Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir

Keesokan harinya, Aku dan Luna keluar dari kediaman kami.

Sengat matahari dengan rianya menyoroti kami. Di siang bolong tanpa payung awan yang melindungi, jalan kaki menuju halte bus menjadi seperti sebuah siksaan. Tapi, adik perempuanku, Luna sama ria-nya dengan sinar matahari hari ini. Dia berlompat-lompat kecil sambil bersenandung. Seakan, sengatan matahari hanya sebuah vitamin untuk energinya.

"Ayo kak, jangan lelet lah!" teriak Luna jauh di depanku. Aku berjalan tertatih-tatih mendekatinya. Topi yang kupakai tidak membantu meredakan panas terik siang ini. Aku sedikit menyesal tidak memikirkan isi lemariku. Jaket hoodie hitam yang kupakai mengabaikan fungsinya sebagai pakaian. Malahan, panas yang diserap pakaian hitam ini mirip dengan oven. Memanggang tubuhku. Bukan niatku untuk memakai pakaian hitam di siang bolong seperti ini. Sayangnya, baju-baju lamaku sudah habis masa pakainya, kusam semua, menyisakan hoodie hitam ini.

"Aduh Lun, jangan buru-buru gitu dong. Kamu tau sendiri staminaku turun drastis karena selalu di rumah. Kenapa nggak pakai skuter listrik saja?" Aku duduk di bayangan pohon, mengusap keringat yang deras bercucuran sejak tadi.

"Justru karena itu kita jalan kaki, kak. Kalau tidak, bisa ikut lumutan ini kaki." Luna ikut menepi. Sneakers-nya menendang-nendang pelan kaki yang sedang aku selonjorkan. Aku meliriknya, Luna sama sekali tidak terlihat capek. Hanya satu-dua keringat yang menempel di kulit putihnya. Dia memakai kaos pendek putih bermotif dengan outwear jaket parka dan celana chino pendek. Rambut khasnya yang dikuncir ditutupi sebagian oleh topi. Style-nya terlihat nyaman untuk beraktivitas. Mungkin seperti inilah yang namanya gadis perkotaan. Fashionable.

"Kan nggak harus siang bolong gini juga? Tadi pagi atau nanti sore kan lebih enak keluarnya?" tanyaku.

"Lagi pingin aja," balasnya ketus, "Lagian, siapa yang tadi pagi dibangunkan cuman membatu kayak patung, heh?"

Aku memalingkan muka. Semalam aku tidak bisa tidur. Alhasil, paginya, aku tak bisa menolak kebutuhan tubuhku dan pergi ke dunia mimpi. Hingga satu jam sebelum matahari mencapai puncaknya, aku baru bangun.

"Well, apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Yuk, lanjut jalannya!" Aku meneguk air dari botol kemudian berdiri. Hendak berjalan.

"Wait, kak!" Luna menghentikanku sebelum aku bisa melangkah. Aku menatapnya tapi dia malah memejamkan matanya. Berdiri santai. Aku keheranan dengan tingkahnya. Sedetik kemudian, aku merasakan angin berputar di sekitar kami. Luna berkomat-kamit. Dan, berseru pelan, "Refresh."

Angin sepoi berkumpul meliuk di tubuh kami berdua. Berputar sebentar lalu menghilang. Sekejap, rasa capekku ikut menghilang. Seolah-olah angin sepoi tadi membawa pergi semua capek itu.

"Eh?" ucapku keheranan. Aku bergantian menatap tanganku dan Luna. Ini kedua kalinya, aku melihat sihir secara langsung. Aku tak menyangka Luna bisa menggunakan sihir untuk hal biasa seperti ini. Mengingatkanku kembali bahwa yang aku tahu tentang sihir masih segelintirnya saja.

Luna mengangkat kedua bahu dengan santainya dan lanjut berjalan. Dengan tubuh yang kembali segar, aku mengikutinya.

Sepuluh menit berjalan, halte bus akhirnya terlihat. Daerah rumah nenek kami cukup terpelosok. Terletak di kaki gunung, jarak menuju pusat kota terdekat hampir satu jam perjalanan. Akses kendaraan umum yang ada hanyalah bus dan jadwal keberangkatannya pun 3 kali sehari.

Untungnya siang ini ada bus yang sedang mengetem di sana, kami langsung ikut menaikinya. Aku memilih salah satu kursi dan Luna duduk di sampingku.

Aku mengeluarkan ponselku, mengecek jam. 12:34. Tujuan kami berada di pusat kota. Sekitar 30 menit perjalanan sebelum berganti bus di terminal. Waktu yang cukup untuk melanjutkan tidurku. Namun sayangnya, trip ke pulau kapuk tertunda oleh notifikasi di ponselku.

Amex menge-chat aku.

[Bagaimana video bonus kemarin, Zen?] tanyanya melalui aplikasi chat D.

[Thanks to you I couldn't sleep last night. But… berkat video itu aku akhirnya dapat memutuskan tujuanku.]

[Oh! That's good! Sepertinya kita memiliki tujuan yang sama lagi.]

Aku tersenyum kecil membaca jawaban Mex.

[Yeah, siapa sangka ada tempat fantastis seperti itu di dunia ini. Aku yakin siapa pun yang melihat video itu pasti juga akan berkeinginan pergi ke sana.]

[Let's meet once we get there.] Kali ini jawaban Mex membuat mataku melebar. Ide itu belum pernah terpikirkan olehku. Jika kami memiliki tujuan yang sama, maka tak bisa dipungkiri bahwa kemungkinan kami untuk bertemu sanggatlah tinggi. Senyumku melebar membayangkan bagaimana nanti pertemuan pertama kami.

[Yeah.]

[It's a promise then.] Aku berhenti mengetik. Merenung sebentar lalu mantap membalas.

[Yeah, I promise.]

Amex membalas dengan mengirimku gambar animasi bergerak seorang anak laki-laki melemparkan kedua tangannya ke atas, kegirangan.

"Lihat apa, kak? Kok, senyum-senyum sendiri?" Luna menyahut dari sampingku. Dia mencoba melirik layar ponselku. Aku langsung mematikan layarnya.

"Cuman lagi chat sama teman."

"Eh? Kamu punya teman, kak? Tak kusangka..." ejeknya.

"Ya iyalah, meski cuman secara online sih..." Tapi, teman online-ku yang satu ini lebih baik daripada teman yang mengabaikanku dulu. Lagian, cap online ini sebentar lagi juga menghilang saat kita bertemu.

"Lagi bahas apa emangnya?" Luna menimpali.

Aku berkontemplasi apakah akan menunjukkan video bonus kemarin kepada Luna tapi akhirnya mengalah. Berpikir bahwa seharusnya Luna sudah mengerti tentang informasi itu mengingat keahliannya di bidang sihir.

Video bonus tersebut berisi vlog seorang Youtuber asing yang berkesempatan berkunjung ke pusat para penyihir. Terletak di tengah samudera terluas di dunia, kota sihir dibangun di Kepulauan Melayang di tengah-tengah samudera biru. Kumpulan pulau-pulau kuno yang melayang di atas langit. Sebagian pulau mengambang beberapa ratus meter di atas samudera, dan sebagian yang lain berlayar di atas lautan awan putih.

Kota sihir tersebut menjadi bukti bahwa sihir telah ada sejak zaman kuno. Bagaimana mereka menyembunyikan pulau-pulau tersebut hingga saat ini? Jawabannya mudah, pasti dengan sihir. Kepulauan tersebut disembunyikan oleh sihir kuno kompleks raksasa yang menyebabkan mata tidak bisa melihatnya. Bahkan teknologi canggih negara termaju pun tertipu oleh sihir kuno ini.

Vlogger asing itu berkesempatan untuk datang ke kepulauan tersebut dan memperlihatkan seluruh penjuru kota sihir. Pusat kota terletak di pulau dengan ukuran terbesar berisi bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur unik nan aneh. Di sekitarnya, pulau-pulau yang lebih kecil mengelilingi pusat kota. Yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan dengan campuran teknologi sains modern dan sihir yang masih dalam masa pembangunan. Ada juga pulau yang bebas dari pembangunan. Membiarkan alam mengatur dirinya sendiri. Flora dan Fauna eksotik bebas berkeliaran di sana.

Semua itu dibungkus oleh video grafi profesional. Membuat video itu menjadi top trending hingga saat ini. Namun, bukan itu semua yang membuatku tidak bisa tidur. Bagian akhir video tersebutlah yang membuatku paling tertarik. Yang memperlihatkan seorang penyihir tua mengumumkan pembukaan sekolah sihir. Pemuda-pemuda bertalenta seluruh dunia nantinya akan di tes. Yang terpilih berhak menjadi murid di sekolah-sekolah sihir tersebut. Dan seluruh biaya ditanggung oleh asosiasi sihir. Itu artinya, aku bisa pergi ke kota sihir sekaligus menjadi murid di sana secara gratis. Tawaran yang sangat menggiurkan terutama untukku yang berhenti sekolah.

Selesai menonton video tersebut, aku bertanya kepada Luna, "Kamu sudah pernah menonton video ini, Lun?"

Luna menggelengkan kepalanya, "Belum, kak. Tapi, untuk pengumuman sekolah sihir, aku sudah tau sejak lama," ungkapnya.

"Oh? Jadi kamu juga berkeinginan pergi ke kota sihir, Lun?"

"Pastinya, itu hampir menjadi alasan kebanyakan pemuda saat ini untuk mempelajari sihir. Persaingannya sangat ketat, bahkan persentase keberhasilannya sangat rendah. Dengan persentase satu dibanding 100.000. Jauh melebihi persaingan untuk memasuki univ-univ terkenal."

Aku meneguk ludah. Aku tahu tujuanku akan amat susah dicapai. Tapi mendengar faktanya secara langsung membuat kepala pusing memikirkannya.

"Kamu yakin ingin ikut tesnya tahun ini, kak?"

"Iya, emang kenapa?"

"Waktu hingga tes dimulai tersisa kurang dari enam bulan loh..." Luna mengingatkan.

Ugh... I knew that. Kemarin malam aku sudah mencari info tentang tesnya. And oh boy... peluangku untuk berhasil jauh di bawah yang lain. Seperti kata Luna, kebanyakan pemuda yang lain pastinya mempersiapkan tes tersebut jauh berbulan-bulan yang lalu. Aku tertinggal jauh dari mereka. Parah sekali nih...

'No! no...! Jangan malah patah semangat lu, Zen! Mulai aja belum, kok sudah nyerah? Ingat! Baru beberapa menit lalu dirimu berjanji dengan Amex untuk bertemu di sana. Apa janjimu sebatas itu omongan saja?! Kalau begitu, dirimu tidak ada bedanya dengan teman-teman yang meninggalkanmu dulu.'

"Akan aku usahakan sekuat tenaga." Hanya itu yang bisa aku ucapkan kepada Luna. Aku tidak punya bekal, rencana, atau apa pun itu. Tapi, deklarasiku tadi memantapkan tekadku untuk berjuang sekali lagi. Untuk mengubah keadaanku, untuk mencapai tujuanku, dan untuk memenuhi janjiku.

"Heeh~ Aku nantikan perjuanganmu, kak."

Perjalanan berlangsung dengan lenggang setelah itu. Dengan otakku yang sekali lagi, penuh dengan pikiran.

...___...

Aku melompat turun dari bus, Luna menyusul di belakangku. Kami telah sampai tujuan–setelah harus pindah bus dua kali. Sebuah bangunan kayu elok berdiri di depan kami. Sebuah keganjilan mencolok di tengah kota yang penuh dengan pohon-pohon besi. Aku mendongak menatap atapnya. Nama tempat ini tertempel dengan jelas di atap, memantulkan sinar matahari.

'Magic Association.'

Atau yang biasa dikenal sebagai Markas Asosiasi Penyihir. Asosiasi penyihir ini memiliki lebih dari seribu cabang yang terletak di kota-kota besar tersebar di seluruh dunia. Juga terdapat cabang-cabang kecil lainnya di tempat strategis-strategis yang berkaitan dengan sihir.

"Hmm... Tidak jauh berbeda dari yang berada di ibukota negara," komentar Luna. Luna memberitahuku bahwa hampir semua cabang markas sihir memang dibuat mirip.

Bangunan khasnya yang dominan terbuat dari kayu memberi kesan unik bagi pengunjung. Dinding kayu, lantai kayu, jendela kayu, pintu kayu, hampir semua bagiannya terbuat dari kayu yang berbeda jenis. Bahkan papan nama yang tertempel di atap juga terbuat dari kayu khusus, yang bisa memantulkan sinar matahari. Tumbuh-tumbuhan hijau membungkus bangunan tersebut. Terutama pohon besar yang menerobos telapat di pusat bangunan. Ranting-rantingnya yang kekar menjadi atap alamiah, cabang batangnya menjadi fondasi lantai atas bangunan tersebut, dan akar-akarnya merambat menghiasi bangunan. Yang lebih menarik yaitu sulur-sulur pohon tersebut yang berjumlah ribuan.

Ini pertama kalinya aku melihat pohon jenis ini dan sebesar ini. Pohon beringin yang berumur tua pun kalah dengan satu ini. Ketika aku menanyakan kepada Luna pohon jenis apa ini, dia menjelaskan bahwa pohon tersebut merupakan jenis pohon kuno yang dibudidayakan menggunakan sihir.

Ke markas markas sihir inilah seseorang akan pergi jika ingin pertama kali menggunakan sihir. Bukan hanya karena markas sihir berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para penyihir. Ada beberapa persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebelum bisa menggunakan sihir. Dan itu hanya bisa didapatkan di tempat ini.

Kami berdua memasuki bangunan tersebut melalui pintu kayu. Aku menengok sekitar, tempat ini cukup meriah. Meja dan kursi tersebar di sebelah kanan dan kiri pintu masuk, dengan berbagai macam kelompok menempatinya. Tepat lurus dari pintu masuk terdapat loket-loket. Kami mendekati loket yang kosong.

Seorang resepsionis menyambut kami dengan senyum ramah dari balik loket kayu.

"Selamat datang di 'Magic Association.' Apa ada yang bisa kami bantu?"

"Kami ingin injeksi Ether pertama," jawab Luna mengambil alih percakapan.

"Untuk siapa injeksi ini? Apakah Anda berdua?"

"Tidak, saya sudah melaksanakannya. Kali Ini untuk kakak saya." Luna lalu menunjukkan telapak tangannya kepadaku yang berdiri di belakangnya. Aku mendekati loket.

"Silakan isi formulir ini terlebih dahulu." Mbak resepsionis memberiku sebuah kertas dan pulpen. Formulir itu mempertanyakan data diriku ditambah beberapa pertanyaan mengenai kesehatan. Aku menyelesaikannya dengan cepat dan segera menyerahkannya kembali.

"Mohon tunggu sebentar, saya akan menginformasikan tim kami." Mbak resepsionis berdiri dari loketnya dan beranjak pergi.

"Kelihatannya cukup normal," bisikku kepada Luna. Dibalik keunikan tempat ini, mereka memberikan pelayanan yang cukup biasa. Aku kira dengan adanya sihir, mereka akan menunjukkan sesuatu yang baru yang membuat orang terpesona.

"Ada alasan dibalik itu," timpal Luna menjelaskan, "jikalau semua hal yang berhubungan dengan sihir harus dilakukan dengan sihir pula, orang-orang baru pertama kali datang ke Guild akan dibuat bingung oleh hal-hal seperti itu."

'Masuk akal juga,' pikirku dalam hati. Mbak resepsionis kembali ke loketnya selagi kami bercakap.

"Baik, dengan saudara Zen, ya? Saya akan menjelaskan apa itu injeksi mana selagi menunggu tim kami mempersiapkan alat injeksinya. Sebelum itu, apakah saudara Zen mengerti apa itu Ether?"

Aku menggeleng. Sebetulnya, aku telah mengerti dari hasil searching kemarin. Tapi, aku ingin mengetes apakah yang telah aku pahami sama dengan apa yang dijelaskan oleh mbak resepsionis.

"Seperti yang Anda tahu dari berita, pandemi yang penyebab awalnya dikira hanya sebuah virus ternyata perkiraan itu salah besar. Penyebab aslinya ternyata adalah sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang gaib. Sebuah energi baru yang disebut Ether. Dan sesuatu yang gaib tersebut pastinya memiliki efek bagi manusia. Umat manusia berevolusi.

"Ether sebagai energi gaib yang tersebar di seluruh bumi, tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Manusia yang berkontak langsung dengan ether akan berevolusi. Membuka suatu organ sihir yang dorman dalam tubuh manusia. Sehingga menjadikan manusia mampu melihat ether. Kami menyebut organ sihir tersebut sebagai gerbang ether. Tetapi, evolusi manusia tidak tanpa risiko. Saat proses evolusi tersebutlah, umat manusia, yang telah lama tak disentuh oleh ether, mengalami penolakan terhadap ether. Menjadikan manusia sakit dalam prosesnya yang tak jarang berakibat kematian. Dan ketika dilihat dari luar, seolah-olah seperti ada penyakit mematikan yang sedang menyerang.

