Seminggu kemudian, pagi hari, adikku Luna datang ke kediamanku. Sayangnya, Aku tidak menyambutnya. Karena, aku sedang mood down dan ingin menyendiri. Atau lebih tepatnya, sejak kepulanganku dari markas sihir seminggu lalu, aku tidak melangkahkan kakiku sejengkal pun untuk keluar dari tempurung nyaman bernama rumah ini.
*Tok-tok tok-tok tok-tok*
Luna mengetuk pintu. Membangunkanku dari tidur. Pintu rumah lama ini belum nggunakan kunci elektronik dan masih menggunakan kunci konvensional dan Luna tidak memiliki kuncinya. Aku mengerti yang datang adalah Luna dari caranya mengetuk pintu yang khas. Dua kali tiga ketukan. Namun, aku menghiraukan dia.
*Tok-tok tok-tok tok-tok*
"Kak Zen, tolong buka pintunya!" Ketokan kedua, Luna memanggil. Aku menghiraukannya lagi.
*Tok-tok tok-tok tok-tok*
"Kak Zen, aku tahu kamu di dalam! Bangun! Jangan tidur melulu! Tolong buka pintunya!" Kali ini, Luna berteriak mencoba membangunkanku yang ia kira sedang tidur. Aku tetap menghiraukannya.
Setelah tiga kali aku hiraukan, Luna berhenti mengetok. 'Paling, dia pulang,' pikirku mengira Luna sudah menyerah. Aku memejamkan mata kembali. Kembali berlayar ke pulau kapuk.
...
...
15 menit kemudian. Aku membuka mata. Pelayaran pulau kapuk dibatalkan di tengah jalan. Gara-gara memikirkan Luna yang berkunjung, aku jadi mengingat lagi kejadian seminggu lalu. Kejadian di mana aku melakukan kesalahan besar sehingga membuatku tidak bisa menggunakan sihir.
"Ughhh..."
Aku mengeluh. Selain karena pusing kebanyakan tidur, aku juga mengingat kebodohanku yang kelewat batas. Padahal, sihir ini merupakan salah satu kesempatanku untuk berubah. Sayangnya, aku mengacaukan semuanya.
Inginku kembali ke dua bulan yang lalu untuk mengulang semuanya. Membuang jauh buku terlarang itu dan lebih mendengarkan peringatan orang-orang di sekitarku.
"Hah..."
Percuma menyesalinya. Terlambat sudah. Meski dengan maraknya sihir, aku belum pernah mendengar seseorang kembali ke masa lalu.
Aku beranjak dari tidur. Menuju kamar mandi, bersih-bersih diri. Setelah vakum seminggu, hari ini, aku ingin melanjutkan aktivitasku, yaitu streaming–satu-satunya hal yang tersisa dari diriku.
Setiap individu pasti memiliki satu-dua hal yang tidak ingin mereka tinggalkan apa pun kesusahan yang mereka terima. Untukku streaming v-tuber merupakan hal itu. Aku senang bisa bercengkerama dengan orang banyak tanpa harus memperlihatkan wujud fisikku. Terlebih lagi, jika akhirnya aku bisa berteman baik dengan orang seperti Mex.
"Brrr... Dinginnya..."
Air dingin membasahi wajahku, menghilangkan sisa-sisa kantuk yang menempel. Di daerah ini, yang termasuk kaki gunung, air pagi hari cukup untuk membuatku menggigil kedinginan. Tapi, memang itulah yang aku cari, dingin-dingin segar penghilang kantuk.
Saat aku kembali ke ruang tengah, pemandangan mengejutkan mengagetkanku. Seorang gadis tengah duduk di sofa dengan santainya sembari menyeruput teh di tangan.
"Hei, kak. Sudah puas tidurnya?" sindir gadis tersebut.
"Wah, ya belum dong Lun, tadi ada yang ganggu ketok-ketok segala sih," sindirku balik. Sambil memaparkan wajah tanpa salah.
Alis Luna berkedut kesal, "Ooooohhh? Jadi kak Zen tadi bangun. Kenapa enggak bukain pintunya, kak?"
Aku mengangkat kedua bahu sembari menghiraukan tatapan tajam dari sebelah. "Dari mana kamu masuk, Lun?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
Luna menonjolkan jempolnya ke belakang. Aku mengikutinya, menuju ke arah pintu belakang yang terbuka. "Aku pinjam kuncinya dari Mak Mias barusan," tambahnya.
'Oh, jadi begitu. Ku kira dia pakai sihir apalah untuk menembus pintu yang terkunci.' Pandanganku lalu tertarik ke sebuah cangkir di tangan Luna. Seingat aku, tidak ada teh di dapur rumah. Apa Luna yang membawanya?
"Oh, ini?" Mengerti arah tatapan mataku, Luna menggoyang-goyangkan cangkir di tangannya, "Teh dari daun tanaman sihir. Berkhasiat untuk menaikkan level ether."
