Aku tersentak bangun. Alam bawah sadarku tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Semua terasa kabur. Kepalaku pusing, ototku lemas tak berdaya, badanku nyeri dimana-mana. Mengangkat kepala dari bantal serasa seperti sedang mengangkat bola besi. Dan ketika aku berhasil melihat sekeliling, apa yang terpapar di mataku membuatku linglung. Ruangan serba putih mengelilingiku. Tanganku dibalut oleh infus. Tak ada perabotan lain selain ranjang medis yang aku tempati dan kursi kecil di sampingnya.
'Dimana ini?'
Pertanyaan itulah satu-satunya yang terlintas di pikiranku. Aku juga tidak tahu jam berapakah sekarang. Ponselku yang setiap waktu setia berada di sekitarku menghilang. Baju yang kugunakan juga berbeda, berganti sebuah baju khusus pasien dalam biasa dipakai di rumah sakit. Aku mencoba menjelajah memoriku untuk mencari bagaimana aku terdampar di ruangan putih ini. Menurut memoriku, siang ini aku dan Luna pergi ke Magic Association, pusat para penyihir untuk melakukan injeksi mana. Setelah aku melakukan registrasi, kami beranjak ke suatu ruangan dan… Ouch!!
Kepalaku cenat-cenut lagi. Aku tidak bisa mengingat kelanjutannya.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Seseorang muncul dari salah satu sisi ruangan. Melalui pintu otomatis yang tersamarkan oleh dinding putih, dia berjalan menuju ranjangku. Aku menengok ke arah sumber suara dengan kepala masih pening. Di sebelah kasur, berdiri Mbak resepsionis yang menyambutku sebelumnya. Dia menyuguhkan air kepadaku. Aku menerima dan meminum air tersebut.
“Ini di mana?” tanyaku setelah satu-dua teguk air dan pusing di kepala mereda.
“Ruang Isolasi markas sihir,” jawabnya.
“Ruang Isolasi?”
“Ya, setelah Dik Zen menerima injeksi mana, kamu dibawa kesini.”
“...???” Tanda tanya tertempel di wajahku. Percakapan tadi tidak memiliki informasi yang cukup untuk menjawab kebingunganku.
“Haha, Dik Zen pasti kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Sebentar, aku akan menceritakannya. Oh ya, sebelum itu, perkenalkan namaku Katrin, panggil saja Mbak Katrin. Aku sudah menjadi resepsionis di sini sejak cabang ini didirikan,” kata Mbak Katrin memperkenalkan diri dengan ramah. Tapi keramahan profesionalnya saat ini berbeda dari sebelumnya saat dia bekerja menjadi resepsionis dan menyambutku siang tadi. Mbak Katrin duduk di kursi kecil dan mulai bercerita.
Saat tubuh manusia pertama kali bersentuhan dengan energi asing tersebut, Gerbang Ether–organ tubuh gaib yang berkaitan dengan ada tidaknya ether dalam tubuh manusia, bereaksi untuk pertama kalinya. Organ ini bisa digambarkan seperti sebuah bendungan. Layaknya sebuah bendungan yang membuka gerbangnya, sedikit demi sedikit organ tersebut aktif, membiarkan tubuh berkenalan dengan aliran yang bernama ether secara perlahan. Secara perlahan tubuh mengubah aliran ether asing menjadi ether asli milik sendiri, tubuh beradaptasi.
Namun, sebagai ganti aktifnya organ ini untuk pertama kali serta tubuh yang pada dasarnya akan menolak zat asing yang tidak dikenal oleh sistem tubuh, fungsi tubuh menurun dan tubuh manusia mengalami sakit. Reaksi ini dihasilkan akibat tubuh yang masih belum bisa beradaptasi dengan semua hal baru yang terjadi di dalam dirinya.
Bencana letupan ether yang terjadi pada awal pandemi menyebarkan energi ether ke seluruh penjuru dunia. Tubuh umat manusia yang sama sekali belum mengenal energi ether, tiba-tiba dibanjiri olehnya. Terkejut oleh jumlah ether yang ada, gerbang ether terpaksa harus membuka gerbangnya lebar-lebar dan membiarkan aliran ether dalam jumlah besar masuk. Akan tetapi, tubuh tidak bisa menangani banyaknya ether yang masuk. Sekuat tenaga tubuh harus beradaptasi yang sebaliknya menurunkan fungsi tubuh yang lain secara drastis.
Energi ether dianggap sebagai racun bagi tubuh dalam tingkatan ini. Jika tubuh tidak berhasil menanganinya, tubuh akan rusak. Bahkan, tak jarang kecacatan terjadi atau lebih parahnya lagi kematian. Itulah fakta dibalik peristiwa pandemi yang merenggut jutaan jiwa pada tahun 2035.
