Ritual Gaib

“Kalau beruntung di Gunung Merapi itu ada orang saktinya, ya siapa tahu kalau punya hubungan dekat dengannya kita bisa minta tolong. Kalau tidak beruntung ya harus mau ketemu demit, seperti suami saya.”

Monah teringat dengan kata-kata ibu pemilik warung di kampung halamannya tempo hari.

Di kamarnya, Monah pun menimbang-nimbang tawaran Dewi Melati. Monah memandangi langit-langit ruangan itu dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

“Nak… Jangan melangkah terlalu jauh. Terlalu berani kau menarik jangkar, sedang membaca angin pun belum pernah kau lakukan. Daratan yang kau tinggalkan belum siap bila kau karam, Nak. Kembalilah ke jalan yang sudah terang. Susah payah keluargamu menebas semak berduri untuk jalan yang aman untuk kau lalui.”

Suara Mamak Gaek terngiang-ngiang di pikiran Monah. Monah menolak suara itu. Ia menghempaskan arah pipinya di atas kasur ke kiri lalu ke kanan dan terus membolak-baliknya. Keringat dingin mengucur di keningnya.

Monah pun sontak terduduk. Ia baru saja terbangun dari mimpinya.

Suara adzan terdengar. Sudah beberapa hari ini suara adzan tidak terdengar dari tempat ini, tumben. Tapi Monah justru bersyukur dan mengabaikan keanehannya.

“Mungkin ini adzan subuh,” gumamnya.

Ketukan pintu kamar tiba-tiba terdengar. Monah membukanya, ternyata itu adalah orang-orang berwajah kaku yang pernah ia temui di hutan. Mereka mengajak Monah sholat melalui isyarat gerakan tangan mereka yang lamban.

Monah masih ingat betul rasa takut yang pernah menerornya. Seseorang di antara mereka adalah setan yang mengganggu di saat shalat. Monah hendak menutup kembali pintu itu, tapi beberapa orang menahan pintu itu.

Monah mendorong pintu itu dari dalam dengan sekuat tenaga, demikian pula dengan orang-orang aneh itu dari arah sebaliknya. Pintu tersentak terbuka, kekuatan Monah tidak cukup untuk menandingi kekuatan mereka.

Mereka pun masuk ke dalam kamar dan menarik Monah ke luar kamar. Monah meronta sebisanya, tapi yang terjadi Monah justru jatuh lalu dibawa oleh mereka dengan cara diseret.

“Lepaskan saya! Lepaskan saya!” rengek Monah sambil memberontak ketika diseret.

“Lepaskanlah dirimu… Bebaskanlah…” Sebuah suara lelaki tua menggema di lorong ruangan itu, entah bersumber dari mana. Sepertinya dari langit-langit.

“Bagaimana aku bisa melepaskan diri, Bodoh! Lihatlah yang kalian lakukan padaku!” teriak Monah.

Monah meronta-ronta.

“Cah ayu… Cah ayu…” panggilan lembut wanita paruh baya terdengar di sisi telinga Monah. Monah merasakan pipinya ditepuk-tepuk.

Monah pun terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Ternyata ia baru saja bermimpi.

Monah belum yakin betul, jangan-jangan ini masih mimpi. Sudah beberapa kali ia merasa tersadar dari mimpi rupanya itu hanya ilusi dalam mimpi.

Monah pun menampar pipinya sendiri.

PLAK

“AW!”

“Loh? Kenapa Nduk menyakiti diri seperti ini?” tanya wanita lainnya yang duduk di sisi wanita paruh baya yang tadi.

Ada sekitar lima orang perempuan yang mengelilingi Monah. Dari pakaian mereka Monah mengenalinya sebagai para pembantu rumah itu.

“Aku kira aku masih bermimpi Mbok,” ucap Monah.

“Oalah. Sudah, sudah. Tenangkan dirimu Nduk. Ini bukan mimpi.”

“Iya, ini minum dulu teh hangatnya.”

Monah menerima minuman itu dengan heran.

“Tadi kami dengar kamu teriak-teriak. Kami bangunkan kok tidak bangun-bangun. Sampai Mbak Arum ini selesai membuatkan teh ini kamu belum juga bangun. Untung saja tehnya sekarang belum dingin.”

“Oh, begitu. Terima kasih. Maafkan saya, jadi merepotkan Mbok dan Kakak-kakak lainnya,” ucap Monah.

Setelah tenang kembali, Monah pun hendak beranjak tidur. Para pembantu itu membubarkan diri.

“Mbok…” Monah menarik tangan pembantu yang paling tua. Wanita paruh baya itu menoleh dan berhenti.

“Malam ini tolong temani saya. Mbok tidur di tempat ini saja,” pinta Monah.

Para pembantu lain berhenti lalu saling pandang.

“Ta-tapi Nduk…” wanita paruh baya itu ragu-ragu.

Seorang pembantu lainnya pun berlari ke luar tanpa memberi tahu apapun.

