Inspektur Herry telah keluar dari kamar interogasi. Dia tampak bermuka muram. Semua polisi berdiri dan memberi hormat. Baron heran, Inspektur Herry melarang percakapan Inspektur heri dengan Dara.
"Kapten, bebaskan Dara!" Ucap Herry.
"Inspektur! Tapi....!" Sahut Baron.
"Aku memutuskan! Setelah ini, datang ke kantorku!" Teriak Herry.
Walau Baron memiliki banyak pertanyaan, namun dia patuh. Herry berlalu dan menemui Suganda yang duduk di sebuah kursi.
"Tuan Suganda. Aku tahu Anda datang untuk membebaskan Dara. Tapi, sebelum Anda datang, aku sudah mengambil keputusan bahwa Dara dibebaskan." Ucap Herry.
"Inspektur, terimakasih! Aku mengalami kejadian itu, jadi aku tahu betul yang dilakukan Dara." Sahut Suganda.
Herry duduk di kursi lainnya, "Untuk masalah ini, tidak boleh sampai wartawan tahu. Anda tidak perlu menjawab jika wartawan bertanya. Dara memiliki identitas yang tidak biasa. Aku memberitahu Anda, Dara adalah putri dari Nona Diana, pemilik Grup Gerbang Naga, juga raja di Istana Sulu. Dara juga adalah Dewa Perang Penjuru Utara Kota Sulu. Hanya saja, Anda harus menyembunyikan identitasnya."
"Apa? Inspektur! Benarkah itu?" Tanya Suganda.
"Biarkan Nona Dara menyelesaikan kuliahnya. Aku yakin Nona Diana punya alasan kenapa Nona Dara berada di sini." Lanjut Herry.
"Aku akan mengingat itu, Inspektur. Terimakasih telah memberitahuku." Ucap Suganda.
"Tuan Suganda, aku ingin bertanya, Nona Dara memiliki banyak sekali kartu." Herry menyodorkan dompet berbentuk hati pada Suganda. "Apakah ini masih berlaku?"
Suganda menerima dompet itu, lalu memeriksa kartu-kartu itu. Dia memang tidak tahu soal kartu-kartu itu. Sepertinya itu diberikan oleh beberapa perusahaan besar di Kota M di era gubernur sebelum dia.
"Inspektur, aku akan membawa kartu-kartu ini dan menanyakan langsung pada yang bersangkutan. Setelah mendapatkan hasilnya, aku akan mengembalikannya." Ujar Suganda.
"Baiklah. Aku percaya pada Anda." Sahut Herry.
Baron telah mengeluarkan Dara dari kamar interogasi. Dia ingin mengantarnya ke kampus. Saat melewati Herry dan Suganda, Dara berhenti. Dia heran melihat Suganda berada di sini.
"Kakek, kenapa kamu di sini?" Tanya Dara polos.
"A.. Iya, Dara, aku diundang oleh inspektur." Suganda tidak bisa menjawab.
Dara melihat ke Herry, "Paman, apa kamu menangkap kakek? Kenapa kakek terlihat gugup?"
Herry tersenyum dengan kepolosan Dara. "Kakek kemari karena ingin kamu bebas, Dara."
Dara melihat ke arah Suganda, Suganda mengangguk dan tersenyum.
"Paman, berikan dompetku!" Kata Dara sambil tangannya disodorkan meminta sesuatu.
"Dara, aku akan meminjam dompetmu sebentar, nanti Paman kembalikan." Sahut Herry.
"Baiklah, tapi jangan sampai hilang, nanti kakekku marah." Dara benar-benar polis. Di depan Herry, dia terlihat ceria. Hanya Herry yang sangat peduli padanya setelah kakeknya.
"Kapten, antar Nona Dara ke kampus! Sepulang dari sana, langsung temui aku!" Perintah Herry.
"Baik, inspektur!" Mereka pun pergi, Baron langsung yang mengantar Dara. Dia juga akan meminta maaf secara khusus pada ketua universitas atas penangkapan Dara.
"Inspektur, aku mendengar kabar bahwa raja dunia bawah tanah mengadakan lomba beladiri. Ada dua nama Dara di dalam daftar peserta. Satu lagi adalah putri angkat dari Presiden Konsorsium Merpati." Kata Suganda setelah Dara pergi.
"Aku sudah tahu, tapi aku belum yakin tentang keduanya. Yang aku heran, Dara ini memiliki tanda hitam di wajahnya. Sedangkan Dara putri angkat Presiden Konsorsium Merpati sangat cantik. Kami sedang menyelidikinya. Mana Nona Dara yang asli aku belum tahu." Sahut Herry.
"Baiklah, Inspektur. Aku akan segera membawa kartu-kartu ini untuk ditanyakan langsung pada yang bersangkutan. Tapi, aku akan meninggalkan cincin ini padamu." Ucap Suganda.
"Tuan Suganda boleh pergi, kita lihat saja hasilnya." Balas Herry.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Ayay Nya Yuda
saking serunya gak ada yg komen ini hufftt,ayokk dong komen2 jgn baca doangg
2024-12-25
0