" Bapak.. " Zulkifli lega sekali akhirnya Bapaknya datang, ia digendong oleh Pak Osman agar Zulkifli bisa turun dari atas pondok.
" Jal... " Ana memanggil, namun Ijal justru menatap ke sekeliling. Ia mencari keberadaan sang Ibu.
" Ijal, Ibumu sudah meninggal nak... Dia bukan Ibumu " Pak Osman memperingati Ijal supaya tidak mencari perempuan yang memeluk nya tadi.
" Iya Dek, Ibu sudah meninggal... Yuk kita pulang " Ana mengulurkan tangannya. Namun Ijal tetap tak bergeming.
" Jal... " Zulkifli turut memanggil temannya itu.
Akhirnya Ijal menyerah, ia bangkit dan turun dari atas pondok. Mereka pulang bersama-sama menuju ke rumah masing-masing.
Setibanya di rumah, kedua adik beradik itu melihat Bapaknya asyik bermesraan dengan calon bini nya.
" Kalian sudah pulang ?" Sapa Pak Radit, Iza duduk manja dipangkuan bapaknya Ijal.
Ana diam tak menjawab, matanya menjeling tajam . Ia kecewa dengan si Bapak yang sama sekali tidak perduli dengan anak-anaknya. Dan juga jengah sama Iza, perempuan itu hanya mau mesra dengan Pak Radit. Dan tidak pernah menghiraukan Ana serta Ijal.
" Hey, kalau ditanya orang tua ya jawab !" Seru Pak Radit kesal melihat kedua anaknya justru masuk ke dalam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
" Biarin aja deh Mas, anak-anak mu memang kurang 4j4r. Mereka seperti tidak suka padaku, dari kemarin-kemarin aku diam karena takut nya kamu mengira aku hanya membual. Sekarang kamu lihat sendiri kan gimana sikap mereka? Seperti tidak diajari sopan-santun sama Ibunya "
Pak Radit tersenyum, ia mentoel pipi Iza dengan gemas. Dalam pikiran serakah pria itu, alangkah baiknya jika dia mengorbankan satu orang anak nya untuk bisa mendapatkan uang secepatnya.
Toh mereka seperti tidak menghargai dirinya sebagai seorang Ayah. Ngapain punya anak kalau tidak bisa mematuhi orang tua.
" Kak" Ijal menahan tangan Ana yang hendak menutup pintu kamar nya.
Hati Ana terluka sayup-sayup mendengar ucapan Iza kepada Bapaknya. Bisa ya Iza membuat fitnah, jika memang Ana dan Ijal tidak menghormati nya, untuk apa mereka ikut lamaran tadi siang.
" Tadi Ibu bilang kita disuruh pergi ke rumah Ibu yang ada di Desa Mangun. Ibu tidak mau kita tinggal bersama Bapak lagi "
Ana terdiam, memikirkan apa yang diucapkan oleh adiknya. Tak mudah untuk mempercayai hal itu, Tapi jika terus-menerus seperti ini. Dia dan Ijal juga pasti tidak akan betah disini.
" Kak "
Ijal menggoyang lengan Kakak nya. Ana tersenyum getir.
" Ayo kita pergi ke rumah Ibu Kak " Ijal sedikit memaksa supaya mereka mengikuti saran dari Ibunya.
" Iya nanti kalau acara pernikahan Bapak sudah selesai " Jawab Ana kemudian.
" Nggak Kak, kita pergi sekarang aja "
" Ini sudah malam Jal "
" Nggak apa-apa, nanti Bude yang nganterin Kak" Ijal tetap memaksa.
Tapi Ana terlalu lelah, ia malas untuk berjalan lagi ke rumah Fitri.
" Besok aja ya "
Ijal merengut kecewa, tapi mau gimana lagi? Ijal tidak bisa memaksa.
**
Malam semakin larut, Zulkifli sudah larut dalam mimpi. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya seperti mengambang di udara. Perlahan Zulkifli membuka matanya.
Dan benar saja, tubuh Zulkifli tengah melayang jauh dari tempat tidur nya.
" Wwwoooooo " Zulkifli ketakutan, ia ingin turun namun seolah bumi kehilangan gravitasi nya.
" Kok bisa jadi gini sih? Apa aku sedang bermimpi ?" Zulkifli menepuk pipi nya sendiri.
" Sakit " Zulkifli merasakan perih di pipinya, jadi dia sedang tidak bermimpi.
" Apa ini maksudnya ?"
Zulkifli memakai gaya kodok untuk mendarat, namun gagal.
Tiba-tiba sosok Bu Ismi muncul, membuat Zulkifli mengayuh kakinya agar tubuhnya mundur.
" Maafkan aku, kali ini aku terpaksa memaksa mu untuk membantu Ijal "
Tangan dingin Bu Ismi meraih tungkai kaki Zulkifli , kemudian menarik nya pergi jauh melesat cepat.
Zulkifli menjerit sekuat tenaga..
AAAAAAAAAAAAAAAAA
Pak Osman terjaga, ia bergegas pergi ke kamar Zulkifli dan tidak menemukan anak angkatnya disana.
Pak Osman sudah menduga pasti roh Bu Ismi kembali lagi. Tidak ada cara lain, Pak Osman harus turun tangan. Ia meraih sorban hijau yang sudah lusuh, beserta tasbih warisan almarhum Ayahnya.
Pria yang sudah hampir separuh abad mengayuh sepeda ontel nya dengan cepat menuju rumah Pak Radit.
Malam itu Pak Radit sedang melakukan ritual persembahan dengan menuliskan nama Ana di atas kertas. Kemudian ia masukkan ke dalam peti hitam.
Setelah merapal mantra pemanggilan jin, Pak Radit memejamkan matanya. Bibirnya komat-kamit mengucapkan mantra yang harus ia baca sepanjang malam.
Bayangan hitam merayap keluar dari kamar tempat Pak Radit melakukan ritual. Bayangan itu menuju ke dalam kamar Ana dan Ijal.
Pada saat bayangan hitam itu sudah merayap masuk, tiba-tiba tubuh Zulkifli terlempar ke atas tempat tidur Ana dan Ijal.
Reflek keduanya kaget dan langsung bangun.
" Zul!!! Ngapain kamu disini ?" teriak Ana kaget.
" Zul?? Kamu kok bisa ada disini ?" Ijal ikut bertanya.
Zulkifli tidak bisa berkata apa-apa, hanya tangan nya menunjuk ke arah pintu.
Disana terlihat roh Bu Ismi tengah menahan bayangan hitam agar tidak mendekati Ana dan Ijal.
Namun Roh Bu Ismi justru ditam-par habis-habisan oleh bayangan tersebut. Sedemikian rupa Bu Ismi terus menahan makhluk yang berbentuk bayangan agar tidak mencelakai anak-anaknya.
" Ibu..." teriak Ijal, ia tidak tega melihat Ibunya dipukuli. Ijal ingin melompat tapi Zulkifli memeluk nya dari belakang.
" Diam Jal diam, jangan lakukan apapun. Kita harus kabur dari tempat ini "
" Iya Jal " Ana setuju dengan ide Zulkifli .
" Tidak Kak tidak... Ibu kita disiksa Kak, aku tidak bisa meninggalkan Ibu " Ijal berontak sambil menangis, tangan nya terulur berusaha meraih sang Ibu.
" Jal, lari Nak... Lariiii " seru Bu Ismi, ia terus menahan bayangan itu meskipun tubuh nya dipukuli dengan membabi buta.
Ijal menggeleng, tangisannya semakin pecah melihat kondisi Ibunya.
audzubillahiminasyaitonirojim...
Bayangan hitam itu terdiam, tangan nya menghentikan cambukan ke tubuh Bu Ismi.
Lantunan ayat suci semakin jelas terdengar, tiba-tiba di ujung kaki bayangan hitam itu tersulut api.
" Hah??? Panas.... Panasssss... " Makhluk itu berteriak kepanasan. Dan hal yang serupa terjadi kepada Pak Radit.
Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dari tubuhnya menyala api yang membakar.
" Paaanaaaassss Panaaaaaassss" Pak Radit bergulung-gulung berusaha memadamkan api, namun tidak berhasil.
Melihat keadaan yang mendukung, Zulkifli segera mengajak Ijal dan Ana untuk kabur. Tapi Ijal justru ketinggalan sandal nya, Zulkifli cepat menenteng sandal Ijal.
Ketiganya melewati bayangan hitam itu yang tengah terbakar api. Masih sempat Zulkifli memu-kul kepala makhluk itu menggunakan sandal Ijal.
" Tuman "
Gigi nya sampai bergemeletuk karena geram dengan makhluk tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ray
Si Zul sempet2xnya mukul tuh dedemit yg mo makan tumbal🤔😱😂😂
Mo ketawa tapi Zul gak dengerkan, kan Bolot🤔😱😂😂
2024-11-13
1
kagome
setan digeplak🤣🤣🤣🤣
caranya gimana zul
aq minta resep🤭
2025-02-25
0
Yulay Yuli
kebiasaan, gaplok yg banyak Zul 😅😅😅
2025-03-21
0