Kacau. Itulah yang kurasakan saat memasuki Guild. Manusia mondar-mandir kesana-kemari. Petugas markas sihir berlarian. Penyihir-penyihir saling bersahutan satu sama lain. Suasana yang berkebalikan dari biasanya. Tidak ada sambutan ramah resepsionis. Tidak ada kelompok penyihir yang berkumpul berdiskusi di pojokan. Semua orang terlihat panik.
Aku melihat Mbak Katrin di balik bilik resepsionis. Sibuk mengerjakan tumpukan dokumen. Aku berjalan mendekatinya.
“Umm… P-permisi, Mbak Katrin,” sapaku dengan sedikit gugup. Suasana yang berbeda dari biasanya ini juga mempengaruhiku.
Mendengar namanya dipanggil, sang resepsionis mengangkat kepalanya dari dokumen. Matanya berkedip-kedip melihatku, “Oh! Dik Zen rupanya. Maaf Mbak harus menyambutmu dalam keadaan seperti ini setelah lama tak bertemu. Ada sedikit masalah di markas sihir. Apa ada yang bisa Mbak bantu hari ini?” balas Mbak Katrin tetap ramah dibalik kesibukannya.
Aku hendak menyebutkan tujuanku datang ke Guild tapi langsung aku urungkan niat itu. Melihat keadaan markas sihir saat ini, jelas-jelas masalah yang dihadapi tidak hanya sekedar sedikit seperti kata Mbak Katrin. Apapun itu, jika bisa membuat markas sihir kacau, pastinya ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
“Aku ingin melaporkan perkembangan sihirku, tapi sepertinya waktunya sedang tidak tepat. Besok, aku akan kembali ke sini lagi,” terangku.
“Hahaha, yah... bisa Dik Zen lihat sendiri…” Mbak Katrin tersenyum, mencoba menyembunyikan keadaannya. Namun, kerut lelah jelas terpampang di wajahnya, “Memang, hari ini Mbak tidak bisa membantumu. Tapi, masih ada petugas guild lain yang bisa membantumu kok. Bagaimana?”
“Nggak usah, Mbak. Mending lain kali saja saat keadaannya sudah kembali normal. Lagian, aku lebih nyaman kalau Mbak Katrin yang melihat perkembanganku,” jawabku jujur. Kalau bukan Mbak Katrin yang melihat percuma saja aku datang ke sini.
“Oya? Setelah lama tidak bertemu sekarang kamu mencoba untuk menggoda balik saya, heh? Boleh juga kamu. Sebagai hadiah, Mbak akan menjawab satu pertanyaanmu.”
“Kalau begitu, apa yang terjadi disini?” tanyaku to the point.
Mbak Katrin mengangkat tangannya ke dagu, berpikir sebentar, lalu menghela nafas, “Baiklah… Cepat atau lambat Dik Zen juga bakal dapat kabarnya, lebih baik Mbak langsung beritahu sekarang juga ketimbang nanti kamu mencoba mengorek informasi sana-sini karena penasaran."
Mbak Katrin mengambil nafas jeda kemudian menjelaskan, "Sebenarnya, di suatu daerah, sekitar setengah jam perjalanan dari sini. Ada laporan penggunaan banyak sihir terlarang.”
“Sihir terlarang?” tanyaku dengan nada khawatir. Keresahan mulai menggerogoti tubuhku mendengar dua kata ini. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku mengingat semua peringatan yang akhir-akhir ini aku terima tentang sebuah buku.
“Ya, sihir yang berasal dari sebuah buku sihir.”
Deg! Mendengar kata ‘buku sihir’, jantungku berdegup kencang. Aku mengingat buku sihir yang ada di tasku. Keringat dingin bercucuran. 'Pastinya bukan buku itu, kan?' Aku berharap dalam hati.
“Apa buku sihir itu memiliki nama ‘Devil Guide’, Mbak?”
“Eh? Bagaimana kamu bisa tahu nama buku itu–” Mbak Katrin awalnya terlihat kaget, tapi segera mengetahui maksud dari pertanyaanku, “Jangan-jangan?!”
Aku tak berkata, hanya mengangguk pelan. Tanganku gemetaran meraih slerekan tas selempang. Tanganku luput memegang ujung slerekan saking gugupnya. Sekali, dua kali, akhirnya, di yang ketiga baru aku berhasil membuka tas. Lalu mengeluarkan isinya. Sebuah buku dengan cover hitam. Nama buku itu mengkilap di tengah-tengah cover buku. Buku sihir Devil Guide tergenggam di tanganku.
“...!!!”
Mbak Katrin berteriak bisu. Andai saja keadaanya bukan seperti ini, aku sudah memenuhi salah satu target tujuanku ke Guild. Tapi, alamak, sepertinya aku dalam masalah besar hari ini.
“Darimana kamu mendapatkan buku itu?”
Suara berbeda menyahut dari kejauhan. Suara yang familiar aku dengar. Sekejap ruangan mendadak sunyi mendengar suara itu. Seperti ada tekanan yang menghambat oksigen di tenggorokan semua orang. Bahkan, udara sendiri terlihat beku oleh tekanan tersebut.
“Darimana kamu mendapatkan buku sihir itu?”
Suara itu mengulang pertanyaannya. Seluruh pandangan menengok sumber suara. Seorang gadis berambut hitam panjang yang terurai menjadi sasaran seluruh pandangan. Seragam bertema putih bergaris hitam yang dipakainya terlihat kontras di tempat penuh kayu ini. Membuat gadis itu seolah-olah penguasa ruangan. Langkah sepatu boots-nya menggema di ruangan. Berjalan pelan mendekatiku. Rok selutut bergaris-garis hitam bergoyang mengikuti langkah kaki si gadis. Blazer putih melapisi lekuk tubuhnya. Di pundak kanannya tergantung oleh sebuah jubah. Sebilah pedang terikat di pinggangnya, yang hanya malah menambah cekam suasana dengan kilau keberadaannya.
Luna, adik perempuanku, terlihat sangat berbeda. Wajah cantiknya, yang biasanya menjengkelkan, kali ini terlihat super serius. Dia berhenti satu meter di depanku.
“Aku tanya sekali lagi, Darimana kamu mendapatkan buku sihir Devil Guide itu?” tanyanya dengan nada rendah. Namun, di telingaku pertanyaan itu lebih seperti perintah mutlak dari seorang putri.
Aku membungkam. Tak kuasa menjawab. Selain karena tekanan yang aku rasakan, aku bingung harus menjawab bagaimana. 'Ehehe, kakak nggak sengaja membelinya online.' Seratus persen pedang di pinggang Luna akan melesat dari sarungnya jika aku menjawab seperti itu sambil garuk-garuk kepala.
“BWAHAHA-HAHA.”
Tawa keras memecah cekam. Aku merinding. Hanya orang sinting yang berani-beraninya tertawa lepas dalam suasana ini. Aku membuka lebar-lebar telingaku untuk mencari orang sinting tersebut. Dan ternyata-oh-ternyata orang sinting itu adalah diriku. Tawa itu keluar dari mulutku.
'Eh?'
“Well, well, well, beruntung sekali hamba ini bertemu dengan Putri Bulan yang menawan. Senang bertemu denganmu wahai putri,” ucap mulutku.
'Eeehhhhhh??! Tubuhku bergerak sendiri? No! No way! Gak mungkin ini terjadi, kan?!'
Tubuhku menaruh tangannya di dada dan membungkuk. Berakting seolah seorang pelayan rendahan di hadapan sang putri selagi pikiranku bingung sendiri. Gawat Oii! Masalahnya ternyata lebih besar dari yang aku bayangkan. Ada yang mengambil alih tubuhku! Aku mencoba menggerakkan mulutku untuk memberitahu yang lain bahwa yang mengendalikan tubuhku bukan diriku tapi mulutku tak menurutiku. Aku terkunci dalam tubuhku sendiri. Menonton si pengendali menggerakkan tubuhku.
“Oh my… Senang bertemu denganmu juga wahai Devil,” balas Luna dengan wajah terkejut–yang aku tahu dia juga berakting pura-pura terkejut berkat pengalamanku dengannya–sejatinya dia seperti sudah menebak bahwa hal ini akan terjadi, “Aku tersanjung jika Devil bangsawan sepertimu menyanjungku setinggi itu.”
