BLAR!!!
Suara ledakan menggelegar di lapangan latihan sihir. Dua orang tengah bertarung di tengah arena. Dua orang laki-laki muda. Yang pertama mengayunkan tongkat sihir–tongkat yang tingginya lebih panjang dari tinggi pemuda itu sendiri, mengeluarkan sihir secara beruntun. Yang kedua, sedangkan, menghindari sihir yang diluncurkan oleh yang pertama. Gerakannya lincah. Kedua tangannya terbungkus oleh sarung tangan.
Aku menonton pertarungan dari tribun. Karena luasnya lapangan latihan ini, tribun berada jauh dari pusat pertarungan. Layar-layar hologram raksasa membantu penonton untuk memperhatikan apa yang terjadi. Layar hologram itu merupakan hasil penggabungan teknologi dengan sihir. Belum dikomersilkan. Khusus untuk pemakaian di Asosiasi Sihir.
Mbak Katrin berdiri di sampingku memberitahu siapa mereka. Keduanya adalah Top penyihir remaja di cabang markas sihir ini. Remaja yang mengayunkan tongkat sihir, memiliki bakat alami dalam menyihir. Dia dengan cepat menaikkan level ether-nya dan menguasai sihir-sihir tingkat menengah, terutama sihir api dan es miliknya yang dia asah jauh dari remaja seumuran dirinya. Sedangkan lawannya, juara nasional suatu cabang beladiri. Meski level ether-nya jauh di bawah remaja pertama, dia mengaplikasikan pengalamannya di bela diri dalam menyihir. Rumor mengatakan mereka berdua sudah dijamin untuk masuk sekolah sihir.
Setengah jam lalu, saat kami sedang berdiskusi, keramaian muncul di tengah lapangan. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba saja mereka meminta duel untuk dilaksanakan. Lapangan pun disiapkan. Aku mengungsi ke tribun penonton. Mencari tempat aman untuk menonton. Dinding transparan muncul membatasi tribun dengan lapangan. Pelindung dari pertarungan sihir.
"Oh-ya, mumpung kesempatannya tepat, bagaimana kalau kita belajar satu hal lagi?" ajak Mbak resepsionis tiba-tiba sebelum duel berlangsung.
Aku menoleh ke arahnya. Penasaran apalagi yang ingin Mbak Katrin katakan.
“Selain dari cara yang sudah kamu ketahui, ada cara lain untuk menggunakan sihir, kamu tahu cara apa itu?”
Aku menggeleng. Mana mungkin aku tahu. Satu cara saja sudah membuatku bingung dan sibuk. Eh ternyata, masih ada cara kedua. Jangan-jangan masih ada cara ketiga dan keempat? Aku memijat dahiku yang sedikit pusing. Mempersiapkan kapasitas otakku untuk menerima itu semua.
“Tenang saja Dik Zen, kau tidak perlu bingung. Hanya ada 2 cara yang sudah diresmikan oleh Asosiasi Sihir. Sisanya merupakan cara terlarang dan jangan sekali-kali kamu mencoba sisanya,” ucap Mbak Katrin yang lagi-lagi membaca wajahku.
‘Benar kan tebakanku, ada cara ketiga dan keempat. Hanya saja yang tercatat resmi di Guild hanya dua, sisanya tidak boleh dipraktekkan.’
“Cara yang sudah kamu ketahui, disebut cara Conjure. Sihir tipe Conjure menciptakan sihir dengan mengubah ether dalam tubuh mereka menjadi fenomena sihir. Mengubah ether menjadi elemen api, air, tanah, atau angin. Itulah contoh fenomena sihir. Selain itu, sihir ini memiliki ciri yaitu mantra yang dirapalkan cukup panjang.
“Sedangkan cara kedua disebut Manipulate. Seperti namanya, tipe sihir Manipulate menciptakan sihir melalui manipulasi ether. Tipe sihir ini menggunakan ether dalam tubuh mereka untuk memanipulasi ether yang ada. Baik yang ada dalam tubuh mereka mau pun yang ada di sekitar. Mantra tipe sihir ini sangat pendek, hanya satu-dua kata saja. Bahkan ahli sihir tipe ini terkadang sama sekali tidak mengucapkan mantra,”
Mbak Katrin menerangkan dengan lengkap. Namun, aku belum paham. Ketika aku hendak bertanya, Mbak Katrin lebih dulu melanjutkan, "Memang agak sulit untuk memahaminya, lebih baik kamu perhatikan dulu duel ini."
Mbak Katrin kemudian menunjukkan pandangannya ke arah arena. Memberiku isyarat bahwa duel akan segera dimulai. Kedua remaja berhadapan dengan jarak sepuluh meter. Masing-masing mempersiapkan kuda-kudanya. Seorang petugas dari Guild menjadi wasit sekaligus pengawas duel. Wasit memberikan aba-aba. Bola api kecil diluncurkan ke udara. Dengan ledakan kecilnya, duel pun dimulai.
Remaja bersarung tangan membenturkan kedua genggaman tangannya. Dua orbit rune muncul sebagai hasil percikan benturan tersebut. Ether meliputi seluruh tubuh remaja bersarung tangan. Dengan hentakan kaki, dia berlari menuju lawannya.
Lawannya, si penyihir muda, dengan tenang mengangkat tongkatnya ke udara. Bibirnya merapalkan mantra. Tiga rune sekaligus melayang di udara, masing-masing rune mengeluarkan bola api berukuran kepala manusia.
Tiga sihir api melayang mengincar remaja bersarung tangan. Sebagai reaksi, dia dengan mudah menghindar dengan gerakan zig-zag. Sihir-sihir api meledak di lantai abu-abu, meleset dari targetnya.
"Kamu perhatikan sihir yang digunakan oleh dua remaja tadi, remaja bersarung tangan barusan menggunakan tipe sihir Manipulate, yaitu sihir tingkat menengah ‘Aura.’ Dia memanipulasi ether untuk memperkuat fungsi tubuhnya. Ether menyelimuti tubuhnya, meningkatkan kekuatan fisik sekaligus melindungi tubuhnya dengan lapisan ether.
"Lain lagi dengan remaja satunya, dia menggunakan tipe sihir Conjure. Tipe ini mengubah ether asli dalam tubuh manusia menjadi fenomena sihir. Ether dalam tubuhnya diubah menjadi api. Sehingga terciptalah tiga sihir bola api tersebut."
Aku mengangguk. Setengah paham. Perhatianku masih tercuri oleh pertarungan. Remaja petarung berhasil mendekati lawannya, tinju ditembakkan. Tapi, sebelum berhasil mencapai remaja penyihir, tinju itu terhalangi oleh sebuah tameng transparan berbentuk segi enam. Jarum-jarum es muncul di atas kepala si penyihir, siap menghunjam musuh di depannya. Melihat bahaya, si petarung dengan sigap salto ke belakang. Runtutan jarum es mengikuti gerakan si petarung. Hingga jarak mereka kembali sepuluh meter runtutan jarum es itu baru berhenti.
Aku menghela nafas. Hatiku berdebar-debar melihat pertarungan ini. Maklum, sebagai laki-laki remaja yang penuh dengan imajinasi, pertarungan seperti ini layaknya sebuah mimpi. Masing-masing pemuda memiliki kelebihannya sendiri. Bagaimana si penyihir bisa meluncurkan sihir secepat itu? Latihan apa yang dilakukan oleh si petarung hingga tubuhnya bisa bergerak seperti itu? Aku berharap, dalam waktu ke depan, aku bisa ikut andil dalam pertarungan seperti ini.
"Oh, sepertinya mereka sudah selesai pemanasan." Komentar Mbak resepsionis mencuri perhatianku. 'Masih pemanasan?' Sekali lagi, aku menghela nafas tajam. Kalau aku berada di rumah sendirian melihat pertarungan ini, aku sudah berteriak-teriak karena kegembiraan. Seperti saat anak bola melihat pertandingan bola, atau para gamer melihat tim laganya bermain.
Ronde dua dimulai, lagi-lagi dengan remaja petarung berlari maju dengan kecepatan yang lebih kencang dari sebelumnya. Melesat menuju remaja penyihir. Si penyihir berusaha menghalanginya dengan mendirikan dinding es.
Seakan tak peduli ada halangan, si petarung menghantamkan tubuhnya menerobos dinding es. Namun, jebakan menunggunya lepas tembok es, semburan api meliputi si petarung, melelehkan dinding es yang di tembusnya.
"Apa dia baik-baik saja terbakar seperti itu?" Aku akhirnya menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran sedari tadi. Bagaimana sistem keamanan duel ini? Bola api yang diciptakan pemuda penyihir di awal saja sudah cukup untuk melukai orang biasa. Apalagi semburan api seperti itu.
"Tenang saja, tidak mungkin guild menyediakan fasilitas bertarung seperti ini tanpa sistem pengaman. Mereka masing-masing mengenakan sebuah token yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus penanda menang-kalah. Token itu akan aktif ketika ether asli penggunanya mencapai batas merah, mengaktifkan sihir pelindung yang melindungi pengguna dari semua serangan. Munculnya pelindung tersebut juga menandakan kekalahan bagi si pengguna. Jadi, jika token belum aktif, remaja petarung tersebut masih baik-baik saja dan masih bisa melanjutkan pertarungan."
Benar saja apa yang dikatakan olehnya. Sedetik setelah Mbak Katrin mengatakan itu, semburan api terbelah memperlihatkan si petarung. Kedua tangannya terlentang ke dua arah. Kubah angin berputar membatasi petarung dengan semburan api. Dalam perlindungan kubah itulah dia kemudian memasang kuda-kuda. Tangan kirinya ditekuk di depan dada sedangkan yang kanan tersabuk di pinggang, bersiap untuk memukul. Ether berkumpul dengan petarung sebagai pusatnya. Kunang-kunang hijau mulai bermunculan saking banyaknya ether yang berkumpul. Tiga rune mengelilingi si petarung selagi ia merapalkan mantra. Dengan teriakan khas seorang ahli beladiri, pukulan tunggal ia tembakkan.
"Hahhhh!!!!"
Angin beliung melesat mengikuti gerakan tangan si petarung. Menghancurkan perisai sihir si penyihir, membuatnya terpelanting beberapa meter. Token belum aktif untuknya.
Sadar bahwa pertarungan belum selesai, si petarung hendak melompat untuk melancarkan serangan terakhir. Tetapi, dia tertahan! Tertahan oleh gelembung air yang tiba-tiba membungkusnya. Dia keheranan dari ether air ini muncul. Ketika dia melihat kembali ke lawan, remaja penyihir masih belum tumbang. Dengan bantuan tongkatnya ia tertatih mengendalikan sihirnya. Saat itulah dia tersadar dari mana sumber air ini, air ini berasal dari lelehan sihir tembok es yang dibakar oleh semburan api.
Gelembung air itu membungkus erat si petarung. Menghilangkan kemampuannya untuk bernafas. Sebelum dia kehabisan nafas, si petarung mengaktifkan tokennya, mengaku kalah. Tokennya bersinar mengeluarkan sihir selaput pelindung. Gelembung air itu pecah dan dia tersungkur di lantai. Batuk-batuk mengeluarkan air yang masuk ke saluran pernafasannya. Pertarungan diakhiri oleh wasit yang memberikan tanda duel berakhir.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments