Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)

"Selamat datang kembali, Dik Zen."

Lima hari semenjak aku dan Mex collab-streaming, aku kembali ke markas sihir. Dan sama saat pertama kali aku berkunjung, Mbak Katrin ramah menyapaku.

"Selamat pagi, Mbak Katrin." Aku balik menyapa.

"Dik Luna tidak bersamamu?" tanya Mbak Katrin, dia melirik ke belakangku. Mengecek keberadaan orang yang dicarinya. Sayangnya, yang dicari tidak kembali lagi kesini.

"Nggak, Mbak. Liburan Luna sudah selesai, jadi dia kembali ke kotanya." Mendengar jawabanku, raut wajah Mbak Katrin terlihat sedikit kecewa. Sepertinya keberadaan Luna sangat dinantikan di tempat ini. Mbak Katrin bercerita para peneliti yang dibuat kagum olehnya selalu menunggu keberadaan gadis itu. Tiap hari salah satu dari peneliti menitip pesan untuk segera memberitahu mereka jika Luna datang.

"Kalau Dik Zen kembali kesini berarti level ether-mu telah mencapai level 20?" lanjut Mbak Katrin.

Level Ether yang dimaksud Mbak Katrin ini merupakan cara lain untuk menyebut indikator persen tingkat adaptasi ether. Disebut seperti ini karena tingkat adaptasi ether juga berhubungan erat dengan gerbang ether seseorang. Dalam keadaan normal, seberapa banyak aliran ether yang dibolehkan masuk ke tubuh oleh gerbang ether bergantung pada tingkat adaptasi ether tubuh. Otomatis, jumlah ether asli yang berada dalam tubuh bergantung pada keduanya, gerbang ether dan tingkat adaptasi ether. Maka dari itu indikator ether asli dalam tubuh disebut level ether.

"Yep!" ucapku sambil membusungkan dadaku, kedua tanganku di pinggang. Jerih payahku seminggu ini membuahkan hasil. Akhirnya, tingkat adaptasi ether-ku telah mencapai 20 persen atau bahasa gaulnya sudah naik ke level 20. Kemarin malam, saat latihan rutin, bola lampu neon yang aku munculkan berpijar lebih terang dari biasanya. Tanda bagiku untuk melanjutkan tahap berikutnya.

"Selamat!!" Mbak Katrin bertepuk meriah, "Sekarang Dik Zen bisa dengan leluasa bisa menggunakan sihir tingkat pemula. Apa Dik Zen ingin langsung mengetesnya?"

Aku diam sebentar untuk berpikir kemudian mengajukan pertanyaan, "Aku sudah tahu kalau ini memang tidak dibolehkan. Tapi, apa aku memang tidak bisa melakukan injeksi ether selanjutnya, Mbak?"

Tes masuk sekolah sihir tinggal sekitar 5 bulan lagi. Tidak ada informasi mengenai syarat dan bentuk tes untuk memasukinya. Melihat saingan-saingan lainnya berjalan lebih jauh di depan, aku ingin sebaik mungkin menyiapkan tes tersebut, mengejar ketinggalanku. Itulah mengapa aku tidak sabar untuk menaikkan level ether-ku.

"Sebenarnya, tidak ada efek negatif bagi tubuh jika Dik Zen ingin melakukan injeksi ether untuk memperluas gerbang ether dan menaikkan tingkat adaptasi ether-mu dengan cepat. Hanya saja, di jangka panjang, karena selalu melakukan perluasan tanpa mengontrol apa yang ada di dalamnya, ether dalam tubuh Dik Zen nantinya bakal lebih sulit untuk dikontrol. Asosiasi sihir memberikan regulasi bukan tanpa alasan, seseorang harus mencapai level ether 30 secara natural sebelum melakukan injeksi kedua adalah karena hal itu. Jadi, mari kita lakukan secara pelan namun pasti saja, oke Dik Zen?" ajak Mbak Katrin dengan senyum setelah menjawab pertanyaanku.

"Baik, Mbak..." balasku sedikit kecewa.

'Hah... Meski adanya sihir, ternyata memang tidak ada cheat untuk hidup ini...' keluhku dalam hati.

"Kalau boleh tahu, mengapa Dik Zen terlihat buru-buru untuk menaikkan level ether-mu?" Penasaran, Mbak Katrin bertanya.

"Untuk tes masuk sekolah sihir."

Mbak Katrin tidak terkejut mendengar jawabanku. Malahan, dia terlihat seperti sudah menduganya. "Seperti yang Mbak duga kalau begitu. Banyak anak muda yang terburu-buru menaikkan level ether-nya untuk masuk sekolah sihir. Padahal nanti, tidak hanya level ether yang akan diuji dalam tes tersebut." jelasnya.

Aku mengangkat alisku mendengar apa yang dijelaskan Mbak Katrin, "Mbak Katrin tahu apa saja yang di uji dalam tes masuk sekolah sihir?!" tanyaku menaikkan nada suara. Tanganku menggebrak meja resepsionis, wajahku moncong mendekati Mbak Katrin.

"Ups!" Mbak Katrin menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sepertinya dia keceplosan mengucapkan informasi yang bersifat rahasia.

'Beneran nih? Setelah susah payah mencari info tes itu hanya berakhir dengan informasi kosong, akhirnya! Aku menemukan petunjuk!'

"Lupakan apa yang kamu dengar barusan, Dik Zen. Mbak tadi hanya sembarang menebak." kata Mbak Katrin memasang wajah datar. Seolah ucapannya tadi tidak terjadi.

Aku tidak percaya. Pasti Mbak Katrin tahu sesuatu. "Ayolah Mbak...! Kasih tahu dong...!" Aku merengek memelas.

"Kasih tahu apa? Penjelasan mengenai mantra sihir?" Mbak Katrin tersenyum berpura-pura tidak mengerti. Kalau sudah begini, seberapa bersikeras aku menanyakannya, Mbak Katrin sepertinya tidak akan memberi tahuku apa pun yang terjadi.

"Yah, padahal tinggal dikit lagi dapat info penting..." keluhku menyerah. Tidak baik memaksa jika yang ditanya memang tidak ingin mengatakannya.

"Bagaimana, Dik Zen? Jadi ingin Mbak ajari tentang mantra sihir?" Mbak Katrin mengulangi tawarannya dengan senyum sempurna. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

...___...

Lift bergerak perlahan. Mengangkat tubuhku turun. Di sebelahku, Mbak resepsionis berdiri anggun. Sunyi meliputi kami. Aku memperhatikan tombol di samping pintu lift. Tombol dengan tulisan G8 berpijar. Tak lama, dengan suara "Ting!" lift telah mencapai tujuan. Pintu otomatis lift terbuka.

Riuh ramai menyambutku. Lapangan abu-abu memenuhi pandangan. Aku menengok kanan-kiri. Dua kali aku turun ke tempat ini–pertama yaitu saat aku menginap di markas sihir, tetap saja aku bertanya-tanya bagaimana desain bangunan Magic Association dibuat. Di atas tanah ditanam bangunan penuh dengan kayu, di bawah tanah lapangan seluas stadion diberdirikan.

Ya, aku berdiri dalam perut bumi. Tepatnya lantai bawah tanah 8 atau Ground Floor 8 of Magic Association. Gedung-gedung tinggi jauh ketinggalan jaman dengan bangunan ini. Ketika mereka berlomba-lomba mencapai awan, markas sihir dengan canggihnya melonjongkan bangunannya ke bawah. Mengeruk tanah.

Lapangan latihan sihir berlantai abu-abu seluas stadion di depanku ramai dengan manusia. Di tengah lapangan, ramai pemuda berwarna-warni meluncurkan sihir mereka. Mengelilingi lapangan tribun berbentuk persegi. Pemuda-pemuda lain mengumpul membentuk kelompok menempati tribun tersebut. Satu-dua bercakap antar masing-masing, sisanya beristirahat menikmati makan siang.

"Di sini kebanyakan isinya anak muda ya, Mbak," komentarku setelah memperhatikan sekeliling. Orang dewasa yang aku temukan dapat dihitung dengan hitungan jari. Kami muncul dari salah sisi tribun. Menuruni tribun menuju lapangan sihir.

"Ya, daya tarik sihir untuk anak muda sangatlah tinggi. Maklum, anak muda tertarik oleh hal-hal baru dan sihir memenuhi kriteria itu, penuh dengan hal baru yang menarik." timpalnya. Aku mengikuti Mbak Katrin, mencari spot yang kosong di sudut lapangan.

"Dik Zen, coba keluarkan sihirmu. Mbak ingin melihatnya," perintah Mbak Katrin. Aku merogoh saku celana, tongkat kayu pendek yang telah menemaniku satu minggu kemarin aku genggam. Sama seperti sebelumnya, namun dengan waktu aktivasi yang lebih cepat dari biasanya, aku meluncurkan sihirku. Bola cahaya melayang di mataku.

"Hm... Sudah lumayan, aktivasi sihirmu cukup cepat, tapi kenapa daya sihirmu kurang? Kamu benar-benar sudah mencapai level 20, kan?" Mbak Katrin menilai sihir yang aku luncurkan.

"Iyalah, Mbak. Nggak mungkin aku bohong. Sebelum aku level 20 malah lebih kecil redup nih bola neon."

"Apa ini efek samping dari injeksi yang tidak normal?" tanyanya lagi.

Aku mengangkat bahu, "Mana kutahu, Mbak. Yang aku lakukan cuman mengulang-ulang mengeluarkan bola neon ini puluhan kali." jawabku murung. Latihan seminggu penuh dan pujian yang aku terima hanya sekedar ‘Sudah lumayan.’ Perjalananku masih sangat panjang rupanya, huh.

"Baiklah, kita tidak perlu terlalu jauh memikirkannya. Nanti pasti akan ketemu jawabannya setelah kamu mencoba sihir-sihir lainnya. Untuk sekarang, mari aku jelaskan apa itu mantra." Mbak Katrin mengganti topik pembicaraan. Resepsionis di hadapanku beralih pekerjaan menjadi instruktur sihir. Dia mengeluarkan tongkat sihir personalnya yang tersabuk di pinggang. Terbuat dari bahan kayu dengan bentuk elok. Ukiran-ukiran magis memenuhi batang tongkat tersebut.

"Seperti yang kamu tahu, ada tiga tahap untuk menggunakan sihir. Mengontrol ether, mengucapkan mantra, finalisasi sihir. Sebelumnya, untuk membantumu fokus mengontrol ether, kamu melewati tahap mantra dengan menggunakan alat bantu sihir sederhana. Kali ini akan saya contohkan bagaimana Mantra berfungsi."

Dengan tongkatnya teracung ke depan, aku merasakan ada sedikit ether yang bergerak di tubuh Mbak Katrin. Sedetik kemudian, resepsionis rangkap instruktur ini mulai mengucapkan mantra. Aku tidak mengerti apa yang diucapkan olehnya. Namun, aku lebih jelas mendengarnya ketimbang saat aku mendengar mantra pertama kali. Saat pertama kali aku mendengarnya dari Luna, mantra lebih terdengar seperti seseorang sedang komat-kamit tidak jelas. Tapi, sekarang, suara nyanyian merdu menghibur telingaku. Nyanyian yang pendek, tapi sangat menggema di gendang telingaku. Aku terpana mendengarnya. Sungguh, ini berbeda jauh dari apa yang aku bayangkan saat mantra diucapkan sebelumnya. Dengan nada halus Mbak Katrin menyelesaikan sihirnya, "Menarilah, wahai angin yang bersiul."

Angin bergerak menuruti perintah peri penyanyi. Tongkat sang peri mengarahkan angin hijau muda ke tangan satunya yang terangkat. Angin-angin hinggap di telapak tangan sang peri. Saking senangnya mereka mendengar nyanyian sang peri, mereka berputar menari-nari di pangkuan tangan sang peri.

"Oke, seperti inilah contohnya." Mbak Katrin menoleh ke arahku. Angin-angin itu tetap menari di tangannya.

"Mbak Katrin punya suara yang merdu," pujiku.

"Terima kasih." Mbak Katrin tersenyum, ekspresinya berkerut melihat angin di tangannya, seperti seseorang yang sedang mengingat kenangan pahit. Sang peri menutup matanya sebentar, lalu meniup tangannya. Tiupan sang peri membubarkan angin yang menari, mereka terbang meninggalkan jejak hijau muda di udara.

"Dulu," sambung sang peri, dia bercerita sedikit tentang dirinya, "Aku pernah bermimpi menjadi penyanyi. Setelah berusaha keras berlatih, aku mengikuti audisi. Sayangnya, aku gagal. Banyak peserta berbakat lainnya dalam audisi tersebut. Aku hampir putus asa atas kegagalan itu, tapi kemudian, aku menemukan sihir. Saat itu, tak kusangka nyanyianku bisa membantuku untuk merapalkan mantra."

"Membantu bagaimana, Mbak?" tanyaku bingung.

"Sebentar, Mbak jelaskan dulu apa itu Mantra. Dik Zen, kamu sudah paham apa itu Rune, kan?" Mbak Katrin mengembalikan tongkat sihirnya ke pinggang.

"Sudah, Mbak. Yang berfungsi sebagai jembatan antara dunia sihir dengan dunia nyata itu, kan?"

"Ya. Kalau rune bisa diibaratkan sebagai jembatan penghubung, mantra adalah rangka konstruksi jembatannya. Kata-kata yang diucapkan dalam Mantra membentuk jembatan yang bernama rune. Setiap rune memiliki pola tersendiri tergantung pada kata-kata dalam mantra. Satu kata diubah, rune pun ikut berubah. Tentunya, layaknya pembangunan jembatan asli, ada aturan dalam pengucapan mantra supaya jembatan rune dapat berfungsi dan sihir dapat diluncurkan."

"Bagaimana dengan bahasanya? Bahasa negara mana yang dipakai dalam Mantra?" sejak membahas tentang mantra, pertanyaan ini muncul di benakku.

"Ahh... Itu bukan bahasa dunia ini."

"Ehh?!" Aku mematung, 'Bukan bahasa dunia ini? Maksudnya?'

"Bahasa yang dipakai dalam Mantra disebut bahasa sihir. Bahasa ini sering disebut juga sebagai bahasa dunia gaib karena manusia yang belum membuka gerbang ether tidak bisa mendengarnya. Dengan bahasa dunia gaib inilah kita berkomunikasi dengan ether, menghasilkan gabungan fenomena antara dunia nyata dan gaib."

'Bahasa dunia gaib huh... Pantas saja aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Luna saat aku melihat dia menyihir. Aku ingin tahu bagaimana bahasa ini, apakah aku juga bisa mempelajarinya?'

"Tidak, kamu belum boleh untuk mempelajarinya," tebak suara di depanku. Memecah lamunanku.

"Ehh?! Tidak bisa? Kenapa–" Aku dengan spontan berteriak, dan dengan tiba-tiba pula aku menutup mulutku, 'Wait, apa yang barusan Mbak Katrin bilang?'

""Bagaimana Mbak Katrin tahu apa yang aku pikirkan?"" Pertanyaanku berseruan bersamaan dengan suara di depanku. Saat aku mengangkat pandanganku ke sumber suara satunya, resepsionis di depanku tertawa pulas melihat tingkahku. Tangan kanannya menutupi mulut, dan tangan lainnya memegangi perut. Aku hanya bisa termangu melihat Mbak Katrin yang berbeda dari biasanya.

"Hahaha... Maaf-maaf." Mbak Katrin mengusap air mata di ujung matanya. Puas tertawa. "Wajah Dik Zen mudah sekali dibaca sih... Mbak jadi nggak tahan untuk menggodamu."

Guh... Sungguh memalukan. Aku menunduk, mencoba menyembunyikan wajahku yang memerah. Sungguh memalukan digoda oleh wanita cantik yang lebih tua dariku beberapa tahun ini.

Mbak Katrin, puas menggodaku, melanjutkan pembelajaran.

"Melanjutkan topik pembicaraan yang tadi, Mbak tidak membolehkan kamu untuk mempelajari Bahasa sihir karena bahasa sihir merupakan bahasa yang rumit. Tidak ada bentuk tetap dalam bahasa sihir. Coba perhatikan Mbak sebentar."

Mbak Katrin kembali merapalkan mantra. Tapi, kali ini, dia tidak bernyanyi. Dia mengucapkan kata demi kata yang tidak aku pahami dengan nada datar, layaknya sebuah robot yang pertama kali belajar berbicara. Ether kembali bergerak di tubuhnya dan sesaat kemudian, angin kembali menari di tangannya.

"Kamu paham perbedaannya?" tanya Mbak Katrin setelah melepaskan kembali angin di tangannya. Tongkat sihirnya mengarah padaku.

Aku mengangguk, "Di sihir yang pertama Mbak Katrin merapalkan mantra dengan bernyanyi, sedangkan yang kedua tidak."

"Yep! Seratus buat Dik Zen!" Setangkai bunga mawar tiba-tiba mekar di ujung tongkat Mbak Katrin. Dia lalu memberikan mawar tersebut kepadaku. "Seperti yang kamu lihat tadi, bahasa sihir adalah bahasa yang kompleks. Tata bahasa dan vokalisasi yang lebih rumit daripada bahasa mana pun yang ada di dunia ini. Belum ditambah dengan faktor emosi yang mempengaruhi pelafalannya."

"Faktor emosi?"

"Ya. Emosi. Marah, sedih, semangat, kecewa, senang, tenang, apa pun emosinya berpengaruh dalam perapalan mantra. Api yang semangat tentu lebih panas daripada api yang kecewa, kan? Makanya tidak sembarang orang bisa mempelajari bahasa sihir. Ada persyaratannya."

"Apa saja persyaratannya, Mbak?"

"Hmm... boleh Mbak pinjam ponselmu?"

'Apa hubungannya ponselku dengan persyaratan sihir?' Aku bingung. Namun, ponselku tetap aku serahkan. Mbak Katrin mengotak-atik ponsel layar sentuhku beberapa menit, kemudian, dengan tongkatnya diarahkan ke ponselku, sihir di rapalkan. Rune mengelilingi ponselku sedetik sebelum menghilang.

"Nih, sudah selesai." Mbak Katrin mengembalikan ponselku.

Aku langsung mengeceknya. Ada satu aplikasi baru yang ter-install, berlogo sebuah lingkaran sihir. ‘Aplikasi apa ini?’ Aku segera membukanya.

"Platform e-magic." Mbak Katrin menjawab pertanyaan di benakku, "Sebuah platform yang membutuhkan izin Asosiasi Sihir untuk meng-instalnya. Berisi informasi-informasi mengenai sihir dari seluruh dunia. Coba salurkan ether ke dalam ponselmu."

Aku menuruti perintah resepsionis. Menyalurkan ether-ku ke ponsel. Rune kembali muncul. Ketika menghilang, tampilan aplikasi sedikit berubah. Nama dan segala informasi tentang diriku tertampil di layar.

"Mbak sudah membuka izin untuk mengakses bagi penyihir pemula di situ. Kamu bisa mem-browsing macam-macam sihir pemula di platform itu. Nah, tugasmu yaitu menguasai seratus sihir pemula dari platform itu."

'Seratus????! Yang benar saja!! Satu sihir saja aku butuh seminggu untuk menguasainya! Apalagi seratus! Lagian, bagaimana caraku untuk meluncurkan sihir kalau aku belum bisa merapalkan bahasa sihir?'

"Tenang saja, mantra untuk sihir pemula pendek dan mudah. Kamu hanya perlu mengikuti apa yang sudah dicontohkan di platform itu," hibur sang peri. Lagi-lagi, dia membaca pikiranku.

"Umm... bisa nego, Mbak? 50?" pintaku menawar.

"Dik Zen mau belajar bahasa sihir? Kalau iya, itu syaratnya," balasnya dengan senyum lebar. 'Ugh... Not fair.' Aku menghela nafas panjang. Sepertinya waktu bermainku bakal berkurang drastis untuk minggu-minggu ke depan.

...___...

Episodes
1 Prolouge Vol 1 - Ujian hidup awal mula dirimu
2 Vol 1 Chapter 1 - Adakah Kakak yang teringgal jauh dari Adiknya?
3 Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"
4 Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir
5 Vol 1 Chapter 4 - Waking up in another world? Surely not, right?
6 Vol 1 Chapter 4.5 - Dibalik Sebuah Kejadian
7 Vol 1 Chapter 5 - Belajar sihir yuk!
8 Vol 1 Chapter 6 - Collab Streaming
9 Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)
10 Vol 1 Chapter 8 - Belajar sihir yuk!!! (3)
11 Vol 1 Chapter 9 - Ranking
12 Vol 1 Chapter 9.5 - Pertemuan Mereka
13 Vol 1 Chapter 10 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (1)
14 Vol 1 Chapter 11 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (2)
15 Vol 1 Chapter 12 - Duel (1)
16 Vol 1 Chapter 13 - Duel (2)
17 Vol 1 Chapter 14 - Duel (3)
18 Vol 1 Chapter 15 - Indeed, I'm in another world
19 Vol 1 Chapter 15.5 - Aftermath
20 Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (1)
21 Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (2)
22 Prolouge Vol 2 - Perjalan hidupmu dimulai saat kamu membuka mata
23 Vol 2 Chapter 1 - A Challenge
24 Vol 2 Chapter 2 - The journey begin
25 Vol 2 Chapter 3 - Krisis Dadakan
26 Vol 2 Chapter 3.5 - Pertanda
27 Arc 2 Chapter 4 - Pak Pamungkas
28 Vol 2 Chapter 5 - Perkakas Sihir
29 Vol 2 Chapter 6 - Menu Spesial Kamp Hunter
30 Vol 2 Chapter 7 - Sihir itu teknologi
31 Vol 2 Chapter 8 - Chilhood Friends
32 Vol 2 Chapter 9 - An Invisible hand
33 Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)
34 Vol 2 Chapter 10 - Latihan
35 Vol 2 Chapter 11 - How many points do you want?
36 Vol 2 Chapter 12 - Latihan (2)
37 Vol 2 Chapter 13 - Rumor
38 Vol 2 Chapter 14 - Misi (1)
39 Vol 2 Chapter 15 - Hunter Tameng Perak
40 Vol 2 Chapter 16 - The Power of Mom!
41 Vol 2 Chapter 16.5
42 Vol 2 Chapter 17 - Latihan (2)
43 Vol 2 Chapter 18 - The One Behind The Mysterious Hand
44 Vol 2 Chapter 19 - The Importance of Health
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Prolouge Vol 1 - Ujian hidup awal mula dirimu
2
Vol 1 Chapter 1 - Adakah Kakak yang teringgal jauh dari Adiknya?
3
Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"
4
Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir
5
Vol 1 Chapter 4 - Waking up in another world? Surely not, right?
6
Vol 1 Chapter 4.5 - Dibalik Sebuah Kejadian
7
Vol 1 Chapter 5 - Belajar sihir yuk!
8
Vol 1 Chapter 6 - Collab Streaming
9
Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)
10
Vol 1 Chapter 8 - Belajar sihir yuk!!! (3)
11
Vol 1 Chapter 9 - Ranking
12
Vol 1 Chapter 9.5 - Pertemuan Mereka
13
Vol 1 Chapter 10 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (1)
14
Vol 1 Chapter 11 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (2)
15
Vol 1 Chapter 12 - Duel (1)
16
Vol 1 Chapter 13 - Duel (2)
17
Vol 1 Chapter 14 - Duel (3)
18
Vol 1 Chapter 15 - Indeed, I'm in another world
19
Vol 1 Chapter 15.5 - Aftermath
20
Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (1)
21
Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (2)
22
Prolouge Vol 2 - Perjalan hidupmu dimulai saat kamu membuka mata
23
Vol 2 Chapter 1 - A Challenge
24
Vol 2 Chapter 2 - The journey begin
25
Vol 2 Chapter 3 - Krisis Dadakan
26
Vol 2 Chapter 3.5 - Pertanda
27
Arc 2 Chapter 4 - Pak Pamungkas
28
Vol 2 Chapter 5 - Perkakas Sihir
29
Vol 2 Chapter 6 - Menu Spesial Kamp Hunter
30
Vol 2 Chapter 7 - Sihir itu teknologi
31
Vol 2 Chapter 8 - Chilhood Friends
32
Vol 2 Chapter 9 - An Invisible hand
33
Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)
34
Vol 2 Chapter 10 - Latihan
35
Vol 2 Chapter 11 - How many points do you want?
36
Vol 2 Chapter 12 - Latihan (2)
37
Vol 2 Chapter 13 - Rumor
38
Vol 2 Chapter 14 - Misi (1)
39
Vol 2 Chapter 15 - Hunter Tameng Perak
40
Vol 2 Chapter 16 - The Power of Mom!
41
Vol 2 Chapter 16.5
42
Vol 2 Chapter 17 - Latihan (2)
43
Vol 2 Chapter 18 - The One Behind The Mysterious Hand
44
Vol 2 Chapter 19 - The Importance of Health

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!