“Lalu, apa hubungan cerita itu dengan kondisiku?”
“Tentu saja ada, kondisimu itu sama seperti kebanyakan orang 2 tahun lalu ketika pertama kali bersentuhan dengan ether. Yaitu overdosis ether.”
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, injeksi ether merupakan cara artifisial. energi ether disuntikkan ke dalam tubuh untuk membuka paksa gerbang ether. Tentu saja cara ini berisiko. Ada syarat khusus yang harus dipunyai oleh seseorang sebelum melakukan injeksi ether. Syarat utamanya yaitu seseorang tersebut telah bersentuhan dengan ether yang berarti gerbang ether telah terbuka dan tingkat adaptasi tubuh dengan ether di atas 5 persen.
“Nah, sedangkan Dik Zen, memiliki tingkat adaptasi mana yang sangat kecil. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?”
Aku mengangguk. Mulai paham atas kondisi yang menimpaku, “Ether membanjiri tubuhku dan aku mengalami overdosis ether.”
“Ya, Dik Zen pingsan selama 5 hari.”
“APA?!” Secara refleks aku bangun dan berteriak. Segera aku tahu bahwa itu adalah tindakan bodoh. Pusing kepala langsung menyerang lagi akibat gerakan spontan. Jika bukan karena Mbak resepsionis yang membantuku, bisa jadi aku sudah jatuh dari kasur. Setelah aku kembali tenang di kasur barulah Mbak Katrin melanjutkan.
“Jujur saja, pihak markas sihir juga merasa bersalah atas kondisi Dik Zen. Kami tidak menyangka masih ada seseorang yang tingkat adaptasi tubuh dengan ether-nya di bawah 5 persen setelah hampir 2 tahun ether tersebar stabil di atmosfer. Dulu, saat awal proses injeksi ether dikenalkan–saat kestabilan ether di atmosfer masih kacau balau, ada prosedur pengukuran adaptasi tubuh dengan ether sebelum injeksi dilakukan. Tapi, prosedur tersebut diberhentikan minggu lalu melihat bagaimana akrabnya masyarakat saat ini dengan sihir.”
Mbak Katrin terdiam sebentar. Alisnya mengkerut. Dia terlihat ragu. Setelah menghela nafas, Mbak Katrin membuka mulutnya, “Jika bukan karena keberadaan adikmu, Luna, bisa jadi nyawamu melayang.”
“Eh? Apa maksudmu, mbak?” sergahku. Mbak Katrin sekali lagi menghela nafas panjang.
...___...
Di sebuah ruangan serba putih, seorang laki-laki muda sedang tertidur pulas. Ruangan ini adalah ruangan isolasi injeksi ether dalam markas sihir. Setelah ether diinjeksi melalui suntikan, pasien dibuat tidur untuk memastikan proses adaptasi ether berjalan lancar. Namun, ada yang berbeda dengan pasien yang satu ini, laki-laki muda yang lelap tertidur tiba-tiba meronta kesakitan.
"Aaaarrrrgggghhhh!!!!"
Seketika, sebuah alarm peringatan berdering. Sekelompok orang memakai jas laboratorium masuk dengan panik ke ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi?! Mengapa pasiennya berteriak?" geram seorang perempuan jangkung dari kelompok tersebut. Rambutnya dicukur pendek. Wajah cantiknya disertai tatapan mata tajam. Dengan suara tinggi dan lantang, dia memerintah yang lain, "Segera lakukan pengukuran ether! Periksa penyebabnya!"
Dari caranya memerintah yang lain, jelas bahwa perempuan berambut pendek ini merupakan individu dengan posisi tertinggi dalam kelompok tersebut.
Mendengar perintah atasannya, dengan sergap beberapa petugas mendekati tubuh pemuda yang meronta tersebut dan menyuntikkan obat penenang. Dalam sekejap obat bekerja dan tubuh laki-laki muda mulai melemah. Sebuah alat berbentuk gelang dipakaikan pergelangan tangannya kemudian. Alat tersebut adalah alat pengukur ether. Fungsinya hampir mirip dengan alat pengukur tekanan darah.
"Bagaimana hasilnya?!" buru si atasan tak sabar.
"Overdosis ether, Chief! Ether pasien melebihi batas normal!"
"Bagaimana dengan tingkat adaptasi ether-nya?!"
Menerima perintah berikutnya, petugas-petugas kembali melakukan tugasnya. Alat ukur ether kembali dioperasikan. Mata petugas yang bertugas mengecek hasil pengukuran membulat lebar.
