Penerbangan pun ia ikuti. Kali ini Monah transit di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Sambil menunggu penerbangan berikutnya ia pun berjalan-jalan di outlet-outlet untuk mengusir kejenuhan serta sisa ketegangan karena telah mengalami hal-hal aneh tadi.
Monah mencoba salah satu jenis aksesoris, yaitu kacamata hitam. Monah pun bercermin sambil menggunakan kacamata hitam itu.
“Perlu juga sepertinya pakai beginian untuk lebih menyembunyikan identitasku,” ucapnya dalam hati.
Monah pun usai bercermin dan ia putuskan akan membeli kacamata hitam itu. Namun, ketika ia bergeser dan ujung matanya masih nampak bayangan dirinya di depan cermin, ia melihat bayangan tersebut tidak bergerak sedikitpun.
Monah pun menghentikan gerakannya, ia mematung sambil melirik cermin. Bayangan tubuhnya terlihat berbeda, tidak sedikitpun bergerak sejak tadi. Lalu bayangan dirinya itu tersenyum.
Mata Monah berkaca-kaca. “Hal aneh apa lagi ini ya Tuhan…” batinnya. Monah ketakutan tapi begitu penasaran jadi ia terus memandangi bayangan tubuhnya itu dengan lirikan yang minim kedipan.
“Ini adalah kali terakhir pertemuan kita,” ucap bayangan tubuhnya di cermin itu.
Monah tak bergerak sedikitpun, tak juga merespon perkataan itu.
“Kami melepasmu dari tanah Sumatera ini. Selamanya engkau akan menjadi penghuni tanah Jawa. Kami akan merindukanmu,” lanjut bayangan di cermin itu.
Napas Monah tersengal-sengal menahan emosi yang ia tahan. Emosi takut, kesal, sedih bercampur jadi satu. Monah pun memberanikan diri untuk meninju cermin itu hingga retak dan nyaris tumbang.
“Ada apa ini?” penunggu outlet datang dengan keheranan.
“Sa-saya… “ Monah gugup oleh rasa bersalahnya.
Monah pun meminta maaf dan mengganti kerugian toko tersebut atas benda yang dirusaknya. Penunggu outlet pun menerima permintaan maaf itu dan merasa simpati pada Monah. Orang itu mengatakan pada rekannya bahwa Monah hanya gadis yang terserang gangguan kecemasan biasa.
Sebentar lagi tiba waktunya untuk keberangkatan. Monah berjalan mengantri melewati petugas di ujung bandara menuju jalur masuk pesawat. Petugas memeriksa satu per satu tiket dan identitas para penumpang.
Salah satu petugas wanita berbicara dengan Monah ketika baru saja usai memeriksa kelengkapan tersebut.
“Selamat jalan Cantik. Harap berhati-hati selama perjalanan. Semoga selamat sampai di tujuan dan kamu bahagia di sana. Ini keputusanmu, jangan pernah menyesalinya,” ucap petugas tersebut.
Monah membulatkan mata. Ia heran. “Himbauan macam apa itu?” batinnya. Monah belum sempat merespon tapi petugas itu sudah menerima penumpang lain untuk ia periksa kelengkapannya.
“Dik? Ada masalah? Lihat antrian di belakang sini.” Seseorang menegur Monah yang menghentikan jalannya antrian karena bengong. Ia tersentak dan melanjutkan langkahnya sambil sedikit menunduk mengisyaratkan permintaan maaf.
Perjalanan pun dilanjutkan.
*
Singkat cerita, Monah telah bersama rombongan pendaki. Ia telah melalui perjalanan bersama mereka dari Jakarta ke Jogja. Lalu Monah juga mengikuti tim yang menginap di basecamp pendaki berupa bangunan permanen sebelum menuju lokasi pendakian.
Monah bersama rombongan telah melalui pengkondisian dan briefing sebagai bekal wawasan dan skill dalam melakukan pendakian nantinya. Tim yang menyelenggarakan open trip ini adalah tim yang sudah berpengalaman dan Monah merasa aman bersama mereka.
*
Rombongan mulai memasuki lokasi pendakian. Sekian lama melakukan perjalanan keluar dari Sumatera, Monah tidak mengalami hal-hal janggal seperti sebelumnya. Mood Monah benar-benar terkondisikan dengan baik.
“Guys foto-foto dululah bareng-bareng semuanya! Nih, di gapura selamat datang seru!” ajak salah seorang peserta perempuan bagian dari rombongan yang Monah ikuti.
“Ga bisa selfie, ga muat!”
“Hahahaha… Tersinggung gue.”
“Iya lu terhitung tiga orang sih.”
“Halah, elu! Yang ada tu hape bosen sama muka lu, soalnya lu daritadi jeprat-jepret mulu!”
“Tenang… tenang… Tongsis gue bisa jadi tripod nih. Aman. Yok berpose, gue siapin hapenya. Gue stel timer ga lama nih, jangan banyak cingcong lu pada!”
“Hahaha… Awas dih!”
“Oke siap!”
CEKREEEK… CEKREEEK… CEKREEEK…
“Mana lihat!”
“Geser dong, gue juga mau lihat!”
“Hahaha… Merem deh gue. Yang itu hapus napa!”
Di tengah keseruan tersebut Monah pun begitu ceria. Oa melihat foto-foto yang sudah diambil dan sama dengan yang lain canda tawa pecah olehnya.
