"Apa tidak apa-apa menitipkan salam kepadanya?" tanya sang resepsionis kepada seseorang di sampingnya. Mengintip dari jendela lantai dua markas sihir, keduanya sedang memperhatikan seorang pemuda keluar dari Guild.
"Fufufu," lawan bicaranya tertawa kecil, "Tak apa. Dia tak akan menyadarinya. He's dum-dum after all!" Dia berseru riang. Dari nadanya saja yang mendengar pasti tahu kalau orang ini moodnya sedang berada di atas awan.
"If you say so, Amex. Aku tidak akan mengomentari keputusanmu. Hanya…"
"Hanya… Apa, Mbak?" tanya Amex pada Mbak Katrin.
"Aku sedikit khawatir sebagai gurumu," jawab Mbak Katrin.
"Khawatir? Khawatir dia akan menemukan identitasku yang sebenarnya?" tanya Amex lagi.
"Bukan. Bukan itu yang aku khawatirkan." Mbak Katrin menggelengkan kepala.
"Terus apa, Mbak?"
"Adik perempuannya." Tak seperti biasa, wajah Mbak Katrin serius.
"Adik? Ada apa dengan adik perempuan Zen?"
"Adik perempuan Zen bukan orang biasa. Dia penyihir spesial. Bahkan, bisa jadi rangkingnya jauh di atasmu."
"Benarkah?" wajah Amex kaget. Amex tidak bisa percaya ada orang lebih muda darinya yang memiliki rangking di atasnya. Padahal, dia sudah merelakan hampir semua waktu streamingnya untuk berlatih sihir. Menyisakan hanya satu jam perhari untuk menyapa pendengarnya. Amex juga dituntun oleh Mbak Katrin–resepsionis terhandal senegeri dan juga penyihir ulung.
Penyihir rangkap resepsionis itu berkata, "Yep, aku yakin sekali. Level adik perempuan Zen berada di atasku. Dia mungkin bahkan salah satu dari lima penyihir nasional."
Mbak Katrin ganti bertanya, "Mex, apa kamu pernah dengar sebuah rumor di markas sihir ibukota J?"
"Rumor? Tentang gadis seumuran SMP yang genius dalam menyihir itu?" Amex memastikan.
"Betul sekali, aku yakin gadis yang dirumorkan itu adalah adik Zen."
"Terus? Apa yang Mbak Katrin khawatirkan?" Amex bingung. Tak ada yang perlu dikhawatirkan kalau begitu, kan?
"Mbak khawatir adik perempuan Zen akan membeberkan informasi tentangmu padanya."
Amex terdiam. Benar juga. Meski kecil, kemungkinannya tetap ada. Amex merenungkan bagaimana sebaiknya solusinya tapi lamunannya dipecah oleh sebuah suara.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," sahut sebuah gadis di ujung pintu. Mengagetkan yang lagi bercakap.
"Kau…" mulut Mbak Katrin tersendat tenggorokan. Begitu pula dengan Amex. Mulutnya bahkan tidak bisa berbunyi. Terbiar menganga lebar. Yang dibicarakan muncul. Dan itulah awal pertemuan Amex dengannya.
...___...
Ruangan Master markas sihir. Beberapa menit lalu, percakapan antara tiga penyihir berlangsung di ruangan ini. Ketiganya berbeda umur dan ranking. Dua di antaranya telah pergi, menyisakan pemilik ruangan sendiri menyaksikan hujan berlangsung dari jendela ruangannya.
Setelah pertemuan mereka, Katrin duduk merenung di sofa ruangannya. Ini kedua kalinya dia bertemu penyihir ranking tunggal negerinya. Nuansa yang dia bawa kali ini sungguh berbeda dari saat mereka pertama bertemu, saat Katrin yang bosan dengan perkerjaan administrasi healing dengan cara melakukan hobinya bertemu anak muda sebagai resepsionis. Katrin bertemu Kakak-beradik. Pada awalnya, Katrin berpikir sedikit aneh bahwa sang kakak malah yang belum melakukan injeksi ether tapi sekarang Katrin berpikir itu masuk akal mengingat ranking si Adik.
Rumor biasanya melebih-lebihkan fakta yang ada. Namun, kali ini malah sebaliknya. Rumor-rumor itu tidak sanggup menjelaskan kegeniusan penyihir ranking tunggal yang Katrin temui. Dia sangat muda. Jauh lebih muda dari dirinya saat pertama kali menyentuh sihir. Sejauh yang Katrin ketahui, penyihir ranking tunggal biasanya dikuasai oleh makhluk-makhluk tua seperti guru yang mengenalkannya dengan sihir.
Sebenarnya, tidak jarang para penyihir-penyihir tua mencari penerus di dunia luar. Di luar penyihir Kepulauan Melayang dan Akademi Sihir. Katrin, sebagai salah satu yang terpilih, juga tak jarang melihat penyihir-penyihir muda yang berbakat. Namun, ini pertama kalinya dia bertemu seseorang dengan bakat yang mengerikan. Mengerikan dalam artian jauh dari nalar yang ada.
Dengan umur yang masih belia sebagai penyihir, dia suda menempati kursi ranking tunggal negeri. Katrin tidak tahu apa rahasia dibalik umur mudanya. Yang jelas, bakatnya telah diakui oleh Asosiasi Sihir.
Tujuan Katrin menolak tawaran untuk menetap di Kepulauan Melayang dan menjadi Master dari cabang markas sihir salah satunya yaitu juga mencari talenta berbakat. Dan sesuai tujuannya, dia banyak bertemu bakal calon penyihir hebat setelah pandemi.
Namun, dibalik semua itu, Katrin berpikir, mengapa pandemi ini terjadi? Mengapa banyak talenta-talenta yang bermunculan? Katrin pernah membaca sebuah buku saat dia di akademi sihir, bahwa dalam bidang sihir, tidak ada sesuatu yang tanpa sebab, dan pasti akan diikuti dengan akibat.
Lalu, sebab apa semua ini terjadi? Dan apa akibatnya?
...___...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments