Pak Osman melipat tangan di dada, ia memejamkan matanya memfokuskan pikiran pada lafadz Allah. Hati menyebutkan asma' mengikuti suara degupan jantung.
Zulkifli memperhatikan si Bapak, pemandangan ini sudah biasa baginya. Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenal oleh Zulkifli terdengar dekat di cuping telinganya.
" Sayang, Bapak mu membutuhkan bantuan mu"
Zulkifli memperhatikan ke sekeliling, jika ia menjawab takut nya dipikir orang gila. Karena Zulkifli tahu, meskipun Pak Osman juga bisa melihat makhluk halus, dia tidak bisa melihat wujud perempuan yang sering mendatangi Zulkifli .
" Kau harus berani, kau harus yakin... Kau anak Ibu, kalah kan para Iblis itu Nak"
Pak Osman mulai membuka matanya, Ia tersenyum saat tahu Zulkifli memperhatikan dirinya.
" Kita butuh air zamzam dan juga pohon kelor"
" Di rumah Bapak saya ada air Zamzam Pak Osman " Jawab Tresno.
" Bagus, dan carilah empat batang pohon kelor tanam di setiap sudut rumah " Sambung Pak Osman .
" Saya butuh kertas untuk menulis sesuatu yang harus anda lakukan sendiri Nak Tresno "
Ajeng Rahayu segera bangkit dan masuk ke dalam. Ia mengambil buku serta pena seperti yang diminta oleh Pak Osman .
" Apa saya harus mencari sekarang pohon kelor nya Pak Osman ?" Tanya Tresno bersamaan dengan ia menyerahkan buku dan pena.
" Lebih cepat lebih bagus, bawalah Zul untuk membantu "
Mendengar hal itu Tresno sedikit ragu, karena ia khawatir tidak akan bisa berkomunikasi dengan baik.
" Bawalah, dia memang tidak bisa mendengar suara manusia. Tapi dia bisa mendengar suara lelembut. Mereka tahu aku datang, dan pasti mereka akan menggangu mu dalam perjalanan "
Tresno paham sekarang maksud Pak Osman , ia pun mengangguk setuju.
Dalam perjalanan mencari pohon kelor, Tresno kebingungan. Biasanya banyak sekali di pinggir-pinggir jalan, tapi kenapa sekarang malah tak ada satu pohon pun nampak.
Sampai ia mengelilingi desa, berputar-putar kesana-kemari.
Zulkifli yang duduk boncengan di belakang, bingung mau kemana tujuan orang ini.
Tresno menghentikan laju sepeda motor nya, cahaya matahari yang terik membuat nya emosional. Ia geram dan mengumpat sendiri.
" Kita mau kemana Bang?" Tanya Zulkifli .
" CK diam lah kau" sergah Tresno kesal, hatinya dongkol karena merasa Zulkifli sama sekali tidak membantu.
" Bang , kita mau kemana ?" Sekali lagi Zulkifli bertanya.
" Bisa diam nggak !!" Bentak Tresno.
" Idih ditanya in baik-baik malah nyolot "
" Kalau kamu nggak bisa diam, aku tinggalin kamu disini " Kesabaran Tresno sudah habis, ia jengkel bercampur kesal.
" Sabar Bang sabar, coba jelasin baik-baik Abang sebenarnya mau kemana dan cari apa? Siapa tahu Zul bisa tolong "
Tresno melirik sinis, tapi ia masih bisa berpikir jernih. Akhirnya ia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto daun kelor.
" Aku cari ini"
Zulkifli mengerutkan keningnya, aneh sekali pikir nya. Lagi nyari daun kelor, wong dibelakangnya berjejer pohon kelor.
" Paham sekarang ?"
" Tuh "
Zulkifli memonyongkan bibirnya ke belakang punggung Tresno, pria itu menoleh. Barulah ia menyadari jika pohon kelor ada dibelakangnya. Tapi tadi sama sekali tidak terlihat.
" Astaghfirullah..." Tresno meraup wajahnya serta mengusap dadanya. Ia sadar telah tertipu daya oleh syetan.
" Ayo Zul, bantuin Abang " Ajak Tresno, diambil nya parang yang ia bawa dari rumah. Zulkifli mengikuti dan membantu sebisanya.
Setelah mencukupi, mereka pun pulang. Dalam perjalanan itu, Zul melihat ada sosok seperti manusia bertubuh kerdil, melompat-lompat di atas dahan pohon seperti monyet mengikuti mereka.
Tiba-tiba makhluk itu mematahkan dahan pohon yang berukuran besar.
" Stop!" Teriak Zulkifli , spontan Tresno menekan rem.
BRAK
Pohon itu jatuh tepat di hadapan Tresno, pria itu terhenyak kaget. Matanya membulat sempurna. Hampir saja dia mati konyol.
Zulkifli mendongak ke atas, sosok itu memicingkan matanya menatap sinis ke arah Zulkifli .
Sebenarnya ia takut, tapi kata-kata perempuan itu terus terngiang-ngiang seperti membangunkan pondasi keberanian di dalam dirinya.
" Zul ayo turun, bantuin Abang pindahin batang pohon itu" Pinta Tresno, Zulkifli mengiyakan. Keduanya bekerja sama mengangkat dahan pohon yang cukup besar itu.
" Makasih ya Zul " Tresno merasa beruntung sekali Zulkifli bisa ikut. Kalau tidak ?? Entah bagaimana hidup nya?
Setibanya di rumah, Pak Osman dan Ajeng sudah menunggu.
" Kok lama sekali Mas?" Tanya Ajeng.
" Ada gangguan Dek tapi Alhamdulillah anaknya Pak Osman mempermudah semuanya "
Ajeng menghela nafas lega, sejak tadi perasaannya tak tentram. Ia sangat mengkhawatirkan sang suami.
" Ayo kita tanam pohonnya " Ajak Pak Osman , Tresno mengiyakan.
Ajeng dan Zulkifli turut membantu sebisanya.
" Baca bismillah dan sholawat serta ayat kursi, Berharap lah pertolongan Allah akan datang melalui pohon ini "
"Amiin " Tresno mengaminkan doa Pak Osman sebelum menancapkan batang pohon kelor yang pertama.
Beberapa pasang mata nampak berang melihat rumah Ajeng di pagar gaib. Hanya Zulkifli yang melihat nya, tapi dia tidak bersuara sama sekali.
Terlalu banyak hawa negatif di rumah ini, Ia sampai merinding sekali.
Usai penanaman pohon kelor, Pak Osman mengajak Tresno dan istrinya berbincang-bincang.
" Nanti, tepat setelah jam dua belas malam. Lakukanlah sholat hajat dan sholat tahajud di ambang pintu rumah mu. Kemudian bacalah surah dan amalan yang sudah ku tulis. Setiap ayat yang sudah kau baca, tiup kan ke dalam air zamzam. Usai melakukan ini, kau siram sebagian air ke seluruh halaman rumah. Sebagian lagi kalian minum sekeluarga "
Tresno mengangguk mengerti. Ia memperhatikan tulisan yang ada di atas secarik kertas putih.
" Apapun yang kamu dengar selama melakukan zikir sampai selesai kau menyiram halaman rumah ini. Jangan kau perduli kan"
Tresno manggut-manggut lagi.
" Maaf Pak, sebenarnya apa yang terjadi ?" Ajeng memberanikan diri untuk bertanya.
" Apakah Bapak mertua mu tidak mengatakan apapun ?" Pak Osman balik bertanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Ajeng.
" Kau terkena santet piring sedapur, seluruh keluarga mu memang ingin dibonoh oleh orang ini. Entah apa yang membuat dia sangat dendam padamu ?"
Ajeng tertunduk pilu, jadi kematian kedua orang tuanya dan juga Neneknya adalah karena santet. Hati Ajeng sakit sekali.
Tresno merangkul bahu sang istri, ia mencoba menguatkannya.
" Apakah kamu pernah menyakiti hati seseorang ? Jika iya, sebaiknya minta maaf lah"
Ajeng menggeleng lemah.
" Bukan saya Pak yang menyakitinya, tapi dia. Saya memilih pergi karena disakiti oleh nya"
AJENG MULAI BERCERITA KISAH HIDUPNYA SEBELUM MENGENAL TRESNO.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ray
Bolot juga sangat membantu ya Zul😂
Dan sosok wanita yg selalu memberikan support kpd Zul, apakah arwah ibunya Zul?🤔
2024-11-13
0
Doni Gunawan
bolot bukan sembarang bolot ya kan Zul
2024-11-25
0
Kardi Kardi
amazing kang jul. amazing words : TUH/Shhh/
2024-05-21
1