Ponsel pun kembali dikantungi. Tanpa orang-orang tahu bahwa di antara mereka dalam foto itu muncul penampakan sosok-sosok lain yang begitu ramai. Tadi sosok-sosok dalam foto itu belum bermunculan sehingga tidak ada yang menyadari kehadiran mereka.
Sosok-sosok itu adalah orang-orang gaib dengan pakaian tradisional dengan tone penampakan yang berbeda dengan gambar manusia-manusia pada umumnya dalam sebuah foto. Tone warna mereka sangat kusam, lebih mengarah ke warna hitam-putih dan keabu-abuan.
Perjalanan pendakian selama dua jam pertama berjalan lancar. Cuaca begitu cerah, angin semilir lembut menyejukkan.
Rombongan pun sudah mencapai vegetasi yang sedikit berubah. Tadinya tumbuhan yang ada lebih seperti kebun masyarakat, kini areal mulai ditumbuhi pohon-pohon besar dengan semak dan perdu yang semakin berkurang.
Kanopi yang mulai rimbun menutupi areal membuat pencahayaan semakin redup. Tanpa orang-orang sadari cuaca di luarnya telah berubah mendung. Angin sepoi-sepoi mulai menghilang, areal seakan mulai hening.
Orang-orang tampak mulai lelah. Terlihat dari keriangan mereka yang semakin hilang. Masing-masing orang mulai berdiam, tak berkata-kata sambil melangkah. Mereka kebanyakan melangkah sambil menunduk, fokus kepada jalur dakian yang mereka pijaki.
Formasi telah ditentukan sejak awal. Ada yang berlaku sebagai navigator yaitu orang-orang yang berada di depan. Di sana ada leader rombongan lalu disusul oleh para peserta ikutan termasuk Monah. Selanjutnya formasi di belakangnya adalah pembawa logistik kelompok dan chef. Orang-orang terakhir adalah tim sweeper.
Tanpa rombongan sadar formasi pelan-pelan mulai kacau. Para peserta ikutan satu demi satu melambat dan berjalan bersama tim sweeper. Monah akhirnya berada di barisan belakang bahkan di belakang tim sweeper.
Tim penyelenggara pendakian ini adalah tim yang sudah berpengalaman dan hal semacam ini seharusnya tidak terjadi. Namun, tampaknya rombongan seperti sedang dihipnotis sesuatu. Orang-orang seperti sedang bengong.
Angin kencang seperti badai berhembus membuat rombongan memutuskan untuk menepi dan membuat tenda di sekitar lokasi yang kini mereka pijaki.
“Monah hilang Bro!”
“APA???”
“Tim sweeper yang ngasih laporan Monah hilang? Gila!”
“Tahu tuh, kerja kalian apa sih?”
Rombongan pun dibuat panik oleh terpisahnya Monah dari rombongan. Sebagiannya mendirikan tenda dan sebagian lainnya menyisir mundur jalur untuk mencari Monah.
Sementara Monah masih merasa berjalan mengikuti rombongan. Ia menunduk memperhatikan jalur yang ia pijak tapi di ujung-ujung matanya ia masih melihat orang-orang di depannya melangkah. Namun, sebenarnya yang Monah ikuti bukan teman-temannya yang sebenarnya.
Monah tidak berprasangka buruk atau merasakan firasat yang aneh-aneh. Padahal areal yang ia masuki semakin lama semakin berbeda. Dedaunan mulai berwarna gelap seperti biru keunguan dan suasana seperti selepas senja.
Entah mengapa bayangan diri pujaan hatinya, Rustam memenuhi isi kepalanya. Ada kerinduan yang mulai merongrongnya.
Monah menegakkan pandangan. “Guys, waktu istirahat masih lamakah?” tanya Monah.
Tidak ada satu orang pun yang menoleh atapun menjawab pertanyaan itu. Mereka terus saja melangkah.
“Mungkin jawabannya tidak ada istirahat untuk sekarang,” gumamnya. Monah pun terus melangkah mengikuti rombongan tersebut.
Monah berpikir tidak ada salahnya menikmati kenangan-kenangannya bersama Rustam yang terlintas di pikirannya, sementara ia terus melangkah. Hitung-hitung bisa mengalihkan pikirannya dari rasa lelah.
Dua orang teman rombongannya melangkah melambat agar bisa berjalan di samping Monah.
“Kamu kangen sama dia ya?” tanya salah satunya kepada Monah.
“Iya. Aku sangat merindukannya,” jawab Monah sambil melangkah dalam keadaan menunduk. Ia sambil mengatur napasnya dan fokus untuk terus berjalan.
“Temui dia kalau kamu benar-benar merindukannya,” ucap salah seorang lainnya.
“Tidak bisa. Masalahnya… Eh tapi tunggu, kalian kok tahu kalau…” Monah pun menegakkan wajahnya dan memandang orang-orang itu.
Monah tercengang, ia membulatkan matanya. Kedua orang itu adalah orang lain yang sedang memakai pakaian tradisional. Begitu juga dengan rombongan orang-orang di depannya.
Mereka semua menoleh kepada Monah sambil tersenyum seram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ
Waduh Monah 😣
2024-01-06
0
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
Monah langsung disambut /Whimper//Whimper/
2024-01-06
2