"Ruangan putih ini lagi…" gumamku pelan ketika membuka mata. Melihat atap putih yang kukenal.
Aku mencoba menggerak-gerakkan jariku. Jariku bergerak menuruti keinginanku. Untunglah, kendali tubuhku telah kembali.
Namun, sama halnya saat pertama kali tidur di ruangan ini tetapi lebih parah, seluruh badanku sakit. Lemas tak berdaya. Otot-ototku nyeri akibat dipakai berlebihan. Saat aku hendak memanggil seseorang untuk bertanya keadaan, bunyi pintu otomatis terdengar.
Belajar dari kesalahan sebelumnya, aku tidak mengambil gerakan mendadak, tetap berbaring. Menunggu yang masuk menghampiri ranjang. Pun seberapa kuat pun keinginanku untuk bangun dari berbaring, tubuhku tidak menuruti. Sebabnya, tenagaku habis untuk pemulihan diri.
Bayangan menutupiku dari samping, aku menoleh. Mbak resepsionis memandangku dengan tatapan dingin. Seketika aku mengingat apa yang telah lakukan sebelumnya. Yakni mencoba sihir terlarang.
'Ugh… bakal kena marah ini.' batinku dalam hati.
Namun, daripada memarahiku, Mbak Katrin mendesah pelan. "Dari raut wajahmu, kamu tahu kesalahanmu, kan?" tanya Mbak Katrin.
Aku mengangguk pelan.
“Baguslah kalau kamu sudah mengerti kesalahanmu…” kata Mbak Katrin pelan.
Ada banyak kesalahan yang aku lakukan kali ini, tapi sebelum itu…
"Umm… Mbak, apa aku boleh bertanya?" tanyaku dengan suara lirih dan serak. Mbak Katrin balas mengangguk.
"Sihir terlarang… itu sebenarnya apa… Mbak?" tanyaku putus-putus. Kepalaku pening. Aku kembali kehabisan tenaga. Tubuhku meminta untuk menidurkan kesadaranku. Untuk fokus pemulihan diri.
Penjelasan Mbak Katrin menyebutkan bahwa sihir terlarang merupakan cara menggunakan sihir yang tidak tercatat dalam Asosiasi Sihir. Tapi, melihat kejadian ini, banyak hal yang tersembunyi dibalik itu.
"Recovery." Suara lembut menyahut dari samping.
Kehangatan tiba-tiba menyelimutiku. Mengembalikan tenagaku. Membuatku tetap terjaga. Aku tahu sihir ini. Sihir tingkat menengah yang mengubah ether menjadi energi yang dibutuhkan tubuh. Dibalik tingkatnya yang menengah, sihir ini masih jarang penggunanya dikarenakan kesulitannya. Bukti jelas bahwa Mbak Katrin memang penyihir bertalenta.
Aku melongo. Menatap Mbak Katrin. Dia membalas dengan senyum kecil. “Rasanya lebih baikkan, bukan?” Aku membalas dengan mengangguk dua kali.
“Nah, dengan begini kita bisa bercakap sebentar tentang sihir terlarang.” Mbak Katrin duduk di kursi kecil. Keadaan ruangan ini sama persis dengan ketika aku kecelakaan injeksi ether.
“Sebenarnya, sihir ini kurang tepat disebut sihir terlarang.”
“Kenapa, Mbak?”
“Karena, sejatinya. Sihir terlarang hanyalah sihir yang digunakan oleh ras lain.” Mbak Katrin mulai menjelaskan dengan membeberkan informasi yang mengejutkan. ‘Ras lain? Mereka sungguhan ada?’ Aku bertanya dalam hati. Tapi, segera keraguan itu menghilang setelah mengingat apa yang terjadi sebelum ini.
“Ya, mereka benar-benar ada.” Seolah mengerti apa yang aku tanyakan, Mbak Katrin memastikan. “Dik Zen sudah merasakan buktinya sendiri, kan? Devil yang merasuki tubuhmu itu juga merupakan salah satu dari ras makhluk halus.” Aku mengangguk lagi.
“Sihir terlarang, disebut seperti itu dikarenakan ketika manusia menggunakan sihir ras lain terdapat efek samping yang diterima oleh manusia. Masalahnya, tidak semua efek samping itu bersifat menguntungkan, ada yang berbahaya bahkan mematikan. Pihak guild juga belum bisa memastikan mana saja sihir mereka yang aman untuk digunakan dan mana yang berbahaya. Maka dari itu, pihak guild melarang semua bentuk sihir yang bukan dari penyihir manusia dan dari situlah menyebar istilah sihir terlarang.”
“Ohh…” Aku cuman bisa membulatkan bibirku. Semua informasi yang Mbak Katrin terangkan cukup susah untuk aku cerna dengan kepala pusing.
“Seperti itulah sihir terlarang, apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?”
Aku diam sebentar. Meski sedikit pusing, aku mulai memutar gear otakku. Ada sesuatu yang kurang dari penjelasan Mbak Katrin. Luput dari pikiranku. Aku berpikir keras. Namun, selang satu menit, yang kudapat hanyalah cenat-cenut kepala yang bertambah parah. Dan saat itulah aku tersadar.
“Bagaimana keadaanku, Mbak?” Ya, yang aku lupakan ternyata keadaan diriku sendiri.
Mbak Katrin malah memasang wajah kusut mendengar pertanyaanku. Dia terlihat kesusahan untuk menjawab pertanyaanku. ‘Apa keadaanku separah itu?’ Aku mulai gugup.
Setelah berkontemplasi beberapa detik, Mbak Katrin menghela nafas panjang. Jauh lebih panjang dari yang sebelumnya.
“Hah… Sebenarnya, Mbak tidak ingin membahas hal ini, tapi ya sudahlah… akan Mbak beritahu keadaanmu.”
“Dik Zen, coba kamu periksa level ether-mu.” Aku menuruti perintah Mbak Katrin lalu memejamkan mata. Kesadaranku menelusuri sungai ether, ada yang aneh dengan sungai ether-ku. Aku segera mempercepat penelusuranku hingga ke muara sungai. Ke Gerbang Ether. Tempat di mana ether pertama kali masuk ke dalam tubuhku. Aku segera terkejut melihat keadaanku.
Kering. Gerbang ether-ku menyempit. Saat level ether-ku berada di kisaran 60, gerbang ether,-ku terlihat seperti air terjun deras, air yang mengumpul di bawahnya membentuk sebuah kolam. Tapi sekarang, terlihat seperti keran yang hampir mengering. Kolamnya menyusut. Parahnya lagi, ether-ku tidak berwarna putih transparan, melainkan berwarna keruh sehingga terlihat seperti genangan air di jalan.
Aku membuka mata. Ketika aku menatap kembali wajah Mbak Katrin, dia mengerut pilu. Sedetik kemudian Mbak Katrin duduk tegak dan membuka mulutnya, “Kemungkinan besar, kamu tidak bisa lagi menggunakan sihir Dik Zen.”
Aku mematung. ‘Apa yang Mbak Katrin bilang barusan?’ Bukan, bukannya aku tidak bisa memahami apa yang diucapkan. Aku hanya berpura-pura menutup telinga. Tidak mau mendengarkan dan Melarikan diri dari kenyataan.
Melihat diriku yang tidak bisa merespons, Mbak Katrin melanjutkan, “Sihir Ras Devil. Pada awal penggunaannya, efek samping yang ditimbulkan terlihat menakjubkan. Level ether yang dengan cepat naik dan kontrol sihir yang lebih mudah. Namun, itu semua hanya tipuan. Ras devil merupakan ras yang unik dan licik. Mereka mampu untuk merasuki makhluk lainnya. Terutama makhluk yang menggunakan sihir khas ras mereka. Saat level ether para pengguna sihir rasnya mencapai level tertentu, para devil mengambil alih tubuh mereka.
“Hingga sekarang, tidak ada yang tahu apa tujuan mereka merasuki ras lain. Yang pasti, setelah tubuh manusia dirasuki oleh Devil. Muncullah efek buruk yang harus diterima oleh yang dirasuki. Efek buruk tersebut tergantung bagaimana para devil mengendalikan tubuh yang dirasuki. Ada yang saat dirasuki seminggu penuh tapi efek buruk yang diterima hanyalah penurunan level ether. Ada juga yang sepertimu, dirasuki hanya sebentar tapi tubuh yang dikendalikan digunakan untuk aktivitas sihir. Akibatnya, efek buruk yang diterima sanggatlah parah. Tidak sampai menghilangkan nyawa, tapi ada yang dalam keadaan koma atau kehilangan kesempatan untuk menggunakan sihir selamanya.
“Kasus Dik Zen termasuk kasus yang terakhir. Pertarungan dengan Putri Luna sangat membebani tubuhmu, alhasil hampir seluruh ether aslimu menghilang. Untung saja, Putri Luna bisa menahan diri dan segera mengakhiri pertempuran. Kalau tidak, bakal lebih parah efek yang kamu terima. Selain itu, mengenai mengapa kamu tidak lagi bisa menggunakan sihir, itu disebabkan oleh terkontaminasinya ether-mu. Entah bagaimana cara para devil melakukannya, kode ether milikmu berubah. Tercampur oleh kode ether dari Devil yang merasuki tubuhmu. Dan itu sangat fatal, perubahan kode ether akan mengubah seluruh aktivitas ether dalam tubuhmu. Termasuk dalam menyihir. Ether yang terkontaminasi sukar untuk digunakan dalam menyihir. Oleh sebab itu, Dik Zen kemungkinan tidak bisa menggunakan sihir lagi.”
Sepanjang Mbak Katrin menjelaskan kondisiku, aku tetap diam. Separuh otak mendengarkan penjelasan, separuh yang lain memikirkan kesalahan sekaligus ke tidak beruntungan nasibku.
“Apa kamu baik-baik saja, Dik Zen?” tanya Mbak Katrin khawatir setelah sekian menit aku menunduk murung.
“I’m fine, Mbak.” balasku memaksa tersenyum. Menyembunyikan segala kekhawatiran yang terbenam di pikiranku.
“Baiklah kalau begitu, Mbak mau keluar dulu. Masih banyak urusan yang belum diselesaikan. Maaf jika penjelasan barusan terlalu panjang, karena cuman ini yang bisa Mbak bantu untukmu. Mbak akan memberitahu yang lain untuk tidak masuk ke ruangan ini untuk sementara. Selamat malam, Dik Zen. Istirahatlah yang banyak. Semoga lekas pulih.”
“Iya Mbak, terima kasih.” Aku sungguh beruntung bertemu dengan Mbak resepsionis yang penuh perhatian dan baik hati ini.
Setelah itu Mbak Katrin keluar dari ruangan. Esoknya, aku diberitahu bahwa aku pingsan selama tiga hari penuh. Dan selama tiga hari selanjutnya, aku dirawat di ruangan putih ini untuk pemulihan dan pengecekan. Mbak Katrin tidak mengunjungi lagi hingga waktu untukku pulang ke rumah.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments