Modus Jimmy

Ketika bangun keesokan paginya, Maoya kaget mendapati dirinya sudah berganti pakaian. Ia memegangi kepalanya yang masih berdenyut sambil berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam. Tapi sekeras apapun ia berusaha, ia sama sekali tidak ingat apa yang dialaminya setelah tertidur di meja bar.

Sekilas ia mengingat seorang pria asing mengajaknya berbicara, tapi ia tidak ingat persis siapa pria itu dan bagaimana wajahnya. Maoya kembali tidur dan menutup seluruh tubuh dan kepalanya dengan selimut. Ia benar-benar takut melakukan kesalahan besar tanpa ia sadari semalam.

Tok..Tok..Tok..

“Selamat pagi, Nyonya! Anda sudah bangun?” sapa Bi Atun yang masuk dengan membawa semangkok sup, air minum dan obat pereda mabuk.

Maoya membuka selimut yang menutupi wajahnya perlahan-lahan. “Bi, apa Bibi tahu apa yang terjadi semalam? Kenapa saya bisa tiba-tiba ada di sini dan sudah berganti baju seperti ini?”

“Lo bener-bener ngga inget apa yang lo lakuin semalem?” potong Jovan yang tiba-tiba saja datang dan masuk ke dalam kamar Maoya tanpa permisi.

Maoya kembali menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Sementara Jovan justru menyuruh Bi Atun meninggalkan mereka berdua saja.

“Buruan bangun dan minum obatnya!”

Maoya menggeleng-gelengkan kepala dari balik selimutnya. Ia benar-benar malu berhadapan langsung dengan Jovan.

“Semalem lo mabuk berat dan muntah di baju lo, jadi gue terpaksa bantu lo ganti baju supaya bisa tidur nyenyak.”

‘Kenapa harus elo sih? Kan ada Bi Atun dan yang lainnya?’

Maoya kembali menarik perlahan selimut yang menutupi wajahnya. “Tapi ngga terjadi apa-apa kan?”

“Apa-apa seperti apa yang lo maksud?” pancing Jovan.

“Ngga. Bukan apa-apa.” Tukas Maoya cepat.

‘Gue yakin ngga terjadi apa-apa. Jovan bukan pria macam itu dan gue juga ngga ngerasain ada yang aneh sama tubuh gue.’

Maoya mulai membuka selimutnya lalu duduk di ranjangnya. Jovan menyodorkan obat dan segelas air kepada Maoya. Gadis itu mengambil obat dari tangan Jovan lalu meminumnya dalam sekali teguk.

“Makan supnya! Supaya lo cepet sadar dan inget samua yang lo lakuin semalem.”

Maoya meraih mangkok sup dari tangan Jovan tapi pria itu justru menepis tangan Maoya dan malah menyuapinya dengan sabar.

“Emangnya ada kejadian semalem yang mesti gue inget? Karena gue lagi mabuk, jadi semua yang gue lakuin jelas hanya sebuah kesalahan. Buat apa gue harus inget?”

Jovan yang awalnya menyuapi Maoya dengan telaten tiba-tiba saja marah dan membanting sendok hingga jatuh membentur nampan. Ia kemudian menyodorkan mangkuk supnya kepada Maoya dan pergi begitu saja.

‘Kok dia yang marah sih? Ada apa sebenarnya?’ gumam Maoya sambil memukul-mukul kepalanya yang tidak sanggup mengingat apapun.

***************************

Maoya datang tergopoh-gopoh ke kamar Jovan.

“Jovan! Buruan hubungi Billy!” pinta Maoya.

“Billy? Mau ngapain?”

“Bilang gue ke rumahnya sekarang.”

“Ngapain?”

“Hp gue ilang. Pasti ketinggalan di sana.”

Jovan langsung meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan tapi bukan nomor Billy melainkan Meiza.

“Hallo?”

“Siapa lo?”

“Jimmy. Gue ngga sengaja nemuin hp ini di bawah kursi.”

“Gue tunggu lo di rumah Billy sekarang.”

“Siapa sih, Van?” tanya Maoya penasaran. Tapi Jovan enggan menjawabnya. Ia hanya mengambil jaket dan menuju ke tempat parkir untuk mengambil motor sport miliknya.

“Pake motor?” tanya Maoya ragu. Tidak biasanya Jovan memilih mengendarai motor di siang bolong yang panas menyengat seperti hari itu.

Alih-alih menjawab, Jovan hanya melempar sebuah helm kepada Maoya dan mereka segera berangkat menuju rumah Billy.

**********************

Ketika tiba di sana, Billy baru saja bangun dari tidurnya.

“Lo kenapa lagi sih, Van. Sabtu pagi-pagi gini udah bikin ribut di rumah gue.” Protes Billy yang dipaksa bangun oleh pelayannya karena kedatangan Jovan dan Maoya.

“Kalau bukan karena temen lo yang brengsek itu, gue ngga bakalan gangguin ngorok lo!”

“Maksud lo Jimmy? Kenapa?”

Belum sempat Jovan menjelaskan, Jimmy sudah lebih dulu datang.

“Jim?”

“Hai, Bil.”

“Ada apa ini?” tanya Billy bingung.

Jovan menghampiri Jimmy lalu menyodorkan tangannya. Jimmy langsung meletakkan ponsel Maoya yang dibawanya di tangan Jovan.

“Hp gue!” pekik Maoya kegirangan. Ia langsung mengambil ponselnya dari tangan Jovan. Tapi pria itu masih saja berdiri mematung di tempatnya dan tepat berhadapan dengan Jimmy.

“Gue tahu lo sengaja. Kalau sampai ada apa-apa sama isri gue, gue bakal buat perhitungan sama elo.” Ancam Jovan serius. Instingnya sebagai aparat penegak hukum membuatnya senantiasa meningkatkan kewaspadaan berlapis-lapis. Terlebih lagi saat mengahadapi orang asing yang mencurigakan seperti Jimmy.

“Van, lo tuh kenapa sih? Bukannya bilang makasih malah ngajak berantem.” Tegur Maoya kesal. “Jimmy, makasih yah udah balikin hp gue.”

“Iya, sama-sama, Za.”

Maoya menarik tubuh tegap Jovan dan membawanya menjauh dari Jimmy. “Bil, kita balik dulu yah? Sori udah gangguin jadwal tidur lo. Sekali lagi happy birthday!”

“Never mind! Ati-ati yah, Za?” Billy memberi kode keras agar Maoya berhati-hati kepada Jovan yang sedang emosi tingkat provinsi.

Maoya menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran untuk menjelaskan bahwa ia sudah paham. “oke! Bye!" bisiknya dari kejauhan.

***********************************

Jovan mengendarai motornya dengan sangat kencang dan ugal-ugalan sampai-sampai Maoya terpaksa memeluk erat pinggang Jovan demi tidak terlempar dari atas motor. Terpaan angin yang sangat kencang membuat kulit wajah dan bibir Maoya berkibar-kibar hingga membuatnya memilih membenamkan wajahnya di balik punggung bidang Jovan.

Jovan merasakan pelukan Maoya kian erat di pinggangnya. Tangan Maoya mulai gemetaran dan bibirnya tak henti-hentinya memohon agar Jovan memelankan motornya. Jadi Jovan membelokkan motornya ke arah sebuah taman yang terletak di dekat danau kecil di pinggir kota.

“Ah, syukurlah gue masih selamat dan utuh.” Ujar Maoya ketika berhasil turun dari motor Jovan.

“Tapi kenapa kita berhenti di sini?” tanya Maoya lagi dengan lagak bolotnya.

Ia melihat sekeliling lalu mulai berlarian senang seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat keindahan tempat wisata yang mereka datangi. “Wah, bagus juga tamannya. Darimana lo tahu ada tempat sebagus ini di sini?”

Jovan akhirnya ikut turun dari motor dan duduk di salah satu bangku yang terletak di bawah pohon begonia. Maoya menghampiri Jovan lalu duduk di sampingnya. “Bagus banget yah?”

“Dulu gue sering ke sini sama ibu. Ini adalah salah satu tempat piknik favorit ibu. Sebagai seorang hakim, gaji ayah tidak bisa dibilang besar. Jadi kami memilih tempat-tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah untuk didatangi demi menghemat pengeluaran. Ibu bakalan bawa makanan dari rumah dan memakannya di atas tikar di bawah pohon itu. sementara ayah duduk di atas batu itu untuk memancing. Selain itu, kami akan mengamati para pengunjung yang lain. Ayah bakal cerita analisanya terhadap berbagai sikap dan ekspresi mereka, tentang bagaimana karakter dan kejujuran serta ketulusan mereka. Ayah bilang, selain keseluruhan situasi, saksi dan bukti, memahami karakter asli orang lain akan sangat membantunya dalam memutuskan suatu perkara. Meskipun tidak selalu benar, tapi setidaknya tidak terlalu bertentangan dengan hati nurani.”

“Apa itu juga bermanfaat buat elo?”

Jovan mengangguk. “Meskipun belum tentu benar, tapi gue yakin Jimmy punya niat ngga baik sama elo.”

“Tapi kan dia ngga berbuat apa-apa sama gue? Lo liat sendiri kan? Dia bahkan mau nganterin hp gue ke rumah Billy.” Kilah Maoya dengan polosnya.

“Gue ngga mau lo berhubungan lagi sama dia.”

“Kenapa sih lo ngga bilang aja kalau lo cemburu. Ya kan?” goda Maoya dengan penuh percaya diri.

“Kalau tahu lo punya kepercayaan diri setinggi ini, harusnya gue biarin aja dia nyulik lo semalem.” Ujar Jovan sembari bangkit dari duduknya lalu kembali ke atas motornya.

“Apa? Nyulik gue?” Maoya mengikuti Jovan. “Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kenapa dia mau nyulik gue? Jovan!!! Tunggu! Gue belum naik!!!!

**********************************

Episodes
1 Bukan Kecelakaan Biasa
2 Maling Cantik vs Tuan Jaksa Tampan
3 Tertangkap Basah
4 Harga Sebuah Informasi
5 Siluman Balok Es
6 Ungkapan Terima Kasih
7 Tahi Lalat
8 Dorongan Batin
9 Jangan Coba-Coba
10 Wali
11 Sambil Menyelam Minum Susu
12 Bisnis Baru Myonya
13 Apa Salahnya?
14 Makan Bersama
15 Janji Temu
16 Peri Sawi
17 Logika / Lo gila
18 Modus Jimmy
19 Dating
20 Ancaman Tak Terduga
21 Ditipu Mentah-Mentah
22 Musibah Membawa Berkah
23 Botan
24 Senjata Makan Tuan
25 Mata-Mata
26 Pelampiasan Kecil
27 Gelagat Aneh Jimmy
28 Peringatan Keras
29 Nyaris
30 Bantuan Galih
31 Kejelasan Masa Depan
32 Anniv Party
33 Teman Lama
34 Serangan Balik
35 Keputusan Jovan
36 Friend Zone
37 Dukungan Terbaik
38 Kerja Bersama
39 Kehilangan
40 Siuman
41 Pentingnya Pengakuan
42 Sidang Akhir
43 Temuan Baru
44 Menelusuri Pelaku
45 Hasil Tes
46 Perubahan Tak Terencana
47 Dilema
48 Kegilaan Bimo
49 Pilihan di Tangan Maoya
50 Pergi atau Tinggal
51 Teralihkan
52 Kota Persinggahan
53 Sang Kepala Desa
54 Menginap di Gudang
55 Ambruk
56 Berlatih Peran
57 Masuk Hutan
58 Mencari Jovan
59 Keributan Kecil
60 Rute Alternatif
61 Bimbang
62 Pasti Bisa
63 Menipu Penipu
64 Dihadang Musuh
65 Mencari Bantuan
66 Kejutan di Perjalanan
67 Perayaan Bersih Desa
68 Perundingan Alot
69 Membalik Keadaan
70 Terkecoh
71 Tak Ada Jalan Mundur
72 Duka Mendalam
73 Didesak
74 Sidang Darurat
75 Status Baru
76 Sweet Moment
77 EPILOG
78 Novel Baru : CASSANOVA PENCABUT NYAWA
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Bukan Kecelakaan Biasa
2
Maling Cantik vs Tuan Jaksa Tampan
3
Tertangkap Basah
4
Harga Sebuah Informasi
5
Siluman Balok Es
6
Ungkapan Terima Kasih
7
Tahi Lalat
8
Dorongan Batin
9
Jangan Coba-Coba
10
Wali
11
Sambil Menyelam Minum Susu
12
Bisnis Baru Myonya
13
Apa Salahnya?
14
Makan Bersama
15
Janji Temu
16
Peri Sawi
17
Logika / Lo gila
18
Modus Jimmy
19
Dating
20
Ancaman Tak Terduga
21
Ditipu Mentah-Mentah
22
Musibah Membawa Berkah
23
Botan
24
Senjata Makan Tuan
25
Mata-Mata
26
Pelampiasan Kecil
27
Gelagat Aneh Jimmy
28
Peringatan Keras
29
Nyaris
30
Bantuan Galih
31
Kejelasan Masa Depan
32
Anniv Party
33
Teman Lama
34
Serangan Balik
35
Keputusan Jovan
36
Friend Zone
37
Dukungan Terbaik
38
Kerja Bersama
39
Kehilangan
40
Siuman
41
Pentingnya Pengakuan
42
Sidang Akhir
43
Temuan Baru
44
Menelusuri Pelaku
45
Hasil Tes
46
Perubahan Tak Terencana
47
Dilema
48
Kegilaan Bimo
49
Pilihan di Tangan Maoya
50
Pergi atau Tinggal
51
Teralihkan
52
Kota Persinggahan
53
Sang Kepala Desa
54
Menginap di Gudang
55
Ambruk
56
Berlatih Peran
57
Masuk Hutan
58
Mencari Jovan
59
Keributan Kecil
60
Rute Alternatif
61
Bimbang
62
Pasti Bisa
63
Menipu Penipu
64
Dihadang Musuh
65
Mencari Bantuan
66
Kejutan di Perjalanan
67
Perayaan Bersih Desa
68
Perundingan Alot
69
Membalik Keadaan
70
Terkecoh
71
Tak Ada Jalan Mundur
72
Duka Mendalam
73
Didesak
74
Sidang Darurat
75
Status Baru
76
Sweet Moment
77
EPILOG
78
Novel Baru : CASSANOVA PENCABUT NYAWA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!