“PERMISI, PAKET!!!”
*Tok-tok-tok*
“PAKET!!”
“Iya, Sebentar!!”
Aku bersegera menuju pintu. Barang yang aku pesan kemarin malam selesai streaming telah sampai. Setelah menerima paket dan berterima kasih kepada pengantarnya, aku secepat kilat membuka paket itu tanpa peduli untuk merekam video unboxing terlebih dahulu. Bubble wrap terkelupas, plastik pembungkus terbuka, bau buku baru tercium di hidungku. Aku meneliti cover-nya.
Dibungkus oleh warna hitam, buku ini memiliki ornamen-ornamen rune menghias cover. Judul buku tertulis mewah di tengah, dengan tulisan timbul berwarna emas. Devil Guide. Tidak seperti yang aku takutkan, tak ada gambar dua tanduk, tengkorak, atau semacamnya yang memperkuat judul buku. Malahan, cover bukunya terlihat simpel tapi elegan.
“Mungkin mereka hanya menamai judulnya seperti itu biar terlihat keren…” gumamku. Kecurigaan yang kurasakan dari nama buku ‘Devil Guide’ hilang sebagian setelah aku menatap tampilannya. Buku menakutkan yang aku bayangkan tidak datang, yang ada di genggamanku hanya buku sihir misterius yang menarik. Tak sabar untuk mencoba sihir di dalamnya, aku melesat mengambil tongkat sihirku dan keluar ke halaman.
Rencanaku untuk bertanya ke Mbak Katrin terbengkalai di belakang otakku semenjak Buku ini datang.
...___...
“Oh… Jadi begitu…” Kepalaku mengangguk-angguk paham. Setelah membaca sekilas buku Devil Guide, aku kembali membuka halaman awal buku tersebut. Di situ tertulis sebuah mantra dalam aksara sihir. Tepat di bawahnya terdapat cara melafalkan mantra itu dalam alfabet. Lidahku merasa asing dengan mantra ini ketika aku mencoba melafalkannya. Padahal, mantra-mantra yang aku gunakan sebelumnya, yang berasal dari platform e-magic, setidaknya memiliki satu-dua persamaan. Perbandingan keduanya seperti membaca dua bahasa yang berbeda asal-usulnya.
Tapi, aku tak ambil pusing memikirkannya. Karena, mantra sihir ini spesial. Halaman selanjutnya buku itu menjelaskan bahwa mantra ini memang berbeda dari biasanya. Efek yang ditampilkan oleh mantra ini tidak dapat ditampilkan secara langsung. Butuh merapalkan rutin setiap hari barulah efek mantra ini akan muncul. Dan semakin hari efek yang dikeluarkan oleh mantra ini akan semakin kuat.
Langsung saja aku mencoba mantra baru ini. Dengan buku Devil Guide terbuka di tangan kiri dan tongkat sihir di tangan kanan, aku mengeja perlahan mantra tersebut. Setelah mengulangi hingga bacaanku lancar, aku mulai mengalirkan ether ke seluruh tubuh. Berlatih setiap hari membuahkan hasil, sekarang aku bisa mengalirkan ether dalam tubuhku dengan leluasa. Meski hanya sedikit dan redup dikarenakan hari masih siang, fenomena kunang-kunang itu kembali keluar. Mengelilingi seluruh tubuhku.
Kemudian, aku lanjut merapalkan mantra baru itu.
Satu bait, dua bait. Tidak ada yang terjadi.
Bait ketiga, keempat, dan kelima. Masih belum ada perubahan.
Memasuki bait ketujuh barulah perubahan terjadi.
Kesiur angin bertiup. Membawa kunang-kunang berwarna gelap. Mereka hinggap di tubuhku. Masuk satu-persatu melalui kulit. Aku merasakan energi ether asing bercampur dengan ether asliku.
“Hmm? Kok rasanya sedikit familiar, ya?” gumamku setelah kesiur angin pergi. Aku belum pernah bersentuhan dengan kunang-kunang berwarna gelap ini. Seingatku, semua fenomena kunang-kunang yang kutemui sejak mempelajari sihir memiliki warna terang. Tidak ada yang berwarna gelap pekat seperti yang baru saja memasuki tubuhku.
Tapi, entah mengapa aku merasa sedikit familiar dengan kunang-kunang baru ini. Mungkin saja, saat malam hari, karena warna mereka yang gelap, tanpa sepengetahuanku aku pernah bersentuhan dengan mereka.
“Yep. Pasti seperti itu.” Tak sabar ingin mengecek efek mantra sihir yang baru saja aku gunakan, aku menghiraukan detail kecil ini.
Tak ada yang berubah dari tubuhku selain ether-ku yang sedikit bertambah. Jika saja aku tak secara sengaja mengecek ether-ku, perubahan kecil ini akan luput dari radarku. Dengan ini, penjelasan dalam buku terbukti benar. Aku perlu mengulang-ulang mantra ini setiap hari untuk mendapatkan hasil yang berarti.
Setelah membuat catatan pengingat untuk mengulang mantra ini, aku mengembalikan perhatianku ke buku Devil Guide.
“Water Needle!”
Persis seperti saat pertama kali Luna menunjukkannya. Setelah merapalkan mantra, tanpa ada rune yang muncul, bola air muncul begitu saja. Yang kemudian berubah bentuk menjadi jarum. Aku melesatkan jarum tersebut dengan gerakan tongkat. Jarum tersebut meluncur di udara dan meletus. Hujan lokal mini terjadi.
Sama seperti dalam platform e-magic, sebagian besar isi buku berisi mantra-mantra sihir. Mulai dari mantra tingkat rendah, tingkat menengah, hingga tingkat tinggi. Sihir air yang susah payah aku latih sedari kemarin dengan mudahnya aku luncurkan kali ini. Hebatnya lagi, aku dapat menggunakan sihir dengan kontrol sihir yang lebih sulit. Tentunya hal ini berhasil dengan bantuan buku sihir ini. Setelah mencoba sihir jarum air ini, aku juga menyadari beberapa perbedaan antara sihir yang biasa aku gunakan dengan sihir dalam buku Devil Guide.
Perbedaan pertama terletak pada bait-bait mantra sihir keduanya. Dalam sihir jenis yang sama, mantra yang digunakan dalam buku memiliki bait-bait yang rata-rata lebih pendek. Meski menguntungkan, bukan perbedaan ini yang membuatku paling lega, melainkan bagaimana buku Devil guide menuliskan mantranya.
Dalam platform official E-magic, mantra tertulis dalam aksara sihir. Sebagai anak remaja yang kesusahan hanya untuk mempelajari aksara bahasa daerah, melihat aksara sihir yang tingkat kerumitannya lebih tinggi membuatku sakit kepala sebelah. Untungnya, ada petunjuk cara pelafalan aksara sihir tersebut dalam alfabet untuk kategori sihir pemula. Tapi, pikiran untuk berhenti mempelajari aksara sihir muncul lagi dan lagi ketika aku mengingat bahwa untuk merapalkan sihir tingkat selanjutnya aku harus menghafalkan aksara tersebut.
Sedangkan, dalam buku sihir Devil Guide. Tak ada yang namanya aksara sihir. Semua mantra menggunakan alfabet, bahkan untuk mantra sihir tingkat menengah dan tingkat tinggi. Buku sihir ini menjadikanku girang besar. Aku sempat menari lega karenanya. Selamat tinggal aksara sihir.
Selain itu, sadar tidak kalau rune tidak muncul dalam sihir devil guide? Ya, inilah perbedaan terbesar dari kedua sihir. Rune, sebagai jembatan antara dunia gaib dan nyata, seharusnya muncul setiap kali sihir diluncurkan. Lalu, jika rune tidak muncul tetapi sihir tetap berhasil diluncurkan, apa yang menghubungkan kedua dunia? Pertanyaan itu sempat terlintas dalam benakku tapi kegembiraan atas keberhasilanku meluncurkan sihir tingkat selanjutnya menjadikan otakku dengan cepat memutuskan untuk menghiraukannya. Juga perbedaan kecil dalam warna kunang-kunang dan perbedaan dalam mantra yang dilafalkan. Aku menghiraukan semua itu. Namun, tanpa kusadari, detail-detail kecil itu menjadi awal penyebab kesalahan besarku di esok hari.
...___...
“Sabit angin, melesatlah! Wind Cutter!” Angin melesat mengikuti sabetan tanganku. Memotong ranting kecil pohon.
“Wahai api! Bakarlah apa yang ada di hadapanku! Flame Burst!” Tongkatku menyemburkan api ke udara. Aku berhati-hati dalam mengontrol sihir apiku supaya tidak membakar sekitar.
“Air! Datang dan berkumpul! Water ball!” Tiga gumpalan air muncul sekaligus. Dengan jentikan jari, ketiganya berubah. membentuk ikan-ikan kecil yang berenang di udara. Aku menjentikkan jari lagi, kali ini ikan-ikan berubah menjadi jarum-jarum air.
“Freeze!” Aku membekukan jarum-jarum air tersebut. Tongkatku berayun. Jarum-jarum es melesat dan saling membenturkan diri. Kristal-kristal es meletus layaknya kembang api.
“Aura!” Aku memanggil sihir tingkat menengah. Mana menyelimuti tubuhku. Kekuatan fisik tubuhku meningkat. Awal mencobanya aku melompat-lompat di tempat. Setelah terbiasa, aku melompat tinggi. Dua meter lebih tercapai. Sekarang, salto pun menjadi hal yang biasa bagiku.
Semenjak, buku itu datang. Setiap hari aku bereksperimen dengan sihir di dalamnya. Tak peduli siang atau malam. Aku terus berlatih. Hanya berhenti untuk ketika waktunya streaming, makan, mandi, dan tidur.
Kecanduanku tetap masih ada. Namun, intensitasnya berkurang. Aku mulai keluar dari rumah, berlatih sihir di halaman. Game-game yang biasanya aku mainkan setiap hari, terkadang aku tinggalkan. Video game yang dulu aku anggap menarik tiada duanya, sekarang kalah menarik oleh permainan sihir.
Jika rutinitas ini terus berlanjut dengan lancar, aku merasa positif bisa menyelesaikan kecanduanku ini. Terlebih lagi, dengan mendekatnya waktu tes masuk akademi sihir. Aku harus menambah porsi latihanku.
“Fiuuuhh…”
Air hangat meresap ke pori-pori kulit. Melemaskan otot-ototku yang pegal. Melepaskan lelah. Berendam air hangat setelah latihan keras sungguh sangat melegakan. Bersyukur sekali diriku dengan rumah peninggalan almarhum nenekku ini. Fasilitasnya lengkap.
Seperti kata orang, waktu berlalu dengan cepat ketika aku memfokuskan diri kepada sesuatu. Ujian masuk akademi sihir terhitung sekitar empat bulan lagi. Artinya, 2 bulan telah berlalu sejak aku mengenal sihir. Berkat buku sihir itu, latihanku berjalan dengan lancar.
Level ether-ku meloncat jauh. Aku tidak menahu tepatnya karena aku tidak memiliki alat ukur level ether. Tapi aku bisa mengira dengan memperhatikan seberapa besar gerbang ether-ku yang terbuka. Ketika mengeceknya, sekitar 60 persen gerbang ether-ku telah terbuka. Yang artinya level ether-ku memasuki level 60-an. Level di mana seseorang mulai diperbolehkan menggunakan sihir-sihir tingkat tinggi.
Sayangnya, aku belum mencoba banyak sihir-sihir tersebut. Tidak, bukan karena aku tidak bisa melakukannya. Hanya saja, tidak ada tempat memadai untuk menggunakan sihir tingkat tinggi yang umumnya memiliki skala yang luas. Pertama kali aku menggunakan sihir tingkat tinggi, aku nyaris memorak-porandakan halaman depan. Aku merinding meski saat ini tengah berada di bak air hangat mengingat memori itu. Sepertinya aku harus pergi ke arena latihan markas sihir besok.
“Oh ya, omong-omong mengenai markas sihir, bagaimana kabar Mbak Katrin, ya?” kataku bertanya sendiri.
Saking fokusnya diriku dengan sihir dari buku itu, sampai-sampai aku lupa dengan kunjungan rutin ke markas sihir. Jika bukan karena tak adanya tempat latihan yang memadai untuk menggunakan sihir tingkat tinggi, mungkin bisa saja aku baru mengingat keberadaan markas sihir sebulan lagi.
“Wajah seperti apa yang akan Mbak Katrin buat melihat perkembanganku ini?” Imajinasiku mulai bermain. Membayangkan wajah kaget Mbak Katrin. “Hehe, semoga menarik.”
Aku cengar-cengir membayangkannya. Sihir apa yang cocok untuk kejutan ini? Daftar nama-nama sihir muncul di kepalaku. Aku memilahnya satu-persatu. Mencari sihir yang tepat untuk sebuah pertunjukan kejutan. Lima belas menit sendiri aku memikirkan itu. Aku puas memutuskan sihirnya tepat saat kantuk mulai menyerang. Aku lekas keluar dari bak hangat.
“Hmm?”
Tepat saat melewati cermin kamar mandi, aku merasa ada bayangan hitam yang bergerak dengan cepat dalam cermin. Tapi, ketika aku menoleh ke arah kaca, yang ada hanyalah bayanganku sendiri.
“Perasaanku saja paling…” gumamku dengan cepat melupakannya. Tanpa kusadari, dari dunia sebelah, ada mata yang mengawaiku.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments