Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"

"AAhhh~ Nikmatnya kasur ini..."

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Melepaskan semua peluh yang dikumpulkan oleh otakku. Semenjak percobaan sihir tadi siang –meski aku sudah mencoba mengalihkan perhatianku dengan game atau menonton channel YouTube favoritku– aku terus-terusan memikirkan apa yang diucapkan oleh Luna. Hingga malam pun tiba aku belum bisa berhenti memikirkannya. Dan lebih parahnya lagi, dari segi mana pun aku memikirkannya, aku belum menemukan jawabannya.

"Pemalas level akut huh..." gumamku. Jujur saja, apa yang dikatakan Luna tentangku kurang lebih benar.  Yep, Aku adalah makhluk yang biasa kamu sebut shut-in, recluse, no-life, NEET, tertutup, hermit, pemalas, atau apalah sebutannya. Yang pasti, makhluk-makhluk sepertiku ini suka atau mungkin lebih tepatnya memaksakan diri untuk berdiam diri di dalam ruangan tanpa melakukan progress apa pun.

Sekitar dua tahun lalu, tepatnya satu semester setelah aku memasuki masa seragam abu-abu putih–yang aku tidak tahu dari mana asal sebutan abu-abu itu padahal seragamnya berwarna biru muda–aku mogok sekolah. Bosan bertengkar dengan orang tua setiap hari, aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Tujuanku yaitu rumah nenek yang ada di ibukota provinsi sebelah.

Sesampainya di rumah nenek, aku melakukan kesalahan besar. Setelah tekanan besar yang menimpaku, aku seharusnya membangun diriku yang kelelahan secara perlahan. Akan tetapi, yang kulakukan hanyalah mengurung diri di rumah. Bermalas-malasan setiap hari. Membiarkan waktu mengalir dengan percuma. Hidup tanpa tujuan.

Lambat-laun aku sadar cara hidupku ini salah, tapi setelah beberapa bulan menjalaninya. Cara hidup itu menempel erat di tubuhku. Entah berapa kali dan cara apa pun aku mencoba merubahnya, tetap saja sama. Mengingatkanku atas alasan pertamaku mogok sekolah. Lingkaran setan ini berulang-ulang terjadi dan tak terasa sudah hampir 2 tahun aku mendiamkan roda hidupku.

"Argh! Stop My brain, Stop thinking! Cukup Zen, nggak usah dipikir susah-susah! Bakalan mikir yang nggak jelas nantinya." Aku menegur diri, "Lebih baik, kita kerjakan PR Luna yang satunya dulu saja. Oke, Here we go!" dan aku langsung mengganti fokusku. Yep, beginilah kalau sendirian di rumah dalam jangka waktu lama, sering ngomong sendiri jadinya.

Aku beranjak dari kasur. Menuju meja di sudut kamar. Sebuah layar komputer terletak mengkilap di atas meja. Bentuknya yang lebar dan sedikit lengkung memberikan nuansa 3D bagi si pengguna. Di samping kanan-kiri layar tersebut, layar kedua dan ketiga yang lebih kecil manis duduk menemani layar utama. Perangkat-perangkat tambahan berceceran rapi di sekitarnya. Mouse, Keyboard, Controller, Speaker, dan Headphone, semua bermerek gaming dengan LED yang menyala berwarna-warni memeriahkan meja. Tak lupa dengan Microphone, Webcam, dan alat-alat seperangkat alat streaming lainnya.

Bisa dibilang, inilah hasilku bermalas-malasan dua tahun ini. Aku memilih menjadi virtual youtuber.

'Makanan apalagi ini?' ucap pikiranku yang mulai bercakap sendiri.

'Oya? Kamu tidak tau apa itu? Cek sendiri sana! Zaman sekarang kan, dikit tidak tahu larinya langsung ke mbah Google.' balas belahan otak lainnya.

'Wew, hebat juga kamu bisa mendapatkan semua perlengkapan ini hanya dari menjadi Virtual Youtuber!' ungkap sisi kiri diriku.

'Well, tidak juga. Jujur saja, subscriber-ku tidak terlalu banyak. Aku membeli sebagian perlengkapanku dengan tabungan di awal aku memulainya.' Jawab yang kanan.

Aku duduk di kursi gaming hitam layaknya seorang kapten kapal antariksa, menyilangkan kakiku sembari menunggu mesin menyala. Tak sampai penunjuk menit di jam digital berganti, layar utama menyala dengan tulisan 'Welcome', menyambutku bak awak kapal yang memberikan hormat kepada kaptennya. Segera aku memberikan perintah, menyetir mouse dengan presisi dan meng-klik mesin pencarian. Perintah aku ketikan dengan cepat, 'Asal-usul sihir', Ctak-tak-tak! Enter!!

Perintahku dijalankan dengan kecepatan kilat. Sebelum aku bisa melanjutkan perintahku, awak kapal menyelaku dengan sebuah sebuah ringtone notifikasi. Ternyata, kapten kapal lainnya di samudera internet memberiku pesan. Dia kawan sesama VTuber-ku. Kebetulan jam-jam segini memang waktu untuknya online.

Aku meng-klik notifikasi itu, mengantarkanku ke sebuah aplikasi pengirim pesan. Sebut saja aplikasi D. Aplikasi D ini yang banyak menjadi pilihan para pengguna akut gadget elektronik. Dengan server-servernya yang luas dan terstruktur, membuat aplikasi tersebut diminati tak hanya untuk komunitas gamer, komunitas-komunitas lainnya juga ikut menanamkan akarnya dalam aplikasi tersebut, bahkan komunitas belajar sekalipun.

[Oi, Zen! Ngga main lu?]

[Oi! Ngga bro, lagi sibuk nih...]

[Alah... Kayak yang bisa sibuk aja lu. Sibuk ngapain emang?]

[Searching sesuatu.]

...

Chat singkat kami terhenti sebentar, kawanku tidak merespons. Jeda beberapa detik kemudian dia baru melanjutkan.

[Pindah VC aja, Zen.]

Aku langsung paham apa yang dimaksud olehnya. Dengan lincah, aku menggeser kursor mouse-ku ke channel khusus berbicara secara real atau Voice Channel.

Dalam aplikasi komunikasi lainnya, fitur untuk berbicara secara langsung berupa Voice Call atau Video Call yang untuk menggunakannya membutuhkan persetujuan lawan bicara. Tetapi, di aplikasi yang aku gunakan sedikit berbeda. Dalam aplikasi ini terdapat channel-channel yang memudahkan penggunanya untuk membicarakan lebih dari satu topik, dan salah satunya yaitu Voice Channel. Kita tinggal memilih mana voice channel yang sesuai dengan topik yang ingin dibicarakan dan tinggal klik. Batas jarak yang menghalangi kami hilang sudah. Aku memasang Headphone favoritku.

"Hello-hello! Amex here!"

Seketika aku masuk channel tersebut, suara tenor riang menyambutku. Dia adalah Amex, kawan streaming online-ku selama kurang lebih satu tahun ini. Aku bertemu dengannya di komunitas VTuber. Berhubung kami seumuran, aku dan Amex dengan mudah akrab. Nama Amex merupakan nama VTuber-nya, aku tidak tahu-menahu nama asli dan jenis kelaminnya, tapi pita suaranya yang rendah meyakinkanku bahwa dia Laki-laki.

"Hai, Mex! Cek-cek. Suaraku jelas, kan?" sapaku sekaligus mengecek suara. Aku akrab memanggilnya Mex.

"Jelas kok, lagi searching apaan lu, Zen? Game baru?"

"Nope, kali ini bukan tentang game. Aku dapet PR disuruh mencari asal-usul sihir."

"Ahh... Yes-yes. Sihir," tanggap Mex memahami, aku bisa membayangkan dia mengangguk-angguk di depan layar komputernya.

"Lu sudah mencoba sihir, Mex?" tanyaku.

"Of course, I have! Kegiatan menarik sekaligus menyenangkan seperti itu nggak bakal dilewatkan oleh Mex si Ahli ini!" Aku tertawa kecil mendengar reaksinya. Selalu seru berbicara dengan Mex. Tingkah lakunya yang inovatif membuat pendengarnya betah dengannya. Bahkan kadang kala aku dapat membayangkan ekspresi apa yang dia tampilkan hanya dengan mendengar suaranya saja. Pantas saja, subscriber-nya lebih banyak dariku.

"Then? How's it?"

"It's awesome!! Awal mencoba memang susah. Tapi, setelah kamu mengerti kuncinya. A whole new world awaits you!"

Aku meneguk ludah, 'Dunia baru menyambutku? Inikah yang dimaksud Luna tadi siang? Sesuatu yang tidak bisa aku lihat dengan kondisiku yang sekarang? Haruskah aku mempelajari sihir lebih dalam lagi?' Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benakku. Menjadikanku semakin antusias dengan sihir.

"Btw Zen, Mex si Ahli ini punya video rekomendasi untukmu," kata Mex mengalihkan topik pembicaraan ke semula.

"Tentang sihir, maksudmu?"

"Yes! Kawan kita di komunitas streamer yang membuatnya. Sudah aku tonton, dijamin mantapu jiwa!"

"Oh ya? Rekomendasimu biasanya manjur-manjur. Mana link-nya, Mex? Mau aku tonton sekarang juga," pintaku tak sabar.

"Nih! Aku kirim lewat direct messages."

Ringtone notifikasi berbunyi lagi. Ketika kolom chat aku buka kembali, dua link Youtube telah dikirim oleh Mex.

"Eh? Kok ada dua link Youtube?" gumamku pelan. Akan tetapi, berhubung aku memakai Headphone, gumam pelan itu terdengar oleh Mex.

"Link yang kedua itu Bonus! Anggap saja sebagai surprise gift kecil-kecilan dariku untukmu, kawan akrabku. Terima kasih sudah berteman denganku meski hanya lewat online ini."

"Eh? Ah! I-iya Mex, sama-sama, aku juga terima kasih." balasku gagap. Aku tidak menyangka Mex memberiku terima kasih tiba-tiba, menyebabkan diriku malu-malu kucing.

"Ehehe..." Mex tertawa kecil, juga dengan malu-malu.

"..."

"..."

Dengan suasana canggung, kami berdua mencukupkan perbincangan kami.

...___...

Akhir tahun 2035, tanpa diundang tanpa diinginkan, serangan mematikan datang ke planet bumi. Rumor mengatakan serangan ini merupakan senjata bioteknologi mematikan superpower barat, sedangkan yang lain mengatakan serangan ini hanya sebuah propaganda negara-negara merah. Tidak ada yang tahu penyebab aslinya, yang pasti, serangan ini bukanlah hanya sebuah rumor. Serangan ini menyebar dengan cepat, satu-persatu nyawa melayang, berhari-hari kota lumpuh, berminggu-minggu negara menutup diri, demi bertahan dari serangan tak terlihat tersebut. Mereka tidak mendiskriminasi. Negara, ras, suku, bukan lawan mereka. Dalam setengah tahun, tidak ada makhluk di penjuru bumi yang tak terlewati oleh pandemi ini.

Tapi, selalu ada makna dibalik sebuah kesulitan. Bagi mereka yang berhasil bertahan, kehidupan baru menantinya. Serangan yang awalnya dikira hanya sebuah penyakit biasa ternyata merupakan sebuah kunci evolusi untuk manusia. Tiga bulan setelah serangan pertama kali datang, pejuang-pejuang yang berhasil bertahan hidup dalam pertarungan melawan penyakit mulai mengklaim bahwa mereka melihat sesuatu yang ganjil. Tentu, tidak ada yang menggubris mereka, menyebut mereka gila karena perjuangan hidup-mati tersebut. Satu bulan selanjutnya, jumlah mereka bertambah. Ditambah lagi, beberapa individual mengalami perubahan fisik. Bukti sudah jelas, umat manusia tidak bisa lagi menghiraukannya. Ada sesuatu yang terjadi dengan dunia. Dunia berkicau.

Di saat genting dan panik seperti inilah ujian sebenarnya menampakkan taringnya. Ya, tidak ada makhluk hidup yang terlewati oleh serangan tersebut, hewan dan tumbuhan juga termasuk dalam daftar, bahkan serangga-serangga kecil kasat mata. Makhluk-makhluk seperti mereka lebih cepat berevolusi. Dan itu bukan kabar baik bagi umat manusia. Mereka mengamuk. Ekosistem rusak. Yang kecil dimakan oleh yang besar. Yang besar tunduk oleh yang lebih besar lagi. Dan yang lebih besar lagi dikalahkan oleh si kecil elite yang menakutkan.

Umat manusia tidak luput dari amukan tersebut. Dan lagi-lagi, ribuan nyawa melayang. Senjata-senjata modern berhasil untuk menahan mereka. Hanya untuk sementara sayangnya. Amukan monster evolusi tersebut bak air bah. Senjata modern yang tidak efisien dalam masalah sumber daya kalah dengan massa yang terus berkembang. Tak ada pilihan lain, umat manusia memilih untuk mempergunakan cara terakhir, senjata pemusnah massal. Namun, sebelum keputusan itu ditegakkanlah, mereka muncul.

"Para penyihir." Jelas narator dalam Youtube. Aku menyaksikan video yang direkomendasikan oleh Amex dengan mata berbinar. Membuka mataku lebar-lebar. Takut untuk ketinggalan informasi walau hanya sekedip saja.

Tontonan yang satu ini menarik. Youtuber video itu memulai video dengan animasi yang memukau. Dia juga memberikan narasi yang cermat. Gaya storytelling-nya melekat di hati penonton. Diikuti oleh background sound yang sesuai memendam lebih dalam penonton ke dalam video tersebut.

Video itu kemudian berlanjut menampilkan sebuah cuplikan video di mana para penyihir pertama kali muncul. Dibalut oleh musik pertarungan yang garang, para penyihir memukul mundur gerombolan monster dengan sihir-sihir fantastis mereka. Lidah-lidah api berjilatan, air mengamuk buas, angin meraung ganas, tanah berguncang hebat, petir-petir berdentum gila. Monster-monster dimusnahkan, prajurit baris depan bersorak ramai terselamatkan.

Aku mem-pause video. Mengambil nafas panjang. Meraih botol di sampingku dan meneguk air di dalamnya. "Fuuhh..." Bisa berbahaya jika aku tidak mengambil jeda dalam kegiatan apa pun, terutama jika aku sedang penuh fokus. Selain karena takut dehidrasi, mengistirahatkan otak sebentar dalam kegiatan yang membutuhkan perhatian penuh dapat merefresh otak, meringankan risiko stress.

Tombol spasi aku tekan kembali. Video berlanjut. Kali ini, youtuber tersebut memberikan narasi secara langsung. Dengan figuran-figuran dari kertas di kedua tangan dia lanjut bercerita,

"Kejadian itu terjadi tepat satu tahun setelah pandemi pertama kali diidentifikasi. Sejak saat itulah sihir mulai dikenalkan. Para penyihir membentuk asosiasi penyihir dunia, yang berpusat di kota sihir, di pulau melayang di tengah samudera Pasifik." Figuran-figuran kertas bertopi penyihir berkumpul di sebuah gambar dengan pulau melayang di atas air.

"Sihir mulai diajarkan ke masyarakat luas, dan masyarakat menggunakan sihir untuk memukul balik para monster. Meski belum semua monster termusnahkan, mereka berhasil ditahan. Kedamaian kembali ke pemukiman-pemukiman manusia. Tentunya dengan sihir di tengah-tengah kita." Youtuber tersebut mengakhiri video dengan menancapkan figuran di atas sebuah gabus, figure kertas bertopi penyihir berdampingan dengan figure kertas orang biasa.

Aku menyandarkan punggungku ke bantalan kursi. Kedua tanganku aku lempar ke udara, mengulet puas.

"Video tadi memang mantapu jiwa. Seperti yang aku harapkan dari Mex. Dia memang Si Ahli dalam hal beginian." gumamku kepada diri sendiri.

Tapi, aku merasa masih ada yang kurang dari video tadi. Aku reka ulang percobaan sihir tadi siang, mencoba mencari apa yang kurang dari video tersebut. Ketika aku mengingat Luna yang melancarkan sihir, saat itulah jawaban terlintas dalam pikiranku.

"Ah!" seruku. Menemukan jawaban, "Pantas saja ada yang kurang. Video tadi tidak menjelaskan tata cara menggunakan sihir! Youtuber tadi hanya bercerita tentang asal-usulnya saja!"

Aku yakin masih banyak informasi mengenai sihir yang belum aku tahu. Video tadi singkat, hanya menampilkan sebagian kecil dari kejadian yang sebenarnya. Luna juga mengatakannya seperti itu, memang kelihatannya gampang, tapi nyatanya proses yang harus dilalui sangatlah panjang.

Aku mengepalkan telapak tanganku. Sudah lama aku tidak merasa bersemangat seperti ini. Terakhir kalinya mungkin saat aku dan Mex mengikuti kompetisi game secara online.

"Sepertinya aku harus lembur malam ini, banyak hal yang harus aku pelajari."

Tangan kananku segera meraih mouse dan tangan kiri bersiap di atas keyboard. Waktunya bekerja!

Baru saja aku memantapkan niatku, aku teringat masih ada satu video lagi yang dikirimkan oleh Mex. Video Bonus. Aku kembali membuka ke log chat-ku dengan Mex dan meng-klik link video kedua. Aku hanya bisa diam menganga melihat apa yang ditampilkan oleh video kedua.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Memang, mengumpulkan informasi membutuhkan waktu yang cukup lama tapi bukan itu alasanku tidak bisa tidur. Video kedua yang aku tonton jauh lebih menarik dari yang pertama. Aku menghabiskan semalaman untuk memikirkannya.

...___...

Episodes
1 Prolouge Vol 1 - Ujian hidup awal mula dirimu
2 Vol 1 Chapter 1 - Adakah Kakak yang teringgal jauh dari Adiknya?
3 Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"
4 Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir
5 Vol 1 Chapter 4 - Waking up in another world? Surely not, right?
6 Vol 1 Chapter 4.5 - Dibalik Sebuah Kejadian
7 Vol 1 Chapter 5 - Belajar sihir yuk!
8 Vol 1 Chapter 6 - Collab Streaming
9 Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)
10 Vol 1 Chapter 8 - Belajar sihir yuk!!! (3)
11 Vol 1 Chapter 9 - Ranking
12 Vol 1 Chapter 9.5 - Pertemuan Mereka
13 Vol 1 Chapter 10 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (1)
14 Vol 1 Chapter 11 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (2)
15 Vol 1 Chapter 12 - Duel (1)
16 Vol 1 Chapter 13 - Duel (2)
17 Vol 1 Chapter 14 - Duel (3)
18 Vol 1 Chapter 15 - Indeed, I'm in another world
19 Vol 1 Chapter 15.5 - Aftermath
20 Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (1)
21 Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (2)
22 Prolouge Vol 2 - Perjalan hidupmu dimulai saat kamu membuka mata
23 Vol 2 Chapter 1 - A Challenge
24 Vol 2 Chapter 2 - The journey begin
25 Vol 2 Chapter 3 - Krisis Dadakan
26 Vol 2 Chapter 3.5 - Pertanda
27 Arc 2 Chapter 4 - Pak Pamungkas
28 Vol 2 Chapter 5 - Perkakas Sihir
29 Vol 2 Chapter 6 - Menu Spesial Kamp Hunter
30 Vol 2 Chapter 7 - Sihir itu teknologi
31 Vol 2 Chapter 8 - Chilhood Friends
32 Vol 2 Chapter 9 - An Invisible hand
33 Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)
34 Vol 2 Chapter 10 - Latihan
35 Vol 2 Chapter 11 - How many points do you want?
36 Vol 2 Chapter 12 - Latihan (2)
37 Vol 2 Chapter 13 - Rumor
38 Vol 2 Chapter 14 - Misi (1)
39 Vol 2 Chapter 15 - Hunter Tameng Perak
40 Vol 2 Chapter 16 - The Power of Mom!
41 Vol 2 Chapter 16.5
42 Vol 2 Chapter 17 - Latihan (2)
43 Vol 2 Chapter 18 - The One Behind The Mysterious Hand
44 Vol 2 Chapter 19 - The Importance of Health
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Prolouge Vol 1 - Ujian hidup awal mula dirimu
2
Vol 1 Chapter 1 - Adakah Kakak yang teringgal jauh dari Adiknya?
3
Vol 1 Chapter 2 - "I'm Vtuber, So What?"
4
Vol 1 Chapter 3 - Asosiasi Sihir
5
Vol 1 Chapter 4 - Waking up in another world? Surely not, right?
6
Vol 1 Chapter 4.5 - Dibalik Sebuah Kejadian
7
Vol 1 Chapter 5 - Belajar sihir yuk!
8
Vol 1 Chapter 6 - Collab Streaming
9
Vol 1 Chapter 7 - Belajar sihir yuk!! (2)
10
Vol 1 Chapter 8 - Belajar sihir yuk!!! (3)
11
Vol 1 Chapter 9 - Ranking
12
Vol 1 Chapter 9.5 - Pertemuan Mereka
13
Vol 1 Chapter 10 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (1)
14
Vol 1 Chapter 11 - Jangan menilai buku dari sampulnya! (2)
15
Vol 1 Chapter 12 - Duel (1)
16
Vol 1 Chapter 13 - Duel (2)
17
Vol 1 Chapter 14 - Duel (3)
18
Vol 1 Chapter 15 - Indeed, I'm in another world
19
Vol 1 Chapter 15.5 - Aftermath
20
Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (1)
21
Epliouge Vol 1 - Zen Ashen (2)
22
Prolouge Vol 2 - Perjalan hidupmu dimulai saat kamu membuka mata
23
Vol 2 Chapter 1 - A Challenge
24
Vol 2 Chapter 2 - The journey begin
25
Vol 2 Chapter 3 - Krisis Dadakan
26
Vol 2 Chapter 3.5 - Pertanda
27
Arc 2 Chapter 4 - Pak Pamungkas
28
Vol 2 Chapter 5 - Perkakas Sihir
29
Vol 2 Chapter 6 - Menu Spesial Kamp Hunter
30
Vol 2 Chapter 7 - Sihir itu teknologi
31
Vol 2 Chapter 8 - Chilhood Friends
32
Vol 2 Chapter 9 - An Invisible hand
33
Vol 2 Chapter 9.5 - Pertanda (2)
34
Vol 2 Chapter 10 - Latihan
35
Vol 2 Chapter 11 - How many points do you want?
36
Vol 2 Chapter 12 - Latihan (2)
37
Vol 2 Chapter 13 - Rumor
38
Vol 2 Chapter 14 - Misi (1)
39
Vol 2 Chapter 15 - Hunter Tameng Perak
40
Vol 2 Chapter 16 - The Power of Mom!
41
Vol 2 Chapter 16.5
42
Vol 2 Chapter 17 - Latihan (2)
43
Vol 2 Chapter 18 - The One Behind The Mysterious Hand
44
Vol 2 Chapter 19 - The Importance of Health

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!