“Pastinya. Siapa juga yang tidak kenal dengan Putri Bulan, Luna Celare, sang penyihir ranking satu di negara ini?”
'Ada dong. Buktinya, kakaknya sendiri baru saja tahu tentang kepopuleran si adik,' pikirku menjawab pertanyaan dari mulutku sendiri.
Aku menatap sang penyihir rangking satu. Apa yang disampaikan oleh Mex ternyata benar. Gadis genius dalam rumor itu adalah adikku, Luna. Aku menjadi yakin setelah melihat seragam keren yang dikenakan olehnya dan aura kekuasaan yang dikeluarkannya tadi, saat Luna membungkam seisi ruangan hanya dengan satu kalimat pertanyaan.
Luna tersenyum palsu menghadapiku–atau lebih tepatnya menghadapi apa yang mengendalikan tubuhku. “Lalu? Ada urusan apa Devil bangsawan sepertimu denganku? Sayang sekali aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu,” ucapnya dengan nada mengancam. Kedua tangannya di pinggang, telah bersiap mengeluarkan pedang.
“Waduh, jangan terburu-buru begitu, Putri. Aku hanya ingin bercakap dengan gadis genius yang telah mengalahkan banyak rekan-rekanku,” balas si Devil, menghiraukan ancaman Luna. Berkebalikan dengan aura yang dikeluarkan Luna, diriku terlihat santai nan riang.
“Kau tidak berpikir untuk mengulur waktu dengan ini, kan? Untuk rekan-rekanmu yang mengacau di luar sana.”
“Ah, Mereka? Mana mungkin. Meskipun dalam bahasa manusia mereka termasuk dalam kata ‘rekanku’, aku tidak punya hubungan dengan mereka. Mereka rendahan.”
Percakapan berjalan tanpaku bisa mencerna apa yang mereka berdua bicarakan. Apa percakapan mereka ada hubungannya dengan kekacauan guild hari ini? Kalau begitu, apa yang terjadi?
“Seperti biasa, kalian Para Devil memang sulit dimengerti." Luna memijat urat kepalanya, wajahnya terlihat sedikit kesal. "So? What do you want? Cepat katakan maksud kemunculanmu. Karena, tubuh yang kau rasuki itu merupakan tubuh kakakku.”
“Si bodoh ini? Kakak dari Putri Bulan?" Si devil bertanya, tak percaya. "Engkau tidak sedang bercanda bukan, Wahai Putri?”
“…” Sang Putri tidak menjawab. Tanda bahwa ia memang tidak sedang bercanda.
“Bwahaha!! Sungguhan? Si bodoh ini? Kakak dari Sang Genius Putri Bulan? Gahaha, sungguh epik. Beruntung sekali aku muncul hari ini. Sepertinya memang yang berbeda hanya sang adik. Lihatlah kakaknya, tanpa tahu menahu efeknya, dengan mudahnya menggunakan sihir ras kami."
Kalau saja aku tidak terkunci dalam tubuhku. Mungkin, wajahku sudah memerah karena malu. Ucapan Devil benar. Aku tak tahu apa-apa.
"Manusia lain juga sama saja. Sama-sama bodohnya. Sedikit saja mendengar rumor sihir ras kami dapat meningkatkan ether dengan cepat, tanpa ragu langsung menggunakannya. Padahal, tanpa disadari mereka hanya diperdaya–"
Belum selesai ceramah dari si Devil, Luna menyergap. Pedangnya melesat dari sarung. Langsung terayun mengincar leherku.
"Whooaa!!" Tubuhku– yang tetap saja dalam kendali Devil– melompat mundur. Menghindari serangan sedetik lebih cepat.
"Bukan main! Sang Putri tega untuk menebas kakaknya sendi– Whoa-Eit-Ups!"
Tebasan beruntun tiga datang, tapi tubuhku dengan lincah memghindarinya.
"Cukup basa-basinya," hardik Luna. "Cepat keluar dari tubuh itu sebelum pedang ini mengeluarkanmu!"
