Menjemput Pujaan Hati

“Kenyataan ini mungkin membuat kamu tidak percaya Monah. Sudah lama Ayah ingin menyampaikannya, bahwasanya laki-laki yang kamu kenal dari hutan itu sebenarnya dia adalah… A-adalah…” Tuan Rajo ragu-ragu mengatakannya.

“Seekor siluman. Siluman macan kumbang,” sambung Mamak Gaek.

“APA!” Monah pun terkejut. “Apa maksud Mamak mengatakan begitu?” lanjutnya.

“Maksud Mamak agar kamu tidak turut menjadi korbannya seperti Zainal tempo hari,” jawab Mamak Gaek, lelaki tua yang menjadi penasehat spiritual ayah Monah.

“Korban apa? Monah sudah bilang kalau Zain itu diculik setan bersayap, bukan ulah Bang Rustam!” protes Monah.

“Monah jaga bicaramu! Mamak Gaek sudah menjadi bagian dari keluarga kita bahkan sejak kamu belum ada di muka bumi ini Monah! Kita semua tahu kemampuan Mamak!” ucap Tuan Rajo dengan nada meninggi.

Tuan Rajo pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Monah. Di sana terdapat rekaman video wawancara ajudan Tuan Rajo kepada masyarakat setempat yang menanyakan keberadaan Rustam.

"Bapak kenal orang ini?"

“Enggak ada orang ini di sini.”

“Saya indak kenal do.”

“Desa-desa terdekat dengan kawasan hutan yang ambo tahu adalah Desa (blablabla)... Saya tahu betul dari sekian itu orang ini bukan penduduk sini.”

Tuan Rajo juga menunjukkan foto-foto yang disebut sebagai desa mati dimana tidak ada orang yang tinggal di sana. Lalu terdapat rekaman video jawaban atas pertanyaan lainnya.

"Kabarnya di sini ada penguasa hutan berbentuk macan jadi-jadian ya Pak?"

“Memang ada, kami menyebutnya Atuk. Jangan memanggilnya dengan sebutan langsung, beliau bisa saja tiba-tiba hadir.”

“Jangan sampai bersinggungan dengan Atuk! Seram sekali.”

“Seekor macan kumbang dia, tapi bukan benar-benar macan. Semacam makhluk jadi-jadian.”

Mengetahui kenyataan itu, Monah jadi teringat dengan masa-masa saat bersama Rustam.

Pernah ia bermain di aliran sungai kecil dan menerawang air untuk mengejar ikan di dalamnya. Saat itu Monah tidak menangkap pantulan bayangan tubuh Rustam. Kalau itu manusia normal pasti di permukaan air tersebut ada pantulan bayangannya.

Pernah pula saat makan bersama, saat Monah hendak meninggalkan meja dua orang pelayannya mengobrol dengan suara pelan di belakangnya. “Sayang sekali makanan enak begini tidak disentuh. Kalau untukku saja bagaimana ya?” Lalu temannya menjawab, “Jangan. Itu kan bekas orang. Kamu mau tertular penyakit?”

Saat Monah menengok piring di atas meja makan yang ia gunakan tadi semua piringnya telah kosong, makanan mereka tidak bersisa. Sungguh hal yang aneh.

Pernah pula Rustam digonggongi anjing jalanan dan diraungi kucing jalanan serta ada suara teriakan anak kecil yang mengatakan “Mamaaa… Ada macaaan hitam!”

Monah juga mengingat kata-kata temannya di sambungan telepon yang mengatakan, “Ada yang tak beres dengan orang itu Monah. Aku melihat sesuatu yang janggal. Suatu hal yang mengerikan Monah.”

Mata Monah pun berkaca-kaca. Lututnya melemas. Monah pun menjatuhkan diri di sofa.

“Mulai sekarang semua pergerakanmu di luar rumah akan dipantau oleh ajudan ayah. PRAAAAS… KEMARI…” ucap Tuan Rajo.

“Iya Tuan.”

“Seperti yang saya katakan, tugasmu sekarang adalah menjaga Monah.”

“Baik Tuan,” jawab lelaki tegap berperawakan tinggi dan tubuh berisi itu.

Tidak ada yang bisa Monah lakukan. Ia pun pasrah menjalani peraturan dari ayahnya. Selama sebulan lamanya Monah tidak lagi bertemu dengan Rustam. Ia pun menjadi gadis yang pemurung dan tidak bergairah terhadap apapun, termasuk aktivitasnya di sekolah.

Sudah cukup Monah menahan rindu akan kehadiran Rustam. Diam-diam ia merencanakan keberangkatannya ke hutan itu. Monah telah melakukan janji temu dengan salah seorang porter, ia menyewanya untuk menemaninya masuk hutan.

Monah kabur dari pengawasan ajudan pribadi ayahnya. Sesampainya Monah di dekat pintu masuk jalur pendakian, ia pun bertemu dengan porter yang ia sewa.

“Dimana barang bawaan Akak?” tanya porter itu heran.

“Ini, bawakan saja ini,” ucap Monah sambil memberikannya tas punggung kecilnya.

“Hanya ini?”

“Iya. Sudahlah, ayo kita masuk.”

“KAK! AKAK TUNGGU…” ucap porter itu.

“Akak pergi sendiri?” tanya porter itu heran.

“Iya, maka itu saya memintamu untuk menemani saya masuk,” jawab Monah.

“Akak sudah tahu areal sini? Jalan Akak cepat sekali, seperti sudah hafal benar tujuannya. Tapi saya belum pernah melihat Akak. Padahal rombongan mana yang tidak saya dampingi, semua pasti pernah berjumpa dengan saya. Jadi kalau ada yang sering naik saya pasti tahu. Tapi kok Akak ini...” ungkap porter itu.

Monah tidak banyak menanggapi. Ia hanya fokus bagaimana caranya bertemu dengan Rustam. Ia mengingat-ingat jalan menuju tempat saat bertemu dengan Rustam untuk pertama kalinya.

Sayangnya ia lupa dan hanya bergantung pada perasaan dan insting saja kemana ia pergi memilih jalur yang ia tempuh.

“Kak! Akak jangan ke sana! AKAK!” Porter itu mencoba menghentikan Monah tapi ia terlambat.

“AKAAAAK! AKAAAAAK! Astaga benar kan hilang. Ya Tuhan, apa yang harus saya perbuat? Akak itu sudah masuk ke tempat yang orang-orang bilang adalah pintu gerbang ke dunia lain,” ucap porter itu.

Pikiran porter itu begitu runyam. Ia panik dan mencoba menenangkan diri, porter itu pun memutuskan untuk duduk menunggu Monah di tempat itu. “Lihat saja kalau sampai jam sebelas nanti akak itu belum kembali, saya akan turun dan mencari pertolongan.”

Sementara Monah telah berpindah alam. Ia tiba-tiba saja mendapati langit begitu gelap. Suasana begitu menyeramkan. Angin bertiup membuat pucuk-pucuk pohon bergerak mengeluarkan bunyi-bunyian aneh seperti derakan, gesekan mengilukan dan teriakan dari kejauhan.

“ABAAAANG… BANG RUSTAAAAM!” Dalam gigilnya Monah memanggil-manggil pujaan hatinya.

“Hahahahaha…” Sesosok makhluk besar hitam berbulu meneror dirinya. Monah berlarian tak tentu arah, ia begitu ketakutan.

Saat Monah bersembunyi di balik pohon besar, rupanya di sana juga sedang bersembunyi sesosok kuntilanak. Saat monah mengintip apakah makhluk hitam besar itu masih mengejarnya atau tidak, tiba-tiba saja di depan wajahnya ia berpapasan dengan wajah kuntilanak.

“AAAAAA…” Monah kembali berlarian menghindari kuntilanak itu. Suara cekikikannya sangat mencekam.

BRUK

Monah tersandung jatuh. Suasana pencahayaan yang remang-remang membuatnya tak dapat melihat jalan di depannya. Sepertinya ada potongan kayu melintang yang membuat dirinya jatuh.

Setelah diperhatikan rupanya itu bukan kayu, melainkan tubuh pocong yang sedang terbaring. Sosok pocong itu sangat mengerikan, wajahnya hangus terbakar dan hanya menyisakan bentuk tengkorak dengan mata yang melotot.

Monah bangkit dengan terseok-seok. Dirinya baru saja tersandung jatuh tapi ia paksakan untuk bangkit dan berlari pincang. Dalam pelariannya Monah menangis tersedu-sedu.

“Abang dimana Bang? Bang Rustam…”

Monah memperlambat langkahnya. Sepertinya sudah jauh ia berlari dan teror hantu-hantu menyeramkan itu tidak ada lagi.

Dalam berjalan lambat sambil celingukan memperhatikan sekitar, ia mencoba waspada, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah pergerakan.

Monah memfokuskan pandangan matanya. Ia menangkap penampakan ekor macan kumbang yang melintas beberapa meter di sampingnya.

Ternyata Monah belum diizinkan menarik napas lega. Jantungnya kembali berpacu kencang. Rasa takutnya kembali merongrong.

“Abang… Tolong aku Bang Rustam…” gumamnya.

Monah pun memutar-mutar tubuhnya. Ia tak melihat keberadaan macan kumbang itu lagi. Suasana begitu hening, tak ada tanda-tanda pergerakan dari arah manapun.

“Apa binatang buas itu sudah pergi?” gumamnya kembali.