"!!!"
Melihat kejanggalan reaksi bawahannya, perempuan yang dipanggil Chief mendesak dengan tatapan garang, "Haiss…!!! Kenapa pada diam saja? Cepat katakan hasilnya!!"
"T-tingkat adaptasi ether pasien hanya 4 persen," jawab si bawahan dengan sedikit gugup.
“Haiss! Kenapa tidak ada yang melakukan prosedur pengukuran tingkat adaptasi ether pasien sebelum ini?”
“M-maaf, Chief. Prosedur itu baru saja diberhentikan minggu lalu.”
Kali ini giliran mata si Bos yang membelalak. Dia baru saja ingat tentang hal itu.
"Sia-" Chief hendak mengumpat–tapi, mengingat adik dari sang pasien juga berada dalam kelompok, dia langsung membungkam mulutnya. Sebagai gantinya, dia menggaruk-garuk rambutnya.
"Waduh...!! Parah ini! Dengan gerbang ether sekecil itu, bocah ini jelas tidak bisa menyerap dan beradaptasi dengan ether injeksi, mengakibatkan overdosis. Ether asing yang tidak terserap oleh tubuh sama saja seperti racun. Untuk sekarang masih aman, namun kalau dibiarkan seperti ini terus, bakal hancur tubuh bocah ini akibat evolusi sembarangan dan penolakan ether berlebihan. Oi, kalian! Ada solusi, gak?”
Di balik pilihan katanya yang sedikit kasar, para bawahan tahu dari mata Chief yang serius bahwa kondisi saat ini genting dan mereka harus melakukan apa pun itu untuk mencegah hilangnya nyawa anak muda ini. Namun sayangnya, mereka belum pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya dan para bawahan kebingungan harus menjawab apa. Jika mereka menjawab sembarangan, semprotan kritikan dari Chief bakal menyambut mereka. Alhasil, mereka hanya diam dan menatap satu sama lain.
“Orang sebanyak ini tidak ada yang berani menjawab?! Dan kalian menyebut diri kalian peneliti sihir?! Alamak! Masalah besar ini!!”
Tidak terima diolok, salah seorang memberanikan diri untuk membalas, “Bagaimana dengan dirimu Chief? Apa Anda sudah punya solusi?”
“Kalau ada, sudah aku perintahkan dari tadi, bodoh!” sambat sang Chief. Para peneliti sihir hanya bisa diam atas olokan tak masuk akalnya. Apalah daya mereka yang cuman seorang bawahan yang satu solusi pun tidak bisa mereka pikirkan. Mereka hendak memprotes kelakuan atasan mereka, tapi sang atasan terlebih dulu melanjutkan, “Ada solusi yang aku pikirkan. Hanya saja, risikonya sangat tinggi, bisa jadi bocah ini kehilangan kesempatan untuk memakai sihir selamanya. Maka dari itu aku tanya pendapat para peneliti bodoh di depanku ini terlebih dahulu.”
“Kalau boleh tahu, bagaimana solusi yang Chief pikirkan?” sahut sumber suara lain. Oleh satu-satunya orang yang tidak memakai jas lab di kelompok tersebut.
“Oh? kau adik bocah ini, bukan? Tentu saja. Mana mungkin aku memberikan perintah dengan risiko tinggi tanpa persetujuan sang pasien. Berhubung sang pasien dalam keadaan tidak sadar dan hanya kamu satu-satunya saudara pasien di sini, akan aku jelaskan solusinya.
“Simpel saja, aku akan mengeluarkan semua ether asing yang sekarang bersifat berbahaya dalam tubuh kakakmu. Jika berhasil, maka ether asing yang tersebar di tubuh kakakmu akan hilang. Masalahnya, pengeluaran ether terhadap tubuh manusia dengan ketelitian tinggi sangat sukar dilakukan. Tidak ada alat yang memadai di sini. Jika ether asing yang sudah seperti racun itu tidak dikeluarkan semua, entah apa yang dilakukan oleh sisanya. Jika beruntung, dan ether asing hanya merusak bagian tubuh yang tidak terlalu penting, itu masih bisa disembuhkan. Bagaimana jika mana asing tersebut merusak otak atau bagian penting tubuh lainnya? Paling ringan, kakakmu hanya akan cacat. Sedangkan paling parah, kakakmu bisa mati.
"Sebaliknya, jika pengeluaran dilakukan secara berlebihan, mana asli kakakmu akan ikut tersedot. Dengan tingkat adaptasi eether di bawah 5 persen, ether yang dimiliki kakakmu juga sangatlah sedikit. Kamu tahu sendiri bahayanya kehabisan ether, kan? Kehabisan ether juga bisa berakibat kematian. Keduanya sama berbahayanya.
"Tapi, jika dibiarkan saja maka tubuh kakakmu yang akan hancur dengan cepat. Jadi, bagaimana? Apa keputusanmu? Mengambil risiko dan menjalankan apa yang aku katakan tadi, ataukah membiarkan kakakmu seperti itu saja sambil menunggu keajaiban?” Selesai menjelaskan, ketua para peneliti sihir membiarkan gadis kecil di depannya pilihan yang bisa dibilang, akan menentukan nasib saudara kandungnya.
Suasana mencekam. Beberapa peneliti mengkritik dalam benak mereka tingkah atasannya yang rela membiarkan seorang gadis yang bahkan belum dewasa secara hukum untuk menanggung beban memutuskan nasib jiwa seseorang.
Dengan suara jernih, gadis itu menjawab mantap, "Aku tidak memilih keduanya, aku punya solusi lain."
Suara jernihnya yang menjelaskan solusi baru terngiang di kepala para peneliti sihir. Mereka semua kagum dengan gadis ini. Dalam bidang sihir, gadis ini jauh lebih ahli dari mereka semua yang merupakan peneliti sihir. Bahkan, Chief mereka yang terkenal dengan kecerdikannya termangu di tempat beberapa detik setelah mendengar penjelasannya.
...___...
"Apa yang dilakukan adikku sampai-sampai mendapat perhatian seperti itu?" tanyaku memotong cerita Mbak Katrin. Entah sudah berapa kali aku dikejutkan oleh hal yang tidak terduga semenjak aku mengenal sihir.
"Begini, setiap jenis zat memiliki ether yang berbeda. Layaknya DNA, ether dalam setiap individual juga memiliki karakteristiknya tersendiri. Kami menyebut karakteristik ether yang berbeda tersebut, Kode Ether. Contohnya, Tumbuhan A dan Tumbuhan B yang merupakan tumbuhan dengan spesies sama saja memiliki kode ether yang berbeda, apalagi dirimu dan adikmu, kode ether kalian juga berbeda.
"Akan tetapi, dalam setiap perbedaan tentunya ada persamaan. Kode ether dalam sebuah spesies tumbuhan berjumlah lebih dari satu. Dalam setiap makhluk hidup dengan spesies yang sama, selain terdapat ratusan kode ether yang berbeda terdapat juga ratusan kode lain yang memiliki persamaan. Dan Kamu dan Adikmu, Luna, sebagai saudara memiliki banyak persamaan kode ether.
"Luna memanfaatkan persamaan tersebut untuk mempercepat proses adaptasi ether dalam dirimu. Dia menukar ether asing dalam tubuhmu dengan ether miliknya. Dengan banyaknya persamaan kode ether, proses adaptasi terjadi lebih cepat. Bahaya yang mengancam nyawamu juga hilang."
Aku termenung mendengar cerita Mbak Katrin. Tak kusangka banyak hal yang terjadi selagi aku pingsan. Pikiranku hanya bisa mencerna setengah dari yang diceritakan Mbak Katrin. Meskipun begitu, aku tahu yang dilakukan oleh Luna bukanlah yang mudah. Dari apa yang aku pahami dari cerita Mbak Katrin, butuh konsentrasi, ketelitian, dan kesabaran untuk menukar ether milik Luna ke semua ether asing yang ada dalam tubuhku. Belum ditambah dengan tekanan yang diterima oleh Luna atas apa yang terjadi jika kegagalan terjadi. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan hal itu.
Sekali lagi, aku menyadari bahwa gadis kecil itu telah jauh melampaui kakaknya. Sedikit memalukan rasakan dilampaui oleh adik sendiri. Sebagai seorang kakak laki-laki, setidaknya aku harus mengejar ketinggalanku.
Namun, sebelum itu, ada satu hal yang ingin aku tanyakan saat ini.
"Dimana Luna saat ini?"
Mbak Katrin menghela nafas lelah mendengar pertanyaanku.
"Kami juga ingin tahu hal itu… Empat hari lalu, setelah semalam penuh menyelamatkan nyawamu, Tanpa pamitan kepada siapa pun, Luna langsung pergi. Sangat disayangkan, padahal kami masih punya banyak pertanyaan kepada adikmu…"
"Ahaha…" Aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Gadis itu ternyata masih sama saja. Habis melakukan sesuatu yang menarik perhatian. Selalu saja dia langsung menghilang kabur entah ke mana.
Yeah, no matter how much she changes, in the end, she is still my sister.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments