"Dara, ini adalah undangan ulang tahunku yang ke delapan puluh tiga tahun. Kakek hanya membuat satu undangan berlian untukmu. Kamu akan menjadi tamu terhormatku besok siang. Datanglah jam sepuluh." Kakek Suganda memberikan sebuah undangan berwarna hitam, ada logo berlian di bagian depan undangan di sana ada stempel dengan tinta berwarna emas.
"Kakek, aku, aku tidak punya hadiah untuk diberikan padamu. Apakah aku layak untuk datang di acara ulang tahunmu?" Dara merasa rendah diri.
Untuk datang di acara orang kaya, Dara jelas merasa tidak layak mengingat kehidupannya saat ini. Statusnya memang mahasiswa, namun pekerjaannya hanya sebaga petugas kebersihan dan pelayan restoran rendahan.
"Aih, Dara. Kamu akan menjadi tamu terhormat Kakek. Tidak akan ada yang berani merendahkanmu. Kamu juga tidak perlu membawa hadiah. Kakek sudah banyak menerima hadiah.." Sahut Suganda.
Berkat kegigihan Suganda, Dara benar-benar akan datang. Namun, Dara terus saja memikirkan hadiah apa yang akan dibawanya?
Setelah Suganda pulang, Kakek tua mengambil sesuatu dari lemari.
"Dara, ini kakek punya patung, ini hadiah dari seorang pembuat patung di Kota SG saat kakek berhasil menyembuhkan penyakitnya. Berikan ini pada Tuan Suganda." Kakek memberikan s3buah patung burung elang.
Dara menerima patung itu. Ternyata patung itu dibuat dari batu padat. Walaupun kecil, patung itu berat. Yang unik, mata patung terlihat seperti berlian.
"Kakek, apakah mata elang in8 berlian?" Tanya Dara.
"Iya, Kakek tidak tahu berapa harga patung ini. Tapi, rata-rata patung yang dibuat oleh pematung itu harganya sampai satu miliar, kadang lebih. Lihat di kaki patung, itu ada tulusan pembuatnya." Jawab Kakek.
"Namanya Zakharia? Itu adalah seniman terkenal. Kakek! Ini harganya sangat mahal, bukan?" Dara sampai terkejut.
"Sudahlah. Kalau dijual, buat apa juga uangnya? Tuan Suganda memberimu banyak uang. Anggaplah itu dibeli oleh Tuan Suganda. Sudah sana tidur. Besok kamu bangun kesiangan." Ucap Kakek.
"Baiklah, kakek juga cepat tidur. Tadi Bibi Ning membungkuskan makanan, kalau kakek lapar, kakek bisa memakannya." Sahut Dara.
"Iya, nanti kakek makan. Kakek harus meramu obat dulu. Ada pesanan obat. Kamu tidur duluan, sana!" Ujar Kakek. Tanpa menjawab, Dara segera menuju kamarnya.
Dara merebahkan tubuhnya di kasur yang sederhana. Kamarnya tidak besar dan tempat tidurnya juga hanya cukup buat tubuhnya saja.
"Ayah, Ibu, kalian ada di mana? Apa kalian masih hidup?" Dara meneteskan air mata. Dia tidak bisa mengingat wajah ayah dan ibunya. Hanya saja di dokumen identitas, dia mengetahui nama ibunya adalah Riana dan ayahnya Galang.
Lama Dara tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya menerawang jauh. Dia menyentuh wajahnya. Ada kesedihan yang dalam kalau dia melihat wajah itu di cermin. Tanda hitam di wajahnya membuatnya tidak percaya diri.
Dara membuka kembali dompetnya. Ada banyak kartu di dalamnya. Dia tidak tahu kartu apa itu. Kakek hanya mengatakan bahwa dia tidak boleh menghilangkannya. Selain kartu, ada sebuah cincin kecil dari emas.
Dara ingat, ketika berumur tujuh tahun, itu saat terakhir dia mengenakannya, karena itu sudah tidak muat di jarinya. Kakek juga berpesan agar dia menjaga cincin itu dan tidak boleh menghilangkannya.
Dara menimang-nimang kembali cincin itu. Sebuah cincin bermata berlian. Di cincin ada ukiran pedang dengan ujung seperti anak panah. Dara mencoba mengingat-ingat masa kecilnya, namun dia sama sekali tidak ingat apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kenapa cincinya gak di jadiin liontin? dari harus simpan di dompet kan bisa hilang..
2024-05-06
0
Cahaya yani
hadiirr thooorr
2024-03-01
0
marrydiana
mampir thor, mampir juga di karya aku Bukan Pernikahan Impian
2024-02-08
0