“Apa yang kamu lakukan di sini Dik?” Suara itu adalah suara yang Monah harapkan kedatangannya. Monah pun segera berbalik dan benar saja, itu adalah Rustam.

Monah segera menyambar tubuh Rustam dengan pelukan yang erat. Ia menangis sejadi-jadinya.

“Kenapa Abang meninggalkan aku sendirian? Kenapa?” Isak tangis Monah membuat Rustam simpati. Ia membelai rambut panjang Monah hingga punggung dan pinggangnya.

“Maafkan Abang Dik. Ada yang menghalangi perjumpaan kita. Sebenarnya sudah berkali-kali Abang mencoba menemuimu, tapi selalu gagal. Dan sekarang kamu yang datang sendiri ke tempat Abang. Kamu sangat konyol Dik. Kamu tidak boleh seperti ini lagi ya?” ucap Rustam.

“Memangnya Abang tidak suka bertemu denganku?”

“Bukan begitu Dik. Abang senang bisa berjumpa Adik lagi, tapi tempat ini sangat berbahaya. Ini bukan tempatmu Dik,” jawab Rustam.

Monah melepaskan pelukannya. “Lalu tempat apa ini Bang? Kenapa begitu berbeda?”

Belum sempat Rustam menjawab pertanyaan itu, mereka berdua pun didatangi oleh banyak sosok. Sosok-sosok itu seperti mayat hidup yang berkerumun mendekat.

“Manusiaaaa…” kata-kata itu terdengar dari sosok-sosok menjijikan itu. Tangan mereka semua merentang seolah hendak menangkap Monah.

Monah bersembunyi di balik tubuh Rustam dan mereka berdua berkali-kali memutar tubuh karena mereka sedang dikepung.

“Enyah kalian! Apa kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?” bentak Rustam.

Rustam pun berubah menjadi seekor macan kumbang. Ia menganga geram mengusir para mayat hidup itu. Ketika macan kumbang itu menghadap ke beberapa di antara mereka, mereka takut dan mundur beberapa langkah tapi mereka yang berada di belakangnya masih maju mendekat.

Macan kumbang itu kembali memutar tubuhnya diikuti dengan Monah dan sosok-sosok yang ada di hadapannya menjadi takut tapi mereka yang berada di belakangnya malah maju mendekat lagi.

“Ter-ternyata be-benar… Bang Rustam adalah siluman macan kumbang,” ucap Monah di dalam hati.

Geram dengan para mayat hidup itu, macan kumbang itu pun melompat dan menyerang kerumunan itu. Ia mencakar, menggigit dan mengoyak mereka dengan membabi-buta. Macan kumbang itu kembali melompat ke arah lainnya dan serangan itu terus ia lakukan.

Rombongan mayat hidup itu kemudian mundur. Yang berjatuhan kembali bangkit tapi dengan terseok-seok mereka bergerak menjauh.

“Ampun Panglima, ampun…” kata-kata itu terdengar dari arah rombongan mayat hidup itu.

Setelah semua terkendali, macan kumbang itu kembali mendekati Monah dengan tatapan yang ramah.

“Jadi benar apa yang mereka bilang tentang dirimu Bang?” ucap Monah gemetaran.

“Sekarang kamu membenciku seperti mereka?” ucap macan kumbang itu.

Monah menggeleng. Ia berjongkok agar membuat tubuhnya sejajar lalu mengelus kepala macan kumbang itu perlahan. Awalnya ragu untuk menyentuhnya tapi kemudian menjadi yakin untuk mengelusnya.

“Mata dan logikaku memang bisa kamu bohongi Bang, tapi tidak dengan perasaan di hatiku. Bahkan aku sendiripun tidak dapat menyangkal apa yang dikatakan oleh hatiku tentangmu Abang,” ungkap Monah.

Perlahan macan kumbang itu pun kembali berubah fisiknya menjadi sesosok laki-laki utuh. Kini mereka berdua sedang berpelukan sambil berlutut di tanah.

“Benarkah apa yang baru saja kamu katakan Dik?”

”Benar Abang. Aku yakin Abang orang baik. Walaupun kita dari dunia yang berbeda aku yakin kita bisa bersatu Bang. Tolong jangan tinggalkan Monah lagi,” bujuk gadis itu.

SLEP…

Sebuah bola api seukuran telur meluncur kencang nyaris menghantam mereka berdua. Untungnya dengan gerakan yang cepat Rustam mampu menghindarinya sambil merangkul Monah untuk berpindah tempat.

“Padusi anak Rajo! Pulanglah!” Suara renta itu terdengar menggema entah dari mana. Suara itu penuh kemarahan.

“Kau jantan makhluk rendahan, dasar tidak tahu diri!” lanjut suara lelaki tua itu.

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

Apa itu Mamak Gaek ya 🤔

2023-12-31

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!