Jalan Lain ke Sana

“Bang, itu suara Mamak Gaek, orang kepercayaan ayah saya,” ucap Monah lirih. Mendengar itu Rustam pun memandangnya sambil berpikir.

Namun belum sempat menghela napas, bola api itu kembali terbang ke arah mereka dan lagi-lagi Rustam merangkul Monah lalu berpindah tempat.

“Saya paham yang terjadi Dik,” ucap Rustam sembari sibuk menangkis bola api itu dengan kekuatannya.

“Apa yang terjadi Bang?” tanya Monah yang sedang tersengal-sengal.

“Saya tahu dia adalah dukun sakti. Dia pasti suruhan orangtuamu karena tidak menginginkan putri kesayangannya dekat denganku,” jelas Rustam.

Rustam pun berubah menjadi macan kumbang lalu beradu kesaktian dengan sebuah cahaya sebesar manusia yang muncul ketika bola api itu telah dikalahkan.

“HIYAAAAAAT…”

“Jahat sekali Mamak Gaek dan Ayah! Aku tak bisa membiarkannya!” ucap Monah di dalam hati sambil melihat perkelahian gaib itu.

Dengan nekatnya Monah menghampiri dan berdiri di antara sosok bercahaya dan Rustam. Ia berada di antara perkelahian itu.

BUGGG…

Monah tersungkur terkena dampak dari perkelahian itu.

“MOONAAAH!” Rustam berteriak dan segera mengabaikan perkelahiannya. Ia segera menghampiri Monah dan memangkunya.

Monah terbaring lemah dengan darah yang keluar dari mulutnya.

“Kenapa jadi begini. Dik, apa yang telah kamu lakukan, kamu konyol!” ucap Rustam dengan emosional.

“Ayah ingin menyingkirkan Abang. Saya tidak boleh membiarkannya,” ucap Monah sambil terbatuk-batuk.

Sosok bercahaya itu lalu menghajar Rustam dari belakang. Punggungnya jadi sasaran, tapi Rustam justru menunduk pasrah sambil melindungi Monah dalam dekapannya.

Rustam tampak mulai lemas sambil menahan sakit. Tapi tiba-tiba tiga ekor kera ekor panjang berwajah manusia datang menarik Monah dari dekapan Rustam. Rustam mencoba melawan dan menahan Monah, sayangnya upayanya gagal. Terlalu banyak serangan yang ditujukan pada dirinya.

Monah pun terpisah dari Rustam. Ia terseret dengan kencang oleh tiga ekor siluman kera itu. Monah pun tiba di tempat yang berbeda di mana ia tak bisa melihat Rustam lagi.

Ini adalah lokasi dengan suasana yang berbeda, suasana normal hutan pada umumnya. Ia melihat banyak sekali orang di sana, termasuk porter sewaannya. Orang-orang sedang menonton dari tepian, ia adalah objek utama tontonan itu.

Sementara dari arah lainnya Monah melihat Mamak Gaek sedang duduk bersila di depan gerabah yang berasap beserta sesajen di sekitarnya. Mamak Gaek duduk dengan mata tertutup dan tangan yang bergerak lincah seperti orang yang sedang mengeluarkan ilmu beladiri.

Monah pun diangkat dan dipindahkan ke atas tandu. Ketiga ekor siluman monyet itu telah menghilang.

“Putriku, apa kamu baik-baik saja Sayang?” ucap Tuan Rajo dengan napas tersengal-sengal dan menahan panik saat ia melihat darah yang keluar dari mulut Monah.

Monah pun dibawa turun oleh para petugas yang mengangkat tandu. Monah tak berdaya, begitu lemas, hanya menjulurkan tangannya ke arah Mamak Gaek.

“Jangan lakukan itu pada Bang Rustam,” ucapnya sangat pelan dan lemah.

Porter sewaan Monah mendekati dan ikut berlarian mendampingi diangkutnya tandu yang membawa Monah itu.

“Akak, ya ampun Kak. Kuat-kuat ya Kak. Akhirnya Akak ditemukan juga setelah tiga hari hilang,” ucap porter itu sambil melangkah kencang.

“Ti-tiga hari?” Monah heran.

“Ya Kak. Akak sudah tiga hari hilang. Untung ada orang pintar itu. Dia bilang Akak terjebak di dunia lain. Apa benar Kak? Ada yang menawan Akak di sana? Sampai keadaan Akak seperti ini Kak. Ya ampun. Kuat-kuat ya Kak,” ucap porter itu panik.

Monah pun dirawat untuk memulihkan kesehatannya. Ia terlihat murung dan sering melamun. Para petugas medis bilang Monah sedang dalam keadaan traumatis, sehingga belum bisa berkomunikasi dengan baik apalagi melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Sebenarnya yang Monah rasakan adalah kesedihan dan patah hati yang teramat besar. Cintanya nyaris bersatu, tapi ketika hal yang ia harapkan yaitu bertemu dengan Rustam terjadi untuk pertama kalinya setelah terpisah, justru pada waktu itu juga adalah perjumpaan terakhir mereka.

Dikabarkan Rustam telah tewas di tangan Mamak Gaek dan sisa mayat Zainal pun diketemukan.

Berita yang beredar di kalangan keluarga ini adalah Rustam ialah siluman yang membutuhkan tumbal di mana Zainal telah menjadi korbannya. Lalu siluman macan kumbang ini hendak memperistri Monah.

Hubungan dari dua alam yang berbeda itu sangat tidak mungkin dan sangat membahayakan bagi stabilitas posisi politik Tuan Rajo. Pernikahan itu akan menjadi aib yang menyebar seantero wilayah kekuasaannya.

Butuh waktu yang lama bagi Monah untuk pulih. Ia dapat kembali beraktivitas seperti biasanya setelah beristirahat selama sebulan.

Monah nyaris tidak lulus ujian akhir sekolah karena keadaannya. Namun, berkat upaya jalur belakang yang dilakukan ayahnya Monah pun dapat lulus walaupun tanpa peringkat prestasi, tak seperti yang dibangga-banggakan ayahnya selama ini.

Walaupun begitu Monah tumbuh menjadi sosok yang berbeda. Ia cenderung kasar baik dari segi sikap maupun kata-kata. Rasa sakit hatinya telah menyetir berbagai aktivitasnya sehari-hari.

Suatu hari Monah mendengarkan percakapan seorang pedagang kue di pasar dengan temannya. Saat itu Monah sedang menyamar sebagai anak perempuan dari kalangan miskin.

Monah akhir-akhir ini sering melakukan itu karena muak dengan kehidupan mewah yang melingkupinya. Ia banyak mengetahui kelakuan busuk orang-orang kaya dan politik uang yang begitu ia benci.

“Suamiku sudah lama tidak pulang. Tapi tidak apa-apa, usahanya lancar sekali di seberang sana. Uang yang dikirimkannya selalu lancar,” ucap seorang ibu.

“Lalu untuk apa Uni berdagang kalau uang selalu lancar?”

“Saya bosan di rumah. Dengan berdagang seperti ini kan saya jadi bisa bertemu orang-orang, bertemu kamu sahabat terbaikku. Jadi biarpun galau soal urusan hati, tapi bisa tertawa-tawa dan menggibah sampai sore. Sama siapa lagi awak bisa menggibah kalau bukan sama suhunya macam kamu. Hahahaha…”

“Uni bisa saja. Hahahaha…. Tapi ngomong-ngomong, memangnya pekerjaan suami Uni sepadat itu sampai tak kunjung pulang ke sini?”

“Tidak juga. Justru katanya kalau urusan pekerjaan dia banyak ongkah-ongkah kaki di sana.”

“Lalu kenapa dia tidak pulang-pulang?”

Ibu itu mulai memelankan pembicaraannya. “Di sana ada tempat istimewa. Semua hajat kita bisa terpenuhi bila melakukan ritual di tempat itu. Tahu sendiri mertua saya kan sakit-sakitan. Akhir-akhir ini suami saya sering masuk ke tempat itu dan kalau sudah di dalam maka keluarnya akan lama sekali. Kabarnya satu hari di tempat itu bisa menghabiskan waktu satu sampai dua pekan di dunia kita,” bisik ibu itu.

“Wah, suami Uni masuk ke dunia gaib ya? Apa tidak berbahaya Uni?”

“Sssst… Jangan keras-keras bicaranya! Tidak apa, suami saya sudah beberapa kali keluar masuk ke sana dengan keadaan sehat wal afiat. Yang penting mertua saya sembuh. Tahun lalu kan mertua saya itu dikabarkan meninggal dunia, tapi berkat berdoa di tempat itu beliau tidak jadi meninggal,” bisik ibu itu.

“Tak jadi meninggal do? Hidup lagi?”

“Ssssst! Jangan keras-keras!”

Mendengar percakapan itu, Monah pun membulatkan matanya. Ia menunggu dagangan itu sepi untuk mengajak ibu itu mengobrol. Monah rela menunggu di kantin itu sampai sore.

Ibu itu menghampiri Monah dan mengira bahwa Monah adalah seorang gelandangan yang bingung mau pulang kemana. Tapi ternyata dugaan ibu itu salah.

Monah justru mengeluarkan sejumlah uang demi mendapatkan informasi tentang tempat yang diceritakan ibu itu secara rinci.

Sebenarnya ibu itu mengkhawatirkan Monah apabila Monah hendak pergi ke tempat itu seorang diri, tapi uang bisa membayar semuanya. Sekarang bahkan cara yang Monah benci pun juga ia gunakan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ternyata benar, uang bisa membeli sesuatu yang mulanya tampak tak mungkin.

Saat Monah hendak meninggalkan warung itu, rupanya tas kecilnya tertinggal di meja. Ia pun kembali untuk mengambilnya. Monah mencari ibu pemilik kantin hingga ke dapur untuk mengabari hal itu. Tapi apa yang disaksikannya sungguh membuat isi perutnya teraduk-aduk dan membuatnya muntah.

Monah melihat sesosok pocong tengah berdiri di hadapan beberapa baskom yang berisi bahan mentah yang hendak diolah untuk dijadikan makanan. Pocong itu membiarkan liurnya yang banyak itu menetes terus menerus ke atas bahan makanan itu.

Niat Monah untuk mengabari ibu pemilik kantin itu pun tidak jadi ia tunaikan. Monah pun segera pergi dengan tas yang sudah diambilnya. Ia melangkah kencang meninggalkan tempat itu.

Terpopuler

Comments

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

◌ᷟ⑅⃝ͩ● Marlina Bachtiar ●⑅⃝ᷟ◌ͩ

Waduh, warung pesugihan 😣

2024-01-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!