"Pada awalnya, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dunia ini. Baru setelah sihir dikenalkan, umat manusia mengerti betapa esensialnya ether. Sebagai energi penggerak sihir, pemelekan informasi mengenai ether mulai digalakkan. Untuk menjalankan sihir, tidak cukup seseorang bagi seseorang hanya sekedar bisa melihat ether. Tubuh mereka harus terbiasa dengan mana untuk menggerakkan energi gaib tersebut."

Mbak resepsionis berhenti mengambil nafas kemudian melanjutkan penjelasan mengenai injeksi.

"Manusia yang berhasil bertahan hidup setelah kontak pertama dengan ether perlu membiasakan diri dengan ether. Ada dua cara supaya manusia terbiasa dan dapat menggerakkan ether serta membuka gerbang ether-nya secara penuh. Cara pertama secara natural, tubuh manusia yang telah membuka gerbang ether secara perlahan mengumpulkan ether yang tersebar bebas di atmosfer. Meskipun cara natural ini terbukti aman, cara ini memakan waktu yang lama. Butuh waktu lima tahun bagi seseorang untuk membuka penuh gerbang ether-nya, dan itu belum dihitung lama waktu seseorang tersebut untuk belajar mengendalikan ether. Terlebih lagi, untuk beberapa kasus manusia yang memiliki tubuh khusus, waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi.

“Untuk individu biasa, jumlah ether yang ada dalam tubuh mungkin tidak akan mempengaruhi kehidupan mereka. Tapi, bagi penyihir atau seseorang yang ingin belajar sihir, besar-kecilnya gerbang ether yang terbuka sangatkah vital untuk mereka. Jelas saja, penyihir harus menggunakan energi ether untuk mengaktifkan sihir mereka dan jenis sihir yang mereka gunakan dapat bergantung pada jumlah ether yang mereka miliki.

"Nah, seperti yang kalian duga, untuk mempercepat proses itu, cara kedua diciptakan. Cara artifisial ini merupakan hasil penelitian penyihir-penyihir tua di Kepulauan Melayang yang sudah mengenal ether sebelum pandemi terjadi. Dengan menyuntikkan ether ke dalam tubuh manusia dengan dosis tertentu, tubuh manusia dapat lebih cepat membiasakan diri dengan mana.

"Hanya saja, sama seperti pada awal proses evolusi gerbang ether, cara ini memiliki efek samping. Untuk membiasakan diri dengan cepat, tubuh harus memprioritaskan proses tersebut. Melemahkan fungsi tubuh yang lain sebagai gantinya. Sejauh ini, tidak ada korban jiwa dalam pelaksanaan cara artificial. Meski kecil, resiko kematiannya tetap ada, apakah saudara Zen tetap ingin melanjutkan injeksi mana setelah mengetahui hal ini?” Mbak resepsionis memastikan keputusanku dengan wajah serius.

"Ya." Aku mengangguk mantap. Tidak mungkin aku menarik keputusanku setelah berjanji dengan Amex. Aku tidak ingin melarikan diri lagi. Selain itu, aku ingin menjadikan sihir ini sebagai ajang perubahan. Untuk merubah diriku ini yang bobrok. Menggerakkan kembali roda kehidupan yang ada dalam diriku.

"Baik, kalau begitu silahkan ikuti saya." Mbak resepsionis sekali lagi berdiri. Aku dan Luna mengikutinya. Menuju sebuah ruangan dengan pintu besi. Pemandangan yang ganjil di bangunan penuh dengan kayu ini.

___

Terpopuler

Comments

Shibuya Luxi

Shibuya Luxi

Aku udah rekomendasiin cerita ini ke temen-temen aku. Must read banget!👌🏼

2023-12-27

2

lihat semua
Episodes
1 Prolouge Vol 1 - Ujian hidup awal mula dirimu
2 Vol 1 Chapter 1 - Adakah Kakak yang teringgal jauh dari Adiknya?
3 Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"
4 Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir
5 Vol 1 Chapter 4 - Waking up in another world? Surely not, right?
6 Vol 1 Chapter 4.5 - Dibalik Sebuah Kejadian
7 Vol 1 Chapter 5 - Belajar sihir yuk!
8 Vol 1 Chapter 6 - Collab Streaming
9 Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)
10 Vol 1 Chapter 8 - Belajar sihir yuk!!! (3)
11 Vol 1 Chapter 9 - Ranking
12 Vol 1 Chapter 9.5 - Pertemuan Mereka
13 Vol 1 Chapter 10 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (1)
14 Vol 1 Chapter 11 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (2)
15 Vol 1 Chapter 12 - Duel (1)
16 Vol 1 Chapter 13 - Duel (2)
17 Vol 1 Chapter 14 - Duel (3)
18 Vol 1 Chapter 15 - Indeed, I'm in another world
19 Vol 1 Chapter 15.5 - Aftermath
20 Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (1)
21 Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (2)
22 Prolouge Vol 2 - Perjalan hidupmu dimulai saat kamu membuka mata
23 Vol 2 Chapter 1 - A Challenge
24 Vol 2 Chapter 2 - The journey begin
25 Vol 2 Chapter 3 - Krisis Dadakan
26 Vol 2 Chapter 3.5 - Pertanda
27 Arc 2 Chapter 4 - Pak Pamungkas
28 Vol 2 Chapter 5 - Perkakas Sihir
29 Vol 2 Chapter 6 - Menu Spesial Kamp Hunter
30 Vol 2 Chapter 7 - Sihir itu teknologi
31 Vol 2 Chapter 8 - Chilhood Friends
32 Vol 2 Chapter 9 - An Invisible hand
33 Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)
34 Vol 2 Chapter 10 - Latihan
35 Vol 2 Chapter 11 - How many points do you want?
36 Vol 2 Chapter 12 - Latihan (2)
37 Vol 2 Chapter 13 - Rumor
38 Vol 2 Chapter 14 - Misi (1)
39 Vol 2 Chapter 15 - Hunter Tameng Perak
40 Vol 2 Chapter 16 - The Power of Mom!
41 Vol 2 Chapter 16.5
42 Vol 2 Chapter 17 - Latihan (2)
43 Vol 2 Chapter 18 - The One Behind The Mysterious Hand
44 Vol 2 Chapter 19 - The Importance of Health
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Prolouge Vol 1 - Ujian hidup awal mula dirimu
2
Vol 1 Chapter 1 - Adakah Kakak yang teringgal jauh dari Adiknya?
3
Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"
4
Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir
5
Vol 1 Chapter 4 - Waking up in another world? Surely not, right?
6
Vol 1 Chapter 4.5 - Dibalik Sebuah Kejadian
7
Vol 1 Chapter 5 - Belajar sihir yuk!
8
Vol 1 Chapter 6 - Collab Streaming
9
Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)
10
Vol 1 Chapter 8 - Belajar sihir yuk!!! (3)
11
Vol 1 Chapter 9 - Ranking
12
Vol 1 Chapter 9.5 - Pertemuan Mereka
13
Vol 1 Chapter 10 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (1)
14
Vol 1 Chapter 11 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (2)
15
Vol 1 Chapter 12 - Duel (1)
16
Vol 1 Chapter 13 - Duel (2)
17
Vol 1 Chapter 14 - Duel (3)
18
Vol 1 Chapter 15 - Indeed, I'm in another world
19
Vol 1 Chapter 15.5 - Aftermath
20
Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (1)
21
Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (2)
22
Prolouge Vol 2 - Perjalan hidupmu dimulai saat kamu membuka mata
23
Vol 2 Chapter 1 - A Challenge
24
Vol 2 Chapter 2 - The journey begin
25
Vol 2 Chapter 3 - Krisis Dadakan
26
Vol 2 Chapter 3.5 - Pertanda
27
Arc 2 Chapter 4 - Pak Pamungkas
28
Vol 2 Chapter 5 - Perkakas Sihir
29
Vol 2 Chapter 6 - Menu Spesial Kamp Hunter
30
Vol 2 Chapter 7 - Sihir itu teknologi
31
Vol 2 Chapter 8 - Chilhood Friends
32
Vol 2 Chapter 9 - An Invisible hand
33
Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)
34
Vol 2 Chapter 10 - Latihan
35
Vol 2 Chapter 11 - How many points do you want?
36
Vol 2 Chapter 12 - Latihan (2)
37
Vol 2 Chapter 13 - Rumor
38
Vol 2 Chapter 14 - Misi (1)
39
Vol 2 Chapter 15 - Hunter Tameng Perak
40
Vol 2 Chapter 16 - The Power of Mom!
41
Vol 2 Chapter 16.5
42
Vol 2 Chapter 17 - Latihan (2)
43
Vol 2 Chapter 18 - The One Behind The Mysterious Hand
44
Vol 2 Chapter 19 - The Importance of Health

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!