Mataku membelalak. 'Jadi, inilah mengapa level ether Luna berada di tingkat atas. Jika saja dulu aku meminumnya juga, aku tidak perlu beralih ke buku–' Aku memotong lamunanku. Tidak ada ‘jika saja.’ Semua sudah terlambat. Ether-ku telah terkontaminasi. Percuma menaikkan levelnya.
"Anyway, ngapain kamu kesini, Lun? Sebagai penyihir ranking satu, pasti kamu sibuk." Dengan segera aku membuang pikiran murungku dan mengalihkan fokusku ke Ada apa gerangan mengapa adikku yang super sibuk ini berkunjung?
"Tentu saja untuk menjenguk dirimu, kak." Jawab Luna keheranan. Dia menatap kakaknya sendiri seperti seorang murid yang kebingungan ketika ditanya oleh gurunya.
"Hah? Gak salah dengar aku nih? Putri Bulan datang kesini hanya untuk menjenguk?" ucapku dengan nada mengejek. Kalimat yang aku lontarkan mengandung sedikit sarkasme. Jujur saja, aku sekarang sama sekali tidak ingin bercakap dengan Luna. Selain karena mood-ku yang sedang turun, melihat wajah dia saja membuatku muak. Karena, wajah Luna hanya akan mengingatkanku pada kejadian seminggu lalu.
Namun, tentunya Luna tidak mengerti apa yang aku rasakan. Dia dengan santai melanjutkan percakapan, "Telingamu masih normal kok, kak. Tidak ada salahnya seorang adik mengunjungi kakaknya, bukan?"
"Iya-iya. Terserah kamu sudah Lun. Aku baik-baik saja," balasku asal. Aku segera mengakhiri percakapan dengan bergegas kembali ke kamar tapi Luna akhirnya menanyakan pertanyaan yang sejak tadi tidak ingin aku dengar.
"Btw kak, gimana sihirmu?"
Hatiku tiba-tiba sesak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin terlihat normal bagi orang lain tapi itu menyulut emosiku. Selama seminggu ini, aku berusaha melupakan kejadian minggu kemarin di markas sihir dan mengurung semua emosi di lubuk hati. Namun, bak sebuah balon ditusuk jarum, emosi yang telah aku tahan seminggu ini meletus keluar. Rasa menyesal karena melakukan hal yang salah, marah dan kecewa kepada diri sendiri, sedih tidak bisa memenuhi janji, semua bercampur aduk menjadi satu.
BAM!!
Aku menggedor dinding dengan keras.
"Luna!" hardikku kencang, "Kamu seriusan tanya atau pura-pura tidak tahu, hah?!!"
Akan tetapi, seolah membalasku menghiraukan dia di pintu tadi, Luna tetap tenang menyeruput tehnya. Amarahku dia anggap sebagai angin lewat.
"Oi! Luna! Jawab pertanyaanku!!!" teriakku sambil menggedor dinding sekali lagi. Luna masih menghiraukanku.
Tak tahan di cuekin, aku mendekati Luna. Kedua tanganku maju ke depan hendak menarik kerah baju yang dia pakai namun terhalang oleh dua buah tameng transparan segi enam yang melayang dekat Luna. Sihir tingkat rendah tipe pertahanan yang bernama Shield.
"Makanya, jangan suka menghiraukan orang, kak. Tau sendiri kan rasanya!" ejek Luna. Telunjuk jarinya berputar, dua tameng segi enam di dekatnya juga berputar mengikuti gerakan jarinya.
"Tsk." Aku menarik kembali tanganku. Membuang raut wajah penuh kesal ke adik perempuanku.
"Apa maumu sebenarnya, heh?" tanyaku lagi dengan emosiku yang sedikit mereda.
"Well, kan sudah kubilang tadi, aku cuman ingin menjenguk kakakku tercinta yang sedang galau," balas Luna. Kedua tangannya menggenggam dan kepalanya miring. Dia mempertunjukkan keimutannya ke titik maksimal.
"Ngak, tidak perlu. Aku enggak butuh bantuanmu. I'm fine."
"Yakin, kak?"
"Ikut campur urusan orang lain saja kamu."
"Ya iyalah, manusia itu makhluk sosial. Mau-tidak-mau manusia lain pasti akan masuk dalam kehidupanmu."
"Nope! Ngak perlu, sudah kubilang aku baik-baik saja. Urusi saja dirimu sendiri." Aku melanjutkan rencana awalku, melangkah kembali ke kamar.
"Yakin, nih? Padahal, aku tahu seseorang yang bisa menyelesaikan masalah ether-mu itu. Dan aku berniat untuk menjelaskannya padamu. Tapi, karena Kak Zen ngak mau dibantu, baiklah, akan aku urungkan niatku."
Aku terhenti. Berbalik dan mendekati Luna secepat kilat. Tanganku menggebrak entah benda apa yang ada di sekitarku lalu berteriak, "Kenapa kamu ngak bilang itu sejak tadi, HAH???!!"
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments