"Fiuh…" Luna melepas lelah setelah meneguk minuman dari botol favoritnya. Botol yang dia simpan di saku sihir ajaib miliknya. Kali ini dia sendirian. Di bawah sinar rembulan. Luna beristirahat. Tak ada yang mengawasinya. Dia bebas melakukan apapun. Luna lega tidak perlu memperhatikan tingkahnya setelah seharian memperjuangkan nyawa kakaknya.
Kejadian overdosis ether kakaknya benar-benar di luar perkiraannya. Tak dia sangka, kebiasaan mengurung diri yang kakaknya lakukan memberikan efek samping dalam injeksi ether.
Sungguh, kejadian ini mengingatkan Luna kembali bahwa tak ada yang benar-benar pasti. Meski Luna sudah mengulang kehidupan, kejadian tak terduga seperti ini pasti akan datang lagi dan lagi. Seberapa pun sempurnanya rencana yang Luna buat, dia tak akan bisa menghindar dari kejutan kehidupan.
Ya, kejutan kehidupan. Berkat kejutan kehidupan inilah dia bisa mengulang kembali. Luna bersyukur kejutan kehidupan ini datang kepadanya. Dia tidak ingin melanjutkan kehidupan waktu itu. Kehidupan yang penuh keputusasaan. Kehidupan marak dengan kekacauan. Kehidupan dimana dia harus berjuang sendirian.
Tidak lagi. Luna tidak lagi ingin merasakan itu. Dia bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan kedua. Kesempatan yang tidak bisa orang lain dapatkan. Bertemu kembali dengan orang-orang yang dia sayangi. Tidak lagi dia ingin kehilangan mereka. Cukup. Cukup sudah penderitaannya.
Luna mengeluarkan sebilah pedang dari saku ajaibnya. Teman setia perjalanan Luna. Teman yang tidak pernah mengecewakan Luna. Tidak terbayang bagaimana perjalanan Luna tanpa bantuannya.
Mata Luna menatap bayangan dirinya di bilah pedang. Bola mata bening balas menatapnya. Bola mata penuh tekad.
Luna telah memutuskan. Untuk memotong semua tali mara bahaya yang mengancam orang-orang yang dia sayangi. Tekadnya setajam bilah pedangnya. Apapun yang menghalangi akan dia cincang dengan sihirnya.
Tekad Luna telah bulat. Kejadian ini hanya memperbulat tekadnya. Luna mencengkeram erat pedangnya. Sekali lagi membakar bara api yang sejak dulu tak pernah padam dalam hatinya.
Namun, dia harus bersabar. Sekarang bukan waktunya. Luna harus mengurus kakak tersayangnya. Walau pemalas, pecundang, pecandu, dan masih banyak pe-lainya, Zen Ashen adalah satu-satunya saudara kandung Lemina Luna.
Luna menghela nafas. Kepalanya mendongak. Pemandangan favoritnya terlukis jelas di angkasa.
Bulan berputar mengikuti jalur revolusi. Di puncaknya ia memantulkan sinar matahari. Di kelamnya ia menghilang. Tapi, jangan salah kawan. Ia menghilang untuk memberi giliran bintang benderang. Bersembunyi hingga tiba gilirannya kembali untuk bersinar.
...___...
Katrin duduk di kursi ruangannya. Ruangan Master Cabang Markas Sihir. Dia sedang menunggu hasil penanganan masalah overdosis ether yang dialami oleh seorang pemuda.
Dia juga sedang mengintropeksi diri. Bisa-bisanya kelalaian seperti ini terlewat terlewat tepat di bawah pengawasannya. Sebagai pemilik otoritas tertinggi di cabang markas sihir ini, dia sungguh malu.
Memang, pemberhentian prosedur pengecekan adatabilitas ether sebelum injeksi berpengaruh dalam kelalaian kali ini, tapi sebagai lulusan Akademi Sihir seharusnya dia punya banyak cara untuk mencegah kejadian ini terjadi.
Selain itu, markas sihir ini tidak siap menangani kasus overdosis ether dengan baik. Malahan bergantung pada orang lain untuk menyelesaikan masalah. Padahal, overdosis ether adalah kejadian yang sering terjadi saat awal-awal pandemi sihir terjadi. Lalu, mengapa markas ini tidak siap menanganinya?
Markas sihir ini bisa terbilang baru, tapi itu bukan sebuah alasan. mereka hanya tidak siap. Berakhirnya pandemi membuat mereka lengah. Sedangkan di dunia yang penuh perubahan ini, apa saja bisa terjadi. Dan salah satu fungsi markas sihir yaitu sebagai sebuah tempat perlindungan manakala suatu bencana terjadi.
Katrin bangkit dari kursinya. Dia sekarang tahu apa yang harus dilakukan. Persiapan. Mempersiapkan diri. Mempersiapkan markas sihir. Juga mempersiapkan generasi penyihir yang akan datang.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments