"Saya terima nikah dan kawinnya Maharani Fatma Handoko binti Yogi Handoko dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"
Usai ijab kabul diucapkan dalam satu helaan nafas oleh Juna, dan kedua saksi mengucapkan sah, nuansa aula gedung pernikahan itu menjadi meriah. Para keluarga dan tamu undangan saling mengucap syukur, dan beberapa awak media mencuri-curi gambar kedua mempelai. Dengan tangan gemetar, Rani menyematkan sebuah cincin pada jari manis Juna, dan Juna melakukan hal yang sama pada Rani. Lalu setelah saling bertukar cincin, Juna mencium kening Rani dengan lembut.
Meski dengan perasaan yang bercampur aduk, Rani tidak bisa menyangkal kalau jantungnya berdegup cepat setiap kali dirinya bersentuhan dengan Juna. Meski begitu, dengan cepat Rani menghempaskan perasaan itu ke jurang hatinya yang paling dalam.
Sadarlah Rani, bisiknya di dalam hati. Pernikahan ini terjadi karena Ruby, tidak kurang dan tidak lebih. Jangan mengharapkan apapun, apalagi sampai mencintai laki-laki yang dicintai oleh kakak kandungmu sendiri.
Sampai beberapa lama, Rani dan Juna masih berdiri di atas panggung pelaminan demi menyalami tamu undangan yang datang. Meskipun pernikahan ini adalah pernikahan kedua bagi Juna, para tamu tetap mengucapkan selamat dengan antusias.
"Selamat ya kalian, semoga menjadi keluarga yang samawa," ucap seorang pengusaha yang tidak Rani kenal.
"Keluarga Handoko memang paling pas bersanding dengan keluarga Wijaya," ucap istri seorang pejabat dengan senyuman karirnya. Keluarga Handoko adalah sebutan untuk keluarga besar Rani.
"Yaampun, cantik sekali ya pengantin wanitanya. Kalau dilihat-lihat, mirip sekali dengan mendiang. Kamu beruntung ya. Untung saja kakakmu meninggal, makanya kamu sekarang bisa menikah sama suaminya," celetuk salah satu tamu, seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang luar biasa heboh. Kesepuluh jarinya memakai cincin, dan bahkan kalung emasnya pun dipasang di luar agar tidak tertutup oleh hijabnya. Sepertinya wanita itu memang sengaja berkata begitu, terlihat dari caranya bicara dengan nada berbisik. Rani hanya bisa membalas celetukan pedas itu dengan senyuman manis.
Acara pernikahan usai setelah waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Rani bergegas menuju ruang ganti untuk melepas semua aksesoris pernikahan dan menghapus make-up. Wajahnya sudah terasa gatal karena tidak terbiasa memakai riasan tebal dalam waktu yang lama. Setelah benar-benar bersih, Rani kemudian berjalan menuju kamar hotel yang juga berada di dalam gedung tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Rani bisa merasakan degup jantungnya yang berdebar tak karuan. Di usianya yang sudah dua puluh tahun, Rani jelas sudah mengerti kalau ada 'malam pertama' setelah pernikahan. Tapi, bukankah pernikahannya dengan Juna hanya didasari karena anak? Apa mungkin mereka akan melakukan hal-hal seperti pasangan suami istri pada umumnya malam ini?
Rani menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan berpikir aneh-aneh Rani. Meskipun sudah menikah dengan Kak Juna, Kak Juna itu tetap suami Kak Ratih."
Untunglah saat itu Rani hanya berjalan sendirian, sehingga pikiran-pikiran anehnya tidak ketahuan. Sejak acara pernikahan selesai, Rani memang berpisah dengan Juna. Jadi mungkin saat ini Juna sudah lebih dulu berada di kamar hotel mereka.
Sampai di depan kamar, Rani segera menempelkan kartu akses pada sensor pintu kamar. Setelah pintu berhasil dibuka, Rani tidak langsung masuk. Ia lebih dulu menenangkan jantungnya yang sudah berpacu tidak karuan. Setelah berdiri beberapa menit di depan kamar, Rani akhirnya mencengkram gagang pintu dan membukanya.
Gelap. Hal pertama yang dilihat Rani hanyalah kegelapan. Tapi, jangan berpikir kalau setelah itu ada Juna yang menyambutnya dengan hangat. Apalagi membayangkan akan ada kejutan romantis seperti di drama korea. Karena yang menyambut Rani pertama kali adalah moncong sebuah pistol yang terarah ke kepalanya.
"Astaga!" Saking terkejutnya, Rani sampai jatuh terduduk. Tepat di depan matanya, Juna berdiri dengan tatapan tajam, mengacungkan senjata api itu kepada Rani, istrinya sendiri.
"Kak Juna!" desis Rani ketakutan. Selain karena senjata itu, tatapan Juna benar-benar menakutkan, seperti benar-benar hendak membunuh seseorang. Dan Rani tahu betul, bahwa saat ini dirinya adalah objek dari 'pembunuhan' itu.
"Kak, kenapa.." Rani bahkan tidak bisa menyembunyikan suaranya yang gemetar. Mendengar ucapan Rani, Juna malah tertawa seolah mengejek.
"Kamu masih tanya kenapa? Tentu saja aku akan membunuh orang yang sudah membunuh istriku tercinta, Rani."
"Membunuh?" ulang Rani. "Apa maksudnya Kak? Siapa yang membunuh siapa?"
"TIDAK USAH PURA-PURA TIDAK TAHU!" teriak Juna emosi. "Kamu bisa membohongi semua orang soal amnesia yang kamu alami, tapi aku tidak,"
Rani bisa merasakan tubuhnya bergidik saat mendengar suara napas Juna yang menggebu-gebu.
"Kenapa waktu itu hanya Ratih yang meninggal, sementara kamu sama sekali tidak terluka? Mau dilihat bagaimanapun, itu nggak masuk akal Rani. Kecuali memang ada dalang yang sengaja membuat kematian Ratih seolah-olah kecelakaan, dan dalangnya adalah kamu."
Juna semakin mendekatkan moncong senjatanya pada dahi Rani, membuat gadis itu hanya bisa terdiam ketakutan.
"Setelah membunuh Ratih, kamu kemudian bermain licik seolah-olah tidak ingat apapun, padahal sebenarnya kamu adalah otak dari semua ini! Apa motif kamu Rani? Kenapa kamu membunuh istriku yang tidak bersalah?"
"Aku tidak membunuh Kak Ratih!" entah mendapat keberanian dari mana, Rani menjawab ucapan Juna dengan suara bergetar. "Aku juga tidak pura-pura amnesia kak, aku memang tidak ingat apapun! Kalau bisa, aku juga ingin tahu apa yang terjadi hari itu! Tapi, aku sama sekali nggak ingat!" Rani menjawab dengan air mata mengalir di kedua pipinya. "Percayalah Kak, aku tidak mungkin membunuh Kak Ratih."
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu tidak membunuh istriku, padahal kamu sendiri nggak ingat apapun?" Juna sama sekali tidak tergerak hatinya saat melihat air mata Rani. "Kamu kira aku bodoh? Mana ada pembunuh mengaku membunuh? Kalau semua mengaku, penjara bakalan penuh! Tapi tenang saja Rani, kalau kamu tidak mengakui perbuatanmu, aku yang akan memastikan kamu masuk penjara dengan tanganku sendiri."
Rani menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau Kak Juna nggak percaya, bunuh saja aku Kak!"
"Aku pun maunya seperti itu," ucap Juna dengan pistol masih berada di tangannya. "Tapi, kematian terlalu indah untuk pembunuh seperti kamu. Aku akan membuat kamu menderita seumur hidup, sampai kamu bahkan lebih memilih mati ketimbang bertahan hidup di dunia ini."
Perlahan-lahan, Juna menurunkannya pistolnya dari dahi Rani. "Aku menikahi kamu itu hanya sebagai kamuflase. Aslinya, aku ingin mengawasi kamu seumur hidup dan mengumpulkan bukti-bukti yang bisa menjebloskanmu ke penjara. Jadi, jangan harap kamu akan mendapatkan apapun dariku,"
Setelah mengucapkan semua itu, Juna lantas menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar begitu saja. Meninggalkan Rani yang masih kesusahan bernapas di dalam sana. Tidak peduli jika malam ini adalah malam pertama mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Ita rahmawati
kecirigaan juna berlebihan,,harusnya selidiki dulu baru mutusin nikahin dn balas dendam,,dasar modus 🤣🤣
2025-03-28
0
Katherina Ajawaila
seru aja, aku suka biar mata hati Juna terbuka, mana ada kematian yg di sengaja 😲
2024-12-27
0
Dewa Rana
wah serem juga
2025-01-11
0