“Ada apa?” Monah memandang mata semua orang di kamarnya itu satu per satu. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

“Apa permintaanku menyalahi aturan? Jangan-jangan mereka takut tidur di kamar tamu atau kamar orang-orang dengan kasta yang lebih tinggi daripada mereka,” batin Monah.

Tak lama seseorang datang bersama dengan pembantu yang tadi lari meninggalkan kamar itu. Seorang perempuan dengan pakaian yang tak berbeda jauh dengan mereka datang, tapi kali ini perawakannya berbeda.

Kulit perempuan itu lebih cerah, wajahnya lebih cantik dan rambutnya tertata rapi. Ia tersenyum kepada Monah.

“Saya dengar Nona butuh teman tidur? Baiklah, saya akan menemani Nona tidur,” ucapnya.

Semua pembantu lainnya pun pergi begitu saja. Langkah mereka kecil-kecil tapi cepat. Pintu pun mereka tutup dari luar.

Perempuan itu duduk di tepi ranjang Monah. “Nama saya Ambu.”

“Baiklah, saya Monah. Saya minta ditemani karena saya tadi…” Belum Monah menyelesaikan kata-katanya, Ambu menempelkan telunjuknya di mulut Monah. “Ssssh… Sekarang Nona tidak perlu memikirkannya. Saya akan membuat Nona Monah nyaman,” ucap Ambu.

Ambu pun berbaring di samping Monah. Monah sempat merasa risih karena tiba-tiba perempuan ini berani menyentuh mulutnya. Namun, rasa takut Monah dengan hal-hal gaib yang menerornya membuatnya mengabaikan hal itu.

Monah pun membalikkan tubuhnya, ia membelakangi Ambu untuk mengusir ketidaknyamanannya. Monah pun memejamkan mata.

Belum lama ia memejamkan mata, matanya ia buka lagi. Sebab Monah mendengar desisan ular sayup-sayup. Kelopak mata yang sangat berat membuka membuatnya tak kuasa untuk membiarkannya terpejam.

Dalam keadaan terpejam ia merasa perutnya sedang dirangkul, mungkin Ambu melingkarkan tangannya di sana. Monah merasa nyaman.

Sesuatu itu bergerak di perut Monah yang ternyata bukan tangan Ambu melainkan seekor ular. Ular itu lalu masuk ke dalam pakaian Monah melalui celah di perut Monah. Ular itu merayap ke dada Monah.

“Ahh…” desah Monah.

Ia pun keluar dari himpitan di antara dua gundukan di dada Monah. Ular itu merayap keluar dan tak lagi menyentuh tubuh Monah.

Dalam keadaan tertutup Monah perlahan duduk lalu melepaskan pakaiannya. Setelah itu, ia pun kembali berbaring menghadap ke ular itu berada.

Tak ada Ambu di kamar itu, hanya ada Monah dan ular bersisik hijau itu.

Ular itu pun merayap di leher Monah, menyentuh leher dekat telinganya bibirnya dan kembali masuk ke celah di antara dua gundukan di dada Monah.

“Ah…” desah Monah.

Monah merasakan sentuhan di sekujur tubuhnya. Begitu licin dan basah. Hingga ke bagian yang membuat Monah untuk pertama kalinya merasakan kepuasan tiada tara.

Sebuah bisikan terucap di depan telinganya. “Ikuti kenikmatan ini. Ikuti semua rasa yang kau senangi. Semua ada di genggamanmu. Keragu-raguan akan membuatmu melewatkan kesempatan yang hanya datang satu kali Sayang.”

*

Pagi pun tiba. Monah terbangun dalam keadaan Ambu sudah tidak ada di kamar itu. Saat melihat ke balik selimut yang ia gunakan, Monah pun terkejut. Saat ini Monah tidak menggunakan pakaian barang sehelai benang pun.

Monah menekan kedua belah pipinya dengan telapak tangan. “Jadi yang semalam itu nyata?” gumamnya.

Ia pun meletakkan kedua tangannya kembali lalu menggigit ujung bibir bawahnya sendiri. Tatapannya kosong, seolah berkelana pada ingatan di kepalanya yang memenuhi seluruh pikirannya.

Tak mau terlambat dengan rutinitas pagi, Monah pun membersihkan diri dan bersiap-siap. Setelahnya ia pun menemui Dewi Melati.

Tanpa ada keraguan di dalam dirinya, ia pun menceritakan permasalahan asmaranya dengan Rustam. Hal yang membuat ia jauh-jauh datang ke gunung ini demi untuk memenuhi hajatnya.

Cerita Monah disambut baik oleh Dewi Melati. Mereka pun melakukan ritual. Dewi Melati menyebut ritual itu sebagai penyucian diri. Padahal ritual itu adalah bagian dari memasukkan kutukannya ke dalam diri Monah tanpa memberitahukan pengorbanan yang harus ia bayar nantinya.

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

waduh,kasihan sekali kamu Mon 😣

2024-01-10

0

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

Monah udah masuk lingkaran 👻👻 setan 🙈🙈🙈

2024-01-10

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!