Acha benar-benar dibuat salah tingkah oleh Amygdala. Di satu sisi dia mengakui kalau ada rasa nyaman saat bersama Amygdala. Sebagai permpuan normal, pastinya Acha juga memiliki ketertarikan dan rasa kagum saat melihat wajah ganteng Amygdala, dan entahlah Acha suka dengan penampilan Amygdala yang sedikit slengean, dan terlihat badboy dengan rambut gondrong dan anting di sebelah kirinya. Dan point plus dari seorang Amygdala di mata Acha, Amygdala selalu menjalankan sholat saat bersamanya. Amygdala juga tidak terlalu caper untuk menarik perhatian Acha. Malah Amygdala sering membuat Acha kesal. Apa mungkin Acha sudah jatuh cinta pada lelaki yang dipertemukan dalam guyuran hujan dalam balutan hati yang sama-sama terluka?
"Kenapa harus takut jatuh cinta sama kamu?Aku hanya tidak ingin lagi terjebak dalam rasa yang semu, yang bisa berubah seiring waktu!" jawab Acha.
"Rasa cinta itu bukan rasa yang semu, Cha! Jika kamu menjatuhkan rasa itu, pada orang yang tepat! Kamu akan bisa merasakan sebuah rasa yang nyata." Ujar Amygdala.
"Tapi, bagaimana kita bisa tahu, kalau kita jatuh cinta pada orang yang tepat?" tanya Acha.
"Hatimu..ikuti apa kata hatimu, dan libatkan Sang Pemilik Cinta Sejati di dalamnya!" Ujar Amygdala.
"Lalu apakah jika kita jatuh cinta pada orang yang tepat, bisa menjamin kita tidak terluka atau kecewa? Apakah kita bisa mempercayainya untuk sebuah kesetiaan?" Amygdala langsung melihat ke arah Acha. Kedua temannya tak ikut berbicara, sengaja memberi ruang pada keduanya untuk sama-sama memahami rasa yang mereka miliki.
Acha bertanya tanpa menoleh, tatapannya jauh ke depan. Walau berusaha kuat, dan baik-baik saja. Namun tetap saja rasa kecewa tidak benar-benar tiada di hatinya. Hubungan yang terjalin hampir satu tahun, tanpa keributan dan berjalan sangat mulus, nyatanya berakhir dengan tusukan tepat di ulu hatinya,tanpa ada peperangan sebelumnya.
Amygdala bisa melihat rasa kecewa yang belum sirna di mata Acha. Wajar memang karena semua luka baru saja membuncah beberapa hari ke belakang, dan pastinya masih basah dan terasa perih. Dia pun sebenarnya kecewa dan terluka, namun entah mengapa pertemuannya dengan Acha memuaikan semuanya begitu saja.
"Cha...Manusia itu diciptakan dengan sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Tapi manusia hanya makhluk biasa yang tak bisa menyaingi kesempurnaanNya. Manusia tidak seperti malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Jadi rasa luka, kecewa, bahagia, sedih,senang itu semua sangat manusiawi. Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya tidak akan membuat kecewa atau orang lain terluka. Bahkan aku sekalipun, jika kelak menikah denganmu, aku tidak bisa menjanjikan akan selalu membahagiakanmu, dan tidak membuatmu terluka atau kecewa. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk bisa membuatmu bahagia. Dan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa atau terluka. Untuk kesetiaan, itu tergantung dari prinsip orang itu sendiri!" kata Amygdala.
Acha menoleh pada Amygdala, lalu memiringkan badannya menghadap ke Amygdala.
"Dan prinsipmu apa?" Tanya Acha.
"Haah?" Amygdala menoleh pada Acha.
"Tentang kesetiaan...?" Kata Acha.
"Ketika aku sudah merasa menemukan rumah yang nyaman untukku tinggal dan menetap, aku tidak akan tertarik untuk mencari rumah lain. Aku hanya akan melalui hari-hariku di dalam rumah yang kutinggali sepenuh hati." Jawab Amygdala.
Acha mengangguk-anggukan kepalanya.
" Udah yakin Cha..?" tanya Diska.
"Tentang apa..?" Acha bertanya balik.
"Menjatuhkan hati pada orang yang tepat!" Timpal Nadia.
"Lihat nanti saja, seberapa besar kesungguhannya untuk membangun sebuah rumah penuh cinta di hatiku!" Gumam Acha. Amygdala melirik sambil tersenyum.
"Satu minggu lagi, Cha! Bersiaplah!" bisik Amygdala.
"Oke...aku tunggu!" jawab Acha. Amygdala mengacungkan jempolnya.
"Mau nonton dimana nih?" Tanya Amygdala kemudian karena mereka sudah memasuki wilayah kota.
" CSB aja gak sih?" Acha meminta pendapat kedua temannya.
"Iya bang CSB aja!" seru Diska dan Nadia.
"Oke...!"Kata Amygdala. Dia lalu mulai memelankan mobilnya karena sudah sampai di tempat tujuan. Amygdala menyodorkan dompetnya pada Acha.
"Ambilkan tap cash dong!" pinta Amygdala.
"Haaah..!" Acha bingung, emang boleh dia buka dompetnya.
" Emang boleh ini, sebebas ini? Kenapa berasa sedang cosplay jadi isterinya yaa?"Acha bermonolog di dalam hatinya.
" Mana Cha..?" Amygdala mengulurkan tangnnya.
"Eh..iya..ini bukan?" Acha menyodorkan sebuah kartu.
"Iya..makasih..!"Amygdala melajukan mobilnya, lalu menempelkan tap cash nya, dan kembali menyerahkan tap cashnya kepada Acha. Setelah itu dia langsung masuk ke area parkir.
"Nad...kita kayak lihat adegan suami isteri yang mau main ke mall yaah..!" ucap Diska.
"Hooh...terus peran kita apa yah, anak-anaknya gitu?" kata Nadia.
"Gak mau gue, punya anak-anak kalian berdua!" seru Acha.
"Kenapa? Kita kan asik, baik..lagi...!"
"Iyaaa...saking asiknya kalian, seenaknya sama emaknya! Bisa noyor-noyor kepala gue lagi! Bisa jatuh harga diri gue sebagai seorang ibu..! Ditambah lagi kalian jajannya banyak bisa bangkrut..anjiir!" ucap Acha.
"Eh...kayaknya Ayah Dala gak keberatan deh soal jajan kita yang banyak mah..ya kan Yah?" Diska malah makin menjadi.
"Jajannya sih gak keberatan, cuma saya takutnya akan ada kisah Anak jatuh cinta sama suami ibunya!" Ujar Amygdala sambil tersenyum. Dan membuat Diska dan Nadia tertawa. Sedangkan Acha malah bergidik.
"Udah..udah Ah...! Ngeri tahu dengernya! Dasar pada somplak!" ketus Acha. Nadia dan Diska semakin keras tertawa.
"Yuk..turun! Aku titip dompetnya di kamu aja Cha!" kata Amygdala.
"Kenapa?" tanya Acha.
"Hitung-hitung latihan jadi isteriku Cha!" Goda Amygdala yang tersenyum sangat manis pada Acha.
"Haissh...emang harus latihan dulu yah? Kenapa gak ngadain diklat sekalian, diklatsus menjadi Isteri Amygdala...!" Kata Acha.
"Boleh...tuh idenya! Peserta Diklatnya cuma kmu doang...Cha..jadi harus totalitas memerankan peran seorang isteri." kata Amygdala.
"Haah...modus, nambah dosa itu mah! Udah lah gak usah ada Diklat langsung Akad saja, totalitas juga jadi ibadah!" kata Acha lagi.
"Siaaap...! Jadi nanti habis nonton sekalian aja beli kain buat seragaman bridesmaid buat kalian yaah!" Kata Amygdala.
"Haah.. serius bang?" Tanya Diska.
"Seriuslah...!" Kata Amygdala. Acha hanya menoleh sambil menjulurkan lidahnya.
"Aku serius Cha....!" Amygdala berusaha meyakinkan Acha yang masih menganggap niatnya untuk menikahi Acha hanya bercandaan.
"Iyaa..iya..mendingan nonton aja dulu!" kata Acha.
Mereka berempat naik kelantai atas, menuju biiskop.
"Abang mau ikut nonton? Tanya Acha.
"Ikutlah...!" kata Amygdala.
"Tapi kita nonton film ini, filmnya Ayah Pidi Baiqi. Acha menunjuk film " Ancika" yang sedang tayang di Bioskop.
"Gak masalah...!" kata Amygdala.
" Oke...!" Acha kemudian membeli empat tiket.
"Ambil uangnya di dompet aku Cha!" kata Amygdala.
" Haaah! Dibayarin lagi?" Kata Acha.
" Iya...udah ambil aja,uangku gak bakal habis cuma dipakai buat bayar tiket nonton doang!" Kata Amygdala.
"Eh... sekalian beli makananya!" titah Amygdala. Acha akhirnya menurut karena di belakangnya juga sudah antri orang yang akan membeli tiket.
Acha membuka dompet Amygdala, matanya terbelalak melihat lembaran uang pecahan seratus ribuan berjejer rapi dan sedikit sesak di dompet Amygdala.
" Masya Allah...nih orang ngepet kali yaah! ini duit cashnya ngantri gini! Bikin seger mata aja!" Acha berceloteh sendiri di dalam hatinya.
*****
Aku tidak bisa menjanjikan akan selalu memberimu bahagia, dan aku juga tidak bisa berjanji untuk tak membuatmu terluka atau kecewa. Namun aku akan berusaha semampuku untuk mencipta bahagia di hidupmu dengan mengecilkan kemungkinan membuat kecewa dan luka di hatimu.
~Amygdala~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 128 Episodes
Comments
Erni Fitriana
quates dala😘😘😘😘😘😘😘
2024-09-17
0
Salim S
Cirebon membara...welcone toCirebon kota Berintan....baru kali ini nemu novel yg latar belakangnya kota kelahiran ku.thanks thor...udah mamapir ke Cirebon....
2024-03-17
0
Arkan Nuril
kata2 diakhir cerita bikin meleleh hatiku🥺🥺
2024-01-27
0