Monah telah bener-benar disambut oleh penghuni hutan ini, ia menyadarinya.
“ALLAHU AKBAR ALLAHUAKBAR…”
Sayup-sayup terdengar suara adzan dari kejauhan. Angin seolah tiada sehingga suara yang umumnya dikumandangkan dari surau itu tak terhantar dengan baik ke tempat Monah berdiri.
Salah satu orang berwajah kaku menjulurkan tangannya, mengajak Monah mengikuti mereka. Sedangkan orang-orang lainnya mengangguk pelan seolah mendukung ajakan itu.
“Apa? Apa yang akan kalian lakukan?” tanya Monah gugup.
Seseorang melempar arah pandangannya ke sumber suara seolah mengajak Monah mendatangi sumber suara adzan itu.
“Kalian mau mengajakku shalat?” tanya Monah ragu. Mereka pun mengangguk pelan dan melanjutkan perjalanan mereka. Monah ikut serta bersama mereka.
Di ujung jalan tampak sebuah surau, bangunan semi permanen yang terdiri atas semen separuh dinding dan kayu bahan sisa dinding lainnya sampai ke atap.
Orang-orang pun melangkah sedikit berpencar. Masing-masing mereka mencakar-cakar tanah dan mengusapkannya ke wajah dan tangan mereka. Sebuah cara bertayamum yang aneh.
Monah pun ikut bertayamum atau bersuci, tapi ia melakukan sebagaimana yang ia tahu saja. Tidak dengan mencakar-cakar tanah dan mengusapkannya begitu saja ke wajah dan tangan, tapi menepuk-nepuk debu halus terlebih dahulu sebelum diusapkan.
Setelah bersuci, orang-orang pun masuk ke dalam surau itu. Ada beberapa mukenah yang jumlahnya ternyata cukup untuk mereka gunakan termasuk Monah. Semua mukenah itu berwarna hitam. Sedangkan di barisan depan laki-lakinya cukup menggunakan sarung yang sejak awal mereka gunakan di tubuh mereka.
Gerakan shalat berjamaah dimulai. Tapi ada hal yang aneh. Seorang perempuan yang juga menggunakan mukenah di depan Monah tampak menoleh ke orang di sampingnya dengan menunjukkan wajah yang menyeramkan, seperti wajah lelaki tua, keriput, berwarna gelap lalu ia menganga lebar sekali ke sampingnya itu. Namun, orang di sampingnya itu tidak merespon sama sekali.
Monah berusaha menahan rasa takutnya. Gerakan berdiri dalam shalat itu kemudian berganti menjadi gerakan rukuk. Saat bangkit dari rukuk, sosok aneh yang tadi dilihatnya itu tiba-tiba tepat ada di depan wajah Monah. Ia sedang menganga, sangat menyeramkan.
Monah pun berteriak histeris… “AAAAAAA…” Namun orang-orang lainnya seakan tak peduli, mereka melakukan shalat berjamaah seperti biasa, seperti tidak ada yang sedang terjadi.
Monah pun melarikan diri. Ia mengangkat bawahan mukenah itu untuk memperlebar langkahnya, tapi ia masih juga kesulitan. Akhirnya Monah melepaskan mukenah itu jauh di luar surau, bahkan ketika surau sudah tak nampak lagi. Mukenah itu ia gantungkan di dahan pohon yang ia lewati begitu saja.
“Berani-beraninya setan mengganggu orang-orang shalat! Tempat macam apa ini?” gerutu Monah sambil terengah-engah berlari menjauhi surau.
“Ihihihihi…” Monah mendongak. Ternyata ada kuntilanak yang sedang duduk di dahan tinggi di atas Monah berdiri.
“Sialan!” gerutu Monah lagi sambil terus mengayuh langkahnya kencang-kencang.
“Hihihihi…” Suara tertawa perempuan kali ini terdengar berbeda. Yang biasanya terdengar hampir mirip suara ayam betina, kali ini benar-benar mirip suara manusia normal.
“Persetan dengan kalian!” serapah Monah sambil terus berlari tanpa memandang ke atas pohon.
Monah kembali melewati pohon besar lainnya dan sosok perempuan baru ini muncul begitu saja di sana, ia sedang duduk di atas dahan.
Monah pun mendongak. Dilihatnya sesosok perempuan cantik berpakaian tradisional berwarna kuning kehijauan dengan selendang terikat di pinggangnya sedang duduk di atas Monah.
Monah menghentikan langkahnya. Ia mencoba mengatur napasnya. Setelah tahu sosok ini tidak semenyeramkan itu, Monah pun mencoba berkomunikasi dengannya.
“Apa yang Anda lakukan di atas? Siapa Anda?” tanya Monah penasaran.
Perempuan cantik itu pun tersenyum. Rambut panjang sebokongnya begitu indah, sebagian di atasnya digelung dan berhiaskan pernah-pernik berkilauan.
Perempuan itu pun turun dengan terjun begitu saja dari atas sana. Namun, anehnya ia tidak jatuh, ia tampaknya punya kemampuan meringankan bobot tubuh sehingga turunnya begitu perlahan.
“Aku tahu apa yang terjadi padamu…” ucap perempuan itu.
“Hah? Apakah ini yang dimaksud ibu-ibu tempo hari, orang yang bisa menghidupkan orang mati?” batin Monah.
Tangan perempuan itu menepuk bahu Monah. “Kamu masih syok karena diganggu setan tadi?” ucap perempuan itu.
“Ya aku tahu kamu pasti baru saja diteror oleh setan jahil. Di tempat ini memang suka ada yang seperti itu. Hehe…” lanjutnya mencairkan suasana.
“Apa? Tahu yang terjadi padaku maksudnya hanya begitu saja? Kupikir dia tahu masalah percintaanku dengan Bang Rustam,” batin Monah lagi.
“Perkenalkan, namaku Dewi Melati. Aku tinggal di dekat sini. Aku tahu kamu pasti tersesat. Mari kita ke rumahku?” ajak perempuan cantik itu.
Monah masih terdiam, ia ragu. “Ayolah. Aku yakin kamu juga pasti haus dan lapar. Di rumahku ada makanan dan minuman yang enak-enak. Ayolah,” lanjut Dewi Melati.
Monah pun menuruti ajakan perempuan itu. Ia pun berjalan bersama Dewi Melati. “Terimakasih Mbak. Nama saya Siti Monah, panggil saja Monah.”
“Oh Monah. Sepertinya kamu orang jauh ya?”
“Kok Mbak tahu?” Bukankah banyak pendaki lain yang juga orang jauh?” tanya Monah kembali.
“Hihihi… Iya benar, tapi kamu yang istimewa.”
“Ah, masa? Istimewa bagaimana?”
“Soalnya kamu berhasil masuk ke tempat ini. Hihihi…”
“Emh… Maaf, saya ingin bertanya…”
“Ya Monah?”
“A-apakah i-ini bukan alam ma-manusia?”
“Hahaha… Kamu lucu sekali. Eh, itu rumahku sudah kelihatan. Ayo bergegas! Aku sudah tak sabar ingin menjamu kamu,” ucap Dewi Melati dengan riang.
Monah pun diberi jamuan oleh Dewi Melati. Perempuan itu punya rumah yang besar, sebuah rumah joglo dengan beberapa pembantu.
Monah masih belum berani mengutarakan niatnya untuk dapat kembali bersatu dengan Rustam dan Dewi Melati hanya mengajaknya mengobrol hal-hal receh yang membuat suasana menjadi riang.
Monah pun ditawari untuk beristirahat di kamar tamu. Dewi Melati mempersilakan Monah tinggal di tempat itu kapan saja. Monah pun beralasan ia akan menunggu rombongan teman-temannya menyusulnya sampai ke sini dan selama menunggu ia akan tinggal di sini.
Monah dan Dewi Melati pun berteman. Keesokan harinya Monah melihat Dewi Melati melakukan latihan beladiri.
“Hei, Cantik! Untuk apa mengintip begitu. Mari sini!” ucap Dewi Melati.
“Latihan ini bagus untuk membentengi diri. Oh iya, bukankah kamu takut diteror setan jahil? Dengan menguasai ilmu ini kamu tidak perlu takut lagi karena kamu bisa menghajar mereka kapanpun yang kamu mau,” jelas Dewi Melati.
Monah pun tertarik dan ia pun belajar olah gerak dari ilmu beladiri. Setelah usai berlatih, Dewi Melati mengatakan sesuatu saat mereka duduk-duduk beristirahat.
“Sebenarnya tidak hanya oleh gerak. Untuk menguasai ilmu itu seseorang perlu melakukan beberapa ritual pembersihan diri,” jelas Dewi Melati.
“Ritual seperti apa?”
Dewi Melati pun mengambil cangkir tanah liat yang berisi teh lalu secangkir air putih. Ia menuangkan air putih ke cangkir berisi teh sampai isi teh itu tumpah dan isi cangkir berganti menjadi air putih yang bening.
“Seperti ini. Untuk membersihkan isi diri seseorang, ke dalamnya kita perlu ‘memasukkan’ hal murni sampai seluruh kotoran itu benar-benar terbuang habis keluar,” jelas Dewi Melati.
“Memasukkan sesuatu? Apakah diriku akan dimasukkan suatu kesaktian ke dalam tubuhku?” batin Monah.
“Ah, aku tak berani ah. Entah apa nanti yang dimasukkan ke dalam tubuhku. Kalau nanti ada efek sampingnya bagaimana?” batin Monah lagi.
“Masih ragu? Ya sudah, tidak perlu buru-buru. Pikirkan saja dulu. Kita bisa melakukannya kapan saja.” Ucapan itu menutup obrolan mereka kali ini. Mereka pun kembali ke tempat masing-masing untuk bersih-bersih dan beristirahat.
Malam hari tiba. Monah mendatangi kamar Dewi Melati. Ia ingin menceritakan permasalahan asmaranya dan berharap mendapatkan petunjuk dari Dewi Melati. Apakah cara yang dikatakan ibu-ibu di pasar tempo hari bisa dilakukan di tempat ini atau tidak.
Namun, begitu sampai di depan pintu kamar, saat Monah hendak mengetuknya, ia mendengar Dewi Monah sedang bercakap-cakap seorang diri.
“Apa Mbak itu sedang telponan ya?” batinnya.
Kata-kata dengan nada teatrikal yang terdengar dari balik pintu itu membuat Monah penasaran. Ia menempelkan telinganya di pintu untuk menguping.
“Hahahaha… Sepertinya memang anak itu adalah orang yang tepat untuk mewarisi ilmuku. Dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang! Aku akan meninggalkan alam fana ini, aku muak seperti ini terus.”
Kata-kata itu membuat mata Monah membulat. Ia merasa bahwa seseorang yang sedang dibicarakan itu adalah dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
menjadi abadi pun melelahkan yaaa.. /Hey//CoolGuy/
2024-01-06
2
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Hati" Monah 😣
2024-01-06
0