[Heya, Everyone! I'm sorry everyone for the late post. Maaf tidak bisa menemani hari-hari kalian dengan streaming seminggu kemarin. Aku mengalami kecelakaan tak terduga dan harus beristirahat selama seminggu penuh. Sebagai gantinya, minggu ini aku akan mengadakan streaming spesial. Nantikan pengumumannya di lain waktu. Have a nice day, everyone! See you later!]
“…Klik post dan selesai deh…” Aku menghempaskan punggungku ke sandaran kursi, mengakibatkan roda kursi bergeser sedikit. Tiga hari berlalu sejak aku bangun dari pingsan. Setelah percakapanku dengan Mbak Katrin, aku harus menginap di ruangan putih itu untuk pengecekan lebih lanjut. Dan akhirnya, pagi ini aku dibebaskan.
Sesampainya di rumah, aku langsung membuat post di akun media sosial virtual youtuber-ku. Sebagai seorang streamer, aku memiliki jadwal streaming mingguan. Post yang aku update barusan merupakan permintaan maaf atas hilangnya keberadaanku seminggu ini. Yah… beginilah kalau ingin popular di dunia maya, media sosial tidak boleh dilupakan.
Selagi aku menyeruput teh hangat, notifikasi di aplikasi chat-ku berbunyi. Satu-satunya kawan onlineku langsung bertanya.
[Oi, Zen! Kecelakaan apa lu?! Lu baik-baik saja, kan?]
Yep, seperti yang aku duga, Amex langsung bertanya dengan nada khawatir. Aku mengetik jawaban dengan cepat.
[I’m fine, Mex. Hanya kecelakaan kecil saat injeksi ether di markas sihir. Sekarang sudah baik-baik saja.]
[Syukurlah kalau begitu… Pantas saja seminggu ini lu tidak menjawab chat. Kaget aku melihat post twitter lu…]
Aku tersenyum membaca balasan Amex. Meskipun belum pernah bertemu secara real, Amex tetap saja mengkhawatirkanku. What a good friend I have...
[Ahaha, thanks for worrying about me. Omong-omong mengenai post tadi, sebagai permintaan maaf karena menghilang seminggu ini, bagaimana kalau kita berdua collab untuk streaming seminggu ke depan?]
[That’s a nice idea! Inikah yang lu maksud dari streaming spesial tadi?]
[Yep, selain itu, sudah lama kita tidak collab streaming.]
[Ahh… Betul juga. Maaf Zen, sebelumnya, aku sibuk karena latihan sihir. Makanya, aku harus mengurangi jadwal streaming-ku.]
[Oalah… Pantesan. Jadi ternyata lu kemarin-kemarin selalu menolak ajakan collab streaming karena itu… Bagaimana dengan sekarang? Apa lu masih sibuk latihan?]
[No problem! Aku bisa membagi sebagian waktuku untuk streaming.]
[Okelah kalau begitu, aku duluan ya, masih banyak yang harus aku kerjakan pagi ini. Untuk detail collab-nya, kita diskusikan lebih lanjut nanti malam.]
Amex mengakhiri chat dengan mengirimkan stiker kucing yang sedang hormat layaknya seorang prajurit. Aku segera beranjak dari kursi. Setelah ditinggal seminggu tanpa penghuni, tempat tinggalku mulai terlihat terbengkalai. Debu-debu mulai berkumpulan di lantai. Satu tahun lebih tinggal sendirian, aku termasuk veteran dalam pekerjaan rumah. Mulai dari yang paling mudah seperti menyapu, hingga memasak yang bisa dibilang cukup rumit. Aku cukup mahir melakukannya.
Sebenarnya, sebelum dibolehkan kembali dari Guild, Mbak Katrin memberiku pesan agar banyak beristirahat seketika sampai di rumah. Tapi, semenjak aku hidup sendirian aku menjadi tipe orang yang tidak bisa diam melihat keadaan tempat tinggalku sekotor ini. Pekerjaan rumah sering dianggap enteng oleh anak-anak muda sekarang. Yang semakin ditunda semakin malas untuk melakukannya. Awal dulu menghuni tempat ini, aku menyulap villa indah ini menjadi tempat sampah. Untungnya, setelah itu ada yang membantu sekaligus mengajariku melakukan pekerjaan rumah. Oh! Nasib baik, yang dibicarakan datang juga.
Pintu depan terbuka dengan suara 'cekrak' selagi aku membereskan barang-barangku di ruang tengah. Seorang ibu tua berumur 50-an masuk ke dalam rumah.
“Oya? Sudah pulang Nak Zen rupanya. Sedang beres-beres rumah, Nak?” Sapa ibu tua itu dengan ramah.
“Iya Mak Mias, barusan sampai ini... Ngga enak liat rumahnya kotor makanya langsung beres-beres,” balasku. Nama wanita tua itu Bu Mias, kami akrab memanggilnya Mak Mias. Mak Mias dulu bekerja sebagai pembantu rumah tangga waktu nenekku masih hidup. Wanita tua ramah ini selalu rajin merawat rumah ini bahkan setelah nenek meninggal dan setelah rumah ini direnovasi menjadi sebuah villa.
Melihatku sedang menggulung karpet di ruang tengah, Mak Mias dengan sigap membantuku. “Alah, nggak usah repot-repot kamu. Kata Nak Luna kamu habis perjalanan jauh. Ngga capek, tah?"
Perjalanan jauh? Bilang apa si Luna itu? Memang sih, menutupi kecelakaan sihirku di Guild lebih baik daripada membuat khawatir orang banyak. Tapi, apakah tidak apa-apa berbohong seperti ini?
"Ngga kok Mak. Perjalanan jauh gak ada apa-apanya buat anak muda kayak aku." kataku berlagak sok kuat. Sejujurnya, tubuhku sedikit letih. Tapi, kuat atau tidaknya tubuhku tidak penting untuk saat ini. Aku lebih penasaran dengan apa yang Luna katakan kepada Mak Mias.
"Luna titip pesan apa ke Mak Mias kemarin?" tanyaku sembari meletakkan novel-novel yang berserakan di meja ke rak buku.
"Ahh… Nak Luna itu, seminggu lalu dia tiba-tiba datang ke rumah bilang kalau Nak Zen sedang perjalanan jauh dan pulangnya hari ini. Dia terus bilang kalau Nak Zen sudah pulang minta tolong dibantu. Habis itu anak itu langsung pergi tanpa ngobrol sambil makan kue dulu. Padahal, sudah lama tidak bertemu, kan banyak yang ingin Mak obrolkan…" keluh Mak Mias sedikit kecewa.
Sejak kapan gadis itu bisa memperkirakan kapan aku keluar dari markas sihir? Dia bisa menggunakan sihir untuk memprediksi masa depan, kah? Aku semakin tidak paham dengan tingkah laku adik perempuanku sendiri.
“Ahaha, maaf Mak, atas tingkah si Luna, palingan dia itu buru-buru kembali ke Ibukota. Liburannya sudah selesai soalnya.”
“Ya sudahlah Nak… Kapan-kapan lagi kalau Nak Luna datang ke sini bilang ke Mak ya. Mak ingin tahu gimana keadaan adikmu sekarang. Nah sekarang, sini saya bantu beres-beresnya.” Mak Mias melangkah mengambil alat-alat kebersihan.
“Iya Mak, terima kasih,” tanggapku tulus. Jika tidak ada Mak Mias di sini, membersihkan rumah ini bakalan membutuhkan energi yang ekstra.
'Oh ya, jangan lupa nanti untuk berterima kasih ke Luna yang sudah merancang semua ini,' pikirku dalam benak, aku menempelkan cek-list imajinasi dalam otak.
Aku dan Mak Mias melanjutkan membereskan villa yang lumayan luas ini. Bahu-membahu jika ada tugas yang tidak bisa diselesaikan sendirian. Di tengah-tengah beres-beres, kami membicarakan Luna dan keadaannya saat ini. Mak Mias juga mengomel panjang lebar tentang anak-anaknya yang semakin lama semakin susah diatur. Tak terasa, dua jam kemudian, sebagian besar rumah sudah kinclong. Tinggal tersisa menjemur pakaian yang telah dicuci. Aku beranjak ke kebun belakang di mana jemuran berada. Saat itulah aku melihat sesuatu yang menipu mata.
Mak Mias menggunakan sihir untuk mengeringkan laundry! Astaga! Sambil menggoyangkan tongkat sihir layaknya nenek penyihir dalam film-film, Mak Mias melontarkan mantranya, "Kering! Kering! Jadilah kering!" Sekebas kemudian, kain-kain mengepak-ngepak dan sekejap mengering.
'Seriusan nih?!' pikirku tak percaya. Seminggu lalu, Luna sudah menunjukkan bagaimana mudah nan nyamannya sihir itu. Tapi, yang satu sungguh ini di luar perkiraanku. Bayangkan saja seorang perempuan tua berumur 50 tahunan ke atas sedang menjemur pakaian sambil menyanyikan lagu Korea. Ya, itulah yang aku rasakan saat ini! Rasanya ingin aku pergi ke optik untuk mengecek ulang penglihatanku.
Aku mendekat ke jemuran, ketika kusentuh, baju benar-benar telah kering, rasa hangat menyalur ke telapak tangan. Aku menyentuh kain lainnya dan ternyata sama saja. Kain-kain ini rasanya seakan-akan baru saja dipanggang matahari siang. Padahal, langit hari ini cukup mendung.
"Ajaib, kan?" seru suara di sampingku.
Aku mengangguk. Mak Mias mendekat membawa keranjang. Satu-persatu pakaian kering dimasukkan ke dalamnya. Aku membantu memasukkan pakaian-pakaian.
"Mak Mias juga bisa menyihir?" tanyaku penasaran.
"Iya. Tapi, Mak baru bisanya sihir pengering ini, doang. Sedangkan, tetangga-tetangga yang lain sudah bisa banyak sihir yang lain."
“Berarti, Mak Mias sudah injeksi ether?”
“Injeksi? Apa itu? Kalau ether saya tahu, yang buat bahan bakar sihir itu, kan?"
Jawab Mak Mias sedikit kebingungan. Aku juga bingung ditanya balik. Mak Mias tidak tahu injeksi ether? Apakah berarti dia membuka sihirnya secara natural? Tapi bukannya itu membutuhkan waktu yang cukup lama? Sepertinya, ada yang berbeda antara sihir yang aku tahu dan sihir yang dipakai Mak Mias. Aku harus menyelidiki hal ini. Siapa tahu nantinya aku bisa mendapatkan sesuatu.
"Sejak kapan Mak mulai bisa menyihir?"
"Masih agak baru, kok. Baru dua mingguan. Ngelihat tetangga pakai sihir kok kelihatannya enak, Mak jadi ikut-ikutan deh."
Semua pakaian telah berada di keranjang. Waktunya kembali ke rumah. Aku berjalan sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Mak Mias.
Hmm, baru dua minggu... Berarti sihir yang digunakan oleh Mak Mias memang berbeda. Menurut, informasi yang aku tahu, meskipun seseorang membuka gerbang ether secara natural, dibutuhkan waktu untuk orang tersebut belajar menggunakan sihir. Dua Minggu waktu yang terlalu sedikit bagi seseorang untuk bisa meluncurkan sihir setingkat tadi. Kecuali, jika orang itu memang genius. Dan juga, ada yang berbeda dari cara meluncurkan sihir Mak Mias dari cara menyihir yang kutahu.
"Kenapa, Nak Zen? Kok diam saja. Ada yang salah kah?" panggil Mak Mias, membuyarkanku dari lamunan. Tanpa kusadari, Mak Mias sudah mulai menyetrika baju. Pengalamannya menjadi pembantu rumah tangga bertahun-tahun membuat tangan Mak cekatan. Gunungan pakaian di hadapanku perlahan berkurang.
"Ngga ada kok, Mak. Cuman penasaran saja dari mana tetangga-tetangga tahu cara menggunakan sihir?" Aku melanjutkan menyelidik.
"Ah itu mah, awalnya ada anak tetangga yang beli buku sihir lewat online. Setelah dibaca bukunya, eh tiba-tiba dia bisa menggunakan sihir. Pada nggak percaya awalnya, tapi habis liat langsung sihirnya, pada rebutan minta diajari tuh tetangga-tetangga."
“Mak, tahu nama bukunya apa?”
“De-vil-gu-i-de atau apalah namanya,” jawab Mak Mias mencoba mengeja nama buku tersebut yang memakai bahasa asing, “Pokoknya bukunya bersampul hitam. Anak Mak pernah meminjamnya dari tetangga yang pertama membeli dan menunjukkannya ke Mak. Tulisannya pakai bahasa asing jadi saya nggak paham apa maksudnya. Mungkin Nak Zen paham apa isinya, kamu kan pintar kalau masalah kayak gituan.”
Aku mengangguk, “Iya Mak, nanti aku coba cek bukunya.”
Aku menguap lebar. Pekerjaan rumah telah selesai. Baterai tubuhku menurun ke warna merah. Aku butuh istirahat. Setelah menyampaikan kepada Mak bahwa aku ingin istirahat, aku mengarahkan kakiku ke kamar. Tidur siang sebentar setelah beraktivitas kelihatannya nyaman.
...___...
"Brrrr… Dingin juga suhu malam ini."
Udara dingin menusuk tubuhku. Jaket yang kupakai tidak cukup untuk menahan angin malam. Kebalikan dari tadi pagi yang kendung, langit malam ini bersih dari halangan. Rumah villa ini bertempat di kaki gunung yang sepi dari aktivitas manusia. Otomatis menjadikan pemandangan malam lebih jelas dibandingkan dengan daerah perkotaan yang penuh dengan polusi cahaya.
Bulan sabit bersinar malu-malu. Tak apa, sinar redupnya menjadikan rasi-rasi bintang menonjolkan kerlap-kerlip gerombolannya. Objek-objek langit malam menyinari taman depan halaman rumahku. Terserap oleh bunga-bunga. Dipantulkan oleh air jernih kolam.
Di sela-sela itu semua aku melihat kedip kunang-kunang. Kunang-kunang bermacam warna. Kedip hijau melayang tertiup angin malam, kedip biru berenang di air, kedip kuning menari di lampu, kedip cokelat bermain di tanah. Mereka semua adalah energi sihir yaitu ether.
Aku menarik nafas panjang. Ether mengalir di seluruh bagian tubuhku. Aku merasakan sensasinya di kulit, mendengar bisik suaranya di telinga, melihat keindahannya di mata. Selalu memesona saat mataku memandang pemandangan ini. Semua ini merupakan efek ketika tingkat adaptasi ether-ku telah mencapai titik tertentu, fenomena ini menjadi pemandangan sehari-hari. Ether merupakan energi gaib yang kasat mata. Tapi, jika ether berkumpul, muncullah fenomena kunang-kunang ini. Yang kasat mata menjadi terlihat. Di siang hari, fenomena ini susah untuk dideteksi akibat terangnya sinar matahari. Tapi, di malam hari, ether terlihat hidup layaknya kunang-kunang malam menari di bawah rembulan.
Aku memejamkan mata. Membayangkan sebuah sungai mengalir di pembuluh darahku. Sungai dengan air berupa ether. Aku arahkan ujung arusnya ke kedua telapak tanganku yang terangkat ke depan. Terus-menerus berkumpul di ujung-ujung jariku. Ketika aku membuka mata, kunang-kunang tersebut hinggap di tanganku. Warnanya tunggal, putih bersih. Tidak cukup banyak, masih bisa dihitung dengan jari. Aku melepaskan ether di tanganku, kunang-kunang itu menyebar dan memudar perlahan. Kemudian, aku kembali memejamkan mataku.
Sepertinya cukup. Pikirku setelah mengulangi mengumpulkan kunang-kunang sebanyak tiga kali. Inilah proses latihan mengontrol ether. Mengingat yang Luna ajarkan di awal, langkah pertama menggunakan sihir yaitu mengumpulkan ether. Semakin banyak dan terang kunang-kunangnya, semakin banyak ether yang berkumpul. Aku berusaha menyalakan sebanyak mungkin kunang-kunang, tetapi kunang-kunang ether yang menuruti perintahku tak seberapa, belasan maksimal.
Langkah kedua mengucapkan mantra. Tadi, saat aku mencoba menggunakan sihir di Guild, aku disarankan untuk menggunakan Alat sihir terlebih dahulu sebagai pengganti mantra. Menahan diri untuk tidak langsung mengucapkan mantra secara penuh hingga aku cukup ahli dalam mengontrol ether.
Aku lanjut merogoh sakuku. Mengeluarkan tongkat sihir bergaris-garis putih mirip sebuah kaligrafi. Garis-garis putih inilah yang menggantikan mantra yang harus aku lafalkan. Tongkat sihir ini sudah dilapisi oleh mantra bola cahaya. Alirkan ether ke dalamnya dan “Flash!” bola cahaya otomatis muncul di ujung tongkat. Semudah menekan saklar lampu.
Sesuai instruksi, aku menggenggam tongkat sihir dengan dua tangan, lalu mengarahkannya ke depan. Mana aku alirkan ke dalamnya. Dengan konsentrasi penuh kuhentakkan etherku keluar melalui tongkat sihir sambil menyerukan perintah aktivasinya, “Wahai cahaya, terangkanlah pandanganku! Light Sphere!”
Sebuah sabuk orbit berisi tulisan-tulisan kaligrafi muncul di ujung tongkatku sesaat setelah aku menyerukan mantra. Sabuk orbit itu berputar layaknya cincin asteroid sebuah planet. Dalam kedipan mata, sabuk itu menghilang dan digantikan oleh bola cahaya yang bersinar layaknya sebuah lampu neon di malam hari.
Tak seperti saat aku pertama kali melihat sihir, aku bisa melihat apa yang tidak bisa aku lihat sebelumnya. Sabuk orbit dengan kaligrafi-kaligrafi unik ini adalah Rune. Rune muncul sesaat setelah mantra diucapkan dan menghilang setelah sihir berhasil diluncurkan. Seolah-olah rune tersebut merupakan jembatan yang menghubungkan dunia gaib yang terdiri dari mana dengan dunia fisik.
“Fiuhhh…” Aku menghela nafas panjang selesai menggunakan sihir. Untuk melakukan sihir pemula saja aku masih membutuhkan konsentrasi penuh. Butuh berapa tahun hingga aku bisa meluncurkan sihir sesukaku seperti penyihir-penyihir di video itu? Dan setingkat apakah para pemuda-pemuda yang saat ini juga mengincar masuk ke sekolah sihir? Apa mereka juga bisa melakukan apa yang dilakukan Luna? Ataukah lebih tinggi lagi? Pertanyaan-pertanyaan mulai berkecamuk dalam diriku, membutaku cemas.
Aku dengan segera menepuk-nepuk pipiku. Kembali memfokuskan pandanganku ke tongkat sihir di tanganku. Lupakan saja kecemasan-kecemasan itu. Yang hanya bisa kulakukan saat ini hanyalah mengulang-ulang mengeluarkan bola neon ini. Mungkin, bola neon ini akan menemaniku di setiap malam hingga minggu ini berakhir.
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments