Dara langsung dibawa ke markas polisi Kota M. Inspektur ingin menemui tahanan ini secara langsung. Dia penasaran, kenapa nama gadis ini Dara?
Di ruang penyidik, Dara tidak diborgol karena Dara menyerahkan diri untuk dibawa oleh polisi. Saat itu, inspektur membuka pintu dan masuk ke ruang interogasi.
"Paman Herry?" Seru Dara.
"Kamu, kamu mengenalku? Apakah kamu Dara putri Nona Diana?" Tanya Inspektur.
"Ah maaf, lupakan saja. Aku hanya ingat, nama ayahku Galang, ibuku Riana. Yang lainnya aku tidak ingat." Jawab Dara.
"Nona Dara? Benar ini kamu?" Herry seperti tersadar. Tidak mungkin itu benar. Namun dia mengucapkannya.
"Dara, berikan dompetmu padaku! Aku akan memeriksanya." Ucap Inspektur Herry. Dara lalu memberikan dompet yang berisi banyak kartu dan satu cincin kecilnya pada Herry.
"Paman, aku terpisah dari ayah dan ibuku sejak kecil. Aku mengenali wajah yang pernah aku temui di masa lalu. Tapi, aku tidak akan meneruskan niatku karena wajahku memiliki tanda hitam yang akan membuat orang menyangka aku berbohong. Jadi aku memilih untuk tidak memberitahu mereka mengapa aku mengenal mereka."
"Kemaren aku bertemu Bibi Cintya dan Paman Joshua. Aku mengenal mereka. Karena mereka orang kaya, aku tidak berani meneruskan kalimat bahwa aku benar-benar mengenal mereka. Karena wajahku seperti ini, maka aku takut dituduh ingin menipu orang." Ucap Dara.
Inspektur Herry tertegun mendengar pengakuan Dara.
"Dara, ini cincin apa?" Tanya Herry.
"Aku mencarinya di internet, itu adalah simbol Dewa Perang Penjuru Utara Istana Sulu. Tapi aku tidak tahu soal itu. Ketika aku berumur tujuh tahun, kakek memotong cincin itu karena sudah tidak muat di jariku. Tapi kakek berpesan agar aku tidak menghilangkannya. Karena itu satu-satunya bukti keberadaanku." Jawab Dara.
"Bagaimana kamu terpisah dari orang tuamu?" Tanya Inspektur Herry.
"Kakek bilang, waktu itu terjadi perang, kemudian ibu menyuruh Kakek Li, guru dari Kakekku agar membawaku ke Kota S di Provinsi Timur. Kakek Li tidak membawaku, tapi menyerah aku kepada kakekku itu. Lalu kakek membawaku kemari."
"Kata Kakek, seharusnya aku memiliki kalung, tapi kalung itu hilang saat aku masih kecil. Kata Kakek, kalung itu dicuri. Seharusnya kalung itu aku pakai saat usiaku dua puluh tahun. Tapi kalung itu hilang." Jawab Dara lagi.
"Dara! Aku tahu siapa ayah ibumu. Tenang saja, aku akan membantumu. Tapi kamu harus selesaikan kuliahmu dulu. Dara, kamu berasal dari keluarga terhormat yang kaya raya, bahkan harta ayah dan ibumu tidak terhitung jumlahnya. Untuk sementara, sembunyikan identitasmu."
"Untuk biaya kuliah, aku akan membiayaimu. Kamu sudah seperti anakku. Kamu tidak perlu bekerja lagi. Aku akan menyiapkan rumah yang lebih baik untuk kalian." Ucap Herry.
"Paman, itu tidak perlu, aku bisa membiayai diriku sendiri." Sahut Dara.
"Dara, apakah Paman akan tega melihatmu tinggal di sana? Kamu jangan membantah." Herry menarik nafas.
"Dara, apakah kamu yang membunuh ketua Gangster itu?" Tanya Herry.
Dara mengangguk. "Aku membela kakek yang dianiaya. Aku hanya meminta mereka menghentikan itu, tapi mereka malah mau melecehkan aku. Tidak ada jalan lain" Jawab Dara.
Herry kembali menarik nafas, "Apa kamu tahu resiko karena menyinggung mereka?"
"Paman, aku telah mendatangi markas mereka, dan kereka ketakutan."
Jawaban Dara benar-benar membuat Herry terkejut. "Jadi? Dara, dengarkan ini!"
Herry kemudian mengambil ponsel, memutar sebuah rekaman percakapan anta Dara dan seorang laki-laki.
"Iya, itu aku dan ketua Janitor yang baru." Jawab Dara enteng saja.
"Paman, apakah menurutmu membela diri itu sebuah kejahatan?" Tanya Dara.
Giliran ditanya begitu, Herry tersenyum, "Dara, kamu tidak seharusnya membunuh orang. Aku sedang berusaha untuk membebaskanmu. Di lain waktu, kamu tidak perlu melakukan itu lagi."
"Terimakasih, Paman." Ucap Dara tulus.
Suganda telah sampai di ruang penyidik. Dan langsung diterima oleh Kapten Baron.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments