" Assalamualaikum "
Pak Osman dan anak-anak saling berpandangan satu sama lain saat mendengar suara wanita memanggil salam.
" Wa'alaikumsalam " Pak Osman menjawab, ia melangkah segera ke arah pintu.
" Eh, Bu Isa "
Wanita yang dikenal oleh Pak Osman tersenyum lembut. Ana, Ijal, serta Zulkifli menyusul keluar.
" Bude " Ana menyapa, sebagai yang tertua dia memberikan contoh menyalami Bu Isa. Diikuti oleh Ijal dan Zulkifli .
" Maaf Pak Osman , saya datang mau menjemput anak-anak "
Ana dan Ijal saling berpandangan, raut wajah mereka berubah suram.
" Saya baru denger kabar mengenai Bapaknya anak-anak, katanya Pak Radit di usir dari kampung ini "
" Astaghfirullah " Pak Osman mengusap dada, ia tidak tahu mengenai hal itu.
" Ana, Ijal... Pulang yuk Nak"
Ana dan Ijal tidak menanggapi ajakan Budenya, hati mereka tidak rela jika harus berpisah dari Pak Osman dan Zulkifli yang memang sangat baik sekali. Meskipun makanan di rumah ini sangat lah sederhana.
Bu Isa merangkul dua bocah itu di sisi kanan dan kiri.
" Terimakasih ya Pak Osman , udah membantu menjaga mereka "
" Sama-sama Bu " Jawab Pak Osman .
" Jal, kamu mau kemana ?" Tanya Zulkifli .
Ijal tertunduk tak menjawab.
" Kamu nggak betah ya tinggal di rumah aku?" Sambung Zulkifli lagi, Ijal semakin sedih .
" Bukan nggak betah Zul.. Tapi mereka punya rumah sendiri " Pak Osman menjelaskan disertai gerakan tangan.
" Iya Pak, Zul tahu rumah kita tidak sebesar rumah dia. Tapi Jal, jangan berhenti berteman sama aku ya"
Ijal sudah tidak tahan lagi, ia langsung memeluk Zulkifli dengan erat.
" Jangan bilang begitu Zul, kita akan menjadi teman selamanya " Ijal menepuk punggung Zulkifli .
Adegan tersebut sanggup menciptakan suasana haru bagi yang melihatnya.
Malam merangkak melampaui setengah perjalanan, Zulkifli kali ini tidur dengan sangat nyaman. Tidak ada makhluk halus yang datang mengganggu. Sebab roh Ibu Ismi sudah tenang.
Berbeda dengan Pak Komar , ia memang kerap dihantui oleh arwah penasaran yang sudah ia ambil organ nya.
Namun Pak Komar telah mengantisipasi semua itu. Di sekeliling rumah nya ia tanami pohon kelor yang ia ambil dari seorang dukun sakti mandraguna.
Sehingga para arwah tersebut tidak bisa mendekati rumah Pak Komar . Mereka hanya menunggu Pak Komar ketika keluar rumah saja.
Namun bukan Pak Komar namanya jika tidak memiliki pelindung gaib. Ia sudah memagari tubuhnya dari gangguan para makhluk halus. Sehingga semua tidak dapat mencelakai Pak Komar .
Malam itu Irwan tengah berkumpul bersama teman-teman tongkrongannya. Mereka menikmati bir cap orang tua. Seorang wanita menjadi Loki menemani Irwan dan yang lainnya.
" Hey!! Kita balapan yuk"
" Balapan?? Apa taruhan nya ?"
Yang ditanya mengeluarkan segepok uang dan diletakkan di atas meja. Irwan yang memang lagi bokek ikut tergiur melihat tumpukan uang itu.
" Aku ikut " Sahut Irwan cepat. Si penantang tersenyum lebar, akhirnya ada sesuatu yang menarik yang dapat ia lakukan malam ini.
" Ok, siapa lagi yang mau ikut?" Seru si penantang. Rupanya semua ingin ikut balapan disebabkan tergiur oleh hadiahnya.
" Tapi kalau kamu yang menang gimana ? Apa kami harus bayar kamu?"
Si penantang menggeleng pelan.
" Aku cuma ingin bersenang-senang saja "
Semuanya pun setuju, mereka bangkit dan menuju ke area yang akan dijadikan balapan.
Perempuan yang menjadi Loki itu berubah menjadi wasit. Ia memberikan aba-aba pertanda balapan dimulai.
" Satu... Dua... Goooooo"
Gas ditarik secara bersamaan, semua bersaing untuk bisa menjadi yang terdepan.
Irwan memacu dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba saat ditikungan terakhir sekelibat perempuan menampakkan diri di depan nya.
Irwan spontan menekan rem , bunyi denyitan antara ban dan aspal memekakkan telinga.
BRAK
Motor beserta pengemudi nya terseret ke tengah jalan. Wajah Irwan menghan-tam tiang kabel WIFI hingga hancur tak berwujud.
Dan kebetulan sekali dua orang si tukang mencari mayit ada disana. Mereka langsung berinisiatif untuk menolong.
Teman-teman Irwan sendiri pada kabur karena takut dijadikan tersangka atas aksi balap liar.
Sekitar jam tiga pagi Pak Komar mendapatkan telfon kalau ada job pembedahan. Meskipun masih ngantuk, tapi Pak Komar tidak bisa menunda pembedahan tersebut. Karena bisa saja organ nya sudah tidak berfungsi.
" Mau kemana Pak ?" Tanya Bu Nurul ketika melihat suaminya bersiap untuk pergi.
" Ada kiriman barang, aku harus ngecek terlebih dahulu " Jawab Pak Komar .
" Jam berapa ini? " Bu Nurul mendongak ke arah jam dinding.
" Masih jam tiga Pak, nggak bisa besok ya?"
" Bu, tahu sendiri kan kalau barang ditunda akan berakibat fatal. Sudah lah , Ibu lanjut tidur aja. Besok sebelum Ibu bangun, Bapak janji sudah ada di sini "
Bu Nurul tersenyum simpul, tapi senyum itu mendadak sirna begitu mengingat tentang Irwan yang belum pulang-pulang.
" Pak, Sampean tahu Irwan kemana ?"
" Palingan main sama temen-temennya, ya sudah aku berangkat dulu "
Bu Nurul bangun untuk mencium tangan suaminya.
" Hati-hati Pak"
Pak Komar mengiyakan, ia gegas keluar dan pergi ke gudang tempat melakukan pembedahan dengan mengendarai sepeda motor biar lebih cepat.
Setibanya di tempat, Pak Komar sedikit ngeri melihat wajah korban yang hancur lebur.
" Dapat darimana kalian ? Darah nya nampak masih segar "
Dua orang itu tersenyum lebar.
" Baru saja kecelakaan lalu lintas"
Pak Komar manggut-manggut, ia pun segera mengeksekusi korban. Sayang nya ada bagian organ yang nampak menghitam, Pak Komar sudah bisa menebak jika korban suka minum alkohol.
Usai melakukan pembedahan, Pak Komar membiarkan nya terbuka. Tidak seperti biasanya ia akan menjahit dengan rapi.
" Kok dibiarin begitu aja Pak?"
" Dia kan korban kecelakaan, lagian juga wajah nya sudah hancur begitu. Buang saja ke jurang yang dalam, pasti semua mengira perutnya rusak karena kecelakaan itu juga"
Dua pria itu mengangguk mengerti, mereka pun memasukkan jenazah Irwan ke dalam karung goni dan bersiap mengikuti arahan dari Pak Komar .
Sesampainya di rumah, Pak Komar menemui istrinya yang tengah sibuk dengan ponsel nya. Wajahnya terlihat cemas.
" Ada apa Bu?" Tanya Pak Komar heran.
" Ini Pak, Irwan nggak bisa dihubungi. Teman-teman nya juga pada ngerijek telfon dari Ibu"
" Alah Palingan itu atas perintah Irwan Bu, mungkin dia masih kesel sama aku karena kemarin dia minta uang nggak aku kasih "
Bu Nurul menghela nafas berat, ia jengkel sama suaminya. Masa anak cuma minta uang saja nggak dikasih. Padahal Irwan adalah anak laki-laki satu-satunya mereka. Dua anak lainnya adalah perempuan dan sudah menikah semua.
" Bapak mandi dulu Bu" Pak Komar masuk ke dalam meninggalkan istrinya, Bu Nurul terus mencoba menghubungi teman-teman Irwan. Ia tidak akan menyerah sampai dapat informasi mengenai anaknya.
Sebab tadi pagi ia terjaga dari tidurnya disebabkan mimpi buruk tentang Irwan. Mangkanya, Bu Nurul sangat khawatir dengan keadaan putranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ray
Anakmu mati tertabrak Bu. Dan organnya dijual Suamimu, bapak anakmu sendiri, karena wajahnya hancur, gak dikenali lagi🤔😱😡
2024-11-13
0
kagome
aq curiga yg diambil organ dalamnya itu si irwan😱
2025-02-26
0
Doni Gunawan
kasian
2024-11-24
0