Surya merangkak di atas tanah, tangan nya menggenggam butiran debu dengan kuat. Ia marah, ia murka, ia tidak akan membiarkan Radit hidup.
Tubuhnya bergerak bangkit, tungkai kakinya melangkah sempoyongan. Bagaimana cara ia menjelaskan hal ini kepada Istrinya ?
Para warga pun berangsur pulang satu persatu, sebagian dari mereka mengikuti Surya. Karena khawatir akan terjadi sesuatu selepas ini.
" Kau harus mati Radiiiiit" teriak Surya, yang awalnya lemas kini seakan memiliki tenaga baru hingga ia berlari masuk ke dalam rumah Pak Radit.
Pak Radit yang baru saja hendak menenggak air, kaget melihat Surya datang langsung mence-kik nya.
" Ma-ti kau ma-ti !!!!"
Surya sudah kehilangan akal sehat, ia hampir membuat Pak Radit kehilangan nyawa jika tidak dilerai oleh beberapa warga.
Itupun mereka memakai tenaga sekitar tujuh orang untuk menarik Surya dan menjauhkannya dari Pak Radit.
" Lepaskan ! Lepaskan aku!!!"
Surya terus berontak, dadanya naik turun dengan cepat.
Radit mengambil nafas sebanyak mungkin, karena ia hampir saja kehabisan nafas akibat ceki-kan keras tangan mertuanya.
" Ada apa ini Pak? Kenapa kamu ingin membo-nohku??" Seru Pak Radit setelah ia mulai pulih.
" Diam kau jah4na4m!!!! Kau lah yang membonoh Iza !!! "
Bola mata Pak Radit melebar, Kenapa Surya bisa tahu kalau dia yang telah membonoh Iza ?
" Ke-kenapa Bapak tega menuduhku begitu?"
"Aku tidak menuduhmu, Arwah Iza yang telah mengatakannya padaku "
" Arwah Iza?? itu mustahil Pak , Tidak mungkin orang mati bisa hidup kembali"
" Pak Osman yang sudah memanggil Arwah Iza "
Pak Radit menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah mengira jika Pak Osman rupanya sakti mandraguna. Tapi bukan Pak Radit namanya jika tidak bisa terlepas dari kesalahan.
" Pak bukankah aku sudah bilang kalau yang membonoh Iza adalah pak Osman. Dia tukang santet Pak, Dia tukang sihir . Apa yang dia lakukan itu semua sihir Pak, Jangan percaya sama dia"
Surya tidak membalas, ia sedikit mulai terpengaruh oleh ucapan Pak Radit kembali.
" Aku sangat mencintai Iza Pak"
Lagi-lagi Pak Radit menjadi kan air mata palsu sebagai senjata pelindung.
" Sudah lah Radit jangan menipu kami lagi "
Tiba-tiba terdengar suara yang berhasil menghentikan tangisan palsu Pak Radit.
Pak Komar muncul, ia berdiri diantara mertua dan menantu. Kedua tangan nya terlipat di dada.
" Apa yang dikatakan oleh Pak Osman adalah benar, Dia!!!" Pak Komar menuding Pak Radit.
" Telah melakukan pesugihan, kalau kalian tidak percaya. Geledah rumah ini, Iza baru meninggal semalam. Pasti uang hasil pesugihan nya masih tersimpan rapi "
Wajah Pak Radit pias seketika, apalagi melihat warga banyak yang mengangguk setuju dengan ide Pak Komar.
" Gila!! Apa-apaan ini Komar !!! " Runtuk Pak Radit dalam hati.
Beberapa orang meringsek masuk dengan komando dari Pak Komar. Pak Radit kelabakan, dengan kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Ia tidak mampu menghalangi orang-orang itu masuk ke dalam rumah nya.
Satu persatu pintu kamar dibuka, hingga kamar gelap itu pun juga dibuka paksa.
Terdengar suara" AKU MENEMUKAN SESUATU "
Kepala Pak Radit seakan membesar, ia menoleh gugup. Dan benar saja, peti hitam milik nya diangkat keluar.
Setelah dibuka semua orang terkejut melihat isi dalam peti. Banyak sekali harta Karun berharga.
" I-ini punya ku ... Ka-kalian kan tahu aku memang orang kaya sejak dulu " Pak Radit masih bisa ngeles.
Beberapa diantaranya sudah tidak percaya lagi.
