Monah membersihkan diri di sungai. Air sungai itu begitu jernih kebiruan. Monah berada di dalam air lalu ada seekor ikan mas kecil bermain-main dengannya. Ikan kecil itu berputar-putar dan berenang menyelip-nyelip di antara lekuk tubuh Monah.
Monah mengecipak riang. Ia mencoba menangkap ikan yang lihai menghindar itu dan gemas karena tidak juga berhasil menangkapnya. Lalu ia memecah-mecah permukaan air sambil bergelak tawa.
“Bang Rustam… “ gumamnya. Ia berhenti sejenak karena terpikir akan pujaan hatinya itu.
Monah memejamkan mata sebentar sambil melafalkan mantra-mantra tanpa suara. Bibir indahnya bergerak-gerak dengan sedikit sungging di tepiannya. Sebuah senyuman ringan.
Tak lama Monah kembali mengecipak riang bersama ikan berwarna kuning kemerahan itu.
“Ahahaha… Kamu nakal ya! Sini kamu! Hahahaha…”
KRUSUK… KRUSUK… KRUSUK…
Monah mendelik sambil membelakangi arah perdu yang bergesekan. Monah tahu ada orang di sana tapi ia membiarkannya. Pura-pura tidak tahu kehadiran seseorang di sana.
Seekor macan kumbang keluar dari balik perdu itu. Ia berjalan menuju tepi sungai dengan perlahan. Matanya begitu awas, lalu pura-pura datang untuk minum.
Sorot mata yang tajam dari hewan hitam itu masih memburu sosok perempuan muda yang membelakanginya. Ia melakukannya sambil mengais-ngais air sungai dengan lidahnya.
Monah pun berbalik sambil tersenyum. Kedua mata itu pun saling tertuju. Macan kumbang itu pun berubah menjadi sesosok Panglima Peturun. Ia berlutut termangu melihat apa yang ada di hadapannya.
Monah masih tersenyum, ia menunggu pergerakan lelaki itu. Mereka sama-sama mematung.
“Monah…” gumam Panglima Peturun.
“Bang Rustam…” balas Monah.
Panglima Peturun pun berlari memecah air, ia menghampiri Monah dengan haru.
Keduanya lalu berpelukan di dalam air. Suasana menjadi begitu syahdu. Wajah Monah ia benamkan di dada lelaki gagah itu. Panglima Peturun memeluk gadis yang ia cintai itu sambil memejamkan mata.
“Sudah lama sekali…”
“Ya, sudah lama sekali…”
“Aku merindukanmu…”
“Aku jauh jauh jauh lebih merindukanmu…”
“Aku mencintaimu…”
“Aku sanggup berbuat apapun demi meraih cintamu…”
“Ih, Abang bau.”
“Hah? A-apa katamu?”
“Bau, Abang! Sudah berapa lama Abang tidak mandi?”
Panglima Peturun pun mendengus kedua ketiaknya. “Betul juga. Eh! Enak saja!”
BYUR…
“Ih, Abang! Kenapa aku yang kau siram? Dasar! Rasakan! Hahaha…”
BYUR BYUR BYUR…
“Hahahaha…”
Sepasang sejoli itu pun terlihat begitu bahagia karena telah bersatu kembali. Tingkah laku mereka seperti anak kecil yang sedang asik bermain bersama. Sebuah ketulusan cinta yang Monah rasakan. Sangat berbeda kesannya dengan pelampiasan nafsu-nafsu keduniawian yang kerap ia jumpai.
Panglima Peturun sama sekali tidak ‘menyentuh’ Monah. Beberapa kali Monah menyodorkan wajahnya, tapi lelaki itu hanya mengecup kepala gadis itu.
“Aku mencintaimu, sebab itu aku menjagamu. Tidak akan kubuat setitik noda pun padamu. Semua kenikmatan itu akan terjadi pada sebuah pernikahan,” ucap Panglima Peturun.
Monah begitu terharu. Ia pernah merasakan kenikmatan bercinta walau dari cara dan orang yang tidak semestinya. Dulu siluman ular rendahan, pembantu Dewi Melati yang pertama kali mengenalkan padanya tentang kenikmatan itu. Lalu Dewi Melati juga melakukannya pada diri Monah.
Monah menikmatinya dan sempat terbayang untuk melakukannya juga dengan lelaki pujaannya ini. Namun, niatannya itu luntur. Ia tergugah dengan sikap lelaki gagah ini.
Monah menikmati kebersamaannya dengan Panglima Peturun. Selama dua pekan mereka bersama. Berburu bersama, mencari ikan dan memasaknya. Makan bersama, bermain-main, dan seluruh hutan itu menjadi surga bagi mereka berdua. Segala keperluan mereka terpenuhi dari sana.
