadi aku terjun bebas ke bawah sana mungkin aku akan langsung mati.

Aku bertahan sampai tanganku lecet. Peganganku nyaris lepas karena tak tahan menahan beban dengan rasa perih di tangan. Tubuhku terlalu lemas untuk menarik diri naik ke atas.

Aku pun berdoa, meminta pertolongan Tuhan. Kupejamkan mataku dan kucoba lagi dan lagi agar kubisa naik. Aku membantu tubuhku dengan cara mencakar-cakar tanah tebing dengan ujung sendalku, berharap bisa memijak.

“AYO KAMU BISA NURMALA! JANGAN MATI KONYOL! NURMALA BODOOOOOH!” Teriakanku ternyata mampu membuat semangatku kembali berkobar. Aku pun dapat menarik tubuhku sehingga berhasil naik ke atas tebing.

Aku merangkak di ujung tebing lalu setelah aman aku pun menjatuhkan tubuhku dan berbaring di atas tanah. Kuhela napas dengan lega. Aku selamat.

Setelah beberapa lama beristirahat aku pun membuka mataku. Aku bangun, kupaksakan tubuhku. Aku akan mencari pertolongan lagi. Ternyata tadi aku baru saja berhalusinasi. Suara-suara yang seperti pasar itu bukan apa-apa melainkan jurang yang menganga.

Aku butuh asupan. Mungkin karena perutku kosong dan dehidrasi sehingga pikiranku kacau seperti ini. Kulihat-lihat pun tempat ini masih saja aneh suasananya. Tidak juga berubah.

Aku berjalan membungkuk sambil memegangi perut. “Tolooong…” Suaraku tak lagi bisa meninggi, tenggorokan pun sangat kering sehingga suaraku sedikit parau.

Dari kejauhan kulihat ada bangunan kayu, seperti gubuk. Aku pun mendatanginya. Semoga ada orang di sana.

KRUUUS… TUUUNG… GRAAAK…

Aku mendengar sesuatu ketika sudah sampai di muka pintu. Pasti ada seseorang di dalam!

Aku pun mengintip dari celah kayu pada pintu gubuk ini. Ada seorang nenek-nenek di sana. Perasaan lega kembali menerpaku.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung membuka pintu itu. Namun, apa yang kulihat sungguh mengerikan. Nenek dengan rambut yang terurai dan gulungan kecil di atas kepalanya itu sedang memakan sesuatu yang berdarah-darah.

KRUS KRUS KRUS…

Di atas mejanya aku melihat potongan kaki. Itu bayi! Bayi manusia! Astaga!

Bola mataku bergetar, berair, air mata pun tumpah dan semakin deras dengan wajah beku seperti tersihir juga segenap tubuhku. Aku tak bisa bergerak, begitu syok.

Nenek berwajah buruk rupa itu melotot kepadaku sambil mengunyah.

Ada sengatan listrik dari matanya kepada mataku, memaksaku untuk terus menatap matanya. Entah kenapa aku tak bisa beralih dari matanya.

Aku serasa tersedot ke dalam matanya. Ada sesuatu di sana, seperti rekaman film usang yang mengerikan. Aku berusaha menolak tapi jiwaku terus saja tersedot masuk ke dalamnya.

Mimik wajahnya kian berubah. Yang tadinya seperti marah lalu semakin meregang dan tenang. Nenek itu seperti memandang seseorang yang dikenalnya.

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

Mungkin masih keturunannya ya 🤔

2023-12-28

1

🍾⃝ᴀͩᴍᷞᴍͧᴀᷠʀͣ

🍾⃝ᴀͩᴍᷞᴍͧᴀᷠʀͣ

Dalem Nook, Aku Ning Kene Mburi mu.....

2023-12-28

4

🍾⃝ᴀͩᴍᷞᴍͧᴀᷠʀͣ

🍾⃝ᴀͩᴍᷞᴍͧᴀᷠʀͣ

Mana Ada Orang Tua suka bad mood, Mugkin Kakek² Itu hits.....

2023-12-28

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!