" Lebih baik kita usir saja Pak Radit dari kampung ini " Pak Komar semakin menghangatkan keadaan dengan provokasi nya.
" Ya usir.. Usir "
Seru para warga kompak.
" Ini rumah ku, jangan seenaknya kalian mengusir ku " Pak Radit menolak keras. Tapi apa dikata, dia bukan lagi pria perkasa. Tubuhnya yang bonyok akibat sik-sa-an makhluk pujaannya itu, Pak Radit tidak mampu melawan.
Ia digotong rame-rame dinaikan ke dalam Dum truk yang sudah disediakan oleh Pak Komar. Tubuhnya dilempar begitu saja ke dalam bak Dum truk lalu di arak pergi keluar dari desa setempat.
Pak Komar tersenyum miring, kini saingan nya sudah disingkirkan. Bukan niat nya untuk membela Pak Osman , melainkan ia mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menyingkirkan Pak Radit.
Yang merupakan saingannya sejak lama dalam hal kekayaan. Hanya saja Pak Komar tidak pernah melalui jalan persekutuan dengan Iblis.
" Setan dijadikan partner" Gumam Pak Komar seraya melangkah pulang ke rumahnya.
Di dalam rumah Pak Radit, kini hanya tinggal Surya seorang diri. Ia terpegun menatap harta Karun dalam peti yang sangat banyak sekali.
Setan mengelilinginya, membisikkan rayuan kepada pria tua itu untuk mengambil harta tersebut.
" Itu adalah hak mu, ambillah ! Kau sudah kehilangan anakmu, jadi biar kau tidak rugi "
Surya yang memang tidak memiliki kekuatan Iman, ia tersenyum penuh arti. Di carinya tas untuk menyimpan harta Karun tersebut, kemudian ia pulang dengan membawa semuanya tanpa sisa.
***
Bu Nurul keluar begitu melihat suaminya sudah pulang. Ia tergopoh-gopoh menenteng ponsel milik Pak Komar.
" Pak, ada telfon "
Pak Komar terpegun, ia meraba-raba saku bajunya. Astaga, ternyata ponselnya ketinggalan. Saking semangatnya tadi ingin menyingkirkan Pak Radit hingga gawainya tertinggal.
" Dari tadi loh bunyi terus "
Pak Komar tersenyum malu, ia mengambil ponsel itu dari tangan sang istri. Begitu ada panggilan masuk, Pak Komar langsung mengangkat nya.
" Hallo ?"
" Bos, ada barang bagus "
" Oh baiklah !"
Telfon dimatikan tanpa salam.
" Bu aku pergi dulu"
" Lah, ini sudah malam Loh Pak, jam berapa ini?" Gerutu Bu Nurul.
" Sebentar saja, ada proyek dadakan. Kalau sukses, besok beli kalung Yo " Pak Komar memberikan iming-iming yang begitu menggiurkan.
Bu Nurul langsung tersenyum lebar.
" Yo wes kalau gitu, tapi ingat ! Besok ya " Dia memastikan, Pak Komar mengangguk.
Pria paruh baya itu kembali berangkat dengan menaiki mobil Avanza tahun terbaru. Ia melajukan nya dengan sedikit cepat agar bisa segera sampai di tempat tujuan.
Ada sebuah gudang berukuran lima kali enam meter persegi di tepi danau. Pak Komar masuk ke dalam gudang itu. Di sana sudah menunggu dua laki-laki.
Ketiganya bersalaman secara bergantian kemudian beriringan melangkah ke tengah ruangan.
Pak Komar menarik tuas lampu, seketika itu keadaan jadi lebih terang.
Di Hadapan ada sebuah meja berukuran besar, di sisi meja berjejer berbagai macam bentuk pisau, dan dua gergaji.
" Mana barang nya ?" Tanya Pak Komar. Salah satu pria memanggul karung goni yang terlihat berat sekali.
Dengan dibantu teman nya , mereka mengeluarkan isi goni ke atas meja besar di depan Pak Komar.
Ternyata itu manusia, tubuhnya berasap seperti baru keluar dari flezer.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ray
Perdagangan organ tubuh manusia apa Pak Komar😱😱
2024-11-13
0
Doni Gunawan
lagi
2024-11-24
0
Kardi Kardi
hadeuh. mar. komarrrrrrr/Toasted/
2024-05-21
1