Mereka berdua pun tengah duduk bersandar pada sebatang pohon yang menghadap ke lembah yang lepas. Dari ketinggian itu angin berhembus membelai kulit mereka dengan mesra.
“Bagaimana dengan tawaranku, Monah? Bukankah sebaiknya kita pulang kepada orang tuamu? Aku ingin pernikahan kita segera dilaksanakan,” ucap Panglima Peturun.
“Abang tahu betul hal apa yang akan terjadi kalau kita pulang. Bang, Monah masih ingin selalu bersamamu. Monah tidak ingin kembali terpisah seperti dulu. Itu sebabnya Monah ingin kita bertahan di sini,” jelas Monah.
“Adindaku, pujaan hatiku. Tak ada hal lain yang saya takutkan selain kehilangan dirimu. Saya akan menghadapi…” Panglima Peturun berbicara lembut dengan penuh kemantapan, tapi perhatian Monah teralihkan.
Ia melihat jemari kakinya perlahan berubah keriput. Monah membulatkan mata. Ia menegakkan duduknya, tidak lagi bersandar pada dada lelaki itu lagi. Monah lalu bangkit ketika ia telah melihat jari tangannya kembali berubah keriput.
“Ada apa?” tanya Panglima Peturun.
Monah pun berlari menjauh. Ia pergi dengan air mata yang berlinang. “ADA APA MONAH? APAKAH KATA-KATAKU SALAH? AKU BERMAKSUD BAIK MONAH… MONAAAAH…” teriak Panglima Peturun.
Lelaki itu lalu bangkit dan mengejar Monah. Namun, sayangnya Monah sudah menghilang. Panglima Peturun kehilangan jejak Monah.
“Kemurnian yang suci! Kemurnian yang suci!” Monah bergumam berulang-ulang sambil berlarian. Di dalam pikirannya ia hanya memikirkan bagaimana caranya kembali mendapatkan tumbal demi mengembalikan kecantikannya lagi.
Monah pun memasuki alam manusia kembali. Tidak tepat rasanya apabila ia kembali ke peradaban makhluk-makhluk di dunia gaib ini. Sebab ia tidak ingin kembali tertangkap.
Ia berjalan di kebun-kebun dan pasar-pasar manusia sekitar gunung. Sudah lama rasanya Monah tidak menjamah peradaban manusia. Ia mencari-cari informasi dimana ada seseorang yang sedang mengandung.
Dengan kesaktian Monah yang dapat menghilang seperti siluman, Monah pun beraksi untuk menculik isi perut perempuan hamil. Hal itu ia lakukan berkali-kali. Tiba-tiba perempuan-perempuan yang kandungannya mencapai delapan bulan bisa kempes dalam seketika. Mereka kehilangan bayi di dalam perutnya dengan mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Benar, itu adalah ulah Nek Monah.
Setelah melewati tiga kali siklus perubahan pada diri Monah, Panglima Peturun mulai tegas. Ia benar-benar menantikan kepergian Monah kembali. Saat itu Panglima Peturun menahannya pergi.
Dengan mata kepala lelaki itu menyaksikan Monah berubah menjadi buruk rupa. Panglima Peturun terkejut. Tatapannya begitu kosong.
Monah menahan malu dan begitu sedih.
“Apa yang terjadi? Apakah ini yang membuatmu selalu tiba-tiba pergi?”
“Iya, benar Bang. Aku tidak ingin kau jijik dengan penampilanku yang seperti ini. Lepaskan aku Bang. Biarkan aku pergi.”
Genggaman tangan Panglima Peturun tak lagi erat. Gandengan tangan yang renggang itu membuat Monah bisa melepaskan diri. Ia pun pergi meninggalkan Panglima Peturun.
Monah berlarian sambil menangis. “Sampai kapan aku harus seperti ini? Bagaimana agar aku bisa mengakhirinya?” gumam Monah. Monah pun berteriak melepaskan tekanan batinnya.
Teriakan itu begitu memilukan sekaligus menyeramkan bagi yang mendengarnya. Beberapa pendaki sampai bergidik, mereka sayup-sayup mendengar suara mengerikan itu.
“Sudah sejauh ini kau melakukannya! Lakukanlah lagi demi pujaan hatimu itu. Apakah kau tak lagi mencintainya?” lagi-lagi bisik sesosok gaib yang tak Monah ketahui kehadirannya.
Mau tak mau Monah kembali melakukannya. Ia kembali menculik bayi dalam kandungan perempuan perkampungan di sekitar gunung itu.
Dan kali ini Monah tidak sendirian dalam melakukan ritual menyantap bayi itu. Ia kedatangan seseorang dari masa lalu. Sosok perempuan yang menurutnya adalah bibinya dari kampung. Padahal itu adalah anak dari bibinya itu. Mereka begitu mirip. Nama perempuan itu adalah Nurmala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Cintamu langsung hilang ya bang Rustam 😣
2024-01-16
0