Seketika jasad Dewi Melati menyerpih menjadi pasir hitam lalu tertiup angin dan menghilang. Bersamaan dengan itu Monah berubah penampilan. Ia yang kini menggunakan pakaian tradisional milik Dewi Melati segenap riasan di tubuhnya.
Seluruh pengawal dan pembantu di kediaman itu bersujud kepada Monah.
“Panjang umur ratu kami… Panjang umur ratu kami…” Semua orang berseru bersama-sama.
Monah hampir tak percaya dengan hal yang terjadi. Ia tersenyum lalu tertawa kecil dan lama kelamaan ia tergelak dalam tawanya. Tak beberapa lama Monah terdiam dan seketika menoleh kembali ke atas ranjang kosong Dewi Melati.
Monah sedih.
“Apa yang bisa kulakukan dengan semua ini? Kak! Kenapa Akak pergi tanpa memberitahuku apa yang harus kulakukan untuk mewujudkan keinginanku?” batinnya.
Tanpa Monah sadari keinginan hatinya menyetirnya untuk melangkah menuju suatu tempat. Kakinya berlarian. Ada sebuah ruangan di dalam tempat itu yang begitu dikeramatkan.
BRAK
Monah membuka pintunya. Ia mendapati banyak peralatan khas dukun. Ada tembikar beserta pengaduknya juga tungku di bawahnya. Wadah besar menyerupai baskom yang berisi tanaman herbal kering.
Ada toples-toples besar bagian-bagian tubuh hewan seperti kaki kodok, kepala monyet dan kelamin jantan mamalia besar.
Tidak ada yang mengajari Monah tentang fungsi peralatan dan bahan-bahan di tempat itu. Namun, ia merasa sudah tahu semuanya.
Monah duduk di sebuah petilasan. Di depannya tergeletak sesajen yang masih segar. Sepertinya sesajen ini selalu diganti setiap harinya sampai keadaannya masih segar seperti itu.
Monah duduk bersila di depan sesajen itu juga sebuah wadah serupa baskom berisi air.
NGIIIK…
Pintu ruangan itu yang tadinya lupa Monah tutup pun akhirnya ada yang menutup dari luar. Mulanya beberapa pembantu menengok ke dalam dengan gerakan mengintip, lalu mereka pun menutup pintu itu. Mereka membiarkan Monah melakukan ritual di dalam ruangan ini.
Dupa telah dibakar, asapnya menyuar ke atas. Aroma wangi memenuhi ruangan itu. Diputarnya air di dalam wadah sehingga membuat arus memutar.
“Kula berniat nimbali jiwa kekasih kula asmanimipun Rustam. Sadayaning alam merestui kekiyatan kula. Mboten wonten ingkang keparing nolak uleman timbalan menika. Rawuha Rustam. Wonten pundi panjenengan wonten.”
Tidak ada yang terjadi. Mantra yang baru saja diucapkan salah, mungkin saja.
“Ada apa ini?” Monah heran.
Mata Monah membulat. Ia mengingat Mamak Gaek pernah mengatakan bahwa Rustam adalah seorang panglima.
“Bukan Rustam mungkin yang benar adalah Panglima Kumbang!” gerutunya.
Maka, Monah mengulangi mantranya.
“Kula berniat nimbali jiwa kekasih kula asmanimipun Panglima Peturun.”
Monah menutup mulutnya dengan terkejut dengan kedua tangannya. “Kok yang terucap malah Panglima Peturun?” batinnya.
“Panglima Peturun… Panglima… Pe…” gumamnya.
Bagaimanapun Monah harus percaya dengan apa-apa yang tiba-tiba ia ketahui. Benar, nama Rustam adalah Panglima Peturun. Tokoh itu lumayan dikenal di dunia gaib. Ia adalah seorang penguasa hutan dari Tanah Minang yang terkenal bijaksana.
Monap pun mengulangi mantranya.
“Kula berniat nimbali jiwa kekasih kula asmanimipun Panglima Peturun. Sadayaning alam merestui kekiyatan kula. Mboten wonten ingkang keparing nolak uleman timbalan menika. Rawuha Panglima Peturun. Wonten pundi panjenengan wonten.”
Air yang tergenang di dalam wadah tadinya perlahan semakin tenang. Namun, tiba-tiba setelah mantra itu diucapkan air tersebut dengan sendirinya membentuk sebuah arus memutar.
Pandangan Monah tersedot ke dalam pusarannya. Ia pun meninggalkan raganya menyeberang ke alam lainnya.
Sebuah lapangan dipenuhi api-api di lantainya membuat Monah terbelalak. Api-api itu berwarna kebiruan, tempat yang remang-remang. Di dalamnya Monah merasa gigil dingin yang teramat menusuk.
“BANG! BANG RUSTAM!” Monah celingukan memanggil-manggil pujaan hatinya dengan kedua lengan menyilang memeluk dadanya sendiri. Ia begitu kedinginan.
Dari kejauhan Monah menangkap seekor macan kumbang sedang tidur melingkar. Monah segera mendekatinya dan menjangkaunya dengan kedua tangannya yang menjulur.
“Jikalau kamu mau ia kembali padamu, kamu perlu menghidupkannya. Jikalau kamu ingin bersatu kembali dengannya, kamu harus merelakan seluruh kecantikanmu dan masa mudamu.”
Sambil melangkah, Monah mendengar hati kecilnya berujar demikian.
“AKU TAK PEDULI! PERSETAN DENGAN ITU SEMUA! YANG AKU MAU HANYALAH CINTA KEKASIHKU!” teriak Monah.
Tiba-tiba dari belakang Monah ditarik oleh beberapa orang. Monah tidak jadi menjangkau macan tidur itu. Monah terseret ke belakang. Ia menjulurkan tangannya dan tidak rela kalau harus berpisah sekarang.
“BANG RUSTAAAAM! ABAAAANG…” Monah memanggil-manggil pujaan hatinya dengan rengekan yang pilu.
Monah pun terbangun. Ia baru saja membuka mata sambil bersila. Monah pun segera keluar dari ruangan itu dengan berlari. Wajahnya begitu kalut.
BRAK
Pintu yang dibuka dengan kasar membuat para pengawal dan pembantu Monah mendatangi Monah. Mereka mengejar gadis itu.
“Paduka Ratu… Mari makan dulu…”
“Paduka Ratu, kami sudah siapkan air mandi Paduka Ratu…”
“Mari kami antar ke kamar Paduka Ratu…”
Monah menepis mereka semua dengan tangannya. Ia tampak tak peduli dan terus berlarian menuju suatu tempat.
“Paduka sudah tiga hari tidak keluar dari kamar itu. Paduka harus memulihkan tenaga…”
“Hei! Apa yang…” Monah hendak protes, tapi tiba-tiba…
BRUK
Monah pingsan.
Setelah siuman di ranjangnya, kata-kata pertama yang diucapkannya adalah…
“Mbok, bantu saya siapkan bahan-bahan! Ayam cemani tujuh ekor, emh…”
“Paduka Ratu, jangan dulu memikirkan apapun. Sekarang pulihkanlah dulu kondisi Paduka Ratu. Nanti si Mbok akan bantu menyiapkan apapun yang Paduka pinta. Tapi jangan sekarang ya Paduka. Paduka sangat lemah,” ucap pembantu senior di sisi Monah.
“Gawat Paduka Ratu! Gawat!” Seorang prajurit datang dengan terengah-engah.
“Apa yang kamu lakukan? Tidak lihat apa Paduka Ratu sedang tidak sehat?” tegur pembantu itu.
Monah pun mengangkat tangannya, berisyarat bahwa wanita tua itu tidak perlu menghentikan prajurit itu.
“Ada apa?” tanya Monah.
“Berita kepergian Paduka Ratu ke alam lain bocor, Paduka! Jadi semalam pasukan klan Buto Gendo sudah sampai di perbatasan daerah kita. Mereka akan menyerang, Paduka!” jelas prajurit itu dengan ngons-ngosan.
Pertikaian antara kelompok raksasa buruk rupa bernama Buto Gendo dan kelompok siluman yang dipimpin oleh Dewi Melati telah lama terjadi.
Saat ini Monah dituntut untuk terlebih dahulu mengurusi wilayah kekuasaannya dibanding pujaan hatinya. Awalnya Monah menolak untuk peduli, tapi rengekan orang-orang di sekitarnya membuat Monah mau tidak mau harus melibatkan diri pada perang itu.
Di sebuah ruangan tempat para bawahan Monah biasa berforum, para prajurit sedang beradu argumen tanpa sepengetahuan Monah.
“Lagipula untuk apa anak kecil itu malah menyeberang alam secara tiba-tiba! Kalau sudah begini, kita yang repot!”
“Iya, benar. Anak kecil bau kencur itu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Yang diperdulikannya hanyalah urusan pribadinya. Mentang-mentang jadi penerus Paduka Ratu terdahulu sekarang seenaknya berbuat sesuka hati hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan wilayah kita!”
“Paduka sedang ada di kondisi terlemahnya kalau benar ia baru saja kembali dari ‘tempat itu’. Kita perlu bergerak sendiri!”
“Tidak setuju!”
BRAK
“Apa yang sedang kalian lakukan! Kalian membicarakanku di belakang?” Bentak Monah yang tiba-tiba saja datang masuk ke dalam ruangan itu.
Namun, Monah yang belum terbiasa dengan sikap menghukum orang secara tragis, ia pun memaafkan kejadian itu. Monah bicara pada semua bawahannya bahwa perang akan dilakukan.
Monah memberikan beberapa delegasi tugas dimana ia belum punya pengalaman soal memimpin perang saat itu.
“Ini kesempatanku! Aku akan menggulingkan bocah ingusan ini dan merebut kekuasaan yang telah lama kudambakan,” batin seorang lelaki yang terlihat paling senior di antara mereka di ruangan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
coba saja kl kamu bisa mengalahkan Monah 😏
2024-01-10
0