"Tunggu! Tunggu, wahai Putri!" Seru si Devil, tapi Luna tidak mendengarkan, dia memasang kuda-kuda. Siap melanjutkan serangan. "Kalau kau tidak ingin bangunan ini berantakan karena pertarungan kita, bukan? Kalau begitu, tolong dengarkan aku wahai putri."
Luna berhenti mendengar itu. Tubuhku tersenyum lalu berkata, "How about a deal, Princess?"
...___...
Lapangan latihan Guild. Aku dan Luna berdiri berhadapan. Terpisah sepuluh meter. Tentunya, tubuhku masih saja sebuah boneka pertunjukkan, yang dikontrol oleh sang dalang. Tribun penuh dengan penonton, semua mata memandang dengan rasa penasaran. Seakan kekacauan di Guild tadi telah lama buyar. Mereka lebih tertarik melihat bagaimana gadis genius yang sedang dirumorkan beraksi. Wajar saja, seandainya aku tidak berada di posisi ini, aku sudah duduk manis di tribun dengan popcorn di pangkuan. Tapi, yah, yang namanya nasib, sekarang aku malah bersiap berduel dengan si penyihir nomor satu nasional yang sedang dirumorkan.
"Jadi, kalau aku menang kau akan membeberkan siapa dalang maraknya penyebaran sihir terlarang?" tanya Luna memastikan kesepakatan.
"Iya, Putri. Dan jika Putri kalah, Anda harus membiarkan saya merasuki tubuh kakak Anda selama seminggu."
"Tsk! Seperti biasa kalian memang tidak tahu malu. Kesepakatan macam apa berat sebelah seperti ini. Tanpa kesepakatan ini pun aku bisa mencari tahu sendiri siapa dalangnya. Sedangkan kamu minta untuk mendiami tubuh kakakku yang bahkan bisa aku kembalikan ke keadaan semula sekarang juga?" ancamnya, tapi tubuhku hanya tersenyum lebar. Tak menanggapi ancaman Luna.
"Very well, aku akan meladenimu sebagai tanda terima kasih memindah tempat pertarungan. Aku akan membiarkanmu bergerak terlebih dahulu." Luna melepas sarung pedang dari pinggangnya kemudian menancapkan pedang tersebut tegak di depannya.
"Terima kasih, Putri." Sekali lagi, si devil membungkuk hormat.
Pertarungan akan dimulai. Mbak Katrin sebagai wasit memberikan aba-aba. Dia memanggil angin. Angin yang berkumpul membentuk seekor burung yang dengan cepat melesat ke udara. Di udara, ekor burung yang berliuk-liuk meninggalkan jejak bertuliskan, ‘Ready?’ Sedetik kemudian, tulisan itu berganti menjadi ‘Start!’ yang terbuat dari letupan burung sihir sebelumnya.
Sungguh pertunjukan kontrol sihir yang menakjubkan dari Mbak Katrin. Jika bukan karena sihir tersebut merupakan penanda mulainya duel, aku ingin melihatnya sekali lagi.
Sesuai perintah Luna, tubuhku bergerak pertama. Dengan ayunan tongkat sihirku dan mantra yang belum pernah aku dengar, si devil menggunakan sihirnya. Dua ekor serigala hitam muncul di kedua sisiku.
"Terkam dia, wahai serigala!"
Perintah di ucapkan. Kedua serigala berlari. Langsung menuju ke arah Luna. Salah satu dari mereka melompat sedangkan yang lainnya siap menerkam dari bawah.
Julukan penyihir ranking satu memang bukan sebuah isapan jempol belaka. Luna menghentakkan pedang yang berdiri tegak di depannya ke lantai.
BAM!
Satu gerakan, kedua serigala lenyap sekejap.
Seluruh lapangan lenggang.
Sihir dari nomor satu memang berbeda. Tidak memakai tongkat sihir, tidak pula mengucap mantra. Sama seperti saat Luna sebelumnya muncul, dia menggunakan cara yang berbeda dalam menggunakan ether. Aku berpikir seperti ini karena aku melihat ether Luna bergerak saat dia beraksi.
"Apa cuman seperti ini kekuatan devil bangsawan? Sungguh mengecewakan," ejek Luna.
Tidak terima, si devil mengerung, "Baiklah Tuan Putri, mari bertarung dengan serius."
Duel baru saja dimulai.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments