Gadis Grup Merpati sudah berada di tempat semula. Dia sangat marah karena dua anak panah meleset jauh. Dia mendengus berulang-ulang. Gadis bercaping mengabaikannya.
"Kamu jangan merasa hebat dulu, masih ada dua tahap pertandingan. Kali ini, tidak memakai kuda. Aku hanya kalah di kecepatan kuda. Kamu lihat, lima anak panahku semuanya tepat sasaran. Bukankah oamu hanya menghasilkan dua ratus poin karena dua anak panahmu? Sisanya paling banya seratus poin. Aku masih unggul karena poinku berjumlah lima ratus." Gadis Grup Merpati masih sombong.
"Oh ya? Bukankah seharusnya aku mendapat tujuh ratus poin? Bagaimana bisa tiga ratus poin?" Tanya Dara si Gadis Bercaping.
"Tujuh Ratus? Kamu sedang bermimpi, kah?" Dara si Nona Grup Merpati balik bertanya.
"Lihat saja nanti!" Jawab Gadis Bercaping.
Tujuh orang asisten sudah berada di meja juri dan menyerahkan anak panah serta nilai yang sudah mereka catat dengan didampingi oleh penilai dati pihak juri.
"Pengumuman perolehan poin! Ada lima lingkaran dalam target, setiap posisi lingkaran dihitung mulai dari lingkaran luar. Lingkaran target paling luar sampai target ulama masing-masing adalah dua puluh poin, empat puluh poin, enam puluh poin, delapan puluh poin dan seratus poin."
"Setelah dilakukan pengamatan oleh tim juri didampingi setiap asisten peserta, maka nilai sudah didapatkan. Pengumuman akan diambil secara acak."
Seorang penyelenggara mengambil semacam toples dari kaca yang di dalamnya ada kertas berisi nilai masing-masing peserta. Pembawa acara mengambil kertas secara acak dari dalam toples kaca.
"Tuan James dari Gunung Mer mendapat empat ratus poin!" Suara tepuk tangan menggema.
"Tuan Tommy dari Gunung Mer mendapat lima ratus poin!" Kembali tepuk tangan menggema.
"Selanjutnya! Tuan Timothy dari Gunung Mer lagi, mendapat lima ratus poin!"
"Tuan Wang Feng dari Keluarga Wang mendapat tiga ratus delapan puluh poin!"
"Nona Grup Merpati mendapat lima ratus enam puluh poin!" Kali ini sorak sorai benar-benar sangat meriah. Apalagi nilai poin gadis ini mengalahkan beberapa murid Gunung Mer.
Tampak Presiden Konsorsium Merpati yang duduk disamping Bing bertepuk tangan. Keduanya terlihat akrab dan sepertinya mereka cukup puas. Namanya Bastian Rajasa. Seorang bangsawan dari ibukota yang pindah ke provinsi selatan dan mendirikan konsorsium bersama beberapa perusahaan di Provinsi Selatan, dan menjadi grup yang lumayan besar. Namun masih kalah besar dengan Grup Gerbang Naga.
"Tuan Bastian, Putri Anda sungguh sangat berbakat." Puji Bing.
"Dia memang punya bakat luar biasa dari kecil. Dia diserahkan padaku sekitar umur tiga tahun. Tapi, yang perlu kamu ketahui, statusnya tidak biasa. Dia adalah Putri bangsawan hebat di negeri ini." Bisik Bastian.
"Oh, benarkah? Tuan Bastian sungguh mendapat berkah yang besar. Putri Anda benar-benar luar biasa." Bing terus saja memuji Bastian yang semakin menegakkan kepala.
"Tuan Wildan dari perguruan Cakar Elang mendapat empat ratus poin!"
"Tuan Lin He dari Keluarga Lin Kota Sulu dan sekaligus murid dari Gunung Mer, lima ratus dua puluh poin!"
"Tuan Lukas Chen dari Keluarga Chen Kota SG sekaligus murid Perguruan Gunung Mer mendapat empat ratus delapan puluh poin!"
"Tuan Juan Hadinata Putra Tuan Robby Hadinata pemilik Grup Diora dan Bank Diora. Bang terbesar di Provinsi Selatan, mendapat lima ratus poin!"
Tampak Hadinata yang duduk bersebelahan dengan ayahnya yang mantan gubernur Provinsi berdiri. Dia cukup puas dengan perolehan poin putranya.
Terlihat Hadinata, Kakek dari Juan juga tersenyum. Dara si Gadis bercaping memperhatikan orang ini, dia mengenalnya. Hanya saja dia tidak tahu namanya.
"Tuan Lung, peserta tertua, utusan dari Diana Resort, mendapat lima ratus dua puluh poin!"
Kali ini Dara terkejut. Dia mengenal orang tua ini. Usianya setidaknya lima puluh tahun. Namun badannya yang penuh tato itu terlihat sangat kuat dan berotot. Walaupun rambutnya sebagian sudah putih, namun Lung ini terlihat masih tegap dan lincah. Terbukti poin yang dia raih cukup tinggi.
Dara kemudian mencoba mengingat-ingat. Namun dia kembali gagal ingat. Dia mengenal orang, namun dia gagal mengenalkan diri pada mereka karena penampilan fisiknya.
Dara mengalihkan pandangan, dilihatnya Paman Herry ada di sana. Saat Dara melihatnya, Herry mengepalkan tangan dan mengangkatnya. Dara tersenyum, lalu melambaikan tangan. Dia mencari-cari kakeknya, namun orang tua itu tidak ada di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments